Terjebak Cinta Dua Duda

Terjebak Cinta Dua Duda
Tidak Bisa Menolak


__ADS_3

“Tante Herlin, dari mana saja? Aku tidak mau Tante pergi lagi dariku, Tan. Kenapa malam itu tidak datang? Padahal, aku sudah memasakan makanan buatku sendiri untukmu," tanyanya seraya melepaskan pelukannya perlahan.


"Bukan Tante tidak mau datang, Brian. Hanya saja ... ada sedikit pekerjaan yang membuatku tidak bisa hadir. Lagi pula siapa yang akan menolak jika di masakin oleh pria kecil yang tampan sepertimu ini? Tentu saja tidak ada," sahut Herlin sembari mencolek pipi Brian demi bisa membuat anak itu tersenyum.


"Benarkah? Jadi, nanti Tante ingin mencicipinya, kan? Sebenarnya aku menyukai makanan, Tan. Itu sebabnya aku ingin jadi chef terkenal nantinya." Brian mulai terlihat ceria.


"Wah ... hebat sekali cita-cita mu, Sayang. Tentu saja Tante akan mendukungmu, Brian!" puji Herlin sembari mengacak-acak rambut pria kecil.


Sikap Herlin yang manis seketika membuat Bibi Lena dan Aland tersenyum sembari bertatapan, seperti memiliki pemikiran yang sama tentang wanita itu.


"Brian, sekarang makan dulu. Nanti bicara lagi sama Tante Herlin, ya," ajak Bibi Lena yang tidak ingin menyita banyak waktu setelah pria kecil terbangun.


"Enggak mau! Brian cuma mau makan kalau disuapi oleh Tante Herlin," tolaknya sampai menggelengkan kepala dengan cepat.


"Ya ampun," lirih Aland.


"Ya sudah kalau begitu Tante akan menyuapimu makan, tapi janji setelah itu jangan membantah lagi permintaan dari Bibi Lena, ya. Kalau tidak Tante enggak mau datang ke sini."


"Jangan dong, Tan."


"Kalau begitu menurut, ya."


"Iya, Tan. Brian sudah lapar ...."


Seperti layaknya putranya sendiri, Herlin memperlihatkan kasih sayang demi kesembuhan Brian sampai anak itu kembali tertidur dengan lelap. Membuat Aland segera mengajak Herlin pergi saat memiliki waktu berduaan.


"Herlin, aku sendiri tidak mengerti kenapa sikap putraku tiba-tiba sangat manja dan suka sekali merengek padamu, sungguh dia dulu tumbuh dengan sangat mandiri. Lalu sekarang, ia suka sekali membangkang, namun yang aku tahu kalau ternyata Brian memiliki hari yang buruk di sekolahnya," ucap Aland dengan berkata jujur.

__ADS_1


"Apa? Jadi, sampai separah itu, Pak Aland? Aku pun tidak tahu karena baru pertama kalinya aku menjaga seorang anak seperti ini. Biasanya aku tidak terlalu suka dengan hal yang membosankan seperti ini, Pak."


"Itu sebabnya aku merasa cemas sampai sejak semalam berusaha menghubungi dirimu, tapi kau sama sekali tidak bicara. Apa semalam kau sedang bersama dengan pemilik dari rumah itu?"


"Um, tidak. Aku datang ke sana pagi tadi karena ingin mengambil sesuatu, Pak Aland. Lagi pula mana mungkin aku kenal dengan pemilik rumah itu. Apalagi aku bukanlah dari kalangan wanita karir seperti kebanyakan kesukaan pria sukses sepertimu, Pak," sahut Herlin dengan berusaha berbohong.


"Alangkah baiknya aku tidak berkata jujur daripada aku takut timbulnya masalah baru. Apalagi Tante Rere cerita jika Pak Aland dan Benny pernah memiliki pertengkaran yang serius," batinnya.


"Jelas-jelas aku melihatmu memasuki rumah itu berduaan bersama dengan Benny, Herlin. Tapi kamu masih berusaha berbohong," batin Aland yang juga berpura-pura percaya.


"Oh, baiklah, Herlin. Aku tidak ingin marah apalagi sekarang di rumah sakit. Hanya saja ... aku ingin agar kau memenuhi satu permintaanku."


"Katakan apa itu, Pak Aland?"


"Tinggallah denganku beberapa hari, Herlin, sampai Brian sembuh total. Aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri kalau sampai Brian kembali masuk ke rumah sakit lagi. Terlebih akhir-akhir ini dia sudah semakin jauh dariku. Kau mau, kan?" pinta Aland dengan penuh harap.


