Terhanyut Dalam Perasaan Terlarang

Terhanyut Dalam Perasaan Terlarang
BERNIAT MEMINTA MAAF


__ADS_3

Alexa membuka tutup botolnya, ia hendak meminumkan obat itu ke mulut Sinta.


" Aku mohon jangan Alexa! Lebih baik aku mati daripada kehilangannya. Maafkan aku Alexa! Aku tidak akan mengulangi perbuatanku lagi. Aku mohon Alexa" Ucap Sinta menghiba sambil menggelengkan kepalanya.


" Sayang..." Ucap Frans. Ia tidak pernah berpikir jika Alexa akan berubah seperti monster saat putranya terancam. Ia khawatir Alexa akan mendapat hukuman setelah ini jika ia benar benar melakukannya.


Prak..


Alexa membuang botolnya ke lantai.


" Aku tidak sekejam dirimu Sinta, walaupun aku ingin membunuhmu saat ini juga tapi aku tidak akan melakukannya karena hati nurani ku masih ada di sini." Alexa menepuk dadanya.


" Kali ini aku kembali memaafkanmu tapi hukum akan tetap berlaku untukmu Sinta. Kau sudah berani menyentuh putraku dan akan aku pastikan kau mendekam di penjara dalam waktu lama. Aku tidak rela kau menyentuh anakku barang sedikit saja." Ucap Alexa penuh penekanan.


" Maafkan aku Lexa, hiks.. Maafkan aku." Hanya kata kata itu yang keluar dari bibir Sinta.


" Kirim mereka ke kantor polisi!" Titah Alexa menatap Toni.


" Siap!" Sahut Toni.


" Non, saya juga ingin minta maaf." Ucap Nia saat Alexa hendak menghampiri Frans.


Alexa menghentikan langkahnya.


" Aku memaafkanmu Mbak, tapi aku tidak bisa membebaskanmu dari hukuman ini." Ucap Alexa.


Alexa menggendong Aksa keluar meninggalkan ruangan itu.


" Kau urus semuanya! Aku pergi dulu!" Frans menepuk bahu Toni.


Frans menyusul Alexa ke mobilnya. Saat ia membuka pintu mobilnya ia melihat Alexa sedang menangis sambil mendekap Aksa. Hatinya pilu melihat sang istri tercinta nampak begitu rapuh.


" Sayang." Frans memeluk Alexa.


" Lepas!" Alexa menepis tangan Frans.


" Maafkan aku!" Ucap Frans.


" Kau pun harus mendapatkan hukuman seperti mereka." Ujar Alexa.


" Akan aku terima sayang." Ucap Frans.


" Antar aku pulang ke rumahku, aku mau tinggal di sana."


Jeduar....


" A.. Apa?" Pekik Frans tidak percaya.


" Kau boleh menghukumku apa saja tapi jangan pernah memintaku untuk menjauh darimu ataupun meninggalkan aku. Aku tidak bisa melakukan itu." Sambung Frans.

__ADS_1


" Itu berarti kau tidak mau menerima hukuman dariku, tidak masalah. Aku ajak tetap tinggal di rumahmu, tapi ingat! Jangan memintaku untuk bersikap seolah tidak terjadi apa apa di antara kita. Sekarang aku mau pulang, aku lelah mau istirahat." Ucap Alexa.


" Baiklah sayang." Sahut Frans.


Frans melajukan mobilnya menuju rumah. Sesampainya di rumah Alexa segera naik ke atas ranjang. Ia tidur sambil memeluk Aksa. Entah kenapa rasanya hari ini begitu melelahkan.


Frans duduk di tepi ranjang, ia menatap wajah lelah Alexa.


" Maafkan aku sayang!" Ucap Frans mencium kening Alexa.


Malam harinya setelah Frans menyiapkan makan malam, ia segera ke kamar menghampiri Alexa yang sedang menyusui Aksa.


" Sayang makan malam sudah siap." Ucap Frans.


" Hmm." Gumam Alexa.


Frans menghela nafasnya. Ia menghampiri keduanya.


" Sayangnya Papi gendong Papi yuk." Ujar Frans hendak mengambil Aksa.


" Tidak perlu, aku bisa menggendongnya sendiri." Sahut Alexa menggendong Aksa.


" Sayang aku mohon jangan...


Alexa meninggalkan Frans tanpa mau mendengar apa yang hendak Frans katakan. Frans segera mengikutinya.


Alexa makan sambil memangku Aksa. Sesekali ia mengajak Aksa bercanda. Frans tersenyum getir melihatnya.


