
Permohonan dan keyakinan yang Aland utarakan membuat Herlin perlahan yakin, meskipun awalnya ia merasa sulit untuk setuju. Namun dengan perlahan, Herlin menjawab dengan anggukan kecil. Sehingga membuat Aland tersenyum hangat.
"Apa arti anggukan mu itu sebagai tanda iya dengan keputusan kita ini, Herlin?" tanya Aland yang berusaha memastikan.
"Ya, aku setuju dengan rencana kebohongan ini, Pak Aland. Namun aku harap agar kau tidak terlalu menunjukkan sifat seperti seolah-olah suami sungguhan saat di depan adikku. Tolong, lakukanlah demi ku, Pak."
"Tentu saja aku akan melakukannya, Herlin. Kau tidak perlu cemas. Ya sudah sebaiknya sekarang kita berangkat ke rumah sakit. Leony pasti sudah menunggu kita di sana," ajak Aland yang langsung menarik tangan Herlin untuk ia gandeng.
Namun tiba-tiba, Herlin menarik tangannya perlahan sembari berucap. "Pak Aland, kita sedang di rumahmu, bukan di rumah sakit. Jadi, Leony tidak akan melihat kedekatan kita ini, tapi justru Brian yang akan semakin berusaha meminta hal lain dari kita. Sebaiknya jalan lah lebih dulu, Pak Aland."
"Oh, tidak masalah, Herlin. Aku hanya refleks ingin menggandeng mu untuk lebih cepat, bukan hal yang lain," sahut Aland yang memilih untuk segera setuju, sekaligus ia berjalan lebih dulu.
"Tidak apa-apa, Pak."
Membuat Aland merasa jika Herlin sedang bersikap berbeda dengannya, hal itu batinnya berkata. "Aku merasa kalau Herlin sedang menjaga jarak dariku sekarang. Ada apa ini? Apa mungkin itu karena dia setelah ke luar dari rumah Benny sampai-sampai membuatnya menjaga jarak seperti ini? Padahal saat pertama kali bertemu, kita bahkan sudah berciuman. Aneh, apa yang sebenarnya telah Herlin dan Benny perbuat hingga wanita ini bersikap demikian?"
Kebingungan yang sedang Aland pikirkan tiba-tiba terhenti saat Brian berlari kearahnya secara mendadak.
"Loh, Papa dan Tante Herlin mau pergi ke mana? Kalian bahkan belum lama tiba di rumah, lalu sekarang ingin pergi lagi."
"Nak, kami ingin ke suatu tempat karena ada hal yang penting. Jadi, memang sedikit terburu-buru," sahut Herlin yang sembari berjalan mendekat.
"Benarkah? Bukan karena kalian berdua ingin jalan-jalan, kan? Jika memang tidak, Brian juga mau ikut, Tante Herlin."
"Kapan-kapan kita akan pergi bersama, Brian. Lain waktu Papa yang akan mengajakmu juga bersama Tante Herlin. Sekarang masuklah ke dalam dan minta Bibi Lena untuk membantumu mengerjakan PR sekolah hari ini."
__ADS_1
"Sungguh? Horee ... Oke, Pa. Brian akan menagih janjimu nanti, Pa."
Brian segera berlari dengan sangat gembira, namun kegembiraan itu membuat Herlin sedikit merasa tidak senang.
"Memang dugaan ku benar, jika anak itu terlalu dimanjakan oleh Pak Aland. Bahkan dia sama sekali tidak bisa menolak permintaan putranya. Meskipun aku suka dengan tingkah konyolnya ini, tapi keberadaan ku di sini terasa sesak. Apalagi aku pun harus belum mencoba membujuk Benny," gerutu Herlin dalam batinnya.
"Ya sudah, ayo masuklah, Herlin," pinta Aland seraya membuka pintu mobil.
"Terima kasih, tapi lain waktu aku juga bisa membuka pintu mobilnya sendirian, Pak Aland," saran Herlin dengan memperlihatkan raut wajah yang datar.
"Tentu saja boleh, tapi aku hanya ingin bersikap ramah denganmu karena sudah menyetujui permintaan putraku, itu saja, Herlin," jawab Aland dengan cepat saat dirinya menyadari sikap Herlin yang terlalu berlebihan sekali.
Perjalanan ke rumah sakit pun tidak membuat mereka berdua saling bicara, hanya ada kebisuan dan suara klakson kendaraan yang terdengar.
