Terhanyut Dalam Perasaan Terlarang

Terhanyut Dalam Perasaan Terlarang
KABAR DUKA


__ADS_3

" Bagaimana keadaan istri dan anak saya Dok?" Tanya Arian menatap dokter.


" Anak anda selamat Pak, tapi istri anda...." Dokter menjeda ucapannya.


" Istri saya kenapa Dok? Cepat katakan!" Ucap Arian.


" Istri anda mengalami pendarahan saat operasi, kami sudah berusaha semaximal mungkin untuk menyelamatkannya, namun Tuhan berkata lain. Istri anda tidak bisa di selamatkan."


Jeduarrrrr....


Bagai di sambar petir di siang bolong, Arian tidak percaya dengan apa yang ia dengar kali ini.


" Kami turut berduka cita Tuan, jenazah istri anda akan segera di mandikan di ruang pemandian jenazah oleh suster." Ucap dokter meninggalkan Arian.


Arian terduduk lesu di lantai. Ia tidak bisa menerima apa yang Tuhan gariskan kepadanya.


" Tidak.... Ini tidak mungkin terjadi! Bagaimana bisa kau meninggalkan kami Dira? Bagaimana kami hidup tanpamu? Bagaimana dengan nasib anak kita? Siapa yang akan merawat dan mengurusnya? Bagaimana cara dia makan dan minum Dira? Kenapa kau lakukan ini padaku? Apa kesalahanku Dira hiks.... Ya Tuhan... Kenapa kau menguji putraku dengan ujian yang begitu berat. Ia kehilangan ibunya saat pertama kali ia melihat dunia. Hiks.. Bagaimana kami bisa melanjutkan hidup tanpanya ya Tuhan... Hiks.." Isak Arian.


Frans yang kebetulan lewat segera menghampiri Arian.


" Arian kau kenapa?" Tanya Frans berjongkok di depan Arian.


Arian mendongak lalu ia langsung memeluk Frans membuat Frans bingung.


" Arian ada apa? Apa semuanya baik baik saja?" Tanya Frans mengelus punggung Arian.


" Dira Frans.... Hiks... Dira."


" Dira kenapa? Bukankah Dira juga melahirkan?" Frans bertanya lagi.


" Dira meninggal Frans.. "


Deg...


Jantung Frans terasa berhenti berdetak.


" A... Apa? Dira meninggal?" Frans mendorong pelan tubuh Arian. Ia menatap Arian memastikan jika yang ia dengar tidak salah.


" Dira mengalami pendarahan saat operasi, nyawanya tidak tertolong." Ucap Arian.


" Innalillahi wainnailaihi roji'un." Ucap Frans.


" Bagaimana dengan nasib putraku Frans? Dia masih sangat kecil. Dia butuh asi dan kasih sayang dari ibunya, sedangkan ibunya kini telah tiada. Bagaimana aku bisa mengurusnya sendirian? Bagaimana aku bisa membesarkannya tanpa kasih sayang seorang ibu? Aku harus bagaimana Frans? Aku harus bagaimana?" Ujar Arian bingung.


" Tenanglah Arian! Semua pasti ada jalan keluarnya." Ucap Frans.

__ADS_1


" Bagaimana jalan keluarnya Frans?" Tanya Arian menatap Frans.


" Bagaimana kalau putramu di asuh oleh kami? Biarkan dia tumbuh bersama Aska putra kami? Apa kau tidak keberatan?" Ujar Frans memberi solusi.


" Apa Alexa mau menganggap putraku sebagai putranya? Apalagi setelah kejadian itu." Ucap Arian.


" Aku akan membicarakan ini pada Alexa. Semoga Alexa mau menerima putramu sebagai putranya." Ujar Frans.


" Bagaimana kalau Alexa balas dendam kepadaku dengan menyiksa putraku?"


" Apa Alexa bisa berbuat seperti itu?" Frans balik bertanya.


" Tidak. Alexa wanita yang baik. Dia memiliki sifat penyayang pada anak anak." Sahut Arian.


" Lalu apa yang kau khawatirkan?" Frans menatap Arian.


" Tidak ada, terima kasih telah membantuku menyelesaikan satu masalah ini." Ucap Arian.


" Bawalah putramu ke ruangan Alexa, aku yakin setelah melihat putramu hatinya akan terketuk. Aku baru akan berbicara dengannya jika putramu sudah ada di tangan kami." Ujar Frans.


" Aku akan membawanya, sekarang aku harus mengurus jenazah Dira dulu. Aku pergi! Sekali lagi terima kasih." Arian berlalu dari sana menuju tempat pemandian.


Frans kembali ke ruang rawat Alexa.


Alexa menoleh ke arah Frans yang sedang berjalan menghampirinya.