Selesai makan Alexa kembali ke kamar tanpa menghiraukan Frans. Ia masih kesal dengan Frans, karena menurutnya Frans lah yang bertanggung jawab atas semua yang terjadi dengannya dan Aksa.


Khawatir tidak bisa mengontrol emosi, Frans lebih memilih pergi ke ruang kerja. Ia merenungi semua kesalahannya dan berniat untuk tidak mengulangi kesalahannya.


...****************...


Di tempat lain tepatnya di rumah Arian, ia sedang membantu Dira berjalan menuju ranjangnya. Fisiotherapi yang di jalani oleh Dira membuahkan hasil.


" Hati hati!" Ucap Arian.


" Iya Mas." Sahut Dira.


Dira duduk bersandar di atas ranjang, Arian menyelimutinya sampai batas perut.


" Tidurlah!" Ucap Arian.


Arian hendak pergi namun Dira mencekal tangannya.


" Temani aku!" Ucap Dira menatap Arian.


" Baiklah." Sahut Arian.

__ADS_1


Dira sedikit bergeser memberikan tempat untuk Arian. Arian duduk di tepi ranjang menghadap Dira.


" Mas ada yang ingin aku katakan padamu, sebelum hubungan kita terlalu jauh aku ingin kau mengetahuinya lebih dulu." Ucap Dira.


" Apa itu?" Tanya Arian menatap Dira.


" Sebenarnya bukan hanya kakiku saja yang luka, tapi rahimku juga." Ucap Dira.


Arian mengerutkan keningnya.


" Dokter mengatakan kalau aku akan sulit memiliki keturunan."


Deg...


Jantung Arian terasa berhenti berdetak.


" Kalau kamu menginginkan seorang keturunan dariku nantinya, lebih baik kita sudahi saja pernikahan ini sampai di sini Mas. Karena aku tidak akan pernah bisa memberikannya kepadamu." Ujar Dira sedih. Ia merasa pernikahannya akan gagal.


" Kenapa bilang seperti itu? Tidak ada yang tidak mungkin jika Tuhan sudah berkehendak Dira, meskipun saat ini aku belum mencintaimu tapi aku yakin suatu hati nanti aku pasti bisa mencintai dan menerimamu seperti aku menerima Alexa. Aku memang menginginkan keturunan dari pernikahan ini tapi aku tidak memaksa. Jika memang ini jalan yang Tuhan berikan padaku, aku ikhlas menerimanya. Setelah kau bisa berjalan dengan normal nanti, kita akan melakukan pengobatan untuk rahimmu. Kita harus optimis, dengan kehendak Tuhan kau pasti bisa sembuh." Ucap Arian membuat Dira terharu.


" Kau tidak mau mencari wanita lainnya?" Tanya Dira memastikan.


" Tidak... Cukup kamu yang terakhir bagiku." Sahut Arian.


Dira tersenyum bahagia mendengarnya.


" Sekarang tidurlah! Ini sudah malam." Ucap Arian.


" Iya Mas, malam." Ucap Dira.


" Malam." Sahut Arian tersenyum manis.


Dira segera berbaring memejamkan matanya.


" Terima kasih Tuhan kau telah mengirimkan Mas Arian untukku. Aku berjanji akan segera memberikan hati dan hidupku untuknya. Semoga Mas Arian pun begitu, aku berharap kami akan hidup bahagia selamanya." Batin Dira.


" Mas aku ingin bertemu Alexa untuk meminta maaf padanya. Maukah kau mengantarku ke sana?" Tanya Dira membuka matanya menatap Arian.


" Maaf Dira aku tidak bisa! Alexa akan merasa sangat bersalah saat dia menatap wajahku, aku tidak mau membuatnya terbebani dengan perasaan bersalahnya. Padahal aku selalu bilang kalau aku sudah memaafkan dan mengikhlaskannya tapi dia selalu menampakkan tatapan seperti itu. Aku jadi tidak tega melihatnya. Jadi lebih baik kami tidak bertemu sampai kami benar benar bisa menata hati. Kamu mengerti kamu apa yang aku katakan." Ucap Arian.


" Iya Mas aku mengerti, aku akan mengajak Lusi untuk menemaniku ke sana." Sahut Dira.


" Ternyata begitu besar dan dalam cintamu pada Alexa Mas, Alexa memang selalu beruntung. Dia selalu di kelilingi orang orang yang menyayanginya. Semoga aku bisa sepertimu Alexa." Batin Dira.


Jangan lupa tekan like untuk mendukung karya author...


Terima kasih untuk readers yang telah mensuport author semoga sehat selalu....


Miss U All....

__ADS_1


TBC.....


__ADS_2