
Alexa sedang sibuk memasak pagi ini. Tiba tiba..
Grep....
Frans memeluknya dari belakang.
" Pi... " Ucap Alexa.
" Ada apa sayang?" Frans menyusupkan wajahnya ke leher Alexa.
" Aku sedang memasak Pi, jangan begini! Nanti gosong seperti waktu itu." Ujar Alexa.
Ceklek...
Frans mematikan kompornya, Alexa menghela nafasnya. Ia membalikkan badan menatap Frans.
" Kenapa kau selalu menggangguku hmm?" Tanya Alexa mengalungkan tangannya ke leher Frans.
" Karena aku ingin selalu berada di dekatmu." Sahut Frans merapikan anak rambut Alexa.
" Aku belum mandi lhoh Pi, badanku bau bumbu dapur." Ujar Alexa.
" Bagaimanapun dirimu aku tetap menyukai aroma tubuhmu." Ucap Frans mencium pipi Alexa.
Frans menyusupkan tangannya ke leher belakang Alexa. Ia mencium bibir Alexa dengan lembut. Alexa membuka sedikit mulutnya membiarkan Frans mengekspos setiap inchinya. Suara decapan memenuhi ruangan.
Setelah kehabisan pasukan oksigen, Frans melepas pagutannya.
" Manis." Ucap Frans mengusap lembut bibir Alexa dengan jempolnya.
" Selalu." Sahut Alexa tersenyum.
" Kita lanjut nanti malam, sekarang kamu lanjut memasak. Aku akan melihat Aksa di kamar." Ujar Frans.
Alexa menganggukkan kepalanya.
Frans masuk ke kamar menghampiri Aksa yang masih terlelap di tempat tidur.
Drt... drt
Ponsel Frans berdering tanda panggilan masuk.
" Halo Arian." Sapa Frans setelah mengangkat sambungan teleponnya.
" Halo Frans, kau benar. Dira punya maksud tertentu mendekati keluargamu. Tapi kau tenang saja! Aku berhasil mengatasinya. Kalian hanya perlu hati hati saja dengannya." Ucap Arian.
" Oke terima kasih, kau jaga saja istrimu! Kalau sampai dia melakukan hal yang merugikan keluargaku kau tidak akan bisa menghentikanku untuk memberikannya pelajaran Arian." Ucap Frans sedikit mengancam.
" Oke, kau tenang saja! Aku akan menjaga dan mengawasinya. Sampaikan salamku untuk putraku Aksa." Ucap Arian menutup panggilannya.
" Kau berani macam macam pada keluargaku, aku akan memberimu pelajaran Dira." Gumam Frans.
" Kenapa Pi?" Tanya Alexa menghampirinya.
" Kau benar sayang, ternyata Dira ke sini memang punya rencana untuk menghancurkan hubungan kita, tapi Arian sudah menanganinya." Ucap Frans.
" Semoga keluarga kita selalu dalam LindunganNya Pi." Ucap Alexa.
" Amin sayang." Sahut Frans.
" Aku mandi dulu." Alexa masuk ke kamar mandi.
__ADS_1
" Anak Papi lagi enak ya tidurnya, kok nggak bangun bangun sih." Ucap Frans menoel noel pipi Aksa.
Aksa menggeliat menampakkan wajah merahnya.
" Ih lucu banget anak Papi, cepat besar ya sayang biar kita bisa main bola di lapangan." Ujar Frans terkekeh sendiri.
" Papi akan selalu melindungimu dari orang orang jahat itu sayang, Papi tidak akan membiarkan mereka mengganggumu sedikitpun." Ucap Frans mencium pipi Aksa.
" Pi ayo kita sarapan!" Ajak Alexa yang baru saja keluar dari kamar mandi.
" Aksa belum bangun, nanti tidak ada yang jagain." Ujar Frans.
" Tinggal pasang saja penghalang ranjangnya Pi, dia tidak akan jatuh." Ujar Alexa.
" Oke." Sahut Frans.
Setelah itu mereka berdua menuju meja makan untuk sarapan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Dira baru saja keluar dari kamar mandi. Ia mendengar obrolan Arian dengan Frans.
" Ternyata sampai segitunya kamu mau melindungi Alexa Mas, sampai sampai kamu jadi mata mata Frans." Ucap Dira.
" Ya, karena aku harus memastikan kalau mereka baik baik saja. Jika kau melakukan kesalahan akulah yang bertanggung jawab atas itu." Sahut Arian.
Dira menganggukkan kepalanya.
" Sarapan dulu Mas, aku sudah menyiapkannya di meja makan." Ucap Dira duduk di meja riasnya.
