Terjebak Cinta Dua Duda

Terjebak Cinta Dua Duda
Elvin Terluka


__ADS_3

Herlin menjawab dengan anggukan kecil sembari memegangi keningnya yang terasa sedikit kesakitan. Namun, ia terkejut saat melihat wanita dari arah luar, terlebih ia sangat mengenalinya.


"Itu kan Tante Rere. Astaga ... kenapa dia harus mabuk sampai ke jalanan seperti ini? Benar-benar dia ini buat bahaya saja." Herlin sangat cemas sampai ia memilih turun tanpa berpamitan.


"Hei! Kau kenapa dengan wanita itu?" tanya Elvin yang merasa terheran. Namun ia memilih untuk tetap menunggu di dalam mobilnya.


Membuat Herlin segera merampas botol anggur dari tangan Rere dengan cepat. "Apa kau sudah gila? Kau mabuk-mabukan di depan jalan seperti ini? Jika saja mobil temanku tidak berhenti, kau bisa mati, Tan!"


Masih membuat Rere tidak begitu jelas melihat wajah Herlin, namun ia merasa aneh ketika tidak memegangi botol minumannya. "Di mana minumanku?! K—kau ... mencurinya, ya? Ba-wa-kan! Padaku! Itu milikku!"


Amarah yang tidak terkendali sampai membuat Rere ingin segera mendorong tubuh Herlin, namun Elvin dengan cepat membantu Herlin.


"Sebaiknya kita masuk ke mobil, Herlin. Wanita ini sedang mabuk berat, dan bisa melukaimu. Ayolah, Herlin!" paksa Elvin saat ia tidak ingin berurusan dengan hal yang bodoh.


"Aku kenal dengannya, Elvin. Jadi, kita harus mengantarkannya pulang terlebih dahulu."


Rere terdiam sembari menatap ke arah pria itu dengan begitu lama. Melihat wajah Elvin yang begitu mirip dengan kekasihnya membuat Rere dengan cepat mendekat sampai ingin memeluknya.


"Sayang! Ini aku ... kau ke mana saja? Aku rindu." Tertawa lalu menangis sampai membuat Rere menarik pakaian Elvin dengan kuat.


Semakin membuat orang lain kebingungan, namun Herlin berusaha untuk menarik Rere. "Sial! Dia semakin tidak terkendali."


"Erick, aku akan pulang dengan taksi. Aku harap kau bisa memahaminya. Jika tidak, aku takut dia akan semakin berbuat hal bodoh padamu," ucap Herlin yang tidak ingin ada masalah buruk.


"Tidak bisa, Herlin. Tidak ada taksi jalan sepi seperti ini. Aku akan menunggu kalian di dalam mobil."

__ADS_1


"Tapi, aku-" Ucapannya terhenti ketika Elvin bergerak lebih cepat.


Herlin melihat ke arah Rere yang tiba-tiba muntah di tempat. Sampai akhirnya wanita itu terjatuh tanpa sadar diri.


Membuat Herlin merasa tidak nyaman saat Elvin berusaha mengantarkan Rere pulang, terlebih dengan sikap Rere yang diluar batas kepada pria itu. Bahkan di sepanjang jalan, mereka hanya berdiam diri.


"Dia sudah banyak membantuku, tapi aku tidak baik mendiamkannya terus-menerus seperti ini," batin Herlin sembari melirik perlahan ke arah Rere yang sudah tertidur pulas di kursi belakang.


"Um ... Elvin, maaf kalau aku terlalu banyak merepotkan mu. Apalagi saat tanteku berbuat ulah."


"Tidak masalah, Herlin. Itu hal yang wajar saat seorang wanita merasa sakit hati. Meskipun aku tidak mengerti kenapa wanita itu memanggilku sebagai kesayangannya," sahut Elvin dengan santai sembari tersenyum hangat.


"Aku pun tidak tahu apa yang sedang terjadi dengannya, dan baguslah kalau kau tidak keberatan. Tapi, setelah kita mengantarkannya pulang. Mungkin malam ini aku tidur di rumah tanteku dulu, dan besok pagi aku akan berangkat kerja sesuai kesepakatan kita."


"Tidak apa-apa, Herlin. Aku bisa memahami apalagi tanteku membutuhkan dirimu sekarang. Ya sudah kalau nanti ada apa-apa, hubungi saja aku. Ini nomornya. Mungkin kau membutuhkannya nanti."


Dengan sengaja Elvin tidak kunjung pergi sebelum melihat Herlin masuk ke dalam rumah Rere terlebih dahulu.


"Gadis yang baik dan juga ceria. Aku senang melihat gadis baik seperti Herlin, tapi aku tidak mengerti kenapa Erick sampai tega ingin menodai gadis sebaik itu," gumam Elvin sembari menatap.


