
Setelah mendapat informasi tentang Alexa, Frans segera menuju rumah sakit. Ia masuk ke ruang rawat Alexa dimana Alexa sedang sendirian di sana.
Deg....
Jantung Alexa berdetak sangat kencang saat tatapan mereka bertemu.
" Frans.. " Gumam Alexa.
Frans mendekati Alexa, ia berdiri di tepi ranjang.
" Hai Alexa, bagaimana kabarmu hmm?" Tanya Frans menatap Alexa.
" Seperti yang kau lihat." Sahut Alexa.
" Aku ucapkan selamat untukmu."
" Dan selamat juga untukku." Lanjut Frans dalam hati.
" Terima kasih." Sahut Alexa.
" Oh ya, ngomong ngomong dimana suamimu? Kenapa kau sendirian di sini?" Pancing Frans.
" Dia sedang keluar mencari sesuatu." Dusta Alexa.
" Kalau kau tidak ada keperluan lagi, silahkan keluar dari sini! Terima kasih sudah menjengukku." Ucap Alexa.
" Aku ke sini bukan untuk menjengukmu, tapi...." Frans menjeda ucapannya. Ia mendekati box bayi lalu menatap Aksa dengan tatapan haru.
" Aku ingin menjenguk putraku."
Deg...
Lagi lagi jantung Alexa berdetak dua kali lebih cepat dari biasanya.
" A... Apa maksudmu Frans?" Alexa duduk bersandar pada headboard.
" Apakah ucapanku salah? Bukankah dia putraku?" Tanya Frans mengelus pipi Aksa dengan lembut.
" Bukan... Dia anak Mas...
" Aku tidak suka jika milikku di akui oleh orang lain Alexa." Sahut Alexa penuh penekanan.
Frans menggendong Aksa dengan pelan. Ia menimang nya sambil sesekali menciumi pipi Aksa.
" Putra papi sayang, kamu tampan sekali persis saat kau datang di dalam mimpi papi. Maafkan papi yang tidak bisa mendampingi mami kamu saya hamil kamu sayang. Tumbuhlah dengan sehat sayang, papi menyayangimu." Ucap Frans mencium pipi Aksa.
Tak terasa air mata Alexa menetes begitu saja. Ia mengusap air matanya saat Frans menghampirinya.
" Siapa namanya Xa?" Tanya Frans.
" Aksa." Sahut Alexa.
" Seharusnya kau memberinya nama Arans, Alexa Frans." Ujar Frans.
" Ah iya kau benar, Arans... Alexa Arian." Sahut Alexa.
" Xa... Dia milikku bukan milik Arian." Ucap Frans.
__ADS_1
" Mengertilah Frans, dia bukan milikmu tapi milik Mas Arian." Kukuh Alexa.
Alexa tidak mau jika kehadiran putranya akan merusak hubungan Frans dengan Sinta.
" Bagaimana bisa dia anak Arian? Orang yang mengalami masa ngidam aku." Ujar Frans membuat Alexa melongo.
" Kau tidak percaya? Tanyakan pada temanku nanti. Selama sembilan bulan aku mengalami mual, muntah dan pusing tak karuan sampai aku di berhentikan dari tempat kerja." Ujar Frans.
" Apa?" Pekik Alexa tidak percaya.
" Lalu bagaimana dengan Sinta? Apa dia tahu kalau kamu mengalami kehamilan simpatik?" Selidik Alexa.
" Tidak!" Sahut Frans.
" Syukurlah." Alexa bernafas lega.
" Karena kami memang tidak tinggal bersama." Ucapan Frans membuat Alexa langsung menatapnya.
" Kenapa?" Tanya Alexa.
" Malam dimana aku memberitahu Sinta tentang hubungan kita, dia mengakui kalau dia juga menjalin hubungan dengan pria lain. Pada akhirnya kami memilih untuk berpisah." Terang Frans menatap Alexa.
" Dan kau juga begitu." Sambung Frans.
Alexa melongo membulatkan matanya.
" Darimana kau tahu?" Tanya Alexa.
" Aku selalu menahan diriku untuk tidak menemuimu sesuai janjiku padamu Alexa. Sampai kemarin aku bertemu dengan Arian. Aku menanyakan kabarmu dan dia menceritakan apa yang terjadi pada hubungan kalian berdua. Kenapa kau berbohong padaku Alexa? Andai saja kau mengatakan yang sebenarnya, aku akan bertanggung jawab padamu dan aku bisa menemanimu melewati masa masa kehamilan Aksa." Ujar Frans.