" Baiklah." Sahut Arian keluar kamar.
" Aku memang harus melakukan ini untuk menakhlukkanmu Mas. Aku tidak mau kehilangan pria sebaik dirimu. Maafkan aku yang egois ini." Gumam Dira.
Selesai merias wajahnya, Dira turun ke meja makan.
" Mau nambah Mas?" Tanya Dira duduk di samping Arian.
" Udah ah, takut kekenyangan malah jadi ngantuk nggak bisa kerja." Sahut Arian.
Dira rersenyum, setidaknya Arian sudah mau menjawabnya dengan panjang lebar.
" Mas rencananya nanti aku mau ke rumah mama, kalau nggak males sih, boleh nggak?" Tanya Dira.
" Kalau kamu mau ke sana nunggu aku pulang saja, aku akan mengantarmu. Atau mau sekarang saja?" Arian menatap Dira
" Nanti aja lah, kan aku bilangnya kalau nggak malas." Ujar Dira di balas anggukan kepala oleh Arian.
" Ya sudah kalau begitu, aku berangkat dulu." Ujar Arian beranjak dari kursinya.
Arian mengerutkan keningnya saat Dira meyodorkan tangannya.
" Ah iya sebentar." Arian mengambil dompetnya lalu menyodorkan kartu ATM.
" Bukan itu yang aku maksudkan Mas, aku mau salim. Aku mau mulai jadi istri yang baik." Ujar Dira.
" Owh maaf!" Ucap Arian.
Dira menyalami Arian dengan takzim. Ia mencium punggung tangan Arian seolah meminta ridhonya.
" Gantian kamu Mas." Ucap Dira.
__ADS_1
Arian kembali mengerutkan keningnya.
" Sini." Dira menepuk keningnya sendiri.
Arian melongo melihatnya.
" Buruan." Ucap Dira.
Dengan sedikit ragu Arian memajukan wajahnya, sampai....
Cup....
Dira memejamkan matanya, jantungnya berdetak dua kali lebih cepat dari biasanya.
Entah mengapa Arian tidak ingin menjauhkan bibirnya dari kening Dira. Ada desiran aneh dalam hatinya. Entah mengapa rasanya begitu nyaman.
" Kenapa hatiku berdesir seperti ini? Apa aku mulai ada rasa dengan Dira? Apakah benar tapi pernikahan membuat perasaan kita lebih kuat? Ini kabar baik, jika aku bisa mencintai Dira maka Alexa akan aman. Semoga aku bisa segera membalas perasaannya padaku dan kami bisa hidup bahagia. Setelah itu aku akan meminta keajaiban dari Tuhan untuk menghadirkan keturunan di antara kami." Batin Arian.
" Mas." Ucap Dira membuat Arian tersadar dari lamunannya.
" Ah iya." Sahut Arian menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
" Kenapa Mas?" Tanya Dira menaik turunkan alisnya.
" Tidak pa pa." Sahut Arian.
" Ya sudah aku pergi ke kantor dulu, kamu hati hati di rumah. Kalau ada apa apa segera telepon aku." Ujar Arian memberikan perhatian.
" Duh perhatiannya, terima kasih sudah memberikan perhatian seperti ini padaku." Ucap Dira menggoda Arian.
Arian membalasnya dengan senyuman. Ia keluar rumah di antar oleh Dira sampai teras. Setelah mobil Arian tidak terlihat lagi, Dira masuk ke dalam rumahnya. Ia mengambil tas selempangnya lalu mkrluar menuju taksi yang tadi sempat ia pesan.
Taksi melaju menuju rumah Alexa. Sesampainya di rumah Alexa, Dira memencet belum rumahnya.
Tak lama Alexa membukakan pintu untuknya.
" Dira." Gumam Alexa.
" Bolehkah aku masuk?" Tanya Dira sambil tersenyum.
" Iya silahkan." Sahut Alexa.
Keduanya menuju ruang tamu. Mereka duduk berhadapan di sofa.
" Mau minum apa Ra?" Tanya Alexa.
" Tidak usah Xa terima kasih, aku ke sini mau mengakui sesuatu padamu. Aku yakin kamu sudah tahu apa itu karena Mas Arian sudah memberitahu Frans." Ucap Dira.
" Ya, aku hanya tidak menyangka saja kau bisa merencanakan semua itu. Apa alasanmu sebenarnya?" Tanya Alexa menatap Dira dengan tatapan menyelidik.
" Aku melakukannya karena.. ...
Karena apa hayooo...
Jangan lupa like koment vote untuk mendukung author..
Terima masih...
Miss U All....
TBC...
__ADS_1