Penglihatan Benny yang semakin yakin tentang Herlin memiliki hubungan lain dengan Aland semakin jelas ia percayai. Secara diam-diam, Benny masih duduk dengan menunggu mobil Aland benar-benar menghilang dari pandangannya.
"Apa yang telah aku lakukan sekarang? Dan ternyata dugaan ku memang benar. Pantas saja larut malam itu Aland menghubungi Herlin, dan sekarang dia bahkan kembali pergi dari rumah Aland. Oh tidak ... aku sebaiknya harus mundur agar tidak terjadi perdebatan. Meskipun aku sendiri sudah begitu menyayangi Herlin, tapi nyatanya ada pria lain yang lebih menginginkan dirinya. Meskipun aku sendiri tidak rela saat pria itu adalah mantan dari ayah tiri ku dulu. Namun sudahlah, aku tidak ingin ada lagi peperangan antara aku dan Aland," batin Benny dalam kekecewaan saat melihat Herlin dengan terang-terangan bersama orang yang menjadi duri di dalam hatinya.
Pengintai Benny telah selesai, ia akhirnya memilih untuk berputar balik supaya segera menuju ke kantornya. Terlebih rasa penasarannya yang telah selesai.
Tiba di rumah sakit, Helrin dan Aland segera bergegas cepat. Terlihat dari jauh ternyata Rere sudah menunggu mereka di depan pintu ruang inap.
"Kalian kenapa lama sekali?" tanya Rere yang terlihat sedikit kesal. "Aku bahkan sudah melewatkan rapat pentingku gara-gara kalian berdua ini."
"Maafkan aku, Tante. Tapi, jalanan sangat macet, jadi kami sedikit terlambat," sahut Herlin yang sadar akan kesalahannya.
__ADS_1
"Ya sudah, kalau begitu bawa dia segera pulang, Herlin. Aku harus segera menuju ke kantorku lagi sekarang."
"Tunggu sebentar, Tante. Bisakah berikan aku waktu dua menit untuk kita bicara? Ini tentang Leony," pinta Herlin dengan tiba-tiba seraya menahan tangan orang lain.
"Apa maksudmu tentang Leony?" Rere terlihat terheran.
"Aku sudah putuskan jika Leony akan ikut denganku untuk tinggal bersama dengan Pak Aland, karena aku akan tinggal di sana. Jadi, demi kebaikan Leony supaya ada yang merawatnya. Maka aku juga akan membawanya. Terlebih aku tahu, Tan. Kau pasti tidak akan mungkin bisa menjaganya karena sibuk bekerja, bukan?"
"Apa? Jadi ... kau akan pindah ke rumah Aland? Memangnya ada acara apa di sana, Helrin? Kenapa sangat terburu-buru?"
"Sebenarnya itu ide dari Brian, Rere. Kau tidak perlu salah paham dulu karena Herlin telah menjadi pengasuh Brian. Aku menyarankan dalam beberapa waktu supaya dia tinggal denganku saja," timpal Aland dengan cepat.
Membuat Rere tidak percaya dengan apa yang ia dengar, meskipun awalnya memang menjadi permintaannya. Tetapi sekarang, kebenaran itu membuatnya tidak rela.
"Harusnya kau tinggal di rumah Benny bukannya Aland. Sial, hatiku merasa panas sekarang. Sepertinya cinta lama kembali bersemi di hatiku sekarang. Aku sangat takut jika mereka serumah maka-" Lamunan Rere tiba-tiba terhenti saat Herlin memegang bahunya.
"Tante, aku rasa tidak ada salahnya jika Leony ikut denganku, Kan? Supaya kau tidak kesulitan sendirian."
"Oh yah! Tentu saja tidak apa, Herlin. Itu ide yang sangat bagus karena Leony berada di penjagaan setiap waktu. Ya sudah aku sekarang harus pergi ke kantor," sahut Rere yang tidak tahu harus melakukannya apalagi.
"Baiklah, Tan. Berhati-hatilah."
"Herlin, jaga dirimu baik-baik," ucap Rere sembari tersenyum manis. Lalu bergegas pergi, tetapi batinnya memikirkan sesuatu. "Tapi tidak sekarang, aku akan memikirkan tentang ini lain waktu saja."
Tepat ketika Herlin membuka pintu, tiba-tiba Aland langsung menggandeng tangannya sembari berkata. "Sebaiknya di pertemuan pertama kita harus terlihat mesra, bukan? Supaya adikmu percaya dan mau ikut ke rumahku juga."
__ADS_1