" Maafkan aku! Aku berpikir kalau pernikahanmu baik baik saja. Aku tidak mau mengganggu kebahagiaanmu lagi Frans. Aku sudah melupakan apa yang terjadi pada kita." Sahut Alexa.
" Tapi Frans aku...
" Aku tidak menerima penolakan Alexa, demi buah hati kita. Aku akan memberikan keluarga yang utuh kepada Aksa. Aku tidak mau putraku tumbuh tanpa kasih sayang dari papinya. Jangan pikirkan perasaanmu padaku karena cintaku cukup untuk kita bertiga. Kau mengertikan?" Frans menatap Alexa.
" Entahlah Frans, aku tidak bisa berpikir saat ini." Sahut Alexa.
" Istirahat saja! Biar Aksa aku yang jagain." Ucap Frans.
Alexa mencoba memejamkan matanya tapi tetap saja tidak bisa. Tiba tiba.....
Syurrrr....
" Ah Aksa ngompol Xa." Pekik Frans.
Alexa tertawa melihatnya.
" Kok malah ketawa sih!" Ujar Frans.
" Terus aku harus apa?" Tanya Alexa.
" Aku gantiin popoknya dulu! Tapi aku tidak bisa memakaikan kainnya." Ujar Frans.
" Pakaikan celana panjang saja! Bisa nggak?" Tanya Alexa.
" Bisa donk." Sahut Frans percaya diri.
__ADS_1
Frans membaringkan Aksa di ranjang, dengan telaten ia mengganti popok Aksa. Ia juga memakaikan celana panjang kepada Aksa dengan hati hati.
" Selesai... Anak papi udah rapi lagi." Ucap Frans menatap Aksa yang saat ini menatapnya.
" Wajahnya sama persis denganku Xa." Ucap Frans.
" Kalau anak Mas Arian pasti mirip Mas Arian." Sahut Alexa.
Entah mengapa hati Frans tidak suka mendengar Alexa menyebut nama Arian. Ia kembali menggendong Aksa.
Ceklek....
Keduanya menoleh ke arah pintu.
Rio menggandeng tangan Sinta menghampiri mereka. Frans dan Alexa saling melempar pandangan dengan perasaan dag dig dug.
" Alexa... Selamat ya! Sekarang kau sudah menjadi ibu." Ucap Sinta.
" Terima kasih." Sahut Alexa.
" Kamu di sini Mas?" Sinta menatap Frans.
" Iya." Sahut Frans.
" Sebentar!" Sinta menatap babby Aksa dengan cermat, lalu ia menatap Frans.
" Babby nya mirip banget sama kamu Mas, apa wanita yang kau maksud itu Alexa?" Selidik Sinta menatap Frans dan Alexa bergantian.
" Iya, dia adalah Alexa." Sahut Frans.
" Maaf Sin!" Ucap Alexa.
" Kenapa minta maaf Xa? Aku tidak pa pa kok. Aku juga merasakan apa yang kalian rasakan. Mas Rio yang membuatku jatuh hati dan selalu nyaman berada di dekatnya." Sinta mengapit lengan Rio.
" Aku tidak mengerti ternyata dunia hanya selebar daun kelor. Walaupun kita sudah saling menyakiti tapi kita berada di lingkup pertemanan yang sama. Benar benar konyol." Ujar Rio terkekeh.
" Iya kau benar Bro." Sahut Frans.
" Sekarang kalian sudah bertemu, kapan mau ke penghulu?" Tanya Rio.
" Nunggu Alexa selesai masa nifas dulu. Terima kasih sudah menjaga Alexa selama ini." Ucap Frans.
" Tidak perlu berterima kasih, Alexa temanku jadi apapun yang ia hadapi aku akan selalu berada di sampingnya." Ucap Rio.
" Tapi bukan teman menjadi cinta kan?" Tanya Sinta menatap Rio.
" Ya tidak lah sayang, hubungan kami murni pertemanan. Cinta dan kasih sayang yang kami berikan satu sama lain adalah perasaan sebagai teman, bukan begitu Xa?" Rio menatap Alexa.
" Iya." Sahut Alexa.
Mereka melanjutkan mengobrol seperti seorang teman yang sudah kenal lama. Tidak ada kebencian ataupun dendam di dalam hati mereka. Mereka ikhlas menerima takdir satu sama lain. Karena mereka sadar bahwa manusia hanya bisa berencana namun Tuhan yang menentukannya.
Jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak sebagai suport untuk author...
Terima kasih untuk readers yang telah mensuport author semoga sehat selalu...
Miss U All...
__ADS_1
TBC...