
Delapan bulan berlalu, sejak kehilangan Aksa, Alexa menjadi orang yang sangat pendiam. Bahkan dia enggan berinteraksi dengan orang lain. Ia selalu sibuk dengan dirinya sendiri di dalam kamarnya. Selama itu pula, Frans tidak pernah meninggalkannya. Urusan pekerjaan kantor ia pasrahkan pada asistentnya.
Hubungan mereka dengan Arian dan Dira pun terputus. Kebencian Alexa kepada mereka telah mendarah daging dalam tubuhnya membuat Arian dan Dira sangat merasa bersalah. Bahkan Dira sempat di larikan ke rumah sakit akibat pendarahan yang ia alami karena stress.
Pagi ini Frans membawa sarapan untuk Alexa ke kamar. Ia menghampiri Alexa yang sedang duduk bersandar pada headboard. Perutnya yang buncit membuatnya serba salah. Mau duduk salah, berbaring juga salah, untuk itu ia memilih rebahan di atas ranjang saja.
" Sayang kamu makan dulu biar sehat. Sebentar lagi perkiraan kamu melahirkan, jadi kamu harus punya tenaga yang kuat untuk melahirkan anak kita nanti." Ujar Frans duduk di tepi ranjang.
Alexa hanya menganggukkan kepalanya saja. Dengan telaten Frans menyuapinya. Lagi lagi air mata menetes di pipi Alexa dengan sendirinya. Frans yakin jika saat ini Alexa teringat Aksa.
" Jangan menangis lagi sayang! Kasihan Aksa! Ikhlaskan dia dan biarkan dia pergi dengan tenang. Jika kamu terus menangisinya, itu sama saja kamu memberatkan kepergiannya sayang." Ujar Frans mengusap air mata Alexa.
Alexa menganggukkan kepalanya. Ia melanjutkan makannya sampai habis.
" Aku ke bawah dulu sayang, kamu di sini aja ya. Sering sering ajak dedek bayinya bicara biar dia bahagia sayang. Ingat! Anakmu bukan Aksa saja, tapi ada adiknya Aksa yang ada di dalam kandunganmu. Dia juga butuh perhatian dan kasih sayangmu. Jadi jangan terpuruk lagi! Kau harus bangkit dan hidup bahagia bersama kami. Kami menyayangimu sayang." Ucap Frans mencium kening Alexa.
Ucapan Frans menohok hati Alexa.
" Ya Frans benar, anakku bukan Aksa saja. Karena meratapi hilangnya Aksa aku sampai lupa dengan anak yang ada di dalam kandunganku saat ini. Aku juga lupa jika dia juga butuh perhatianku. Selama ini aku telah mengabaikannya, bagaimana jika dia marah dan ikut meninggalkan aku? Tidak... Aku tidak mau sampai itu terjadi. Sayang... Maafkan Mami ya, mulai sekarang Mami akan berusaha sedikit sedikit melupakan abangmu. Bantu Mami untuk melupakannya sayang, bantu Mami untuk mengikhlaskannya." Ujar Alexa dalam hati sambil mengelus perutnya.
Saat Frans hendak melangkah tiba tiba...
" Shhhh." Desis Alexa memegangi perutnya.
" Sayang kamu kenapa?" Tanya Frans meletakkan piring kotornya ke atas nakas. Ia segera mendekati Alexa.
" Pi perutku sakit sekali." Ucap Alexa.
" Apa jangan jangan kamu mau melahirkan sayang. Kita ke rumah sakit sekarang ya." Ujar Frans.
" Nggak mau." Alexa menggelengkan kepalanya.
" Ayolah sayang! Kamu pasti mau melahirkan. Kalau kita tidak ke rumah sakit sekarang, terus anak kita gimana? Tidak mungkin kan kamu melahirkan di rumah? Pokonya kita harus ke rumah sakit sekarang. Aku tidak mau sampai kamu dan dedek bayinya kenapa napa." Ucap Frans.
__ADS_1
Frans menggendong Alexa ala bridal style menuju mobilnya. Alexa mengalungkan tangannya ke leher Frans agar tidak jatuh. Sampai di mobil, Frans segera melajukan mobilnya menuju rumah sakit.
" Shhh... Sakit Pi." Rintih Alexa saat rasa sakit itu semakin menjadi.
" Bersabarlah sayang! Kita akan segera sampai di rumah sakit." Ucap Frans.
Frans mengelus perut Alexa dengan tangan kirinya.
