Terjebak Cinta Dua Duda

Terjebak Cinta Dua Duda
Bertemu Madam Choel


__ADS_3

Tiba di sebuah kediaman seorang pria yang sangat ingin sekali Herlin temui, namun ia merasa malu untuk memperlihatkan jati dirinya itu. Diam-diam Herlin menatap ke arah pekarangan rumah, namun tidak ada tanda-tanda kehidupan di dalam sana.


"Aneh. Tidak biasanya rumah ini sepi. Apa mungkin Benny sedang pergi?"


"Sepertinya memang tidak ada siapapun di dalam sana," gumam Herlin sembari berjalan ke arah rumah tetangga.


"Permisi, Bu. Apa Ibu tahu orang di rumah itu pada ke mana?"


"Sepertinya mereka sudah pindah, Mbak. Kebetulan kemarin saya lihat di depan rumah itu ada mobil besar yang lagi angkut barang."


"Oh, tapi Ibu tahu tidak Pak Benny pindah ke mana?"


"Itu saya enggak tahu, Mbak, maaf."


"Oh iya tidak apa-apa, Bu. Terima kasih."


"Sama-sama."


Melangkah kembali di depan pagar utama, namun tiba-tiba Herlin meneteskan air matanya. "Niatku untuk pergi sejauh mungkin, tapi setelah mengetahui Benny yang lebih dulu pindah. Justru hatiku tidak terima. Lalu sekarang ke mana tujuanku?"


Kebingungan yang semakin membuat Herlin tidak tahu arah untuk melangkah pergi, ia akhirnya memilih berjalan kaki tanpa berniat naik taksi, terlebih untuk berhemat uang.


Sebuah mobil lewat di dekatnya, dan langsung berhenti. Membuat Herlin sedikit merasa ketakutan, ia ingin berlari, namun tiba-tiba terdengar suara yang sangat familiar dengannya.

__ADS_1


"Kak Herlin!" Ya, suara Leony yang berusaha berteriak dari dalam mobil milik Aland. "Aku sudah mencari mu kemanapun, Kak. Untungnya kita bertemu di sini, ke mana saja kau pergi?"


"Apa kau sudah tidak waras? Bukannya kau sendiri yang meninggalkan diriku hanya demi bisa tinggal dengan Aland, lalu kenapa sekarang malah mencari ku?"


Rasa bersalah membuat Leony segera memegang kedua tangan kakaknya, berharap agar Herlin ikut dengannya.


"Aku tahu kalau saat itu aku sedang emosi, Kak. Tapi, ayolah kita pulang sekarang. Kak Aland sudah menunggumu di rumah, bahkan kami berdua sangat mencemaskan dirimu yang tiba-tiba menghilang dari rumah sakit. Belum lagi sampai sekarang Brian juga tidak ditemukan. Anak malang itu sudah diculik, entah siapa pelakunya, masih belum ditemukan."


"Apa? Brian sampai diculik?" Herlin terlihat sangat terkejut.


"Ya, saat kita semua ke rumah sakit. Lalu Brian diculik tepat di depan rumahnya sendiri. Sudah berhari-hari Kak Aland mencari putranya, tapi juga tidak bisa ditemukan. Ngomong-ngomong apa perutmu masih sakit setelah keguguran? Kau tidak tahu kalau kau dengan Kak Aland sudah berhubungan sejauh mungkin. Jadi, pulanglah denganku, Kak. Pria itu menunggumu juga. Jangan sampai dia bunuh diri saat kau tidak ingin kembali, dan Brian juga tidak tahu keberadaannya," pinta Leony dengan paksaan.


Betapa tidak pernah Herlin duga bahwa ia sempat keguguran, padahal tidak merasakan adanya tanda-tanda kehamilan. Namun, yang lebih membuatnya takut ketika mendengar hubungan dekat dengan Aland.


"Tunggu dulu, Leony. Jadi, maksudmu kalau aku sampai keguguran karena Aland memaksaku berhubungan, begitu?" tanya Herlin yang kembali memastikannya.


"Tidak, Kak Herlin. Aku hanya ... berpura-pura mengatakan hal itu, jadi tolong jangan salah menduganya, please!"


"Aku tahu sekali bagaimana sifatmu, Leony. Kau tidak pintar berbohong apalagi kepadaku. Jadi, terima kasih karena sudah berkata jujur dengan keceplosan mu itu. Ya sudah, pergilah dari sini. Tidak perlu mencari ku lagi karena sebaiknya katakan kepada Aland, kalau aku sendiri yang tidak ingin lagi kembali padanya, bahkan bertemu dengannya jika itu memang diperlukan, permisi!" tegas Herlin dengan cepat.


