Terhanyut Dalam Perasaan Terlarang

Terhanyut Dalam Perasaan Terlarang
THE END


__ADS_3

Dua hari setelah Alexa mengatakan setuju untuk merawat babby Arian, kini Arian membawanya ke ruangannya karena hari ini Alexa di perbolehkan pulang oleh dokter.


Tok tok...


" Mungkin itu Mas Arian Pi." Ucap Alexa.


" Akan aku buka." Sahut Frans menuju pintu.


Ceklek....


" Arian." Ucap Frans menatap Arian yang berdiri di depan pintu sambil menggendong putranya.


" Apa kau sudah bicara pada Alexa?" Tanya Arian.


" Sudah, silahkan masuk!" Ucap Frans.


Alexa menatap Arian yang berjalan ke arahnya. Tatapannya tertuju pada seorang bayi mungil dalam gendongan Arian. Hatinya trenyuh, anak sekecil itu harus kehilangan ibunya.


" Alexa, aku memberikan putraku kepadamu sebagai ganti Aksa. Maafkan atas kecerobohan ku dulu! Tuhan telah menghukumku dengan mengambil Dira dariku. Dan anak ini akan menjadi anakmu selamanya." Ucap Arian memberikan putranya pada Alexa.


" Jangan berkata seperti itu Mas! Aku sudah memaafkan kalian berdua, maafkan aku jika aku terlambat menyadari kesalahanku dengan membenci kalian berdua. Aku menerima putramu sebagai putraku, tapi sampai kapan pun dia tetap putramu Mas. Kau bisa menemuinya kapan saja." Ucap Alexa.


" Terima kasih Alexa, jagalah putraku seperti kau menjaga putramu sendiri! Aku akan kembali bekerja ke Kalimantan. Aku juga akan mengunjunginya setahun sekali." Ucap Arian.


" Baiklah jika itu keputusanmu Mas, aku hanya bisa mendoakan semoga kau bahagia. Aku akan merawat dan mengurus putramu seperti aku merawat Aska karena sekarang dia putraku." Ucap Alexa menatap bayi mungil yang ada dalam gendongannya.


" Amin, aku percaya padamu Alexa. Ngomong ngomong kau memberinya nama siapa?" Tanya Arian menatap Alexa.


" Aksa." Sahut Alexa.


" Aku memberinya nama Aksa dan aku akan mendaftarkan kedua putra kita sebagai saudara kembar. Aska dan Aksa Wilson, supaya kelak Aksa tidak akan mempertanyakan identitasnya. Apa kau keberatan Mas?" Tanya Alexa menatap Arian.


" Tidak, aku sudah menyerahkan putraku kepadamu. Aku tidak akan campur tangan untuk masalah itu. Aku yakin kau akan memberikan yang terbaik untuknya." Ucap Arian.


Bukan tanpa alasan ia mengatakan seperti itu. Tapi memang inilah yang terbaik, Aksa akan lebih bahagia hidup bersama Alexa dan Frans tanpa mengetahui identitasnya yang sebenarnya. Akan lebih baik jika putranya tumbuh menjadi keluarga Wilson.


" Aksa dan Aska, keduanya putramu juga Mas. Mereka akan memanggilmu papa, sama seperti Aksa kita waktu dulu."


" Benarkah?" Tanya Arian dengan mata berbinar.


" Ya, sering seringlah mengunjungi mereka, mereka pasti akan sangat merindukan


Papanya." Ucap Alexa menatap Aksa kecilnya.


" Terima kasih Alexa, aku berjanji akan menjenguk mereka saat aku libur bekerja." Sahut Arian.

__ADS_1


Arian menatap Frans.


" Terima kasih Frans, kau memang teman terbaikku. Aku tidak akan melupakan kebaikan kalian berdua." Ucap Arian.


" Sama sama, kita satu keluarga dan sudah semestinya kita saling membantu dan bahagia bersama. Ikhlaskan yang telah pergi, dan berbahagialah dengan yang baru datang. Berikan kebahagiaan untuk kedua putra kita." Ucap Frans.


" Tentu. Aku pasti akan melakukan apapun demi kebahagiaan mereka." Sahut Arian.


" Mas, jika seandainya nanti kau menemukan wanita yang akan menjadi pendampingmu, apa kau akan mengambil Aksa dariku?" Tanya Alexa memastikan.


" Tidak Alexa, aku tidak akan mengambilnya darimu, tapi ijinkan aku membawanya menginap di rumahku seperti yang aku lakukan pada Aksa kita." Ujar Arian.


