
Huek... Huek....
Alexa memuntahkan isi perutnya di wastafel kamar mandi. Frans segera menghampirinya lalu memijat pelan tengkuk Alexa.
" Sayangnya Papi, jangan nakal donk! Kasihan Mami kamu kalau harus muntah begini." Ucap Frans.
Alexa membasuh mulutnya dengan air bersih. Ia menatap Frans yang saat ini menatapnya.
" Aku ingin makan udang pedas cabe ijo Pi, apa kau bisa membelikannya?" Ujar Alexa.
" Delivery aja ya, aku khawatir kalau meninggalkanmu dalam keadaan seperti ini." Ucap Frans.
" Iya tidak apa apa." Sahut Alexa.
" Mau makan dari resto mana?" Tanya Frans.
" Resto langganan kita aja Pi." Sahut Alexa.
Frans segera memesan yang Alexa mau.
" Kita tunggu dulu ya, ayo aku bantu ke ranjang." Ujar Frans menuntun Alexa ke ranjangnya.
" Bersandarlah di sini!" Frans menata bantal di belakang punggung Alexa.
Tak lama bel berbunyi, seorang kurir mengantar pesanan Alexa. Frans segera menatanya di piring lalu membawanya ke kamar.
" Ini pesananmu sayang." Ucap Frans.
" Terima kasih Pi." Ucap Alexa.
Alexa segera memakan udang pedas cabe hijau beserta sedikit nasi.
" Mulai besok akan ada ART yang membantu kita mengurus rumah." Ucap Frans.
" Siapa? Masih muda atau setengah baya?" Tanya Alexa.
" Paruh baya, namanya bi Rumi. Dia yang akan mengerjakan semua pekerjaan rumah dan memasak. Aku akan mengurus Aksa dan kamu." Ucap Frans.
Alexa tersenyum mendengarnya, Frans benar benar perhatian dengannya.
Selesai makan Alexa hanya duduk bersandar sambil memainkan ponselnya. Ia mulai mengarang cerita lagi dunia platform online untuk menghilangkan kegabutannya.
" Aku ke kamar Aksa dulu ya sayang. Sepertinya dia belum bangun." Ucap Frans mencium kening Alexa.
" Aksa ada di sini Pi." Ucap Aksa menghampiri kedua orang tuanya.
Frans dan Alexa menoleh ke belakang menatap Aksa yang sudah berpakaian rapi.
" Kamu mau kemana Aksa?" Tanya Alexa.
" Papa sama Mama mengajak Aksa jalan jalan ke pantai Mi. Lebih tepatnya Aksa yang meminta mereka membawa Aksa ke sana." Sahut Aksa.
" Pantai? Kamu harus berhati hati kalau main di pantai sayang. Jangan bermain ombak ya, Mami takut kamu kenapa napa." Ujar Alexa.
" Jangan khawatir sayang, Aksa tidak pergi sendiri. Dia pergi bersama Arian dan Dira." Sahut Frans.
" Tapi Pi, aku khawatir kalau Aksa tidak dalam pengawasanku sendiri." Sahut Alexa
" Aksa mending kamu main di tempat lainnya aja ya sayang, ke mall atau ke timezone misalnya." Ujar Alexa menatap Aksa.
" Tapi Aksa ingin ke pantai Mi, kalau ke mall atau ke timezone Aksa udah sering." Ujar Aksa.
__ADS_1
" Tidak apa apa sayang, biarkan Aksa bereksplorasi di dunia luar. Yang penting ada pengawasan orang tua." Ucap Frans.
" Baiklah." Sahut Alexa menghela nafasnya pelan. Entah mengapa perasaannya tidak enak. Ia begitu mencemaskan Aksa, namun demi Aksa ia membuang perasaan itu.
Tak lama Arian dan Dira datang, mereka masuk ke kamar Frans menghampiri Aksa.
" Apa kau sudah siap sayang?" Tanya Arian menatap Aksa.
" Sudah Pi." Sahut Aksa.
Alexa menatap Arian.
" Kenapa kau tidak bilang kalau mau mengajak Aksa ke pantai Mas?" Tanya Alexa.
" Aku pikir Aksa sudah memberitahu kamu, soalnya tadi pagi dia yang menelepon minta di ajak ke pantai." Sahut Arian.
Arian menatap Aksa.
" Kamu tidak memberitahu mami sebelumnya?" Tanya Arian.
" Aksa takut kalau Mami nggak memberi ijin sama Aksa. Tapi barusan Aksa sudah bilang kok Pa sama Mami. Mami sama Papi juga mengijinkannya." Sahut Aksa.
" Benar begitu Xa? Kalau kau tidak menginginkannya kami tidak akan berangkat." Ucap Arian menatap Alexa.
" Aku mengijinkannya Mas." Sahut Alexa.
" Jadi apa kami bisa berangkat sekarang Xa?" Tanya Dira menatap Alexa.
" Aku titip Aksa ya, tolong jaga dia untukku. Kalian jangan sampai lengah." Ucap Alexa.
" Siap.. Kalau begitu kami berangkat dulu, keburu panas soalnya." Ujar Dira.
" Hati hati!" Ucap Alexa.
" Pi, kenapa aku merasa ada yang aneh dengan Aksa ya. Pikiranku semakin tidak tenang." Ucap Alexa.
