Terjebak Cinta Dua Duda

Terjebak Cinta Dua Duda
Niat Buruk


__ADS_3

Melihat kedatangan Sonna Monica membuat Aland terheran, namun tidak dengan Herlin yang hanya terdiam seperti tidak menyukai kehadiran wanita itu.


"Kenapa dia bisa datang ke sini?" batin Herlin saat ia melihat teman seperjuangan ketika masih di bangku sekolah.


"Wow, Herlin! Kau ada di sini juga?" sapa Sonna dengan sedikit terkejut. Terlebih ia tidak menyangka saat bertemu kembali dengan teman lamanya.


"Ya, aku ada urusan penting," sahut Herlin dengan perlahan.


"Oh, kalian sudah saling mengenal. Ada apa, Sonna? Apa terjadi sesuatu di perusahaan?" tanya Aland kepada sekretarisnya.


"Benar, Pak. Ada hal penting yang harus aku beritahukan. Tapi, bisakah kita bicara di tempat lain saja?" tanya Sonna sembari melirik ke arah Herlin. Secara tidak langsung tidak menginginkan ada orang asing yang mendengarnya.


"Tentu. Herlin, sepertinya aku tidak bisa ikut denganmu sekarang, tapi aku telah menerimamu bekerja di sini. Jadi, kau bisa pergi sendirian, dan berikan saja nanti nomorku kepada pihak rumah sakit agar aku sendiri yang mengirimkan uangnya nanti," ucap Aland.


"Oh, baiklah jika begitu. Aku pergi dulu, Aland."


"Ya, pergilah."


Sonna hanya terdiam dengan menyimak semua pembicaraan mereka. Ia merasa sedikit terheran. "Pekerjaan? Memangnya Herlin bekerja sebagai apa di sini? Setahuku dia sudah lama menjadi seorang penghibur DJ, tapi untuk apa Aland mengundangnya kemari?"


Penuh pertanyaan, tetapi Sonna tidak berani untuk bertanya langsung karena keberadaan Aland. Mereka berdua segera bergegas pergi dengan tujuan pekerjaan.


Sonna membuka semua berkas yang telah ia bawakan, dan langsung menyerahkan kepada Aland. "Pak, proyek pembangunan lahan yang sudah kita beli sekarang harus dibatalkan karena ada sebuah perusahaan besar yang ikut membeli dengan harga yang jauh lebih tinggi. Aku baru saja mendapatkan kabar tentang itu, itu artinya kita tidak bisa menggunakan lahan itu untuk memperluas hotel kita selanjutnya. Lalu apa yang harus kita lakukan, Pak?"


"Katakan perusahaan apa dan siapa pemiliknya? Berani-beraninya dia sudah menyerobot paksa lahan yang sudah kita tentukan sejak dulu," tanya Aland dengan sangat kesal.


"Sesuai informasi yang sudah aku dapatkan itu adalah perusahaan besar BN Properti, Pak. Dengan Ceo-nya bernama Benny Ton. Mereka sepertinya juga ingin membangun cabang properti, Pak."


"Apa? Pemiliknya Benny Ton?" Aland sangat terkejut hingga membuat terheran.

__ADS_1


Membuat Sonna kebingungan saat melihat reaksi Aland yang sangat berlebihan. "Ada apa, Pak? Kau mengenali pria itu?"


"Ya, aku sangat mengenalnya, Sonna. Tapi, kita tidak bisa diam saja. Kita harus membuat perhitungan dengannya," jelas Aland sembari mengerakkan giginya.


"Kurang ajar kau, Benny! Sepertinya dia sengaja ingin menghancurkan perusahaanku karena ia tahu bahwa setengah dari hartaku dulunya milik ibunya. Tetapi, aku tidak akan tinggal diam begitu saja. Meskipun dendam lama harus kembali berlanjut, tapi lihat saja aku akan membalas mu, Benny," batin Aland saat mengingat tentang masa lalunya yang buruk bersama dengan pria itu dan Arabella.


Ketegangan terlihat dari raut wajah Sonna, ia merasa tidak nyaman jika atasannya sudah sedang kesal. Perlahan dirinya ingin menutup berkas tersebut, namun tiba-tiba Aland menghentikannya.


"Tunggu dulu, Sonna. Kau harus membantu diriku," pinta Aland dengan perlahan.


"Tentu saja aku akan siap untuk membantumu, Pak Aland."


"Kau akan aku pecat dari perusahaanku, tapi kau harus bekerja untuk Benny, namun aku akan memberikan bayaran yang mahal untukmu jika saja kau berhasil membawakan semua informasi baik tentang perusahaan ataupun kehidupan pribadinya. Jika perlu buat agar dia jatuh cinta denganmu, Sonna. Maka bayaran tiga kali lipat dari gajimu yang sekarang akan aku jamin," rayu Aland dengan berusaha keras.


