
"Wow cepat sekali,kamu selesai" kata dokter Kevin kagum dengan kecepatan Anggie dalam memakai pakaian steril nya itu.
"Seperti orang yang sudah biasa memakai pakaian seperti ini saja. Saya aja yang sudah ribuan kali memakai pakaian ini masih kalah cepat lawan kamu" lanjut dokter Kevin
"Dua jempol saya untuk kamu" Dokter Kevin memberikan dua jempolnya untuk Anggie.
"Sudah nggak sabar mau ketemu Mama." jawab Anggie sambil tersenyum. Senyuman Anggie senyuman yang paling cantik yang dimiliki oleh dirinya diberikan kepada dokter Kevin.
"Cantik" ujar dokter Kevin dengan pelan.
Anggie mendengar apa yang dikatakan oleh dokter Kevin kepada dirinya. Tetapi Anggie tidak ingin terlalu menggubris hal itu. Dia takut saat dia berkomentar, dokter Kevin akan berubah pikiran dan merasa kalau Anggie wanita yang bagaimana bagaimana nya nanti. Sehingga Anggie memutuskan untuk diam saja.
"Bisa kita masuk sekarang dokter? Saya sudah tidak sabar lagi melihat Mama." tanya Anggie yang tidak sabaran lagi ingin bertemu langsung dengan Mama.
Sudah sangat lama rasanya Anggie tidak bertemu dengan mamanya itu, padahal hanya baru beberapa jam saja Anggie tidak bertemu dan tidak berbincang bincang dengan Mama.
"Oke. Mari ikut saya" kata dokter Kevin mengajak Anggie untuk masuk ke dalam ruangan ICU itu.
"tapi saat di dalam ruangan jangan melakukan hal yang aneh aneh ya, kalau mau melakukan sesuatu tanya saya dulu, saya izinkan atau tidak. kalau diizinkan baru lakukan. Paham ya anggie?" kata dokter Kevin memberikan peringatan kepada Anggie untuk tidak melakukan kesalahan apa pun di dalam sana.
"Baik dokter saya akan selalu ingat apa yang dokter katakan. Saya akan minta izin dokter dulu untuk melakukan sesuatu" jawab Anggie yang tidak mungkin mengecewakan kepercayaan dari dokter Kevin yang sudah mau mengajak dirinya untuk masuk ke dalam ruangan mendekati Mama.
Anggie menutup mulutnya dan sedikit mencari pegangan karena tubuhnya mendadak menjadi sangat lemah saat melihat dengan sangat begitu dekatnya kondisi Mama sekarang ini. Mama benar benar dalam kondisi yang sangat mengenaskan. Kepala di balut perban, tangan yang juga diperban, serta beberapa luka yang terlihat di kaki dan bagian tubuh yang lainnya. Anggie berusaha menenangkan dan menstabilkan kembali kondisinya saat ini. Anggie tidak ingin menjadi sangat gugup dan membuat semua menjadi rumit kembali. Sekarang dia harus tetap kuat dan berpikiran normal karena memang dia seorang yang dimiliki Mama di atas dunia ini. Tidak ada orang lain lagi yang dimiliki oleh Anggie.
Dokter Kevin melihat bagaimana reaksi syok dari seorang Anggie. Tetapi Anggie juga dengan sangat cepat mengendalikan dirinya untuk kembali menjadi normal.
'Pengendalian diri yang sangat luar biasa. Siapa dia sebenarnya, apa masalah yang sudah membuat dirinya menjadi sangat kuat seperti sekarang ini?' kata Kevin dalam hatinya saat melihat bagaimana hebatnya Anggie saat mengendalikan dirinya sendiri.
Anggie perlahan maju semakin dekat ke arah ranjang rumah sakit dimana di atasnya Mama terbaring dengan sangat lemah sekali.
__ADS_1
"Ma" panggil Anggie dengan sangat pelan takut istirahat mamanya terganggu. Padahal Anggie tau mamanya sedang dalam keadaan koma.
Anggie melihat ke arah dokter Kevin. "Dokter apakah aku bisa menyentuh Mama? sebentar saja dokter, tidak perlu lama lama" tanya anggie yang sangat berharap diizinkan untuk boleh menyentuh mamanya walau hanya sebentar.
"Silahkan saja Anggie. Selagi saya masih di sini bersama kamu, apapun yang akan kamu lakukan kepada Mama, tidak akan ada yang bisa melarangnya. Asalkan....... " ujar dokter Kevin dengan sengaja menggantung ucapannya kepada Anggie.