" Apa kamu mau ikut mereka? Kalau mau aku akan membawamu ke sana." Ujar Frans.
" Tidak Pi, kepalaku sedikit pusing. Aku takut malah tambah pusing kena angin di sana." Sahut Alexa.
" Ya sudah, tenangkan pikiranmu! Lebih baik kau berdoa, semoga Aksa baik baik saja." Ucap Frans di angguki kepala oleh Alexa.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di sebuah pantai di bagian utara ibukota, Aksa sangat senang bermain pasir di pinggiran bersama Arian dan Dira.
" Pa, Aksa membuat dua lubang. Papa masukin kaki Papa ke sini, nanti Aksa kubur dengan pasir." Ucap Aksa.
" Oke." Sahut Arian.
Arian memasukkan kedua kakinya pada lubang yang di buat oleh Aksa. Aksa lalu menguburnya dengan pasir.
Mereka nampak bahagia seperti keluarga yang lainnya.
" Mama capek nih, panas juga. Mama tunggu di pondok itu ya sayang." Ujar Dira menunjuk sebuah pondok tempat biasa orang berteduh.
" Iya Ma." Sahut Aksa.
Dira berteduh di sebuah pondok bambu. Arian dan Aksa masih senang bermain.
" Pa, Aksa haus." Ucap Aksa.
__ADS_1
" Botol minumnya ada di Mama, ambil sana!" Ucap Arian.
" Papa aja! Aksa tunggu di sini." Ujar Aksa.
" Tapi kamu tidak boleh kemana mana ya, tidak boleh ke tengah sana. Berbahaya." Ucap Arian.
" Iya Pa, Aksa di sini saja." Sahut Aksa.
Arian berjalan meninggalkan Aksa menuju pondok.
Aksa yang asyik bermain pasir tiba tiba mendengar anak kecil menangis. Ia menoleh ke arahnya, seorang gadis cilik menangis karena bonekanya terbawa ombak. Aksa segera mendekatinya.
" Jangan menangis! Kakak akan mengambilnya untukmu." Ucap Aksa menatap gadis itu.
" Kalau Kakak berhasil mengambilnya, aku akan menjadikan kakak sebagai pacarku." Ucap gadis itu di balas senyuman oleh Aksa.
Aksa berjalan ke tengah mendekati boneka itu. Semakin menengah, boneka itu juga semakin jauh dari jangkauannya. Sampai saat ombak besar datang ke arahnya dan....
" Aksa!!!!!!" Jerit Dira melihat Aksa terbawa ombak.
Arian segera berlari menyusul Aksa, namun sayang ia terlambat. Aksa sudah tidak terlihat di permukaan.
" Aksa!!!" Teriak Arian memanggil Aksa.
" Tolong!!! Tolong putraku!!!" Teriak Dira.
Tim SAR yang mendengar teriakan Dira segera melakukan pencarian. Dira mendekati ketua tim SAR berbaju oranye yang sedang mengawasi kinerja anak buahnya.
" Pak saya mohon temukan putra saya! Saya mohon Pak! Hiks... " Ucap Dira sambil terisak.
" Tenang Nyonya! Kami akan berusaha semaximal mungkin. Anda bantu kami dengan doa saja." Ucapnya di balas anggukkan kepala oleh Dira.
" Aksa hiks... " Tubuh Dira luruh ke hamparan pasir.
Semua orang nampak melakukan pencarian kepada Aksa begitupun dengan Arian.
" Aunti." Ucap gadis kecil itu.
Dira mendongak menatap ke arahnya.
" Aunti maafkan Meysa, kakak itu tadi ingin membantu Meysa. Dia mau mengambilkan boneka Meysa yang terhanyut oleh ombak. Maafkan Meysa aunti!" Ucapnya.
" Hiks... Hiks... Aksa." Dira semakin terisak mengetahui penyebab Aksa terbawa ombak.
" Saya juga minta maaf Nyonya. Saya tidak tahu jika putra anda ingin membantu putri saya." Ucap seorang wanita seumuran Dira. Dira yakin jika itu mamanya Meysa.
" Saya maafkan Nyonya, ini bukan kesalahan anda ataupun putri anda. Ini musibah untuk saya. Tapi saya mohon doakan supaya putra saya selamat dan bisa segera di temukan." Ucap Dira.
" Tentu Nyonya, terima kasih telah memaafkan kami." Ucapnya.
Hingga menjelang siang, Aksa tidak juga di temukan. Tim SAR pun menyerah dan menyatakan bahwa Aksa telah tiada karena terbawa ombak.
" Tidak!!!!!!" Teriak Dira.
" Ini tidak mungkin. Putraku belum meninggal. Cepat cari lagi!" Ucap Dira pilu.
" Sayang tenangkan dirimu!" Ucap Arian memeluk Dira.
" Bagaimana aku bisa tenang Mas, bagaimana reaksi Alexa jika mengetahui semua ini? Dia pasti akan membenciku seumur hidupnya Mas.. Hiks... Kita membuat putranya tiada hiks... " Dira terus menangis. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi Alexa mengetahui jika Aksa di nyatakan tiada.
Sudah ketebak ya gimana reaksi Alexa...
__ADS_1
TBC....