Terhanyut Dalam Perasaan Terlarang

Terhanyut Dalam Perasaan Terlarang
BERTEMU ARIAN


__ADS_3

Hari hari Alexa lalui dengan bahagia. Ia tidak mau terpuruk dengan keadaannya saat ini. Ia harus bisa menjaga kewarasan mentalnya demi sang buah hati tercinta.


Hari ini peresmian restoran yang ia beli beberapa minggu lalu. Alexa memberikan makanan gratis untuk grand opening kali ini sebagai promosi awal menu makanan yang di sediakan restonya. Rio dan nyonya Erna selalu menemaninya.


" Selamat ya sayang, semoga ke depannya akan mendapat pelanggan seramai ini." Ucap nyonya Erna.


" Amin... Terima kasih Tante." Ucap Alexa.


" Ingat! Kamu jangan sampai kecapekan! Kamu cukup mengawasi mereka saja, jangan ikut mengerjakan pekerjaan apapun. Kamu membayar mereka untuk bekerja bukan sekedar membantumu." Ujar nyonya Erna.


" Iya Tante... Tante jangan khawatir! Aku akan selalu ingat kata kata Tante." Sahut Alexa.


Nyonya Erna membalasnya dengan tersenyum.


" Kalau begitu ayo kita cicipi masakannya Tante, Rio. Siapa tahu ada yang kurang jadi nanti Tante bisa memberikan masukan." Ujar Alexa.


" Ayo!" Sahut Rio.


Mereka bertiga mengambil makanan yang di sediakan oleh para pegawai Alexa.


" Gimana Tante?" Tanya Alexa menatap nyonya Erna yang sedang mencicipi salad buah.


" Ini enak Xa, kamu cobain deh!" Nyonya Erna menyodorkan sesendok salad ke mulut Alexa.


Alexa menerimanya sambil tersenyum.


Setelah selesai makan Rio dan nyonya Erna pulang, sedangkan Alexa masih di sana untuk mengawasi para pekerjanya.


Sore hari Alexa kembali ke rumah. Setelah mandi ia membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Beruntung kehamilannya tidak rewel seperti wanita hamil pada umumnya.


" Mas Arian lagi apa ya?" Gumam Alexa tanpa sadar.


" Eh mikir apa sih aku! Aku tidak boleh memikirkan Mas Arian lagi. Aku harus bisa melupakannya." Ujar Alexa.


Alexa memejamkan matanya menuju alam mimpi.


Di tempat lain, tepatnya di rumah Frans. Ia sedang muntah muntah, kondisi badannya sedang tidak karuan. Dengan di temani oleh Toni, Frans menikmati masa masa ngidam Alexa.


Huek... Huek...


" Ya Tuhan Frans... Kali ini gue benar benar yakin kalau lo itu pasti ngidam. Lo harus menemui Sinta dan memastikan kebenarannya Frans." Ujar Toni memijat tengkuk Frans.


Setelah agak mendingan Frans membasuh mulutnya dengan air bersih, lalu mengeringkannya dengan tisu.


" Hah... Aku tidak sanggup jika seperti ini Ton, kenapa dia yang hamil aku yang mengalami seperti ini?" Tanya Frans.


Toni memapah Frans kembali ke ranjang.


" Ini namanya kehamilan simpatik Frans. Ini menandakan kalau cintamu padanya begitu besar, itulah sebabnya kamu yang mengalami masa ngidamnya." Ujar Toni.


" Benar.. Aku memang sangat mencintai Alexa. Tapi bagaimana cintaku kepada Sinta? Apa selama ini yang aku rasakan kepada Sinta bukan cinta? " Batin Frans.

__ADS_1


Frans duduk bersandar pada head board.


" Istirahatlah Frans! Ini sudah malam." Ucap Toni.


" Aku tidak bisa tidur Ton, aku kepikiran sesuatu." Ujar Frans.


" Apa itu? Ceritalah! Siapa tahu aku bisa membantumu." Ucap Toni.


Akhirnya Frans menceritakan apa yang terjadi padanya dan Alexa. Toni menggelengkan kepalanya mendengar cerita Frans.


" Kalau mendengar cerita lo, gue menilainya lo lebih mencintai Alexa daripada Sinta. Buktinya lo dengan mudah bisa melepas Sinta, tapi Alexa? Bahkan sudah bertahun tahun lo tidak bisa menghilangkan perasaan lo padanya. Lo harus berbuat sesuatu Frans." Ujar Toni.


" Tapi sayangnya Alexa mencintai Arian bukan gue. Mereka hidup bahagia saat ini Ton, aku tidak tahu harus berbuat apa." Ujar Frans.


