
" Sayang siapa dia?" Tanya Frans menatap Alexa.
" Dia Nadira Pi, gadis yang mengejarmu waktu SMA dulu." Sahut Alexa.
" Apa?" Pekik Frans tidak percaya.
" Dia sangat membenciku karena kamu selalu dekat denganku, aku yakin dia akan tambah membenciku setelah tahu kita sudah menikah." Ujar Alexa.
" Tidak perlu di pikirkan! Yang jelas aku hanya mencintai kamu sayang." Sahut Frans.
" Alexa, Frans." Arian menghampiri keduanya.
" Terima kasih sudah datang." Ucap Arian.
" Sama sama Mas, aku ucapkan selamat untukmu semoga acaranya lancar tidak ada halangan sedikitpun." Ucap Alexa.
" Amin, ayo silahkan duduk." Ucap Arian mempersilahkan mereka duduk di kursi yang ada di belakang kursinya.
" Bagaimana? Apa acara bisa di segera di mulai?" Tanya pak penghulu.
" Silahkan Pak!" Sahut Arian.
Acara dimulai saat tiba mengucapkan ijab qobul Arian berulang kali salah menyebutkan nama, ia selalu menyebut nama Alexa membuat semua orang terbengong.
" Nak Arian, jika kali ini salah lagi maka pernikahan kalian akan di tunda." Ujar pak penghulu.
Arian menghela nafasnya pelan, ia mencoba fokus pada nama Nadira Lavega.
Pak penghulu kembali memulai acara ijab qobul, kali ini dengan satu kali tarikan Arian berhasil mempersunting Dira menjadi istrinya.
Semua orang mengucapkan rasa syukur atas keberhasilan Arian.
__ADS_1
Selesai acara Alexa dan Frans menghampiri pasangan pengantin baru itu.
" Selamat ya Mas, semoga bahagia." Ucap Alexa.
" Terima kasih Xa." Sahut Arian.
" Dira selamat ya, semoga bahagia. Aku titip Mas Arian padamu." Ucap Alexa menatap Dira yang duduk di kursi rodanya.
" Kau senang kan dengan musibah yang aku alami ini, aku cacat dan harus menikahi mantan suamimu itu. Aku tidak akan membuatnya bahagia Alexa, aku akan membuat mantan suamimu itu menderita hidup denganku." Ketus Dira.
" Dira jaga bicaramu! Malu di lihat semua orang." Ujar Arian.
" Kenapa harus malu? Memang itu kenyataan yang akan kau hadapi. Aku tidak rela mendapatkan sisa dari Alexa, kau selalu lebih beruntung dariku Alexa. Dulu saat aku mengejar Frans kau yang mendapatkan cintanya, saat aku menyukai Devan kau juga mendapatkan perhatiannya." Ucap Dira.
" Dan apa? Dulu kau bersumpah padaku kalau kau tidak akan mencintai Frans, kau tidak akan pernah mau menerima cintanya sampai kapanpun karena kau hanya menganggapnya sebagai sahabat saja, tapi apa ini? Kau bahkan menikah dan memiliki anak darinya, kau tidak bisa di percaya Alexa. Setelah bosan dengan Arian kau mendekati Frans, setelah ini kau akan mendekati siapa lagi? Kau benar benar wanita murahan."
" Dira!!!" Bentak Frans membuat semua orang menatap ke arah mereka. Mereka berempat menjadi pusat perhatian tamu lainnya.
" Walaupun Alexa tahu aku mencintainya tapi dia tidak pernah mengejarku, tapi kau... Kau tahu kalau aku sama sekali tidak mencintaimu tapi kau terus mengejar dan merayuku. Kau bahkan pernah menawarkan tubuhku kepadaku, apa kau lupa itu? Sekarang siapa yang murahan di sini?"
Pertanyaan Frans membuat Dira malu, ia melajukan kursi rodanya meninggalkan ruang tamu rumahnya.
" Mas, maafkan kami yang telah membuat keributan di acara pernikahanmu." Ucap Alexa.
" Tidak pa pa Alexa, memang Dira yang salah. Aku minta maaf atas namanya." Ucap Arian di balas anggukan kepala oleh Alexa.