" Sayangnya Papi jangan nakal ya! Kalau mau lahir, lahirlah dengan segera setelah kita sampai rumah sakit sayang. Papi sudah sangat menantikanmu lahir ke dunia ini. Kita akan bermain bersama setelah kau besar nanti. Tapi untuk saat ini, jangan menyusahkan mami mau ya, kasihan Mami kamu sampai kesakitan begitu." Ucap Frans.
Sesampainya di rumah sakit, Frans merebahkan tubuh Alexa di atas brankar. Tepat saat itu Arian juga merebahkan tubuh Dira di brankar satunya.
" Frans, Alexa juga mau melahirkan?" Tanya Arian menatap Frans.
" Iya." Sahut Frans singkat.
Dira menatap Alexa begitupun sebaliknya.
Suster segera mendorong mereka ke ruang bersalin yang bersisihan. Keduanya sama sama berjuang melahirkan anak anak mereka dengan caranya sendiri. Alexa melahirkan dengan normal sedangkan Dira di pindahkan ke ruang operasi untuk menjalani operasi cesar.
Oek... Oek....
Terdengar suara tangisan bayi laki laki milik Alexa. Frans tersenyum bahagia sambil menciumi kening Alexa tanpa henti.
" Terima kasih sayang, terima kasih atas kebahagiaan ini. Aku sangat menanti moment moment seperti ini. Aku sangat bahagia sayang dengan kehadirannya." Ucap Frans mencium pipi Alexa.
" Sama sama Pi, kebahagiaan ini ada karena kau yang selalu sabar menghadapi sikapku. Maafkan aku yang selama ini telah menyulitkanmu!" Ucap Alexa.
" Kau tidak bersalah sayang, hanya nasib kita saja yang belum beruntung. Kita sudah mendapat gantinya Aksa, jadi mulai sekarang kau harus sedikit melupakan kepergian Aksa. Kau harus fokus mengurus babby kita." Ujar Frans.
" Iya Pi aku akan berusaha." Sahut Alexa menatap bayi yang baru ia lahirkan di dalam box bayi di sebelah ranjangnya. Suster baru saja selesai memakaikan baju kepadanya.
" Semoga dengan kehadiran anak kedua kita akan membawa kebahagiaan dalam hidup kita selamanya." Ujar Frans.
__ADS_1
" Amin." Sahut Alexa.
" Oh ya, kamu ingin memberi nama anak kita siapa?" Tanya Frans.
" Aska." Sahut Alexa.
" Aska? Kebalikan dari nama Aksa. Apa ada makna yang tersirat dengan nama itu?" Tanya Frans.
" Iya Pi, aku ingin mengenang Aksa di dalam diri Aska nanti." Sahut Alexa.
" Namanya bagus sayang, tapi aku harap kau tidak menuntut Aska untuk menjadi Aksa. Karena bagaimanapun mereka dua orang yang berbeda." Ujar Frans mengeluarkan kekhawatirannya.
" Tidak Pi, Aska akan tetap menjadi dirinya sendiri. Aku tidak mau Aska menjadi Aksa karena aku tidak mau kehilangan lagi. Aku hanya ingin selalu mengingat jika aku pernah memiliki putera bernama Aksa. Putra yang selama ini selalu mendampingiku bagaimanapun keadaanku. Putra yang sangat menyayangiku sepenuh hatinya. Jika memang Aksa sudah tiada, aku ikhlas Pi. Semoga dia di terima di sisi Tuhan dan di tempatkan di tempat yang baik dari yang terbaik. Tapi jika dia masih hidup, aku selalu berdoa semoga dia di temukan oleh orang yang baik dan hidup bahagia bersamanya. Aku yakin jika itu benar benar terjadi, suatu saat nanti kami pasti akan bertemu." Ujar Alexa.
" Amin... Tuhan akan selalu menyertai orng orang yang baik sayang. Dia pasti akan menjaga Aksa baik di dunia maupun di akhiratnya. Sekarang jangan bersedih lagi! Kita harus happy menyambut putra kita saat ini." Ucap Frans.
" Baiklah kalau begitu, nama putra kita adalah Aska Wilson." Ucap Frans di balas anggukkan kepala oleh Alexa.
" Wellcome to the word Aska Wilson. Semoga kelak kau akan menjadi laki laki sholeh, berhati mulia dan selalu membantu sesama." Ucap Frans menatap putra keduanya.
Di depan ruang operasi, seorang dokter kelaur dari sana. Arian segera menghampiri dokter itu.
" Bagaimana keadaan istri dan anak saya Dok?" Tanya Arian menatap dokter.
" Anak anda selamat Pak, tapi istri anda....
Apa hayooo...
Jangan lupa tekan like koment vote dan beri 🌹yang banyak buat author.
Thank You.
TBC....
__ADS_1