
" Dokter katakan! Bagaimana kondisi istri saya?" Tanya Frans menatap dokter Mila.
" Istri anda terkena sindrom kehamilan Tuan." Sahut Dokter membuat Frans tercengang.
" Maksud Dokter, Mamiku hamil? Aksa mau punya adik begitu Dok?" Tanya Aksa dengan mata berbinar.
" Iya Nak, Mami kamu sedang hamil. Di perut Mami ada adek bayi yang sedang tidur." Sahut dokter Mila.
" Saya ucapkan selamat Tuan Frans atas kehamilan nona Alexa." Ucap dokter Mila.
Frans tidak bergeming.
" Pi..." Aksa menepuk bahu Frans membuat Frans tersadar dari keterkejutan nya.
" Ah iya sayang." Ucap Frans.
" Mami hamil Pi, Aksa mau punya adik. Aksa sangat bahagia Pi." Sorak Aksa.
" Beneran Dok? Istri saya hamil?" Tanya Frans memastikan.
" Iya Tuan. Untuk lebih jelasnya besok datanglah ke rumah sakit, kita lakukan USG untuk mengetahui keadaan janin anda." Sahut dokter Mila.
" Alhamdulillah... Kami menunggunya selama tujuh tahun ini. Apa yang harus saya lakukan untuk istri saya saat kehamilannya Dok?" Tanya Frans.
" Jaga kesehatan, emosi, makan makanan yang bergizi, dan istirahat yang cukup Tuan. Perbanyak makan buah dan minum air putih. Saya akan meresepkan vitamin untuk nona Alexa. Silahkan tebus di apotek." Ujar dokter Mila.
" Baik Dok. Saya akan melakukan apa yang anda perintahkan." Ucap Frans.
" Kalau begitu saya permisi, ini resep yang harus anda tebus." Ucap dokter Mila memberikan kertas resep kepada Frans.
" Datanglah ke rumah sakit jam sembilan pagi, saya akan membuat janji dengan dokter Sinta di sana." Sambung dokter Mila.
" Baik Dok, terima kasih." Sahut Frans.
Setelah kepergian dokter Mila, Frans duduk di tepi ranjang menggenggam tangan Alexa.
" Sadarlah sayang! Ada kabar bahagia menantimu. Kau pasti sangat bahagia mendengarnya." Ucap Frans mengelus kepala Alexa.
" Pi, Aksa mau punya adik, kira kira adiknya laki laki apa perempuan ya Pi?" Tanya Aksa polos.
" Papi belum tahu sayang, apapun jenis kelaminnya nanti, kita harus banyak bersyukur dan kita harus menyayanginya." Ucap Frans.
" Iya Pi. Aksa akan selalu menyayangi dedek bayinya." Sahut Aksa.
Di tempat lain tepatnya di rumah Arian, saat ini Dira sedang muntah muntah di dalam kamar mandi. Arian setia menemaninya sambil memijat pelan tengkuknya.
" Sayang mending ke rumah sakit sekarang! Aku tidak mau sampai kamu kenapa napa." Ucap Arian.
" Iya Mas, aku juga tidak tahan kalau muntah terus begini." Sahut Dira mencuci mulutnya dengan air bersih.
" Kalau begitu ayo!" Ajak Arian mengapit lengan Dira karena takut jatuh.
Arian membawa Dira ke rumah sakit terdekat. Sesampainya di sana, Dira di periksa oleh dokter jaga.
__ADS_1
" Bagaimana keadaan istri saya Dok?" Tanya Arian menatap dokter wanita paruh baya itu.
" Ada janin di dalam perut istri anda Tuan, untuk memastikannya saya akan rujuk istri anda ke bagian obgyn untuk USG." Sahut dokter.
" Apa Dok? Janin?" Tanya Arian memastikan.
" Iya Tuan, itu baru perkiraan saya saja." Sahut dokter.
" Tapi rahim istri saya bermasalah Dok, dan sampai tujuh tahun ini dia tidak bisa hamil. Apa Dokter tidak salah memperkirakannya? Saya takut jika itu bukan janin melainkan penyakit Dok." Ujar Arian memelankan suaranya pada kalimat terakhir.
" Kita lihat nanti saja Tuan, sekarang suster akan membawa istri anda ke bagian obgyn." Ucap dokter.
" Baiklah Dok, terima kasih." Ucap Arian.
Arian mengikuti suster yang mendorong kursi roda Dira. Bukannya ia tidak senang dengan berita ini namun ia cemas jika Dira terkena penyakit yang berbahaya.
" Ya Tuhan... Semoga saja tebakan dokter itu benar. Yang ada di dalam rahim Dira bukan penyakit melainkan calon anak kami." Doa Arian dalam hati.
"Ya Tuhan semoga saja kekhawatiran Mas Arian tidak terbukti benar ya Rob. Aku tidak mau menambah beban Mas Arian dengan penyakit ini. Semoga yang ada di sini kau sayang, calon anak kami yang sangat kami nantikan." Batin Dira mengusap perut ratanya.
