Terhanyut Dalam Perasaan Terlarang

Terhanyut Dalam Perasaan Terlarang
SALAH PAHAM #DIRA#


__ADS_3

Oa.. Oa...


Suara tangisan Aksa menggema di dalam kamar mereka.


" Astaga Aksa." Pekik Alexa turun dari ranjang menghampiri Aksa.


" Sayang maafkan Mami." Alexa menggendong Aksa lalu menenangkannya.


" Maafkan Papi juga." Ucap Frans mencium dahi Aksa.


Aksa masih menangis, mungkin karena sakit jatuh dari ranjang.


" Sayang kasih asi biar Aksa tidak menangis lagi." Ujar Frans.


" Iya Pi." Sahut Alexa naik ke atas ranjang.


Dan benar saja, setelah di beri asi Aksa diam. Frans naik ke atas ranjang duduk di samping Alexa.


" Kasihan anak Papi, gara gara Papi Aksa jadi jatuh dari ranjang ya sayang." Ucap Frans mengelus kepala Aksa.


" Iya, gara gara Papi sama Mami Aksa jadi sakit ya." Timpal Alexa mencium Aksa.


" Kita bawa ke dokter saja Yank! Takutnya Aksa kenapa napa." Ujar Frans.


" Tidak usah Mas, nanti biar aku pijat sendiri saja. Kalau dia nanti demam baru kita bawa ke rumah sakit." Sahut Alexa.


" Oke." Frans menganggukkan kepalanya.


Di rumah Arian, Dira baru saja masuk ke dalam rumahnya. Arian yang baru keluar dari kamar mandi menatap Dira.


" Lho kamu udah pulang Mas? Kok tumben pulang siang." Ucap Dira heran.


" Aku sedang tidak enak badan."


" Apa? Kamu sakit?" Pekik Dira menghampiri Arian.


" Sedikit meriang saja, mungkin masuk angin." Ujar Arian.


" Aku kerokin ya Mas." Ujar Dira.


" Nggak mau ah, aku nggak biasa kerokan." Sahut Arian.


" Ya sudah, aku ambilkan makanan sama obat dulu." Ucap Dira keluar kamar.


Tak lama Dira kembali dengan nampan berisi makanan di tangannya. Ia menghampiri Arian yang sedang berbaring di atas ranjang.


" Mas makan dulu!" Ucap Dira.


" Nanti aja Ra, aku mau tidur bentar. Rasanya dingin nggak karuan." Ujar Arian.


" Makan terus minum obat Mas, setelah itu kamu tidur." Ucap Dira sedikit memaksa.

__ADS_1


Arian menghela nafasnya. Ia duduk bersandar pada headboard.


" A' " Dira menyodorkan sesendok makanan ke mulut Arian.


Arian malah menatapnya, jantungnya terasa berdebar melihat mata huzzle milik Dira. Dira tersenyum melihatnya.


" Pandang aku terus Mas, siapa tahu kamu bisa jatuh cinta padaku." Ucap Dira menyadarkan Arian.


" Maaf." Ucap Arian mengalihkan pandangannya.


" Minta maaf untuk apa? Karena kamu nggak bisa membalas perasaanku atau karena kau memandangku?" Tanya Dira.


" Karena aku membuatmu tidak nyaman dengan tatapanku." Ucap Arian.


" Aku nyaman nyaman aja kok Mas. Sekarang makanlah!" Ucap Dira kembali menyodorkan makanannya.


" Aku bisa makan sendiri." Ucap Arian.


" Biarkan aku belajar menjadi istri yang baik untukmu Mas. Ini kewajibanku bukan? Jadi biar aku yang melakukannya." Ucap Dira.


" Baiklah." Sahut Arian pasrah.


Arian menerimanya dengan perasaan yang entah. Selesai makan, Arian meminum obatnya lalu tidur.


" Semoga cepat sembuh Mas." Ucap Dira.


Dira duduk di sofa sambil memainkan ponselnya. Ia searching di google tentang cara menaklukkan hati suami.


" Mas." Dira meletakkan telapak tangannya pada dahi Arian.


" Astaga panas banget, ternyata Mas Arian demam." Gumam Dira.


Dira segera mengambil air kompresan lalu mengompres dahi Arian. Ia melakukannya hingga berkali kali namun panas Arian belum juga turun.


" Kenapa belum turun juga sih, aku harus gimana? Padahal udah minum obat juga." Monolog Dira.


" Skin to skin." Ucap Dira.


Tanpa ragu Dira membuka bajunya dan baju Arian. Ia masuk ke dalam selimut yang di pakai Arian lalu memeluk tubuhnya.


