Terjebak Cinta Dua Duda

Terjebak Cinta Dua Duda
Niat Baik Dan Buruk


__ADS_3

Melihat sikap putri kecil Benny yang terlalu cemburu dengan Brian, dengan cepat Benny memegangi tangan Bulan.


"Bulan, jangan seperti itu dengan Kak Brian. Dia juga sekarang saudaramu, jadi papamu akan menyayangi kalian sama, tanpa ada yang harus merasa sedih," ucap Brian dengan perlahan membujuk putrinya.


"Tapi, Bulan hanya ingin milik Papa."


"Tentu saja, Bulan. Namun sekarang, Bulan sudah ada teman bermain yaitu Kakak Brian. Sudah ya, jangan lagi cemberut gitu dong." Benny dengan sengaja mencolek pipi putrinya agar bisa tersenyum manis.


Melihat orang asing di depannya, membuat Brian merasa bingung. Terlebih ia hanya ingin bertemu dengan Herlin.


"Lalu kenapa aku harus memanggilmu dengan Papa Benny? Kata Papa Aland jangan bicara baik dengan orang asing," tanya Brian yang terlihat begitu polosnya.


"Tentu saja itu benar, Nak. Sebenarnya tadi Papa Aland mengatakan kalau untuk sementara waktu kau harus tinggal di sini dengan Papa Benny dan Bulan. Karena dia harus ke luar kota mengurus kepentingan pekerjaan. Maka dari itu, tinggallah di sini, dan tentu saja Papa Benny akan membawa Tante Herlin kemari. Jadi, tidak perlu takut lagi dengan Papa Benny, ya. Aku ini teman baik papamu," jelas Benny dengan semau kebohongan demi berjalan rencananya.


"Benarkah?" Brian bertanya dengan rasa ragu yang sedikit, tetapi di dalam hati kecilnya ia senang melihat Bulan sebagai teman barunya.


"Itu sudah pasti benar, Brian. Jadi, tidak apa-apa kan kalau kamu bermain dengan Bulan di sini? Dia juga adikmu."


"Aku senang, Papa Benny. Apalagi sekarang aku memiliki teman. Karena selama di sekolah aku selalu di bully oleh teman-teman, karena aku tidak memiliki ibu," curhat Brian sampai membuat wajahnya menunduk dalam kesedihan.


Tiba-tiba saja Bulan memeluk Brian seperti yang sering ia lihat di televisi saat menonton drama bersama papanya. Hanya sekedar pelukan kecil dari anak-anak sebagai tanda rasa sayang.


"Jangan sedih ... Papa bilang kalau sedih nanti ada hantu di samping kita," ucap Bulan dengan cara yang unik.


"Hantu? Apa hantu itu sangat menyeramkan?"

__ADS_1


"Tentu saja tidak, Brian. Sebagai seorang pria sejati, kita jangan takut hantu, namun hanya perlu lari ketika melihatnya. Jadi sekarang, Bulan benar kalau sedih nanti diganggu hantu. Ya sudah kalian berdua bermain bersama dulu di sini. Papa Benny akan mengurus Tante Herlin dulu."


"Itu artinya nanti Tante Herlin akan datang kemari juga, kan?"


"Pasti, Sayang."


"Yee ... Bulan, kita akan memiliki Mama!" Brian begitu senang hingga membuat menarik kedua pipi Bulan yang sangat chubby.


"Mama? Bulan juga suka, tapi pipi Bulan sakit ...."


"Eh maaf-maaf, Bulan. Kakak tidak bermaksud ingin melukaimu." Perlahan Brian mengusap kedua pipi Bulan dengan penuh kasih sayang.


Melihat kedatangan mereka, semakin membuat yakin jika Brian akan tinggal betah dengannya.


"Sepertinya begini akan lebih baik sampai nanti aku bisa merawat mereka hingga tubuh dewasa, tapi sebelum itu terjadi, aku harus memenuhi janjiku untuk membawa Herlin ke sini. Lebih baik sekarang aku harus meminta Halu mencari rumah baru untuk kami, jika tidak Aland bisa saja menemukan keberadaan putranya di rumah ini," batin Benny dengan penuh perhitungan.


"Ada tugas baru untukmu, dan ini bayaran mu hari ini karena sudah membantuku," ucap Benny sembari menaruh sejumlah uang yang lumayan banyak. Cukup untuk membeli sebuah mobil baru.


