
Elvin menyadari jika pastinya orang lain akan sangat terheran ketika melihatnya, namun itu tidak membuatnya cemas. "Jika tidak, ikutlah denganku dulu atau kalau enggak Erick akan melihatmu di sini."
"Erick? Maksudnya kau ... lalu siapa dirimu?" tanya Herlin dalam keheranan, namun ia tidak menolak saat pria itu mengajaknya pergi.
"Apa mungkin dia kembaran Erick? Jika itu benar, mereka terlihat begitu berbeda dari segi sifatnya," batin Herlin.
Membawa Herlin masuk ke dalam kamar, lalu mengunci pintu dengan rapat. "Tunggulah di sini beberapa saat sampai aku kembali."
"Tapi, katakan dulu siapa dirimu?"
"Kau akan tahu nanti, aku harus pergi sebentar saja. Jika tidak, kau tidak akan dapat keluar lagi dari sini." Elvin berharap agar wanita itu mengerti, lalu ia pergi dengan sedikit berlari.
Terdengar suara percikan air dari dalam kamar mandi, membuat Elvin dengan cepat mengunci pintu kamar Erick tanpa diketahui.
"Dasar pecundang, bawa pergi anak orang begitu saja," gumam Elvin lalu kembali berlari ke arah Herlin berada.
"Sekarang sudah aman. Ayo sekarang ikut denganku. Kau bisa bebas setelah ini," ajak Elvin, namun tiba-tiba Herlin merasa ragu sampai melepaskan tangan pria itu. "Ada apa? Ayolah cepat, jangan sampai Erick ke luar dari kamarnya. Aku baru saja menguncinya di dalam."
"Ya, baiklah." Tidak ada pilihan lain meskipun Herlin masih merasa terheran. Lalu memilih pergi dengan mobil bersama pria itu.
Membuat Herlin terus menatap wajah Elvin, dan berharap bisa menemukan perbedaan dari wajah mereka. Namun ternyata tidak, mereka berdua terlihat sangat mirip.
"Jadi, kau ini kembarannya Erick?" tanya Herlin dengan tiba-tiba.
"Ya, namaku Elvin Jonathan. Mungkin kau merasa bingung, tapi inilah yang kenyataannya. Bahwa Erick adalah adikku. Lalu siapa namamu, Nona? Sebelumnya Erick mengatakan kalau kau ini kekasihnya."
__ADS_1
"Namaku Herlin Jacqueline. Tapi, kalian berdua terlihat sangat berbeda dari segi sifat. Memangnya kenapa kau mau membantuku? Dan aku bukanlah kekasih Erick. Dia berusaha menculik ku saat di rumah sakit. Kau lihat sendiri kan, pakaianku saja masih milik rumah sakit."
"Aku mengerti, itu sebabnya aku sangat curiga saat Erick membawamu ke rumah. Sebetulnya memang aku dengannya sangat memiliki perbedaan, dan terlebih dia hanya mengikuti jejak keinginannya sendiri bersama dengan teman-teman berandalan itu. Tapi jangan khawatir, Herlin. Sekarang kau sudah aman. Maafkan kesalahan adikku, karena memang dia suka sekali berbuat hal aneh dengan sesuka hatinya sendiri. Meskipun awalnya dia adalah adik yang sangat penurut," jelas Elvin.
"Oh ya? Jadi ... Erick pernah berbuat baik sebelumnya? Aku pikir dia selalu menggoda banyak wanita, maaf, tetapi itulah kenyataannya saat aku mengenalnya sejak dulu."
"Itu benar, dan sifatnya berubah setelah mamaku menikah lagi dan meninggalkan keluarga kami. Hingga akhirnya kami tinggal berdua bersama dengan beberapa warisan milik papa. Itu sebabnya, dia sama sekali tidak bisa menghargai wanita karena rasa bencinya dulu terhadap mamaku. Aku pikir setelah membiarkan dia tetap di sini, dia bisa berubah. Ternyata tidak, justru lebih buruk. Itu sebabnya, aku kembali pulang setelah mendengar banyak hal buruk yang sudah Erick lakukan," lanjut Elvin.
Herlin terdiam sembari menyimak semua cerita pria itu. Sekarang ia baru mengerti dengan sikap Erick yang terkadang cukup membuatnya sangat jengkel.
"Rupanya ada rasa trauma dan dendam yang telah merubah sifat Erick menjadi sangat liar seperti sekarang. Padahal kakaknya ini terlihat begitu baik, aku sangat tidak menduga kalau Erick memiliki saudara kembar yang sangat sopan," batin Herlin sembari terus menatap wajah pria itu.
