Terhanyut Dalam Perasaan Terlarang

Terhanyut Dalam Perasaan Terlarang
RUMAH SAKIT


__ADS_3

" Jawaban dari pertanyaanmu adalah, Papi akan mengatakan yang sebenarnya pada Arsya. Papi akan menjauhinya dan kembali pada kalian berdua. Papi tidak akan membagi kasih sayang Papi kepada siapapun lagi." Ucap Frans duduk di tepi ranjang.


" Aksa tidak yakin Pi, semakin Papi dekat dengannya Papi akan semakin menyayanginya dan sulit untuk melepaskannya. Buktinya sudah dua bulan ini Papi semakin dekat dengannya kan?" Ucap Aksa.


Skakmat...


Frans bungkam. Benar yang di katakan oleh Aksa, pada kenyataannya ia semakin dekat dengan Arsya.


" Kalau Papi mau bersamanya, biarkan kami yang pergi Pi."


Jeduarrr...


Bagai di sambar petir di siang bolong, tubuh Frans terasa kaku. Ia menatap Aksa yang menatapnya penuh dengan kebencian.


" Tidak sayang! Jangan tinggalkan Papi! Papi tidak mau bersamanya, hanya kalian berdua yang Papi mau. Papi sayang kalian berdua." Ujar Frans.


" Kalau Papi sayang kami, kenapa Papi membohongi kami? Papi membagi waktu kami untuknya. Aksa benci Papi, Aksa benci Papi." Teriak Aksa berlari keluar kamarnya.


" Aksa tunggu!" Ucap Frans mengejar Aksa.


Aksa menuruni anak tangga begitupun dengan Frans. Saat Frans sampai di tengah tengah tiba tiba kakinya tersandung dan...


" Aaaaaaa."


Aksa yang sudah sampai di bawah menoleh kebelakang.


" Papi... " Teriak Aksa melihat tubuh Frans terguling guling di atas tangga.


Mendengar teriakan Aksa, Dira, Arian dan Alexa berlari ke arahnya.


" Frans... " Teriak Alexa dari atas tangga.


Arian mendekati tubuh Frans yang berlumuran darah.


" Frans bangunlah!" Ucap Arian menepuk pipi Frans.


Frans membuka matanya, ia menatap Aksa.


" Ak.. Sa sayang... Maafkan Papi." Ucap Frans memejamkan matanya.


" Papi.. Papi jangan tinggalkan Aksa! Maafkan Aksa Pi hiks... " Isak Aksa.


" Mas bawa Frans ke rumah saki!" Ucap Dira.


" Baiklah." Sahut Arian.


Arian membopong tubuh Frans menuju mobilnya di ikuti Aksa dari belakang. Sedangkan Dira mendekati Alexa yang berdiri mematung di depan tangga.


" Alexa, semua akan baik baik saja." Ucap Dira mengelus lengan Alexa membuat Alexa tersadar dari keterkejutan nya.


" Frans... Dira. Dia.. dia... Hiks... " Isak Alexa memeluk Dira.


" Tenanglah Alexa! Ayo kita ke rumah sakit! Sebelum semuanya terlambat." Ujar Dira.


Alexa melepas pelukannya, ia mengusap air matanya. Dira menggandengnya menuju mobil Arian. Alexa memangku kepala Arian di pahanya. Arian segera melajukan mobilnya menuju rumah sakit terdekat.


" Bertahanlah Pi! Kau pasti akan baik baik saja. Maafkan aku Pi!" Ucap Alexa mengelus kepala Frans. Darah menempel di tangannya namun ia tidak peduli.

__ADS_1


" Semua ini gara gara Aksa Mi, seandainya Aksa tidak marah sama Papi, pasti semua ini tidak akan terjadi Mi." Ucap Aksa sambil menangis.


" Tidak perlu menyalahkan diri sendiri sayang, semua ini sudah takdir Tuhan. Kita harus ikhlas menerima semuanya ya." Ucap Alexa menatap Aksa yang saat ini berada di pangkuan Dira.


" Kita berdoa saja semoga papi selamat sayang, papi pasti baik baik saja." Timpal Dira.


" Iya Ma." Sahut Aksa.


Sampi di rumah sakit Frans mendapat penanganan intensif. Alexa dan yang lainnya menunggu di laut ruangan ICU.


Satu jam kemudian dokter keluar dari ruangan itu.


" Bagaimana keadaan suami saya Dok?" Tanya Alexa menghampiri dokter pria berkacamata itu.


" Suami anda baik baik saja Nona, beruntung lukanya tidak parah. Pasien sebentar lagi sadar, anda bisa menemuinya di ruang rawat vvip nomer dua." Ujar dokter.


" Alhamdulillah... Terima kasih Dok." Ucap Alexa di balas anggukkan kepala oleh dokter. Dokter segera berlalu dari sana.


Setelah di pindah di ruang rawat, mereka masuk ke dalam menghampiri Frans yang terbaring lemah di ranjang.