" Darimana saja kamu Pi? Katanya cuma mau beli air mineral. Kenapa lama sekali?" Alexa mencerca Frans dengan berbagai pertanyaan.


" Iya aku beli air mineral." Sahut Frans menunjukkan sebotol air mineral di tangannya.


Frans duduk di kursi samping ranjang. Ia menatap Alexa dengan perasaan ragu antara ingin memberitahu Alexa dan tidak.


" Kenapa menatapku seperti itu Pi?" Tanya Alexa menatap Frans.


" Apa kau tidak ingin mendengar kabar tentang Dira dan putranya?" Tanya Frans hati hati.


Alexa menghela nafasnya pelan. Entah mengapa jika mendengar nama Dira ia jadi teringat Aksa.


" Sayang, apa yang terjadi pada Aksa itu musibah. Tidak ada orang yang menerima musibah itu jika Tuhan menawarinya. Kepergian Aksa sudah tertulis dalam takdirnya sayang. Kita tidak bisa menyalahkan orang lain akan hal ini. Walaupun hari itu Aksa tidak kemana mana, jika sudah takdirnya ia tiada maka dia pasti akan tiada di dalam rumah. Ada seribu jalan menuju kematian sayang." Ujar Frans memberi pengertian.


" Sebenarnya apa yang ingin kau katakan padaku Pi, tidak perlu berbelit sampai kemana mana." Sahut Alexa membuat Frans menghela nafasnya.


" Hari ini Dira menjalani operasi cesar, dia mengalami pendarahan dan nyawanya tidak dapat tertolong."


Jeduarrr.....

__ADS_1


Tubuh Alexa terasa kaku, lidahnya kelu. Ia tidak pernah menyangka jika hubungannya dan Dira akan berakhir seperti ini. Kenangan kebersamaan mereka berputar jelas di pikirannya.


" Tidak... Ini tidak mungkin! Kami bahkan belum berbaikan, lalu kenapa dia meninggalkan aku? Apa dia marah padaku karena aku terlalu lama marah padanya?" Alexa menatap Frans. Tak terasa air mata menetes begitu saja membasahi pipi mulusnya.


" Hiks... Dira... " Isak Alexa.


" Tenanglah sayang!" Frans memeluk Alexa.


" Aku belum sempat meminta maaf padanya Pi, kenapa dia pergi? Bagaimana dengan putranya? Apa dia tidak sayang dengan putra yang baru di lahirkannya? Bagaimana Mas Arian bisa mengurusnya sendirian? Ya Tuhan, Dira... Maafkan aku!" Ucap Alexa.


Frans mengelus punggung Alexa seolah memberi kekuatan padanya.


Alexa melepas pelukannya, ia mengusap air matanya lalu menatap Frans.


" Pi apa aku bisa melihat Dira untuk yang terakhir kalinya? Aku ingin meminta maaf padanya." Ucap Alexa.


" Sepertinya sudah terlambat sayang, Arian sudah mengurus pemakamannya. Kita akan mengunjungi makamnya setelah pulang dari sini." Ujar Frans.


" Baiklah." Sahut Alexa.


" Ada satu permintaan dari Arian dan mungkin Dira juga memiliki keinginan yang sama." Ucap Frans.


" Apa itu Pi?" Tanya Alexa.


" Mereka ingin kau merawat dan mengurus putra mereka dengan baik. Anggap saja dia sebagai putramu sendiri, rawatlah dia dengan baik seperti kau akan merawat Aska nanti. Kalau kau mau pasti Dira akan sangat bahagia sekali sayang. Dia akan pergi dengan tenang karena putranya berada di tangan yang tepat. Apa kau mau melakukannya demi sahabatmu itu? Aku rasa saat ini Tuhan sedang memintamu mengembalikan kasih sayang yang mereka berikan untuk Aksa dulu." Ujar Frans.


Alexa nampak sedang berpikir. Apakah ia bisa membagi kasih sayang Aska untuk bayi lain? Apakah ia bisa membagi ASInya untuk bayi lain? Jika bisa, apakah ia bisa memberikannya dengan adil? Jika ia mau itu artinya putra Dira akan menjadi putranya.


" Sayang, bagaimana? Apa kau mau merawatnya?" Tanya Frans lagi.


" Aku... Aku...


Aku apa hayo...


Gantung lagi ya...


Next part akan menjadi part terakhir ya... Tapi jangan khawatir kita akan lanjutkan kisah Aska di karya baru ya...


Jangan lupa like koment vote dan kasih 🌹yang banyak untuk salam perpisahan.


Terima kasih untuk readers yang telah mensuport author semoga sehat selalu..


Miss U All...


TBc...

__ADS_1


__ADS_2