Baru saja membicarakan Erick, namun tiba-tiba ia sudah mendapatkan panggilan dari adiknya. "Astaga ... dia pasti ingin marah-marah."


Sesuai dengan perkiraan Elvin, namun ia tidak ingin meladeni pembicaraan bodoh yang menurutnya tidak berguna.


Bergegas pulang, namun Elvin sama sekali tidak menduga kalau ternyata Erick sudah tiba di tempat praktiknya.

__ADS_1


"Sejak kapan dia ada di sini? Untungnya Herlin tidak jadi pulang ke apartemenku tadi," batin Elvin yang menatap Erick dari dalam mobilnya.


Dengan penuh amarah besar, Erick berjalan ke arah mobilnya sembari memukul kaca mobil dengan sangat kuat sampai percikan kaca berhamburan. Untungnya Elvin berhasil menghindar, jika tidak dirinya akan terluka.


"Erick! Apa kau sudah gila?! Kaca mobilku kau rusak, apa maumu?" Elvin segera turun tanpa merasa takut.


"Katakan di mana Herlin berada? Pasti kau yang diam-diam membawanya pergi dari rumahku, kan? Cepat jawab aku, sialan!" tanya Erick dengan bentakan keras sembari mengancam dengan sebuah senjata tajam di tangannya.


"Lama-lama kau ini sakit jiwa. Apa maksudmu? Siapa memangnya Herlin? Hei! Kau sebaiknya berpikir logis, Erick. Aku bahkan tidak kenal dengan wanita yang sedang kau sebutkan itu." Elvin berusaha mengelak, namun ia baru menyadari jika adik kembarnya itu membawa senjata yang berbahaya.


"Jangan berbohong padaku, Elvin. Kau sudah membuat rencanaku gagal total, dan karena ulah mu, aku sampai harus kehilangan wanita itu. Cepat katakan dengan jujur, di mana Herlin berada?!" Erick terus mendesak sampai ia tidak mau tahu.


"Apa kau ini tuli? Aku sudah bilang tidak tahu apapun tentang gadis itu! Kau ini sebaiknya masuk ke rumah sakit jiwa saja. Menuduh orang lain tanpa bukti."


"Jangan sesekali mengurusi hidupku, Elvin. Kau memang saudara kembarku, tapi urusan wanita, kau tidak berhak untuk ikut campur. Bahkan aku tahu saat Herlin berbicara denganmu. Masih juga mau tidak mau berkata jujur padaku!" geram Erick dengan semakin kasar sampai membuatnya kehilangan kendali dan menggores pergelangan tangan Elvin dengan senjata tajamnya.


"Ingat satu hal, Elvin. Kau datang kembali untuk bekerja, bukan untuk menggurui diriku. Jika sekali lagi kau macam-macam, nyawamu akan aku pastikan tiada. Meskipun kita saudara, tapi aku tidak peduli karena bagiku, aku sudah hidup bersama dengan teman-temanku, bukan dirimu. Apalagi setelah kau meninggalkan diriku di sini, dan mengejar impian tanpa membawaku pergi," kesal Erick dengan rasa sakit di hatinya yang ternyata bukan sekedar tentang wanita.


"Aku meninggalkanmu di sini agar kau belajar mandiri, bukan menjadi berandalan bersama teman-teman jalanan mu itu, Erick," sahut Elvin sembari menahan rasa sakit dengan memegang erat pergelangan tangannya yang sudah berlumuran darah.


"Persetan dengan itu, Elvin! Bagiku, kau sama seperti mereka yang sudah pergi meninggalkanku. Kau tidak ada bedanya! Hanya mementingkan hidupmu sendiri, dan bukan aku. Maka ingatlah ini baik-baik, dan jangan pernah ikut campur dengan urusanku, apapun itu," ancam Erick tanpa bermain-main.


Meninggalkan Elvin yang masih terluka sampai meninggalkan goresan yang cukup besar. Ia berjalan dengan menahan rasa sakit sampai membuatnya begitu tidak berdaya, namun demi kesembuhan, Elvin berusaha mengobati lukanya sendiri meskipun terasa kesulitan.


"Aku harus bertahan. Ada banyak hewan yang harus aku lindungi di apartemenku ini," gumamnya saat perlahan-lahan mengoleskan obat merah dan juga perban demi ketenangan dirinya.

__ADS_1


Namun tidak Elvin ketahui bahwa lukanya itu membuat kesadarannya perlahan menghilang, meskipun ia sudah berhasil membalutnya dengan perban. Tetapi, terlalu banyak darah yang sudah keluar terbuang sia-sia. Sampai akhirnya Elvin benar-benar tidak sadarkan diri ditambah pintu apartemennya yang belum tertutup rapat.


__ADS_2