Terhanyut Dalam Perasaan Terlarang

Terhanyut Dalam Perasaan Terlarang
OBROLAN BUMIL


__ADS_3

" Apa??" Pekik Frans dan Alexa bersamaan.


Alexa menatap Dira.


" Beneran Ra? Kau hamil?" Tanya Alexa memastikan.


" Iya Xa, aku hamil empat minggu." Sahut Dira.


" Alhamdulillah Ra.. Aku seneng banget dengarnya. Selamat ya akhirnya penantian dan usahamu selama ini nggak sia sia. Kita bisa membesarkan anak kita bersama sama. Mereka akan menjadi saudara yang saling menyayangi." Ujar Alexa.


" Amin semoga saja Xa. Terima kasih, aku ucapkan selamat juga untukmu. Semoga kita berdua selalu sehat dan kehamilan kita lancar sampai ke persalinan nanti." Ucap Dira.


" Amin. Kita bisa saling sharing soal kehamilan nanti. Aku benar benar nggak menyangka kalau kita bakal hamil bareng." Ucap Alexa.


" Aku ucapkan selamat untuk kalian berdua, semoga kelak kita akan menjadi keluarga yang bahagia." Ucap Arian.


" Amin." Sahut mereka serempak.


" Apalagi kalau anak kalian berbeda jenis kelamin, kita bisa menjodohkan mereka berdua saat dewasa nanti supaya hubungan kekeluargaan kita tidak akan putus untuk selamanya." Ujar Arian.


" Bisa kita pikirkan nanti, yang jelas saat ini kita harus fokus pada kehamilan istri kita tercinta. Sepertinya ke depannya kita akan di susahkan oleh mereka berdua Yan." Ujar Frans.


" Tidak masalah, aku malah senang melakukannya. Demi si buah hati aku akan menuruti apapun permintaannya." Sahut Arian.


" Iya kau benar, aku juga akan menuruti apapun kemauan Alexa. Apalagi dulu saat hamil Aksa aku tidak ada di sampingnya. Maafkan aku sayang atas hal itu." Ucap Frans menatap Alexa.


" Semua sudah berlalu Pi, tidak perlu di sesali ataupun di bahas lagi. Sekarang kita harus bahagia demi anak anak kita nanti." Ujar Alexa menggenggam tangan Frans.


" Tentu sayang." Ucap Frans merapikan anak rambut Alexa.


" Papi, berarti Aksa mau punya dua dedek bayi donk. Yang satu dari Mami dan yang satunya dari Mama." Ujar Aksa menatap kedua orang tuanya .


" Iya sayang, kamu akan mendapat dia dedek bayi sekaligus. Tapi dengan waktu yang berbeda. Kita tidak tahu dedek dari siapa yang akan lahir dulu karena Mami belum periksa ke dokter spesialis seperti mama kamu." Sahut Frans.


" Yeiiiii Aksa akan memberitahu teman teman Aksa besok di sekolah. Aksa mau punya dedek bayi dari Mami dan Mama. Terima aksih Mami, Mama." Ucap Aksa menatap Alexa dan Dira bergantian.


Ke empat orang dewasa itu nampak tersenyum ke arahnya.


" Terima kasih untuk kebahagiaan ini Tuhan." Gumam Frans.

__ADS_1


Mereka nampak mengobrol membicarakan masalah nama, tempat persalinan, bahkan dengan konyolnya Alexa dan Dira merencanakan persalinan di tanggal dan jam yang sama membuat suami mereka menggelengkan kepalanya.


" Gimana Pi? Apa kau setuju jika aku dan Dira melahirkan di waktu yang sama? Kalau kau setuju kita akan buat janji dengan dokter." Ujar Alexa.


" Apa kau tidak ingin melahirkan secara normal? Bukankah jika kau dan Dira ingin melahirkan di waktu yang sama kalian harus menjalani operasi cesar?" Tanya Frans.


" Iya kau benar, ya sudah lah kita pikirin itu nanti saja." Sahut Alexa.


Sore hari Dira dan Arian berpamitan pulang.


Malam ini Aksa nampak sedang bermanja manja dengan maminya. Ia terus mengelus perut rata Alexa.


" Mami kapan dedek bayinya akan lahir? Apa masih lama?" Tanya Aksa.


" Masih sayang, Aksa harus menunggu delapan bulan lagi. Pas dedeknya lahir Aksa udah kelas tiga." Sahut Alexa.


" Aksa ingin adik kembar Mi, Aksa punya teman yang punya adik kembar tiga. Mereka sangat lucu Mi dan wajahnya hampir sama semua." Ujar Aksa.


