
" Pada tanggal dua puluh lima November, aku ada meeting di mall xx. Saat aku mau pulang tiba tiba Arsya berlari ke arahku sambil memanggilku papa. Aku juga bingung waktu itu, dia langsung memeluk kakiku. Aku sudah menjelaskan padanya kalau aku bukan papanya. Tiba tiba dia menangis histeris dan setelah itu dia pingsan." Terang Frans.
" Aku membawanya ke klinik dan dokter bilang kalau Arsya memiliki kelainan pada otaknya. Dia akan mengalami kejang jika pemikirannya tidak sesuai harapannya. Dokter meminta Arsya menceritakan kenapa dia mencari papanya, dia bilang kalau selama ini dia mencari sosok ayahnya. Dia merasa aku seperti papanya. Aku merasa kasihan saat itu, aku membiarkannya menganggapku sebagai papanya. Tapi aku tidak tahu jika ternyata Arsya anaknya Sinta." Sambung Frans.
" Lalu bagaimana kau bisa tahu jika dia anaknya Sinta?" Tanya Alexa menatap Frans.
" Sinta menyusulnya di klinik, ternyata Arsya terlepas dari gandengannya saat di mall. Sejak saat itu Arsya selalu ingin bermain denganku. Aku memang menurutinya tapi sebisa mungkin aku mencoba untuk menghindarinya sayang. Aku ingin memberitahumu tapi aku ragu. Aku khawatir kamu tidak mengijinkan aku menemui Arsya. Sebenarnya aku dilema sayang, aku bingung harus bagaimana. Di sisi lain aku takut padamu dan Aksa tapi di sisi lain aku kasihan dengan Arsya. Aku berniat memberitahuku setelah pesta ulang tahun selesai, tapi ternyata kejadiannya jadi seperti ini." Ujar Frans menghela nafasnya pelan.
" Aku minta maaf sayang." Ucap Frans.
" Apa kau merasa tidak ada yang aneh di sini?" Tanya Alexa.
Frans menatap Alexa sambil mengerutkan keningnya.
" Aneh bagaimana sayang?" Tanya Frans.
" Kenapa dari sekian banyak orang, hanya kamu yang dia tuju. Jika alasannya kamu mirip papanya, bukankah dia tidak pernah melihat papanya sama sekali? Bukankah dulu Sinta memilih pergi daripada memberitahu kakak iparnya? Lalu bagaimana ini bisa terjadi? Kecuali kalau Arsya melihat fotomu, dan Sinta mengatakan jika yang ada di foto itu adalah papanya, ini baru bisa terjadi Pi. Tidak mungkin kan ini semua sebuah kebetulan." Ujar Alexa menerka nerka.
Frans memikirkan ucapan Alexa yang memang ada benarnya.
" Kau benar juga sayang. Kau memang pintar membaca situasi. Apa Sinta memang sengaja membuat keretakan dalam rumah tangga kita ya?" Tanya Frans menatap Alexa.
" Maybe yes maybe no." Sahut Alexa.
" Jika itu benar, lagi lagi aku tertipu dengan Sinta." Ucap Frans.
" Itulah dirimu Pi, kau tidak bisa bersikap tegas pada orang. Kau hanya bisa tegas dengan bawahanmu saja. Aku hanya berdoa semoga Aksa mau memaafkanmu." Ucap Alexa membuat Feans terkejut mendengar nama Aksa.
" Aksa... Iya aku lupa dengan Aksa. Kau harus meminta maaf dan menjelaskan padanya besok pagi." Ujar Frans.
" Aku mau tidur, kau pikirkan saja sendiri masalah itu." Ucap Alexa memposisikan tubuhnya dengan benar.
" Sayang apa kau memaafkan aku?" Tanya Frans.
" Tidak!! Kau sudah melukai hati putraku. Jika Aksa tidak memaafkanmu maka aku juga tidak akan memaafkanmu." Sahut Alexa.
" Tapi sayang...
" Sudah tujuh tahun berlalu tapi kamu masih sama Pi. Sama sama bodohnya." Bibir Alexa menyelimuti tubuhnya.
Frans menghembuskan kasar nafasnya. Ia memikirkan bagaimana caranya supaya Aksa mau memaafkannya. Dan dia akan membuat perhitungan pada Sinta jika terbukti Sinta sengaja membuat masalah dalam rumah tangganya.
Pagi hari Alexa turun ke bawah untuk memasak. Di dapur sudah ada Dira dan Arian yang sedang minum teh berdua.
" Ehm ehm romantisnya, pagi pagi udah berduaan aja." Canda Alexa.
" Apaan sih kamu Xa." Ucap Dira.
__ADS_1
" Alexa iri sayang, padahal semalam dia yang dua duaan sama Frans. Kitanya malah bertiga ya sama Aksa." Timpal Arian.
" Orang Alexa lagi marah walau berdua berasa sendiri Yan." Sahut Frans tiba tiba menghampiri mereka.
" Yank buatkan aku kopi!" Ucap Frans duduk di kursinya.
Alexa membuatkan kopi untuk Frans, setelah selesai ia meletakkannya di depan Frans.
" Terima kasih sayang." Ucap Frans mendongak menatap Alexa.
" Hmm." Gumam Alexa.
