
Suara bisikan itu tanpa terduga membuat Benny mulai kesal, namun ia mencoba untuk tidak terjebak. Terlebih ia benci dengan wanita yang sangat mudah menyerahkan segalanya.
Dengan cepat Benny mencekal tangan Herlin sampai membuat wanita itu meringis kesakitan. "Apa kau tidak paham bahwa aku sekarang ingin berangkat kerja? Lalu pagi-pagi kau datang hanya untuk memperlihatkan keindahan tubuhmu begitu? Katakan dengan sejujurnya, apa kau sebenarnya butuh uang?"
Tersentak kaget ketika secara tidak langsung pria itu menyadari keinginannya. Hal itu membuat Herlin menunduk dengan rasa tidak percaya.
"Ya ampun, sebenarnya aku tidak ingin melakukan hal ini. Lalu apalagi yang harus aku katakan? Kalau saja pria itu tidak tertarik denganku lagi, maka itu artinya dia pasti akan menyuruhku pergi," batinnya.
"Hei, kenapa kau diam saja?" Benny bertanya sembari mengayunkan tangannya di depan wajah Herlin. "Aku bahkan belum tahu namamu, dan sekarang kau kembali untuk merayuku? Wah ... mudah sekali dirimu ternyata. Meskipun aku akui di malam itu kita sama-sama tidak sengaja terkulai lemas dalam keadaan mabuk, lalu sekarang kau terlihat normal saja. Benarkah yang sedang aku katakan ini?"
"A-aku tidak seperti itu, Tuan Benny." Herlin menjawab sampai membuat lidahnya gelagapan.
"Benarkah? Lalu kenapa tiba-tiba kau gugup ketika aku bertanya hal itu? Padahal sebelumnya kau seperti ingin membuka semua pakaianmu di hadapanku. Lalu sekarang tunggu apalagi? Tidakkah kau ingin melakukannya?" Benny berusaha menjebak.
"Jaga ucapan mu, Tuan kaya raya. Meskipun aku tahu dirimu ini cukup kaya dan terkenal, tapi tidak seharusnya merendahkan diriku seperti ini, bukan?" Herlin merasa kesal, meskipun ia tahu akan kesalahannya. Namun, ia mencoba untuk terlihat lebih kuat.
"Aku cukup terkejut melihatmu datang ke rumahku tiba-tiba, Nona nakal. Akan tetapi, aku hanya ingin katakan satu hal agar kau bisa terus mengingatnya setiap waktu. Tolong hargai dirimu sendiri jika orang lain ingin menghargai dirimu juga."
"Tuan, kau tidak perlu mengajariku. Kalau memang kau sudah bosan denganku katakan saja. Siapa tahu malam itu gerakan ku tidak sedahsyat yang kau bayangkan. Tapi sungguh, di malam-malam selanjutnya aku akan pasti memberikan kenikmatan yang lebih daripada satu malam yang telah kita lalui," tegas Herlin.
Semakin membuat Benny menatap Herlin dengan sebelah mata, meskipun awalnya ia sangat tertarik dengan gadis itu. Namun ketika mendengar ucapannya sekarang, bukannya senang, namun sangat memuakkan untuknya.
"Berapa uang yang kau minta untuk malam kemarin? Bukankah malam itu kau pergi tiba-tiba saja? Pasti sekarang kau datang dengan meminta bagian. Aku bisa berikan cek ini untukmu, lalu setelah itu tolong pergilah dari sisiku, gadis nakal," sahut Benny dengan mempersingkat waktu sembari ia memberikan sebuah cek dengan jumlah nominal yang lumayan besar.
__ADS_1
Melihat uang sebanyak itu, membuat mata Herlin terbuka lebar karena ia tahu uang itu bisa setara dengan hasil kerja kerasnya selama satu tahun, dan sampai sekarang ia belum berhasil mendapatkannya.
Bukannya menolak, dengan cepat Herlin mengambil cek uang tersebut. Sontak membuat Benny menahan senyumnya.
"Gadis ini ... dia cukup berani berterus terang meskipun sikapnya memang sedikit unik dari banyak wanita yang juga rela membuka lebar pahanya demi sekedar kenikmatan sesaat," batin Benny.
Bukannya turun, namun Herlin semakin betah berada di dalam mobil tersebut meskipun nominal uang yang besar sudah berada di dalam genggamannya.
"Tunggu apalagi? Turunlah sekarang karena aku ingin bekerja," perintah Benny.
