Terhanyut Dalam Perasaan Terlarang

Terhanyut Dalam Perasaan Terlarang
RENCANA DIRA


__ADS_3

Pagi setelah sarapan Frans dan Aksa sedang bermain main di atas ranjang. Frans nampak senang melihat Aksa yang mulai memiringkan tubuhnya sambil tertawa tawa.


" Ayo sayang tengkurap, anak Papi pintar." Ucap Frans tersenyum.


" A... a... a... " Oceh Aksa mengulum tangannya.


" Semangat sayangnya Papi... " Ujar Frans mengelus kepala Aksa.


Alexa masuk ke dalam menghampiri mereka.


" Asyik banget mainnya ya sayang sampai suara papimu kedengaran dari bawah." Ujar Alexa.


" Iya donk Mi, Aksa lagi belajar miring mau tengkurap dianya." Sahut Frans.


" Wah pintar sekali anak Mami." Ujar Alexa duduk di samping Frans.


Frans menatap Alexa begitupun sebaliknya.


" Kenapa menatapku seperti itu?" Tanya Alexa.


" Karna aku sayang kamu sayang." Sahut Frans.


" Apa sih!" Ujar Alexa.


" Beneran lhoh Yank, dulu kamu suka banget nungguin aku ngomong sayang. Giliran sekarang malah malu malu gitu." Ujar Frans.


" Iya kah?"


" Iya lah." Sahut Frans.


" Kamu berhutang sama aku lhoh Yank." Ujar Frans.


" Hutang apa?" Alexa mengerutkan keningnya.


" Semalam kamu tidak jadi kasih aku jatah, padahal aku sudah nungguin kamu sampai dua jam malah kamu langsung tidur." Ucap Frans.


" Ya maaf orang udah ngantuk banget ya aku tidur lah Pi, Aksa aja tidurnya malam banget. Lagian kenapa nggak bangunin aja." Ujar Alexa.


" Nggak tega, kelihatannya tidur kamu nyenyak banget." Sahut Frans.


Alexa hanya nyengir kuda saja.


" Kalau nanti malam harus jadi." Ucap Frans. Alexa menganggukkan kepalanya.


Mereka nampak menemani dan memberikan semangat untuk Aksa. Aksa tumbuh dengan baik, ia tumbuh menjadi babby gembul yang sangat menggemaskan. Mereka bercengkrama sampai siang hari.


Di tempat lain, tepatnya di rumah Arian. Dira sedang menyiapkan makan siang untuk ia bawa ke kantor Arian. Ia ingin melihat kantor dan suaminya bekerja.


Setelah selesai ia menaiki taksi menuju kantor Arian yang lumayan jauh dari rumahnya. Tiga puluh menit ia sampai di perusahaan tempat Arian bekerja sebagai manager keuangan.

__ADS_1


" Permisi Mbak, bisakah saya bertemu dengan pak Arian?" Dira menatap rexceptionist di depannya.


" Silahkan Nona, ruangannya lurus saja sampai ujung, ruangannya menghadap ke barat. Ada tulisan ruangan manager keuangan di pintunya." Ucap receptionist.


" Oke terima kasih Mbak." Ucap Dira di balas anggukan kepala oleh receptionist tersebut.


Dengan langkah pelan Dira menuju ruangan Arian, sampai di ruang yang bertuliskan manager keuangan, ia membuka pintunya dan....


Deg...


Jantung Dira terasa berhenti berdetak saat mendengar obrolan Arian dengan seorang temannya.


" Kau tidak bisa membedakan Dira dan Alexa Yo, mereka sangat jauh berbeda. Alexa baik hati, humble dan dia tidak pernah memandang rendah orang lain. Sedangkan Dira... Aku tidak tahu bagaimana sifatnya. Pertama kali aku melihat sifat aslinya saat ia memarahi Alexa di pesta pernikahan kami. Bahkan ucapannya tidak mencerminkan orang yang berpendidikan. Mereka bagaikan langit dan bumi dari segi manapun. Aku bahkan sudah berusaha untuk bisa move on dari Alexa namun nyatanya aku tidak bisa. Aku ingin pernikahanku dan Dira menjadi kebahagiaan untuk kami tapi pada kenyataannya hatiku hampa. Tidak ada rasa nyaman ataupun tenang sama sekali. Aku bingung Yo harus bagaimana. Aku menikahinya karena rasa tanggung jawabku padanya, tapi pada nyatanya aku tidak bertanggung jawab sama sekali. Aku tidak bisa mencintainya, aku tidak bisa menjadikannya satu satunya wanita dalam hatiku. Entah kenapa hanya Alexa Alexa dan Alexa saja." Ucap Arian panjang lebar.


Dira membungkam mulutnya agar tidak terisak. Rasanya hatinya sakit mendengar ucapan Arian. Ia merasa tidak mampu membuat Arian jatuh cinta padanya. Ia merasa kalah sebelum berjuang.


