Terhanyut Dalam Perasaan Terlarang

Terhanyut Dalam Perasaan Terlarang
MERASA KESAL


__ADS_3

Pagi ini Frans kedatangan tamu yang ingin menjenguk putranya, yaitu Clarissa. Frans nampak kaget saat membukakan pintu.


" Nona Clarissa, mau apa anda kemari?" Tanya Frans menatap Clarissa dengan tajam.


Alexa yang sedang menemani Aksa menoleh ke arah pintu menatap Clarissa.


" Saya dengar putra anda sakit tuan Frans, itulah sebabnya saya kemari. Tidak baik memperlakukan tamu seperti itu tuan Frans, jadi ijinkan saya masuk ke dalam untuk mendoakan kesembuhan putra anda." Ucap Clarissa tersenyum manis ke arah Frans.


" Biarkan dia masuk Pi! Jika niatnya baik kita tidak boleh menghalanginya." Ujar Alexa.


" Baiklah, silahkan masuk!" Ucap Frans.


Clarissa berjalan menghampiri ranjang. Ia menatap Aksa yang saat ini sedang terbaring di atas ranjang.


" Saya turut prihatin dengan keadaannya, semoga segera sembuh." Ucap Clarissa.


" Terima kasih Nona, putra saya baik baik saja begitupun dengan keluarga kami. Keluarga kami tidak akan hancur begitu saja hanya karena sebuah kerikil yang menghalangi jalan kami. Terima kasih sudah menyempatkan waktu untuk menjenguk putra kami, sebentar lagi kami akan pulang." Sahut Alexa.


Clarissa menatap Alexa begitupun sebaliknya.


" Sebuah kerikil? Bagaimana kalau kerikil itu menjadi batu besar?" Tanya Clarissa.


" Kerikil hanya benda mati, sampai kapan pun dia akan menjadi kerikil. Jika pun ada batu besar yang menghadang maka aku akan menghancurkannya dengan alat berat. Mudah bukan?" Sahut Alexa tersenyum remeh.


" Aku ingin lihat bagaimana kamu bisa menyingkirkannya." Ucap Clarissa tersenyum smirk.


Belum sempat Alexa menjawabnya, Frans sudah dulu menyela.


" Sebenarnya apa tujuanmu kemari Nona Clarissa? aku masih menghormatimu walaupun aku tahu apa yang kau lakukan padaku dan pada keluargaku. Jika tujuanmu ke sini untuk menghancurkan rumah tanggaku, kau salah Nona. Pernikahanku tidak selemah itu, sekarang mendingan anda segera pergi dari sini karena anda hanya membuang waktu saja. Bagaimanapun usahamu membuat keretakan dalam rumah tangga kami semuanya akan sia-sia. Pintu keluar masih di tempat yang sama." Ujar Frans membuat Clarissa kesal.


Tanpa berkata apa apa lagi Clarissa keluar dari ruang rawat Aksa.


Frans menatap Alexa lalu menggenggam tangannya.


" Maafkan aku sayang! Jika aku tahu akan seperti ini, aku tidak akan bekerja sama dengannya. Tapi sekarang sudah terlanjur, aku tidak bisa membatalkan kontrak kerja sama dengannya atau perusahaanku akan merugi." Ujar Frans.


" Tidak masalah Pi, kau memang harus bersikap profesional. Yang penting kau harus hati hati dengannya. Dia bisa berbuat apa saja untuk mendapatkanmu, aku tidak mau kehilanganmu. Jadi kau harus menjaga jarak dengannya, kecuali kalau kamu memang tertarik padanya." Ucap Alexa.


" Tidak ada wanita yang bisa menarik perhatianku selain kamu sayang." Sahut Frans mencubit pelan hidung Alexa.


" Aku mencintaimu." Ungkap Frans.


" Aku juga mencintaimu Pi." Sahut Alexa.

__ADS_1


Frans mengecup kening Alexa di balas dengan senyuman olehnya.


Siang harinya Alexa menggendong Aksa masuk ke dalam rumahnya. Aksa di perbolehkan pulang oleh dokter karena demamnya sudah turun.


Alexa membaringkan Aksa di atas ranjang kamarnya.


" A... a... a... " Celoteh Aksa menarik rambut Alexa.


" Sayang jangan mainan rambut, nanti kamu tanganmu bisa terluka sayang." Ujar Alexa melepaskan rambut dari tangan Aksa.


" A... a... a.. "


" Mau apa sih sayang? Mau sama Papi ya." FlUcap Frans menghampiri Aksa.


Aksa terus berceloteh, Frans terus menggodanya membuat Aksa tertawa tawa.