Seketika membuat Sonna terdiam, terlebih ia paling senang dengan uang. Namun tetap saja, pekerjaannya ini sangat beresiko. "Tapi, Pak Aland. Bagaimana kalau seandainya Benny tahu jika aku datang untuk memata-matai nya? Pasti dia akan menghukum ku, Pak."


"Tenanglah, Sonna. Aku juga akan menjamin keselamatan dirimu, tapi kau tidak boleh ketahuan dan bekerjalah seperti yang seharusnya," jawab Aland dengan cepat untuk berusaha menyakinkan wanita itu.


"Hei, Sonna. Ayolah aku akan menjaga keselamatan mu. Apa kau masih belum tidak percaya denganku?"


"Tentu saja, aku sangat percaya, Pak."


"Ya sudah, kerjakan semua yang aku inginkan. Sekarang kau boleh pergi."


"Baik, Pak Aland." Sonna bergegas pergi setelah ia mengambil sedikit bayaran pertama dari Aland.


Meskipun awalnya ia sangat takut, namun setelah melihat uang matanya langsung berbinar. Wanita kelahiran blasteran itu langsung bersemangat.


"Meskipun pekerjaan ini sangatlah beresiko, tapi aku bisa menggunakan uang itu untuk semakin mempercantik diriku. Jika perlu, akan aku goda Pak Aland dan Tuan Benny demi bisa memberikan segalanya untukku," batin Sonna dengan niat tersembunyi sembari tersenyum puas.

__ADS_1


Langkahnya bergerak cukup semangat sampai Sonna mulai bernyanyi ketika menghampiri mobilnya, namun tiba-tiba ia teringat dengan seseorang. "Tunggu dulu. Bukankah sebelumnya Herlin datang ke sini? Aku penasaran dengan pekerjaan yang ia bicarakan dengan Pak Aland. Jangan sampai dia mengambil posisiku. Sebaiknya aku harus mencari tahu keberadaannya sekarang. Mungkin mengunjungi rumah tantenya terlebih dahulu."


Tiba di tempat yang Sonna tuju, tetapi rumah itu terlihat begitu sepi. Hanya ada seorang pelayan yang sedang menyapu di luar.


"Permisi, di mana Tante Rere? Aku temannya."


"Mereka sudah pergi ke rumah sakit, Nona."


"Kalau boleh, bisakah Bibi beritahu nomor teleponnya padaku? Tenanglah aku tidak akan macam-macam karena aku ini memang temannya. Bibi bisa bertanya langsung nanti kepada majikanmu itu."


"Baiklah, tunggu sebentar." Pelayan tersebut segera masuk ke dalam dan mengambil ponselnya. "Ini nomor teleponnya, Nona."


"Terima kasih banyak, Bi. Ini ada sedikit uang untukmu."


"Wah ... terima kasih banyak." Melihat selembar uang dengan harga yang tinggi, membuat pelayan itu tidak segan untuk tersenyum ramah. "Jika nanti ada keperluan lagi, bisa segera datang saja ke sini atau hubungi saya ya, Mbak."


"Ah ya, tentu saja, Bibi," sahut Sonna dengan berpura-pura ramah. "Cih, wanita susah seperti ini selalu saja tidak bisa melihat uang sedikit pun."


Tanpa menunggu lama, Sonna segera menghubungi Rere hingga mereka memilih untuk bertemu sebentar. Rere memilih untuk berpamitan pergi saat sedang menemui Herlin mengurus semua berkas milik adiknya.


"Tumben sekali kamu mengajakku bertemu di sini, Sonna," ucap Rere saat baru tiba di sebuah restoran tepi jalan.


"Memangnya tidak boleh, ya? Ayolah, aku hanya ingin melihat teman lamaku saja. Rere, apa kau masih sangat dengan satu hal?"


"Yang mana?" Rere terlihat kebingungan.


"Kau ini cepat sekali lupa, ya. Kita pernah bekerjasama untuk bisa mendapat pekerjaan, tapi ternyata kau yang lebih unggul dariku karena aku tahu jika kau memiliki orang dalam yang bisa membawamu masuk ke dalam perusahaan besar seperti BN Properti. Jadi, bukankah itu sangat menarik sekali?" Sonna berusaha untuk membuat mata Rere terbuka dengan sedikit ancaman yang mulus.


Sontak membuat Rere terkejut sampai matanya melotot sempurna. "Apa maksudmu ini, Sonna? Jangan mencoba mengancam ku, dan jika tidak ada kepentingan yang sangat penting, biarkan aku pergi dari sini segera."

__ADS_1


"Santai dulu dong, Rere. Aku memang jauh lebih muda darimu, tapi setidaknya akal pikiranmu masih penuh darimu. Terus terang saja, aku hanya ingin kau membantuku satu hal, tapi jika tidak, no problem. Aku bisa melakukannya dengan cara yang kau tidak suka," pinta Sonna sembari menyunggingkan senyumnya.


__ADS_2