Terhanyut Dalam Perasaan Terlarang

Terhanyut Dalam Perasaan Terlarang
TERPUKUL


__ADS_3

Alexa, Frans, Arian dan Dira duduk berkumpul di sofa ruang tamu. Arian dan Dira saling melempar tatapan.


" Katakan Arian! Apa yang terjadi pada Aksa! Kenapa kalian kembali tanpanya?" Titah Frans menatap Arian.


" Aksa terhanyut ombak."


Jeduarrr...


Bagai di sambar petir di siang bolong. Tubuh Alexa terasa kaku tidak bisa di gerakkan. Apa yang ia cemaskan benar benar terjadi.


" Bagaimana bisa kau membuat lelucon seperti ini Arian." Bentak Frans.


" Jangan bermain main dengan yang namanya maut. Aku tidak akan mempercayai ucapanmu. Apa Aksa yang meminta kalian mengatakan kebohongan ini?" Frans menatap Arian dan Dira dengan tatapan menyelidik.


" Aku tidak bercanda Frans, ini kenyataan. Aksa terseret ombak dan di nyatakan meninggal oleh Tim SAR. Kami sudah melakukan pencarian hingga enam jam lamanya. Maafkan aku!" Lirih Arian.


" Bagaimana ini bisa terjadi hah?" Bentak Frans menarik kerah leher Arian.


" Kau berjanji akan menjaganya dengan baik, lalu bagaimana dia bisa terseret ombak? Kau dimana saja? Katakan Arian!!" Bentak Frans.


" Kami....


Arian menceritakan apa yang terjadi saat di pantai dari awal hingga akhir. Frans tercengang, begitupun dengan Alexa. Ia merasa sangat terpukul atas musibah yang menimpanya.


Putranya tiada? Terseret ombak hanya karena ingin mengambil boneka? Kini putranya telah meninggalkan mereka selamanya? Apa benar ini yang terjadi hari ini? Atau hanya mimpi buruk saja? Berbagai pertanyaan muncul di pikiran Alexa, namun ia sama sekali tidak bisa berbicara. Lidahnya kelu, tatapannya kosong. Ia merasa separuh jiwanya telah hilang entah kemana.


Frans duduk menarik kasar rambutnya.


" Ya Tuhan Aksa.... Putraku... Kenapa begitu miris nasibmu nak? Belum juga kau melihat adikmu, kini kau tiada? Masih banyak kenangan dan hal hal bahagia yang kita rancang bersama. Semuanya belum terpenuhi sayang hiks.. Kenapa kau meninggalkan Papi begitu saja, hiks... Ya Tuhan... Kenapa semua ini terjadi pada putraku? Andai saja aku tahu jika kejadiannya akan seperti ini, aku tidak akan memberikan ijin dia pergi. Hiks... Maafkan Papi sayang." Lirih Frans dengan air mata menetes deras di pipinya.


Dira menggenggam tangan Alexa.


" Hiks... Alexa, maafkan kami! Kami tidak bisa menjaga Aksa. Kami menyesali semua yang terjadi Alexa. Andai saja aku tidak membawa Aksa ke sana pasti semua ini tidak akan terjadi. Hiks... Pasti saat ini Aksa masih bersama kita di sini. Hiks... Aku menyesal Alexa. Alexa, Aksa telah tiada, kenapa kau malah diam saja seperti ini? Katakan sesuatu padaku, atau setidaknya keluarkan ekspresimu Alexa, jangan seperti ini! hiks... " Isak Dira.


Alexa tidak bergeming, ia hanya menatap ke depan dengan tatapan kosong. Frans yang melihat itu segera mendekatinya.


" Sayang, berteriaklah! Menangislah! Luapkan semua kesedihanmu! Jangan diam seperti ini sayang!" Ucap Frans.


Alexa tetap pada posisinya bahkan tanpa berkedip sekalipun. Frans mencoba menepuk pelan pipinya.


" Sayang menangislah! Putra kita tiada, putra kita hilang di telan ombak dan di nyatakan meninggal sayang. Apa kau tidak sedih? Apa kau tidak ingin menangis? Apa kau tidak ingin berteriak mengeluarkan sesak di dadamu? Aku mohon menangislah sayang! Hiks..." Ucap Frans terisak.

__ADS_1


Arian berjongkok di depan Alexa.


" Alexa pukul aku! Tampar aku! Luapkan emosi dan kebencianmu padaku! Akulah yang menyebabkan semua ini Alexa, jangan diam seperti ini! Ini tidak baik untuk psikismu. Aku mohon Alexa, jangan sampai terjadi hal buruk padamu." Ucap Arian menarik tangan Alexa lalu memukulkan nya ke pipinya berharap Alexa sadar.


Usaha Arian pun tidak berhasil. Alexa masih asyik dengan dunianya sendiri. Entah dunia yang bagaimana.


Melihat itu Frans langsung memeluknya.


" Sayang jangan seperti ini! Hiks... Sadarlah sayang! Aku mohon sadarlah!" Ucap Frans menciumi pucuk kepala Alexa.