" Anak Mami udah ceria, semalam bikin mami panik." Ujar Alexa.


" Udah donk Mi, kan udah ada Papi. Rasa rindunya udah terobati." Sahut Frans.


" Iya, di sini Aksa kangen sama Papi tapi di sana Papi enak enakan sama mama muda. Pakai ciuman lagi." Sindir Alexa.


" Sayang nggak baik lhoh bilang gitu sama Aksa. Nanti Aksa berpikir macam macam lagi tentang aku." Ujar Frans.


Entah mengapa jika mengingat hal itu rasanya Alexa mau marah. Tidak hanya sekali Frans masuk jebakan wanita lain. Tapi Frans masih saja ceroboh dan tidak bisa membedakan mana yang berniat baik dan buruk.


" Sayang Mami kamu kalau lagi ngambek gitu, sukanya ngomongin masalah yang bikin emosi saja. Besok kalau kamu udah besar jangan seperti Mami ya." Ujar Frans mencium pipi Aksa.


" Seperti Papi aja yang mudah terjebak oleh wanita lain sayang, bahkan sudah berkali kali tapi tidak bisa menjadikannya pelajaran. Jangan jangan tadi kalau tidak ada aku, kamu pasti udah nyium Clarissa Pi." Cibir Alexa.


" Astaga sayang... Kok ngomongnya gitu sih? Ya enggak lah! Kita udah bahas soal ini lhoh Yank. Udah ah nggak usah di bahas lagi nanti malah memancing keributan lagi." Ujar Frans.


" Ya ya ya.. Aku harus diam dan melupakannya. Selalu saja seperti itu." Ucap Alexa menuju pintu. Ia kelua rkamar dengan perasaan kesal.


Brak...


" Astaga!!" Ucap Frans berjingkrak kaget.


Frans menggelengkan kepalanya melihat tingkah Alexa. Namun dengan sabar ia menghadapinya. Karena memang seperti itulah sifat Alexa. Ia mudah marah karena cemburu, dan Frans mengartikan kalau sikap Alexa karena Alexa sangat menyayanginya dan tidak mau kehilangannya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Dira sedang menyiapkan makanan di meja makan. Arian berjalan menghampirinya.

__ADS_1


" Pagi." Sapa Arian duduk di kursinya.


" Pagi Mas, silahkan sarapannya Mas." Ucap Dira meletakkan piring berisi makanan di depan Arian.


" Terima kasih." Sahut Arian.


Mereka makan dengan khidmat. Sesekali kedua saling mencuri pandang membuat jantung keduanya berdetak sangat kencang.


" Jangan menatapku begitu Mas! Nanti kamu jatuh cinta lhoh." Goda Dira.


" Ya nggak apa, cinta sama istri sendiri kan nggak di larang." Sahut Arian.


" Bukankah itu yang kamu harapkan selama ini?" Sambung Arian.


Dira tersenyum senang, ia melanjutkan makannya. Selesai makan Arian pamit berangkat kerja.


" Aku berangkat dulu ya." Ucap Arian.


" Iya Mas hati hati!" Sahut Dira mencium punggung tangan Arian.


" Kamu juga hati hati di rumah, setelah pulang kerja nanti aku akan mengantarmu ke dokter kandungan, kamu akan mulai cek up untuk pengobatan setiap bulannya. Semoga usaha kita membuahkan hasil. Aku percaya pada keajaiban Tuhan." Ujar Arian.


" Iya Mas, aku juga mempercayainya. Semoga Tuhan memberikan yang terbaik untuk kebahagiaan kita." Sahut Dira.


" Amin, aku berangkat dulu." Pamit Arian.


Dengan sedikit ragu Arian mencium kening Dira. Dira memejamkan matanya meresapi sesuatu yang menjalar dalam hatinya. Begitupun dengan Arian.


" Assalamu'alaikum." Ucap Arian.


" Wa'alaikumsallam." Sahut Dira.


Arian keluar rumah menuju mobilnya. Ia berangkat kerja dengan perasaan senang. Entah mengapa setelah penyatuan, ia merasa sangat dekat dengan Dira. Ia merasa terikat dan tidak mau kehilangannya.


Dira tersenyum membayangkan kejadian semalam yang ia lakukan dengan Arian. Dira mengelus perutnya.


" Semoga dengan adanya keajaiban Tuhan kau segera hadir di sini sayang supaya hubungan kami semakin erat. Semoga papamu bisa mencintai mama dengan tulus." Monolog Dira.


Tekan like untuk mendukung karya author...


Terima kasih...


TBC....

__ADS_1


__ADS_2