Tidak membuat Herlin menjawab, dan semakin membuat Aland merasa kebingungan.


"Ada apa, Herlin? Kau tidak mau melakukannya? Percayalah bukan untukku, melainkan untuk putraku. Jika seandainya kau mau, aku bisa menambah bayaran yang kau butuhkan. Aku mohon ... Herlin, bagiku kebahagiaan putraku jauh lebih besar terlebih ia sudah kehilangan sosok seorang ibu sejak dirinya lahir, bahkan belum pernah melihat wajah ibunya secara langsung."


"Tapi, Pak Aland. Apakah aku harus melakukannya? Tidakkah ini sangat berlebihan sekali, Pak? Bukan soal uang, apalagi aku masih memiliki hutang banyak setelah pengobatan adikku. Hanya saja ... aku merasa kalau-"


“Kalau apa, Herlin? Apa karena ada seseorang yang tidak ingin kau tinggal denganku?" tanya Aland dengan cepat mengalihkan perhatiannya. Sampai membuat Herlin tidak sempat menyelesaikan ucapannya.


"Aland, aku bisa datang di pagi hari seperti yang sudah kita sepakati. Apakah itu tidak bisa? Mungkin, Brian akan mengerti."


"Tidak bisa, Herlin. Aku sama sekali tidak bisa mengambil resiko kalau sampai Brian harus masuk ke rumah sakit lagi. Terlebih setelah ia sembuh, mungkin aku akan memindahkan sekolahnya juga. Kau bisa ikut bersama kami supaya Brian mau menuruti ku. Please! Bantu aku, Herlin!" Dengan perlahan Aland menyatukan kedua tangan demi bisa membuat wanita itu luluh.

__ADS_1


Semakin tidak kuasa mendengar permintaan Aland, terlebih tentang anak kecil. Meskipun Herlin merasa sulit, tetapi perlahan ia memilih untuk menganggukkan kepalanya.


Membuat Aland senang dengan keputusan Herlin, hingga dengan sengaja Aland memeluk tubuh Herlin dengan penuh ceria.


"Terima kasih banyak karena kamu sudah mau menerima permintaanku ini, Herlin."


"Sama-sama, Pak Aland. Aku juga sudah berhutang nyawa dan uang padamu. Andai saja hari itu kau tidak membantuku, mungkin adikku tidak akan bisa dioperasi sampai sekarang."


"Tidak apa, Herlin. Aku pun tidak memikirkan masalah itu lagi," sahut Aland dengan cepat. "Meskipun hatiku masih tidak terima saat Benny ingin mengambilmu dariku, Herlin. Entah apa hubungan kalian, tapi sepertinya putraku lebih menyukaimu untuk menjadi istriku kelak," batinnya.


Aland terus memeluk tanpa ingin melepaskan, namun tiba-tiba saja seseorang mulai mengambil momen tersebut tanpa diketahui oleh mereka. Sonna yang datang setelah mendapat kabar dari pelayan Lena tentang keberadaan Aland, ia pun berusaha diam-diam menyimpan momen Aland dan Herlin berpelukan.


Kedatangan Sonna membuat Aland segera melepaskan pelukannya. "Kau datang ke sini? Bagaimana situasinya?"


"Seperti yang kita inginkan Aland. Um, tapi sepertinya aku datang di waktu yang tidak tepat. Kalau begitu kalian lanjutkan saja, aku akan masuk ke dalam dan menjenguk Brian," ucap Sonna yang sedikit merasa risih melihat kedekatan mereka terganggu.


"Tidak, Sonna. Tunggu dulu," tahan Herlin dengan tiba-tiba.


"Ya, Herlin."


"Memangnya ada apa, Herlin?" tanya Aland dalam heran.


"Um ... begini, Pak Aland. Sepertinya sonna datang ke sini tidak mungkin begitu sia-sia. Maka lebih baik kalian berdua berbicara saja dulu. Aku yang akan masuk ke dalam ruangan Brian, tidak apa, percayalah!"


Herlin berusaha menghindar meskipun ia tidak tahu apa alasan Sonna datang ke sana. Belum sempat Aland menolak, justru Herlin segera bergegas pergi sebelum mendengar penolakan.


"Terima kasih banyak, Herlin. Baiklah, Aland. Aku sudah berhasil masuk ke dalam satu rencana pertama kita, tapi sayangnya ... ada sedikit masalah baru."

__ADS_1


__ADS_2