Sesampainya di ruang obgyn, dokter Sinta segera memeriksa Dira. Ia mengoleskan gel di atas perut Dira lalu menggerakkan transduser ke kanan dan ke kiri.
" Lihat Tuan dan Nyonya!" Ucap dokter Sinta.
" Titik hitam ini merupakan janin anda. Jadi terbukti jelas di sini kalau Nyonya Dira sedang hamil. Saya ucapkan selamat untuk kalian berdua, usaha kalian selama ini membuahkan hasil yang luar biasa." Terang dokter Sinta.
Dira menutup mulutnya menatap Arian, begitupun sebaliknya. Keduanya sangat terkejut dengan kenyataan ini. Dira hamil setelah tujuh tahun melakukan terapi.
" Sayang kau... " Arian menjeda ucapannya. Saking bahagianya ia tidak bisa meneruskan kata katanya.
Grep..
Arian memeluk Dira dengan perasaan bahagia.
" Selamat sayang, akhirnya kau akan menjadi seorang ibu seperti impianmu selama ini. Terima kasih untuk hadiah terindah dalam hidupku ini hiks.. Jaga anak kita dengan baik sayang, aku sangat menantikan kehadirannya di dunia ini. " Ucap Arian terisak.
" Iya Mas.. Aku tidak menyangka jika akan tiba saat saat seperti ini. Selama ini aku merasa putus asa karena aku tidak kunjung hamil. Aku sangat bahagia Mas hiks. Aku menjaganya sebaik mungkin." Isak Dira membalas pelukan Arian.
Dokter Sinta dan seorang suster merasa terharu melihat pemandangan di depannya. Bagaimana tidak? Mereka yang menemani usaha Dira selama ini agar Dira bisa hamil.
Di rasa sudah lebih baik, Arian melepas pelukanya.
" Maaf Dokter, kami tidak bisa mengendalikan diri karena saking bahagianya." Ucap Arian.
" Tidak masalah Tuan Arian. Kami juga ikut bahagia untuk kalian berdua." Ucap dokter Sinta.
" Terima kasih Dok." Ucap Arian di balas anggukkan kepala oleh dokter Sinta.
Dokter Sinta menjelaskan apa yang baik dan tidak boleh di lakukan oleh wanita hamil. Ia juga memberikan saran saran positif untuk kesehatan Dira. Setelah selesai keduanya segera keluar dari rumah sakit.
" Mas aku ingin ke rumah Aksa. Aku ingin membagikan kabar gembira ini Mas. Aksa pasti akan senang karena dia akan segera mendapatkan adik dari kita. Semoga Alexa bisa segera menyusul." Ucap Dira.
" Iya sayang, ayo kita ke sana." Ajak Arian.
__ADS_1
Arian melajukan mobilnya menuju rumah Frans. Lima belas menit kemudian ia sampai di sana.
Arian menggandeng tangan Dira masuk ke dalam rumah.
" Kok sepi ya Mas? Apa jangan jangan terjadi sesuatu dengan Alexa?" Tanya Dira mengedarkan pandangannya.
" Mungkin mereka di kamar. Ayo kita ke sana! Kalau pintunya tutup kita kembali aja ke rumah, takut mengganggu mereka." Ujar Arian di balas anggukkan kepala oleh Dira.
Mereka berdua menuju kamar Frans. Pintu kamar nampak terbuka, Arian dan Dira masuk ke dalam.
" Assalamu'alaikum." Ucap keduanya
" Wa'alaikumsallam." Sahut Frans menoleh ke pintu.
" Mama, Papa." Ucap Aksa.
" Iya sayang." Sahut Arian.
" Kamu kenapa Xa? Apa kondisimu semakin parah?" Tanya Dira mendekati Alexa di ranjangnya.
" Kepalaku pusing Ra, perutku juga terasa sangat mual." Sahut Alexa.
" Apa kau sudah ke dokter" Tanya Dira.
" Sudah, dokter bilang aku baik baik saja." Sahut Alexa menganggukkan kepala.
" Syukurlah kalau begitu." Ucap Dira.
Dira menatap Arian yang menganggukkan kepala.
" Xa sebenarnya ada kabar bahagia yang ingin aku bagi denganmu.Tapi melihat kondisimu yang seperti ini mending nanti aja aku ngomongnya kalau kondisimu sudah baikan." Ucap Dira.
" Aksa juga punya kabar bahagia untuk Mama dan Papa." Sahut Aksa.
" Benarkah?" Tanya Dira. Aksa menganggukkan kepala.
" Apa itu sayang?" Tanya Dira.
" Aksa mau punya dedek bayi." Ucap Aksa bahagia.
" Dedek bayi?" Arian menatap Alexa.
" Apa Mami kamu sedang hamil?" Tanya Arian memastikan.
" Iya Pa, Mami sedang hamil adik Aksa. Itu sebabnya Mami muntah muntah terus." Sahut Aksa.
" Mama kamu juga hamil."
"Apa????"
Jangan lupa tekan like untuk mendukung karya author...
Terima kasih untuk readers yang telah mensuport author semoga sehat selalu...
__ADS_1
Miss U All...
TBC....