"Ah tunggu dulu, Tuan Benny. Kita belum selesai. Masih ada hal penting yang ingin aku katakan padamu." Dengan cepat Herlin menolak sembari menggelengkan kepalanya.
"Katakan apa itu? Aku tidak punya banyak waktu untuk bisa meladeni dirimu," sahut Benny sembari melirik ke arah jam tangannya.
"Um, sebelumnya aku minta maaf jika terkesan memaksamu, Tuan Benny. Tetapi, bisakah aku meminta satu hal lagi? Ya, meskipun aku tahu kau sudah membayar ku untuk malam kemarin. Namun, kali ini sangatlah penting."
"Ayolah, Tuan Benny. Aku sungguh berharap denganmu, dan tanteku juga meminta agar aku bisa memiliki pekerjaan darimu, sungguh."
"Tunggu dulu. Tadi apa katamu? Tante? Siapa tantemu? Bahkan aku sampai lupa bertanya darimana kau dapat alamat rumahku serta nomor teleponku juga. Pasti kerabat mu itu bukanlah sembarangan orang karena dia bisa tahu banyak hal tentangku."
Seketika Herlin terdiam karena ia tahu sudah keceplosan bicara. “Astaga ... kenapa aku harus bilang begitu? Jika saja Tante Rere tahu aku bisa diomeli habis-habisan olehnya."
"Kenapa tiba-tiba bengong? Cepat jawab aku sekarang! Atau kau ingin aku rampas kembali cek uang itu," bentak Benny karena dirinya paling benci dengan kebohongan.
__ADS_1
Masih membuat Herlin tidak mau berkata jujur, ia merasa takut jika sampai Rere marah. Namun tiba-tiba, Benny benar-benar melakukan yang ia katakan. Pria itu tanpa tunggu lama segera merobek cek uang dalam hitungan detik.
"Tuan, apa yang kau lakukan? Itu uangku!" Herlin merasa kesal, ia segera merampas paksa setiap robekan yang telah menjadi pecahan kecil.
"Bahkan sekarang aku bisa berbuat yang lebih buruk kalau kau masih belum berkata dengan jujur. Terlebih aku pun belum tahu dengan namamu," tegas Benny sembari menatap tajam dengan satu tangannya yang memegang kasar wajah Herlin.
"B-baik, Tuan Benny. Aku akan berkata jujur. Sebenarnya tanteku itu bernama Rere, katanya kau ini atasannya. Lalu mengenai namaku, kau bisa memanggilku Herlin," sahutnya dengan penuh ketakutan.
"Rere?" tanya Benny dengan rasa tidak percaya. "Apa dia sudah gila memberikan gadis ini untukku?" batinnya.
"Ya, dia orangnya, Tuan. Tapi aku mohon padamu, Tuan Benny. Tolong, jangan katakan apapun kepadanya tentang ini. Aku tidak ingin dia sampai tahu jika aku memberitahukan dirinya," pinta Rere seraya memohon dengan menyatukan kedua tangan di hadapannya.
"Um, lalu sekarang katakan apa tujuanmu yang lain?"
"Sebelum aku jawab itu, bisakah kau kembali memberikan cek uangnya untukku lagi, Tuan?"
"Hei, jika kau berani memaksa ku dengan melewati batas. Maka aku bisa menyeretmu keluar dari mobilku sekarang, kau mengerti? Katakan saja dengan jelas. Aku tidak suka bertele-tele, gadis aneh," hardik Benny dengan berusaha memperingati.
"Tapi, Tuan Benny-"
"Cepat katakan saja, sekarang!" teriak Benny dengan mata yang melotot sempurna.
Sontak membuat Herlin sangat terkejut, hingga tangannya bergetar dan mata terpejam. Betapa tidak pernah ia lakukan semua ini sebelumnya, namun perlahan ia menarik nafas sembari menatap wajah Benny.
__ADS_1
"Izinkan aku untuk menjadi teman ranjangmu, Tuan Benny. Aku mohon ...," pinta Herlin setelah mengumpulkan semua keberaniannya.
"Apa kau sudah tidak waras?" Benny sangat tidak percaya. Seumur hidupnya, baru sekarang ia mendengar permintaan seorang wanita yang cukup ekstrim. Terlebih ia merasa takut akan satu hal. "Takdir apalagi ini? Kehilangan istriku yang paling aku sayangi sudah membuat hidupku gila, lalu sekarang takdir membawaku bertemu dengan wanita yang jauh lebih gila tanpa pernah aku bayangkan sebelumnya," batinnya dalam kebingungan.