Wajah Halu seketika berubah senang dan tersenyum lebar. Ia segera menghitung uang banyak yang bisa membuatnya bersenang-senang selama lima bulan. Tetapi Halu tidak sadar, saat mengabaikan perintah dari kakaknya.


"Halu! Kenapa malah sibuk sendiri? Diambil lagi nih uangnya," ancam Benny.


"Eh jangan ... udah ah, jangan bercanda gitu. Iya-iya bentar napa? Lagi hitung duit ini," jawab Halu dengan santainya.


"Ah kau ini benar-benar, ya." Tiba-tiba Benny kembali mengambil uang yang sudah ia beri.

__ADS_1


Seketika membuat rasa semangat Halu berubah menjadi buruk. "Lalu sekarang tugas apalagi?"


"Cari rumah baru untukku karena rumah ini akan aku jual. Pastikan rumah itu bagus dan tidak cacat apapun, terlebih jangan terlalu dekat dengan pemukiman warga. Kau tahu, aku sedikit tidak suka ada drama antar tetangga," perintah Benny.


"Rumah baru? Lah terus rumah ini kenapa, Kak? Suka banget gonta-ganti rumah."


"Kau tahu sendiri kalau sekarang Brian sudah ada di sini, dan aku bermaksud untuk menyekolahkan nya serta menjadikan dia sebagai putraku juga agar Bulan tidak kesepian."


Sontak membuat Halu terkejut sampai menatap Benny dengan tatapan yang sangat tidak dipercaya. "Tunggu dulu, Kak Ben. Lo yakin mau jadikan Brian sebagai anak lo juga? Terus kalau tiba-tiba dia rindu dengan papanya bagaimana?"


"Itu persoalan gampang karena sekarang aku sudah membuat kebohongan jika Aland sedang sibuk bekerja. Dengan begitu aku bisa membuat suasana baru di dalam hidupnya. Terlebih aku merasa kasihan saat mendengar dari Brian sendiri, kalau ternyata dia selalu menjadi bahan bullyan. Sepertinya Aland hanya memikirkan tentang pekerjaannya, tanpa menyadari bahwa putranya sedang butuh bantuan. Itulah yang buatku semakin yakin demi bisa menghapus kenangan Aland dari hidup putranya sendiri," jelas Benny dengan sangat bersungguh-sungguh.


"Terlebih aku ingin Aland merasakan kerinduan yang besar saat kehilangan orang tersayangnya. Dia sudah membunuh Arabella tanpa memikirkan perasaan anak-anak itu yang kehilangan ibunya, dan sekarang aku ingin mewujudkan kembali keinginan mereka, meskipun harus membuat Aland merasakan penderitaan yang sama saat kehilangan orang yang paling ia sayangi," batin Benny yang masih menjadikan alasan sebagai sebuah dendam.


Mendengar kejelasan dari Benny, membuat Halu mengerti. Namun, ia tidak menduga bahwa kakaknya akan begitu berniat.


"Ben, lo serius, kan? Walaupun gue tahu kalau lo hanya melakukan ini demi kebaikan Brian, tapi tetap saja penculikan itu tidak benar, apalagi sampai harus memisahkan putranya dari ayah kandungnya sendiri."


"Ya, tentu saja. Tapi tidak ada cara lain, Halu. Maka aku akan menggunakan cara yang kau bisikkan padaku, tapi setelah rencana ini berhasil. Oh ya, satu hal lagi. Tolong urus juga semua perlengkapan sekolah Brian yang baru, dia akan bersekolah di tempat Bulan, dan setelah itu aku akan memutuskan melanjutkan pendidikan mereka berdua ke luar negeri."


"Wow! Kau sangat bersemangat. Baiklah, Ben. Asal punya pundi-pundi gue akan melakukannya. Okez gue sekarang berangkat dulu!" pamit Halu dengan sangat bersemangat.


"Pergilah."


Membuat Benny ikut tersenyum senang ketika Halu sangat mudah dibujuk walaupun membutuhkan uang yang terlebih dahulu.

__ADS_1


"Satu masalah sudah selesai, lebih baik aku segera kembali ke rumah sakit saja. Sampai bisa membawa Herlin ke sisiku," gumam Benny seraya mengambil jaket hitamnya.


Tepat ketika membuka pintu, tiba-tiba seseorang sudah berada di depan rumahnya. Sontak membuat Benny terkejut saat bersamaan tamunya ingin mengetuk pintunya.


__ADS_2