"Eh, Kak! Jangan pergi dulu. Kau sudah salah paham." Leony berusaha membujuk, tetapi sayangnya semua itu tidak mempan baginya.


"Terserah!" Lambaian tangan perpisahan Herlin lambai dari arah belakang, namun langkahnya terus melangkah ke depan.

__ADS_1


"Ah sial! Kak Herlin sekarang benar-benar tidak ingin lagi mau mendengarkan diriku," ketus Leony dengan keluhannya, ia segera bergegas pergi.


***


"Sekarang aku benar-benar merasa begitu hina, bahkan Aland juga sudah menjadikan diriku sebagai bahan hinaan untuknya. Lalu ke mana lagi aku pergi? Pasti Benny tidak akan sudi menjadi tempat mengadu bagiku. Apa sebaiknya aku kembali ke identitas asliku saja?" gumam Herlin yang sedang merasa kebimbangan dalam hidupnya.


Mengingat untuk kembali ke dalam club malam, rasanya seperti membuka masa lalu buruk untuk kembali terulang. Namun sayangnya, tidak ada alasan apapun lagi selain dengan keputusan ini.


"Ya, menjadi kupu-kupu malam memang bukan identitas ku, tapi setidaknya aku bisa bertahan hidup," lirih Herlin saat ia menatap ke atas, tepat club malam telah ia pijak.


Menarik nafasnya dengan perlahan, lalu memasuki club malam dengan penuh ketenangan. Masih seperti biasa, di mana banyak orang yang sedang menari tanpa irama, yang sibuk menjalin cinta hingga bercinta di beberapa sudut pesta.


Kedatangan Herlin membuatnya terdiam mematung sembari terus mengamati setiap keanehan yang terjadi di dalam club malam, dan tanpa ada batasan. Tiba-tiba seorang wanita menepuk pundaknya.


"Welcome to the world of dream night, Herlin. Kau datang lagi? Wow! Saya sangat senang," sapa seorang wanita paruh baya yang sejak dulu sudah menjadi atasan Herlin sekaligus pemilik club malam tersebut dengan penuh senyuman. Wanita itu akrab di kenal dengan Madam Choel.


"Terima kasih, Madam. Lalu apa saya bisa kembali bekerja?" tanya Herlin dengan tiba-tiba.


"Oh, tentu saja, Herlin. Kau itu dulunya sangat saya sukai, bukan? Jadi ... bekerja kembali setelah berhenti dengan tiba-tiba tidak jadi masalah buatku, tapi sekarang job kerjamu akan saya pindahkan," sahut Madam Choel dengan penuh teka teki.


"Maksudnya apa, Madam? Aku masih bekerja sebagai pelayan pengantar minuman dan seorang DJ, bukan? Memangnya apalagi yang cocok padaku selain itu?"


"Tentu saja banyak, Herlin. Lihatlah dirimu sendiri? Wajahmu comel ... sekali, aku sebagai perempuan suka sekali mencubit pipi chubby mu ini. Badanmu juga bagus, dua bulatan dada mu sangat mempesona, bahkan bagian belakang pinggul mu yang aduhai ... sekali. Jadi, jujur saja setelah kau berhenti bekerja di sini banyak pelanggan setia kita yang kabur ke sebelah. Katanya tidak ada DJ Herlin tidak seru, Madam. Kami ingin dia kembali ke sini. Mereka terus membuatku pusing, tapi untung saja kau datang lagi, dan aku pastikan gajimu akan aku tambahkan dua kali lipat dari gajimu sebelumnya, bagaimana?"

__ADS_1


Seketika membuat Herlin tergiur dengan kesempatan bagus, apalagi dengan jumlah bayaran yang jauh lebih besar. Namun sayangnya, ia masih merasa bingung. "Aku akan mengambil job baru karena jujur saja, Madam. Uangku sudah sangat menipis. Siapa tahu aku bisa membeli rumah sendiri. Tapi, katakan dulu apa job baru itu, Madam? Jangan terus membuatku penasaran."


"Nak, masalah rumah tinggal sementara akan Madam pikirkan untukmu, tenanglah kau bisa tinggal di apartemenku selama bekerja di sini. Tentu saja job ini akan sangat menguntungkan sekali, tapi saya harap kau bersedia yaitu setelah selesai manggung DJ, lalu kau harus bersedia melayani beberapa tamu yang ingin memesan kamar bersama denganmu. Tidak perlu banyak, sehari bisa dua sampai tiga pria, mudah bukan?"


__ADS_2