" Rumit juga hubungan lo, lo berdoa saja lah supaya mereka pisah terus lo bisa mengejar Alexa kembali. Dan kalian menikah terus hidup bahagia bersama anak kalian." Ucap Toni mengkhayal.


" Ngehalu lo bisanya." Cebik Frans menatap Toni.


" Udah ah gue mau tidur, lo juga harus tidur! Jangan muntah muntah lagi! Gue udah ngantuk banget dan nggak bisa jagain lo lagi." Ujar Toni merebahkan tubuhnya di sofa.


Frans mencoba memejamkan matanya namun tidak bisa. Pikirannya melayang kepada Alexa. Entah mengapa hatinya mendorongnya untuk segera menemui Alexa.


" Aku tidak tahu bagaimana baiknya." Gumam Frans menghela nafasnya pelan.


Frans memejamkan matanya masuk ke alam mimpi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Tap tap tap...


Terdengar suara langkah mendekatinya, ia menoleh ke belakang dan.....


" Mas Arian." Ucap Alexa.


" Hai Xa, bagaimana kabarmu?" Tanya Arian duduk di depan Alexa.


" Aku baik Mas." Sahut Alexa.


" Mas ingin memesan sesuatu?" Tanya Alexa.


" Tidak! Aku hanya ingin memandangmu saja." Sahut Arian tersenyum menatap Alexa.


" Jangan seperti itu Mas! Aku tidak nyaman dengan sikapmu yang seperti ini." Ucap Alexa.


Alexa beranjak dari kursinya ingin meninggalkan Arian, namun Arian mencekal tangannya.


" Mas ingin berbicara sesuatu padamu, duduklah!" Ucap Arian.


Alexa kembali duduk di kursinya.


" Mas sangat berharap kamu mau kembali kepada Mas. Mas akan menerimamu apa adanya. Mas akan menerima anak itu sebagai anak kandung Mas sendiri Alexa. Mas tidak bisa hidup tanpamu, Mas mohon Alexa." Arian menggenggam tangan Alexa.

__ADS_1


" Maaf Mas aku tidak bisa." Alexa menarik tangannya


Arian menghela nafasnya.


" Kenapa? Apa alasannya masih tetap sama?" Tanya Arian.


" Aku akan menikah dengannya Mas." Lirih Alexa menundukkan kepalanya. Ia tidak mau Arian menangkap kebohongannya.


" Iya Mas, doakan lancar ya." Ucap Alexa.


" Aku doakan semoga kau bahagia, sebelum aku pergi aku ingin tahu siapa pria itu?" Arian menatap Alexa.


" Haduh kenapa mesti tanya sih! Aku mau jawab apa nih? " Batin Alexa bingung.


Tiba tiba Rio berjalan menghampiri mereka.


" Xa." Rio duduk di samping Alexa.


" Dia Mas, iya dia." Alexa menunjuk Rio.


" Aku? Kenapa denganku?" Rio menunjuk dirinya sendiri.


" Aku sudah memberitahu Mas Arian kalau kita akan menikah." Ucap Alexa.


Rio melongo menatap Alexa, Alexa mengerlingkan matanya membuat Rio paham maksudnya.


" Ah iya, aku dan Alexa akan segera menikah. Maafkan kami yang telah mengkhianatimu." Ucap Rio menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Demi sahabatnya ia rela berperan menjadi seorang pebinor. Tapi bukankah benar kalau dia pebinor? Rio tersenyum sendiri mengingat hal itu.


" Baiklah aku pergi dulu, semoga kalian berbahagia. Maaf aku tidak bisa menghadiri pernikahan kalian karena aku harus kembali ke kota K sore ini juga." Ucap Arian.


" Terima kasih Mas." Ucap Alexa.


Arian pergi meninggalkan mereka berdua. Alexa menatapnya dengan perasaan bersalah karena telah membohongi Arian kembali.


" Jangan bersedih! Ini yang terbaik untuk kalian berdua. Sekarang tersenyumlah!" Ucap Rio.


Alexa tersenyum ke arah Rio.


" Aku harus bisa melupakan semuanya, kau harus terus berjalan maju Alexa.. Lakukan demi anakmu." Batin Alexa menyemangati diri sendiri.


Bagaimana kisah Alexa selanjutnya?


Jangan lupa tekan like koment vote dan 🌹nya biar author makin semangat ya...


Terima kasih untuk kalian semua yang telah mensupport author, semoga sehat selalu...


Miss U All...


TBC.....

__ADS_1


__ADS_2