" Aku akan mengijinkannya." Sahut Alexa.


Setelah itu Alexa, Frans dan Arian pulang ke rumah. Aksa di gendong oleh Arian dan Aska di gendong oleh Frans. Mereka bertiga masuk ke dalam kamar Alexa.


" Tidurkan mereka di box aja Mas, Pi! Aku mau mandi dulu sebelum menyusui mereka." Ujar Alexa.


" Kami gendong saja." Sahut Arian dan Frans bersamaan.


" Kompak sekali." Kekeh Alexa masuk ke kamar mandi.


Oek.. Oek...


" Ust ust ust sayang, kamu udah haus ya. Sabar ya! Mami lagi mandi sebentar." Ucap Frans menimang Aska.


Oek oek...


Aksa pun ikut menangis.


" Kamu juga haus ya sayang? Bentar ya Mami kamu lagi mandi." Ucap Arian.


Frans dan Arian saling melempar tatapan lalu mereka tertawa bersama.


" Ha ha ha ha." Mereka tertawa lepas.


Ceklek...


" Lhoh anaknya nangis kenapa kalian malah tertawa?" Ujar Alexa menghampiri keduanya.


" Lucu aja sayang, Aska nangis si Aksa ikutan nangis. Mereka terlihat kompak seperti anak kembar beneran." Sahut Frans.


Alexa menatap keduanya yang masih menangis dalam gendongan ayahnya.


" Iya ya, aku menyusui siapa dulu nih?" Tanya Alexa bingung sambil menggaruk kepalanya.

__ADS_1


Alexa menatap Frans dan Arian bergantian, pada akhirnya ia ikut tertawa membuat Frans dan Arian melongo menatapnya.


" Sayang kenapa malah ketawa? Buruan di susui anaknya." Ujar Frans.


" Aku ketawa karena aku merasa lucu juga Mas. Ternyata begini rasanya mengurus anak kembar. Aku harus belajar metode menyusui anak kembar lebih dalam lagi biar mereka bisa minum Asi bersama sama. Jadi tidak akan ada yang merasa di anak tirikan." Ujar Alexa.


" Terus sekarang mau susui siapa dulu?" Tanya Arian menatap Alexa.


Alexa kembali menatap kedua putranya.


" Aska udah diam, kalau begitu aku susui Aksa aja dulu nanti baru gantian Aska." Sahut Alexa.


" Baiklah." sahut Arian memberikan Aksa padanya.


" Pi kamu bawa Aska jalan jalan dulu gih! Aku mau menyusui Aksa dulu." Ujar Alexa.


" Biar aku saja, Frans di sini saja menemani kamu." Ucap Arian mengambil Aska dari gendongan Frans.


" Oke." Sahut Frans.


" Anak Papa yang tampan, kita jalan jalan dulu ya. Biarkan adikmu minum dulu, nanti baru gantian deh anak Papa yang ganteng ini." Ujar Arian keluar dari kamar Alexa.


Alexa dan Frans menatap kepergian Arian dengan perasaan iba.


" Mas Arian kasihan ya Pi, aku tidak menyangka jika Dira akan meninggalkannya secepat ini." Ujar Alexa sambil menyusui Aksa dengan telaten.


" Iya sayang, aku tidak bisa membayangkan jika aku berada di posisinya. Mungkin aku akan ikut tiada bersamamu." Ucap Frans di balas senyuman oleh Alexa.


" Ya sudah jangan membahas yang sedih sedih lagi! Mari kita bahas masa depan kedua putra kembar kita!" Uang Alexa.


" Iya. Aku yakin Aksa dan Aska akan menjadi saudara yang saling melengkapi dan menyayangi. Untuk itu kita tidak boleh membedakan mereka berdua. Agar tidak ada yang merasa jika kita pilih kasih pada mereka." Ujar Frans.


" Iya Pi." Sahut Alexa.


" Geli nggak sayang di hisap gitu?" Tanya Frans menatap Aksa yang menyesap put!ng susah Alexa dengan kuat.


" Waktu pertama Aska menyesapnya geli Pi, tapi sekarang udah nggak lagi." Sahut Alexa menatap Aksa.


" Semoga keputusan kita benar ya Pi, mengambil Aksa sebagai putra kita." Sambung Alexa.


" Pasti benar sayang, ini hal yang baik. Semoga kita bisa membagi kasih sayang kita untuk mereka berdua." Ujar Frans.


" Amin." Sahut Alexa.


......THE END......

__ADS_1


__ADS_2