" Semua ini karena kamu Alexa... Kau selalu di sayang orang yang aku sayangi. Kau selalu merebut perhatian mereka. Aku akan membuatmu merasakan seperti apa yang aku rasakan saat ini. Beruntung aku sudah meminta maaf padamu, itu semua akan memudahkan rencanaku." Batin Dira mengusap air matanya.


Dira tidak jadi menemui Arian, ia keluar menuju taksi yang sempat di pesannya. Tujuannya kali ini adalah rumah Alexa. Entah apa yang akan ia lakukan hanya dia yang tahu.


Setelah sampai, ia segera memencet bel rumah Alexa.


Ceklek...


Frans membuka pintunya tiba tiba...


" Awh!" Pekik Dira menubruk Frans.


Alexa yang melihatnya dari atas tangga segera menghampiri keduanya.


" Ada apa Pi?"


Frans segera mendorong pelan tubuh Dira menjauh darinya.


" Ini sayang, tiba tiba Dira hendak jatuh." Sahut Frans.


" Kalau jalanmu belum sempurna lebih baik kau pakai tongkat Dira, kalau jatuh di jalan kan bisa bahaya." Ujar Alexa.


" Iya Maaf!" Ucap Dira.


" Silahkan masuk!" Ucap Frans.


" Bisa bantu pegangi aku jalan ke sana? Aku takut jatuh lagi." Ucap Dira menatap Frans.


" Baiklah." Sahut Frans.


Frans membantu Dira berjalan dengan memegangi tangannya.


" Duduklah!" Ucap Frans.

__ADS_1


" Terima kasih." Ucap Dira duduk di sofa.


" Ada perlu apa kau kemari Dira?" Tanya Alexa duduk di samping Frans.


" Aku hanya ingin main saja, di rumah suntuk. Maaf mengganggu waktu kalian, aku tidak tahu kalau Frans ada di rumah." Ucap Dira.


" Tidak apa, lagian kami juga tidak ngapa ngapain kok. Paling cuma mainan sama Aksa aja." Ujar Alexa.


" Ngomong masalah Aksa aku jadi ingin bermain main dengannya juga. Bolehkah aku sering sering ke sini?" Tanya Dira menatap Alexa.


Alexa dan Frans saling melempar tatapan. Alexa menganggukkan kepalanya.


" Iya boleh." Sahut Frans.


" Terima kasih, aku tidak akan merasakan kesepian lagi." Ucap Dira.


" Mungkin selamanya aku akan kesepian karena tidak ada seorang anak di antara kami. Aku memang tidak seberuntung dirimu Xa." Ucap Dira sedih.


" Jangan bersedih, pasrahkan saja pada yang Kuasa! Dia lah yang lebih tahu segalanya." Ujar Alexa.


" Iya terima kasih Xa." Sahut Dira.


" Sayang aku ke ruang kerja dulu ya, aku akan kembali jika pekerjaanku sudah selesai." Ucap Frans.


" Iya Pi." Sahut Alexa.


Frans beranjak menuju ruang kerjanya, Dira terus menatap sampai punggung Frans hilang dari pandangannya.


" Kenapa Dira? Kenapa kau menatap Frans seperti itu?" Tanya Alexa.


" Kau beruntung memiliki suami yang sangat mencintaimu Xa. Tidak seperti aku, aku bernasib malang ya g di nikahi Mas Arian karena bentuk tanggung jawabnya kepadaku. Aku di tinggal kekasihki setelah dia tahu kondisiku yang tidak sempurna ini, aku benar benar wanita malang Xa." Ucap Dira sedih.


" Jangan bersedih Dira! Semua sudah terjadi, dan inilah takdir Tuhan yang harus kau jalani. Aku yakin seiring berjalannya waktu Mas Arian pasti akan mencintaimu. Kau tinggal bersabar sampai waktu itu tiba Dira." Ujar Alexa.


" Entah kapan waktu itu akan datang Xa, mungkin waktu itu tidak akan pernah datang sama sekali karena Mas Arian hanya mencintaimu, hanya mencintaimu Alexa bukan diriku." Ucap Dira.


" Percaya, berdoa dan selalu optimis Ra, pasti kamu bisa." Ujar Alexa.


" Semoga Xa, terima kasih suportnya." Ucap Dira di balas senyuman oleh Alexa.


" Kau tenang saja Xa setelah ini aku pasti bahagia. Tunggu kejutan dariku. Terima kasih sudah menerimaku dengan baik, kau membuat jalanku lebih mudah." Batin Dira tersenyum smirk.


Kira kira apa ya yang di rencanakan oleh Dira?


Jangan lupa loket koment vote dan kasih 🌹yang banyak buat author...


Terima kasih I tuk readers yang telah mensuport author semoga sehat selalu...


Miss U All...

__ADS_1


TBC...


__ADS_2