" Kalau begitu kami permisi Mas, semoga bahagia." Ucap Alexa.
" Terima kasih." Ucap Arian.
" Sepertinya kau harus mengeluarkan semua kesabaranmu untuk menghadapinya Bro, maafkan kami! Semoga bahagia!" Frans menepuk pundak Arian.
__ADS_1
Alexa dan Frans pergi meninggalkan kediaman keluarga Dira. Arian segera menyusul Dira di dalam kamarnya.
" Dira." Ucap Arian menghampiri Dira.
" Suami macam apa kau ini? Kau sama sekali tidak membela istrimu di depan mereka. Kau memang tidak berguna." Cibir Dira.
" Bukan begitu Dira, memang kau yang salah di sini. Mereka datang baik baik untuk mendoakan kebahagiaan kita tapi kau malah bersikap kasar pada mereka." Ujar Arian.
" Kebahagiaan? Kebahagiaan yang mana yang kau maksud? Apa kau pikir aku akan hidup bahagia bersamamu? Tidak Arian... Aku tidak bahagia dengan pernikahan dan keadaanku saat ini, aku menderita Arian... Karena kau kekasihku tidak mau menikahiku, karena kau hidupku jadi hancur berantakan Arian... Aku akan membalas semua penderitaan ini dengan membuatmu menderita hidup bersamaku. Aku akan menjadi bayang bayang penderitaan dalam hidupmu, aku akan menjadi beban yang sangat berat sehingga kau tidak mampu memikulnya. Kau akan merasakan seperti apa yang aku rasakan saat ini." Ucap Dira.
Arian memejamkan matanya menahan emosi di dalam hatinya. Ia mulai membandingkan Alexa dan Dira, mereka berdua memiliki sifat yang sangat jauh berbeda.
" Lakukan apapun yang kau mau aku tidak peduli dengan apa yang kau lakukan Dira. Aku tidak mau pusing pusing memikirkan ocehan ataupun kelakuanmu itu, aku sudah menikahimu sesuai kemauan keluargamu jika kau tidak menerimanya silahkan kau bilang pada keluargamu dan dengan senang hati aku akan menceraikanmu." Ucap Arian keluar dari kamar.
Dira melongo dengan ucapan Arian.
" Argh sial!!!! " Teriak Dira.
Bu Dena yang tak lain adalah ibu dari Dira menghampirinya.
" Belajarlah menjadi istri yang baik sayang jika kau mau di sayang sama suamimu. Arian pria yang baik yang mau bertanggung jawab kepadamu. Sebenarnya dia tidak harus menikahimu, dia bisa membiayai pengobatanmu sampai kau sembuh. Tapi kami berpikir, kesembuhanmu membutuhkan waktu yang cukup lama, apakah akan ada pria yang mau menikah denganmu setelah kau sembuh nanti? Apalagi bukan hanya kakimu saja yang cidera, rahimmu juga sayang. Besar kemungkinan kau tidak bisa memiliki keturunan, adakah pria yang menginginkan wanita sepertimu? Hanya Arian sayang... Arian mau menerima semua kekurangan dalam hidupmu karena ia merasa bertanggung jawab atas apa yang terjadi pada dirimu. Jadi ibu mohon padamu! Bersikap baiklah pada Arian! Terima dia sebagai suamimu dan hiduplah bahagia bersamanya. Kalian harus bisa belajar saling mencintai, ikhlaskan semuanya karena dengan ikhlas kalian bisa hidup bahagia sayang. Pikirkan ucapan ibu! Mulai sekarang rubah sikap keras kepalamu itu! Jadikan semua ini pelajaran untukmu!" Bu Dena meninggalkan kamar Dira.
Dira merenungkan ucapan ibunya.
" Apa memang aku harus mencoba berdamai pada keadaan? Apa aku harus menerimanya sebagai suamiku? Apa kami bisa hidup bahagia? Apa aku dan dia bisa saling mencintai? Apa yang harus aku lakukan setelah ini?" Tanya Dira dalam hatinya.
Jangan lupa tekan like koment vote dan hadiahnya buat author...
Terima kasih untuk readers yang telah mensuport author semoga sehat selalu...
Miss U All...
__ADS_1
TBC.....