" Semoga dengan cara ini demammu turun Mas, dan semoga kau tidak marah." Ucap Dira mengusap keringat di kening Arian.


Tak terasa Dira ikut terlelap.


Sore menjelang petang, Arian mengerjapkan matanya. Ada sesuatu yang aneh menempel pada dadanya. Ia menatap wajah cantik Dira di depannya.


" Apa ini? Rasanya kenyal sekali." Ucap Arian tanpa sadar menyentuhnya.


Dira yang merasa terganggu membuka matanya.


" Mas." Ucap Dira kaget.

__ADS_1


Refleks Dira menarik selimut untuk menutupi tubuhnya. Arian melongo melihat dirinya yang tidak memakai baju.


" A.. Apa yang kau lakukan Dira?" Tanya Arian menatap Dira dengan tatapan menyelidik.


" Jangan salah paham Mas! Tadi demam kamu tinggi, aku sudah mengompresnya tapi tidak turun juga. Aku terpaksa menggunakan metode skin to skin, bukankah itu metode paling mujarab untuk menurunkan demam? Jadi aku lakukan saja." Terang Dira sedikit malu.


Arian turun dari ranjang membawa bajunya ke kamar mandi.


" Mas." Panggil Dira.


Arian tidak menghiraukannya. Ia menutup pintu kamar mandi dengan kasar. Ia menyandarkan punggungnya pada pintu.


" Kenapa rasanya seperti ini? Ada apa dengan hatiku? Apa aku mulai jatuh cinta padanya? Arian... seharusnya kau senang jika hati ini berpindah kepadanya, kenapa aku malah merasa tidak senang? Sebenarnya apa yang aku inginkan? Entah kenapa rasanya aku tidak rela cinta untuk Alexa mulai hilang, bukankah ini akan menjadi berita baik? Tapi kenapa aku malah seperti ini? Tidak Arian... Kau tidak boleh egois! Saat ini Dira lah istrimu, dialah yang berhak atas cinta dan hidupmu. Ikhlaskan semuanya Arian... Kau pasti bisa. Lupakan kenangan bersama Alexa! Maju ke depan demi masa depan bahagia bersama Dira. Dia wanita yang kau pilih menjadi istrimu saat ini. Kau harus menepati janjimu untuk membalas cintanya. Ayo Arian." Monolog Arian menyemangati dirinya sendiri sambil menarik kasar rambutnya.


Arian membasuh wajahnya lalu keluar dari sana. Ia terkejut melihat Dira yang saat ini telungkup di atas ranjang sambil terisak. Ia segera menghampirinya.


" Dira kamu kenapa?" Tanya Arian menyentuh bahu Dira.


Dira tidak bergeming, ia tetap pada posisinya.


" Dira maafkan aku jika sikapku melukai hatimu. Aku tidak bermaksud apa apa, aku hanya malu saja mendapat perlakuan seperti itu darimu." Ucap Arian.


Dira merubah posisinya, ia duduk bersila menghadap Arian sambil mengusap air matanya.


" Kau jijik aku sentuh Mas. Kau...


" Bukan begitu Dira, aku....


" Semua yang ada dirimu kau klaim sebagai milik Alexa. Hanya milik Alexa, itu sebabnya kau tidak mengijinkan aku menyentuhmu. Itu sebabnya kau merasa kesal aku melakukan semua ini. Aku paham apa maksudmu Mas, kau tidak perlu berkilah ataupun berdusta hanya untuk menjaga hatiku. Mungkin memang sudah kehendak Tuhan, aku di takdirkan seperti ini. Aku di takdirkan bertemu denganmu, menikah denganmu, mencintaimu secepat ini tapi aku tidak di takdirkan untuk mendapatkan hati maupun cintamu." Ucap Dira memotong ucapan Arian.


" Dira jangan berpikir seperti itu! Aku mulai...


" Kau mulai jengah dengan sikapku, kau mulai melihat bagaimana sifat asli ku yang sebenarnya, kau mulai membandingkan aku dengan Alexa. Tapi sayang, kami tidak punya kesamaan satu pun. Kami dua insan yang sangat jauh berbeda. Aku tidak bisa bersikap seperti Alexa yang selalu lembut pada semua orang. Aku lelah Mas.... Tidak perlu menunggu tiga bulan, aku menarik ucapanku." Ujar Dira.


" Apa maksudmu Dira?" Selidik Arian.


" Aku sudahi semuanya sampai di sini."


Jeduarrrr......


Nah loh....


Gimana nih pisah apa lanjut?


Tekan like,koment ,vote dan kasih 🌹yang banyak untuk mendukung karya author...


Terima kasih....


Miss U All...


TBC...

__ADS_1


__ADS_2