" Benarkah? Mereka laki laki perempuan atau perempuan semua?" Tanya Alexa.


" Perempuan semua Mi. Mereka selalu di kucir dua kalau ke sekolah jemput kakaknya. Aksa suka gemes sendiri melihatnya. Aksa jadi membayangkan kalau Aksa punya tiga adik sekaligus pasti ramai Mi. Yang satu menangis mereka akan menangis semua." Ucap Aksa.


" Ya udah nggak pa pa Mi, yang penting adeknya nanti sehat." Sahut Aksa


" Iya sayang kita berdoa saja untuk kebaikan kita semua." Ucap Alexa.


" Iya Mi." Sahut Aksa.


" Sekarang tidur ya, besok kamu harus pergi ke sekolah." Ucap Alexa.


" Iya Mi, Aksa ke kamar dulu. Malam Mami, semoga mimpi indah." Ucap Aksa mencium pipi Alexa.


" Malam sayang." Sahut Alexa tersenyum.


Aksa kembali ke kamarnya, tak lama Frans datang membawa segelas susu hamil di tangannya.


" Minum dulu susunya sayang mumpung masih hangat." Ucap Frans memberikan susu itu pada Alexa.


" Terima kasih Pi." Ucap Alexa meminumnya.

__ADS_1


" Sekarang tidurlah!" Frans menyelimuti Alexa hingga ke batas dada.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di dalam kamar Rio, Sinta baru saja keluar dari kamar mandi. Ia naik ke atas ranjang mendekati Rio.


" Apa kau sudah mengantuk?" Tanya Rio menatap Sinta. Ia menyibak rambut Sinta yang menutupi wajahnya.


" Belum, apa ada yang kau perlukan?" Sinta balik bertanya.


" Aku membutuhkan itu." Mata Rio menujuk ke dada Sinta.


Sinta mengikuti arah pandangnya, setelah sadar ia segera menutup dadanya menggunakan kedua tangannya.


" Kenapa di tutupi? Tadi kamu nanya aku butuh apa, sekarang giliran aku jawab malah di tutupi begitu." Ujar Rio terkekeh.


" Apa kau mau meminta hakmu malam ini?" Sinta menatap Rio.


" Kalau kau mau memberikannya kenapa tidak." Sahut Rio.


" Tapi aku merasa ragu Rio. Aku merasa diriku sangat kotor karena hubunganku dengan kak Iban. Aku merasa tidak pantas untukmu." Lirih Sinta menundukkan kepala.


Rio memegang dagu Sinta lalu mendongakkan wajahnya. Ia menatap Sinta dengan tatapan penuh cinta.


" Lupakanlah masa lalu Sinta! Mari kita buka lembaran yang baru tanpa adanya bayang bayang masa lalu. Aku mencintaimu dengan tulus dan aku menerimamu apa adanya. Bagaimanapun masa lalumu aku tidak peduli. Bukankah di masa lalu kita pernah merajut kenangan indah? Mari kita melanjutkan kenangan yang sempat tertunda itu." Ucap Rio mengelus pipi Sinta.


Sinta memejamkan matanya, hatinya berdesir mendapat sentuhan dari Rio. Rio memajukan wajahnya lalu mengecup bibir Sinta. Sinta membuka mulutnya sedikit membiarkan Rio mengekspos setiap inchi nya. Suara decapan memenuhi ruangan kamar mereka.


Keduanya menikmati sensasi panas dingin yang mereka ciptakan sendiri. Tanpa mereka sadari kini keduanya sama sama polos.


" Aku datang Sinta." Ucap Rio menatap Sinta dengan mata berkabut.


Sinta menganggukkan kepalanya. Dengan lelah Rio mengarahkan senjatanya ke goa milik Sinta. Rasanya masih sama saat pertama kali Rio menyentuhnya dulu. Rio memacu tubuhnya dengan pelan membuat Sinta merasa terbang ke atas nirwana.


Suara erangan dan des@h@n terdengar jelas di ruangan itu. Malam ini keduanya kembali merajut mimpi indah yang dulu sempat terhalang oleh Iban. Satu jam lamanya Rio berhasil memainkan permainannya. Setelah mencapai puncak bersama sama, Rio tumbang di samping Sinta.


" Terima kasih sayang, sekarang tidurlah!" Ucap Rio memeluk Sinta.


Merasa lelah Sinta pun akhirnya tertidur.

__ADS_1


TBC....


__ADS_2