" Papi... Papi sudah sadar." Aksa memeluk papinya yang saat ini sedang menatapnya.


" Iya sayang, semua ini berkat doamu, dan mereka semua." Sahut Frans tersenyum.


" Aksa minta maaf Pi, karena Aksa Papi jadi begini." Ucap Aksa.


" Bukan salahmu sayang, Papi lah yang salah karena telah menyakitimu. Papi juga minta maaf." Ucap Frans.


" Aksa memaafkan Papi." Sahut Aksa.


" Bagaimana dengan Mami?" Tanya Frans menatap Alexa.


" Aku memaafkanmu Pi." Ucap Alexa menganggukkan kepala.


" Terima kasih sayang, aku akan menjadikan semua ini pelajaran. Aku akan berjanji kejadian seperti ini tidak akan terulang lagi." Ucap Frans.


" Jangan pikirkan itu! Sekarang fokuslah pada kesembuhan Pi." Ujar Alexa.


Frans menganggukkan kepalanya.


" Terima kasih Yan, kau telah membantuku." Ucap Frans.


" Kita keluarga Frans, jadi sudah sepantasnya kan kita saling membantu." Ujar Arian.


" Kalau begitu kami pulang dulu ya, semoga lekas sembuh." Ucap Arian.


" Amin, terima kasih." Sahut Frans.


" Aksa mau di sini apa ikut Mama pulang?" Tanya Dira mengelus kepala Aksa.


" Aksa ikut Mama sama Papa aja. Aksa pulang ya Pi." Ucap Aksa.


" Hati hati sayang." Ucap Frans di balas anggukkan kepala oleh Aksa.


Mereka bertiga meninggalkan ruangan Frans. Frans menatap Alexa lalu menggenggam tangannya.


" Terima kasih sudah memaafkan aku lagi. Aku mencintaimu sayang." Ucap Frans mencium punggung tangan Alexa.

__ADS_1


" Sama sama." Sahut Alexa


" Aku lapar Yank! Suapin ya." Ucap Frans.


" Hmm manja." Cibir Alexa.


" Sekali kali kan boleh." Sahut Frans tersenyum.


Alexa menatap Frans, nampak perban melilit kepala bagian atasnya.


" Ini pasti sakit banget ya Pi." Ujar Alexa menunjuk kepala Frans.


" Tidak sayang, lebih sakit jika kalian berdua marah dan mengabaikan aku." Sahut Frans membuat Alexa tersenyum.


" Laper Yank." Ucap Frans manja.


" Ah iya, aku akan menyuapimu." Sahut Alexa.


Alexa menyuapi Frans dengan telaten.


" Kamu nggak makan?" Tanya Frans.


" Nanti aja, kamu makan dulu terus minum obat biar cepat sembuh." Ucap Alexa


Selesai makan, Alexa membantu Frans meminum obatnya.


" Sekarang istirahatlah Pi! Aku akan menemanimu di sini." Ujar Alexa.


Frans menganggukkan kepala. Tak lama Frans pun tertidur, mungkin karena efek obat yang ia minum.


Alexa keluar dari ruangan hendak mencari makan. Saat ia membuka pintu Ia terkejut melihat Sinta dan Arsya berdiri di depan pintu depan. Keduanya tidak bisa masuk begitu saja, karena tidak sembarangan orang bisa masuk ruangan vvip.


Alexa menghampiri mereka.


" Mau apa kau kemari?" Tanya Alexa menutup pintunya. Belum sempat Sinta menjawab, pak satpam sudah menyahutnya.


" Mereka mau masuk ke dalam Nona, tapi saya tidak mengijinkannya." Ucap satpam yang berjaga di depan pintu itu.


" Jangan biarkan mereka masuk ke dalam Pak, saya tidak mau mereka menemui suami saya." Ucap Alexa.


" Baik Nona." Sahut pak satpam.


" Pergilah dari sini! Aku tidak mengijinkan kalian menemui suamiku. Aku tidak mau keluarga kami hancur karena makhluk yang tidak punya malu sepertimu." Ucap Alexa.


" Arsya ingin sekali menemui Frans, aku mohon ijinkan dia menemuinya walau sebentar Alexa." Ucap Sinta membuat Alexa terpancing emosi.


" Kau memang tidak tahu malu Sinta. Kau menggunakan anakmu sebagai alat untuk merebut suamiku. Aku tidak akan membiarkan itu terjadi Sinta. Sekarang pergilah dari sini!" Ucap Alexa.


" Alexa, jika Arsya tidak bertemu dengan Frans dia akan menangis, aku takut dia kejang kejang Alexa. Siapa yang akan bertanggung jawab atas itu?" Sinta menatap Alexa dengan tatapan memohon.


" Aku."


Siapa hayoooo...


Jangan lupa like koment vote dan kasih 🌹yang banyak biar author semangat ya...


Terima kasih untuk readers yang telah mensuport author semoga sehat selalu...

__ADS_1


Miss U All...


TBC...


__ADS_2