"Asalkan apa dokter?" tanya Anggie yang sudah tidak sabaran mendengarkan lanjutan dari perkataan dokter Kevin.
"Asalkan kamu tidak mencabut semua alat alat itu" ujar dokter Kevin sabil tersenyum kepada Anggie.
"Dokter saya tidak mau tinggal sendirian di dunia ini dokter" jawab Anggie yang tau kalau dokter Kevin sedang berusaha bercanda dengan dirinya.
"Jadi boleh ni, pegang mama?" tanya Anggie kembali kepada dokter Kevin. Anggie butuh diyakinkan oleh dokter Kevin.
"Boleh silahkan saja." jawab dokter Kevin.
'Seandainya saja bisa ngomong sama Mama. Tapi izin lagi ke dokter kevin, nggak akan mungkin lagi. Aku nggak mau dikatakan wanita banyak mau' kata Anggie yang memiliki satu keinginan lagi.
Dokter Kevin yang kebetulan hanya merawat ibu Ratna saja di ruangan itu duduk di sebuah bangku yang ada di ujung tempat tidur ibu Ratna, kebetulan sekali posisi ranjang ibu Ratna ada di bagian paling ujung ruangan ICU.
Dokter Kevin yang melihat Anggie sudah lumayan lelah berdiri mengantarkan sebuah kursi untuk tempat Anggie duduk.
"Duduk sini, jangan terlalu lama berdiri apa lagi dengan memakai sepatu yang lumayan tinggi itu. Bisa bisa nanti kaki kamu lagi yang butuh perawatan" ujar dokter Kevin sambil meletakkan kursi yang di bawanya ke dekat Anggie.
"Terimakasih dokter" jawab Anggie dengan tulus.
Anggie kembali memegang jari tangan Mama da mengusapnya dengan sangat lembut.
Saat itulah ponsel milik Anggie bergetar di saku roknya. Anggie meraih ponsel miliknya itu, dia melihat sebuah pesan chat masuk dari Vina.
__ADS_1
'Loe dimana Anggie, seharian gue hubungi nggak loe angkat' bunyi pesan chat yang dikirim oleh sahabatnya itu.
'Gue di rumah sakit' balas Anggie singkat.
Anggie sengaja mengetik dengan sangat cepat, karena dia tidak mau dokter Kevin mengetahui dirinya memakai ponsel di dalam ruangan itu. Bisa bisa nanti dokter Kevin marah dan mengusir dirinya dari ruangan itu. Anggie tidak ingin itu terjadi. Dia masih ingin berlama lama dengan Mama di dalam ruangan itu.
Vina yang membaca pesan dari Anggie. Langsung saja menelpon nomor Anggie. Anggie menolak panggilan dari Vina. Vina masih terus mencoba, tetapi Anggie tetap menolak panggilan dari dirinya.
'Mama kecelakaan, sekarang di ICU. Jangan telpon gue' bunyi pesan chat yang dikirim oleh Anggie kepada Vina.
'Gue ke sana sekarang. Harapan kita?' balas Vina yang kaget membaca pesan chat yang dikirim oleh Anggie kepada dirinya.
'Ya' balas Anggie semakin singkat.
'Gue ke sana, sekalian bawa makanan. Gue yakin loe belum makan. Jangan balas lagi chat gue' balas Vina.
Vina langsung memasukkan ponselnya ke dalam tas kerjanya itu. Sekarang Vina tau kenapa Anggie tidak mengangkat panggilan telpon dari dirinya sejak tadi. Ternyata penyebabnya adalah Anggie sedang menunggui Mama yang terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit.
"Siapa yang nelpon?" tanya dokter Kevin yang ternyata sudah berada di belakang Anggie.
Anggie kaget saat mendengar suara dokter Kevin yang sudah ada di belakang dirinya saat ini.
"Vina sahabat saya dokter" jawab Anggie tanpa sedikitpun keraguan dalam ucapannya.
"Oh, saya kira" ujar dokter Kevin yang kembali tidak melanjutkan perkataannya.
Dokter Kevin kemudian berjalan kembali menuju kursi tempat dia duduk tadi. Dia sudah tau siapa yang menghubungi Anggie tadi. Sehingga dia sudah merasa lebih aman sekarang.
Anggie kembali fokus kepada Mama, dia sama sekali tidak memperdulikan apa yang dilakukan oleh dokter Kevin sebentar ini. Dia hanya menganggap dokter Kevin tidak mau pasiennya terganggu oleh ponsel.
__ADS_1