Terkadang dengan tatapan Herlin, membuat Elvin tersenyum kecil sebagai bertanya. "Kenapa terus menatapku? Apa aku terlihat begitu tampan?"
"Hah? Ah tidak, aku hanya masih mencoba mencari perbedaan di antara wajahmu dan Erick," sahutnya yang berusaha berbohong. "Semoga saja dia tidak berpikir aku menatapnya karena mulai menyukainya," batinnya.
Tiba-tiba membuat Herlin terdiam saat ia kembali mengingat pertengkarannya dengan Aland yang belum saja terjadi, terlebih Leony yang memilih untuk pergi darinya.
"Sekarang ke mana aku harus pergi? Bahkan aku pun tidak ingin Aland berpikir jika aku kembali, dan harus menjadi istri demi putranya. Tapi selain di sana, ke mana tujuanku? Jika rumah Tante Rere pasti akan membuatnya cemas, dan bisa saja Aland menemukan diriku di sana," batin Herlin yang mulai terlihat cemas.
Lamunan Herlin tersadar saat Elvin memberhentikan mobilnya dengan tiba-tiba, lalu menepuk pundak wanita itu. "Kenapa cuma diam? Apa kau tidak punya tempat tujuan?"
"Sebenarnya ... aku memang tidak memiliki tempat tinggal, dan sudah lama berbelas kasih bantuan dari tanteku. Tapi sekarang, aku tidak ingin ke sana karena keadaan hidupku sekarang cukup rumit," sahut Herlin sembari menunduk dengan rasa malu.
"Jadi, kau tidak punya tempat tinggal? Baiklah tidak masalah. Apa sebelumnya kau sudah pernah bekerja?"
__ADS_1
"Ya, awalnya aku seorang DJ, lalu menjadi pengasuh anak."
"Ternyata pekerjaanmu beresiko juga. Baiklah tidak apa-apa, Herlin. Kalau memang kau tidak punya tempat tinggal, maka bisa ikut denganku, dan menjadi staf ku. Apalagi saat ini aku membutuhkan seorang perawat untuk membantu hewan yang terluka. Apa kau suka binatang?"
"Tunggu! Jadi, kau ini dokter hewan?"
"Yah ... bisa dibilang begitu."
"Wah baiklah! Aku mau bekerja denganmu, Elvin. Kebetulan aku juga pecinta hewan. Tanpa digaji pun tidak apa-apa karena kau sudah mau membantuku, apalagi menyediakan tempat tinggal untukku."
"Jangan begitu, Herlin. Setiap karyawan harus digaji, dan kau bisa membayar sewa tempat tinggalnya padaku. Kebetulan tempatnya juga satu atap, karena memang aku membeli sebuah apartemen untuk membuka praktek."
"Itu pun tidak masalah. Terima kasih banyak, Elvin. Kau sudah begitu banyak membantuku." Helrin terlihat begitu senang, sampai ia benar-benar tidak menduga bahwa di dunia ini masih begitu banyak orang baik yang belum sepenuhnya ia temukan.
"Kalau begitu kita ke membeli beberapa pakaianmu dulu. Tidak akan mungkin, kau memakai bajuku saat di sana."
"Tapi ... aku tidak memegang uang sama sekali." Raut wajah Herlin seketika terlihat murung.
"Santai saja. Kau bisa menggantikannya nanti saat gaji pertamamu ke luar. Ayolah, Herlin."
"Baiklah!"
Selama perjalanan Herlin merasa begitu bersyukur, terlebih kedekatannya dengan Elvin mulai semakin bertambah. Hal itu membuat Herlin mengingat sesuatu.
"Aku tahu ini sulit, apalagi setelah berpisah dengan adikku. Namun, aku pun harus memiliki uang agar bisa menemui Benny di kantornya langsung. Jika tidak, maka kerumitan akan semakin bertambah antara aku dan Benny, ditambah sekarang ponselku masih tertinggal di rumah Aland. Mengambilnya saja membuatku tidak ingin kembali," batinnya.
__ADS_1
Namun tiba-tiba saja, seorang wanita tidak sengaja berjalan sempoyongan dengan memegang segelas anggur dan menghadang mobil Elvin. Sampai membuat Elvin menghentikan mobilnya dengan cepat.
"Kau baik-baik saja, Herlin?" tanya Elvin saat melihat kening Herlin terhantam ke depan.