Saat Frans menyeruput kopinya tiba tiba..
" Buh... " Frans menyemburkan kopinya tepat di wajah Arian membuat Alexa dan Dira tertawa.
" Sialan lo Frans!" Umpat Arian mengusap wajahnya.
" Sorry sorry." Ucap Frans.
Frans menatap Alexa.
" Sayang kami tega bener sama aku, kalau di kasih garam mah masih mending. Lha ini di kasih bubuk merica." Frans mengusap usap lidahnya karena kepedasan.
" Wajah gue jadi panas bro." Ucap Arian.
Alexa menyiapkan bahan bahan makanan di bantu oleh Dira.
Arian dan Frans kembali duduk di kursinya, mereka mengobrol seputar kejadian kemarin.
" Aku rasa Sinta sengaja memperalat anaknya untuk mendekatimu Frans." Ucap Arian.
" Aku baru menyadarinya setelah Alexa memberitahuku Yan." Ucap Frans.
" Dari dulu kau memang seperti itu Frans. Hatimu terlalu lembut apa otakmu yang terlalu bodoh." Cebik Arian.
" Sialan lo!" Sahut Frans.
" Aku itu hanya merasa kasihan saja sama Arsya Yan. Aku tidak berpikir kalau Sinta sengaja melakukannya. Lagian kan belum jelas juga. Aku akan mencari bukti kebenaran itu." Ujar Frans.
" Semoga kau mendapatkannya Frans. Beri dia hukuman supaya dia tidak muncul lagi ke dalam hidupmu. Atau kalau tidak, aku pastikan Alexa akan meninggalkanmu." Ucap Arian.
" Apa maksudmu Mas? Apa kau mau...
" Tidak sayang... Jangan cemburu gitu donk! Walaupun Alexa menjadi janda aku tidak akan kembali padanya, aku sudah melupakan cintaku padanya yang ada aku hanya mencintaimu." Sahut Arian mengerlingkan matanya.
" Ganjen kamu Mas." Bibir Dira.
__ADS_1
" Nggak pa pa kan sama kamu, kecuali kalau sama Alexa baru tidak boleh." Sahut Arian.
" Bisa aja kamu Mas." Ujar Dira menggelengkan kepalanya.
Dira melanjutkan kegiatan masaknya bersama Alexa. Mereka memasak ayam kecap sama ayam lada hitam. Setelah selesai mereka menatanya di meja makan.
" Aku akan memanggil Aksa dulu." Ucap Alexa menuju kamar Aksa.
Ceklek....
Alexa masuk ke dalam menghampiri Aksa yang sedang memakai baju.
" Sayang sarapan sudah siap, ayo kita makan sama sama." Ucap Alexa mengelus kepala Aksa.
" Aksa males kalau ada papi, Mi." Ucap Aksa.
" Jangan begitu donk sayang! Sini Mami kasih tahu." Alexa menuntun Aksa duduk di tepo ranjang.
" Dengarkan Mami ya! Kamu hanya salah paham saja sayang. Papi tidak berbuat apa apa kok. Papi hanya berniat menolong Arsya karena Arsya sudah tidak punya papa sejak dia lahir. Arsya punya penyakit di kepalanya sayang, jika keinginannya tidak terpenuhi dia kejang kejang. Kamu mau tahu bagaimana dan kapan Papi bertemu dengannya?" Tanya Alexa menatap Aksa.
Aksa menganggukkan kepala membuat Alexa tersenyum menatapnya.
" Papi bertemu Arsya di mall dua bulan lalu. Entah kenapa tiba tiba Arsya berlari menubruk papi kamu. Dia menganggap papi kamu sebagai papanya karena papi kamu sangat mirip dengan papanya sayang. Papi sudah menjelaskan pada Arsya kalau papi bukan papanya. Tapi Arsya malah pingsan. Papi membawanya ke dokter dan dokter mengatakan jika Arsya sakit sayang. Akhirnya papi menuruti apa yang di inginkan Arsya. Papi pura pura menjadi papanya biar Arsya bisa sembuh dari sakitnya sayang." Terang Alexa mengelus kepala Aksa.
" Kamu boleh marah sama papi karena papi menyembunyikan semua ini dari kita, tapi jangan pernah membenci papimu. Dia hanya menyayangimu sayang, menyayangi kita. Tidak ada yang lainnya." Ujar Alexa menangkup wajah Aksa.
" Lalu bagaimana jika Arsya tidak sembuh, sampai kapan papi akan berperan sebagai papanya dan membagi kasih sayangnya pada Aksa?"
Deg...
Jantung Alexa terasa berhenti berdetak mendengar pertanyaan Aksa.
" Kenapa Mami tidak bisa menjawabnya? Mami tidak tahu kan apa jawabannya." Ucap Aksa menatap Alexa.
" Jawabannya adalah..... "
Alexa dan Aksa menoleh ke belakang dimana Frans berdiri menatap mereka.
" Papi punya jawabannya, jawabannya yaitu...
Ea ea ea di gantung lagi kaya' jemuran ha ha
Tekan like koment vote dan kasih 🌹dulu yang banyak buat author....
Terima kasih untuk readers yang telah mensuport author semoga sehat selalu..
Miss U All..
__ADS_1
TBC...