Tiba tiba Frans menatap tajam ke arah Tian dan Dira.


" Semua ini gara gara kalian yang tidak bisa menjaga putraku, kalau sampai terjadi hal buruk pada Alexa, maka aku akan menghancurkan hidup kalian berdua. Aku akan membuat kalian merasakan apa yang kami rasakan saat ini. Hutang nyawa harus di bayar nyawa Arian. Mulai sekarang aku tidak mau lagi melihat wajah kalian berdua lagi. Kalian lah yang menyebabkan penderitaan ini. Segera pergi dari sini sebelum aku kehilangan kendali." Ucap Frans penuh penekanan.


" Kami minta maaf Frans, kami benar benar menyesal telah lalai menjaga Aksa. Maafkan kami Frans." Ucap Arian mengusap air mata yang menetes di pipinya.


" Pergi sekarang juga!!!" Bentak Frans.


" Ba.. Baiklah kami akan pergi." Ucap Arian.


" Ayo sayang kita pulang dulu! Biarkan mereka tenang! Besok kita akan kembali lagi ke sini." Ajak Arian menggandeng tangan Dira.


Setelah kepergian mereka berdua, Frans melepas pelukannya. Ia menangkup wajah Alexa dengan perasaan sedih.


Alexa hanya bisa diam. Ia lebih nyaman dengan dunianya sendiri.


" Alexa menangislah!!!" Bentak Frans mengguncang bahu Alexa.


Plak....


Frans menampar keras pipi Alexa membuat Alexa berjingkrak kaget.


" Maaf sayang." Ucap Frans menatap Alexa.


Alexa menengok ke kanan dan ke kiri mencari Arkan maupun Dira.


" Pi... Aku bermimpi Mas Arian dan Dira kembali tanpa Aksa Pi. Mereka bilang kalau Aksa meninggal karena terseret ombak, mimpiku buruk sekali Pi. Segera telepon mereka dan tanyakan kabar Aksa Pi, suruh mereka segera kembali, aku tidak mau sampai putraku kenapa napa." Ujar Alexa menatap Frans.


" Hiks... " Frans tidak kuasa menahan air matanya melihat Alexa yang seperti ini. Mau tidak mau ia harus memberitahu Alexa yang sebenarnya.


" Kenapa kamu menangis Pi? Ada apa? Apa ceritaku begitu menyedihkan?" Tanya Alexa.

__ADS_1


Frans mengusap air matanya. Ia menangkup wajah Alexa dan menatap matanya.


" Sayang dengarkan aku!" Ucap Frans di balas anggukkan kepala oleh Alexa.


" Apa yang kau anggap sebagai mimpi itu kenyataan sayang." Ucap Frans.


Deg...


Detak jantung Alexa berdetak dua kali lebih kencang dari biasanya. Perasaannya menjadi tidak karuan. Antara cemas, khawatir, takut dan sedih secara bersamaan.


" A.. Apa maksudmu Pi?" Tanya Alexa dengan bibir bergetar.


" Aksa telah tiada sayang." Ucap Frans.


Alexa menatap Frans dengan tatapan tak percaya.


" Aksa terseret ombak dan di nyatakan meninggal dunia karena tubuhnya tidak di temukan." Jelas Frans hati hati.


" Ak... Aksa meninggal? Maksudmu dia meninggalkan aku untuk selamanya begitu?" Tanya Alexa memastikan.


" Iya sayang." Sahut Frans.


" Tidakkk!!!!!" Teriak Alexa menutup kedua telinganya dengan telapak tangannya.


" Aku tidak mau mendengar semua ini! Katakan jika kau berbohong Pi! Kau sengaja ngeprank aku kan? Jangan bercanda seperti ini Pi! Atau akau akan tiada bersamanya." Ucap Alexa beranjak. Ia memundurkan langkahnya sambil terus menggelengkan kepalanya.


" Sayang tenanglah! Ikhlaskan semuanya! Ini sudah menjadi kehendak takdir sayang. Aku mohon ikhlaskan kepergian anak kita. Kita..


" Diammm!!!!!!" Bentak Alexa membuat Frans membungkam mulutnya.


" Takdir mana yang kau maksudkan hah? Jika putraku tiada dengan cara seperti ini, mak aku akan mengubah takdirnya sendiri. Aku tidak akan membiarkan semua ini terjadi. Aku tidak mau kehilangannya, aku tidak mau kehilangannya, aku tidak mau kehilangannya." Teriak Alexa.


" Aksa..... " Teriak Alexa histeris.


" Sayang tenanglah!" Ucap Frans menyentuh bahu Alexa.


" Lepas!!!! Aku mau Aksa. Aku mau Aksa, panggilkan dia kemari! Panggilkan dia!" Alexa kembali berteriak.


" Alexa, Aksa sudah tiada. memang jasadnya belum di temukan, tapi tim SAR menyakini jika Aksa tidak akan bisa selamat dari gulungan ombak itu sayang, aku mohon ikhlaskanlah!"


Tiba tiba...

__ADS_1


Brugh....


TBC....


__ADS_2