Terjebak Cinta Dua Duda

Terjebak Cinta Dua Duda
Sonna Tersadar


__ADS_3

"Serius? Lo mau gue tinggal berdua doang bareng itu cewek? Kak Ben, apa lo enggak waras? Siapa yang lagi jatuh cinta?" Halu berusaha mengelak.


"Udahlah enggak usah tolak," ketus Benny sampai menatap tajam kearahnya.


"Ya ... dia cantik sih, cuma gue masih belum berniat buat masalah cinta-cintaan, Kak Ben."


"Terserah, yang terpenting aku sudah memberitahukan mu. Jadi, nanti aku akan putuskan segalanya padamu. Sekarang pergilah beritahukan sama Sonna, kalau kalian akan pindah. Tenanglah, Halu. Selama kau masih bekerja untukku, maka aku akan memberikanmu uang. Ini juga sebagai pekerjaan," paksa Benny yang berusaha membuat adiknya semakin tergiur.


"Oke, mau enggak mau harus mau. Ya sudah sekarang gue harus apa?"


"Sana pergi susul sonna! Astaga ... kau ini benar-benar sangat diluar kendali. Halu, lakukan perintahku sekarang."


"Iya-iya!"


Keputusan Benny sudah bulat, membuat Halu membawa dua koper besar ke arah Sonna yang sedang terduduk diam seorang diri.


"Mau ngapain lagi? Ini bukan waktunya kau memarahiku, kan?" tanya Sonna yang merasa sedikit heran.


"Kemasi semua barang-barang gue sekarang, karena gue bakalan pindah ke rumah lo," perintah Halu dengan seenaknya jidatnya.


"A-apa? Hei tunggu dulu! Maksudnya pindah ke rumahku, serius? Udah deh ah! Jangan bercanda di sini, Halu. Aku tidak suka ini, Haluan!"


"Kalau masih enggak percaya ya sudah sono tanya tuh si Benny. Gue udah bilang jujur, ya. Cepat beresin semua barang-barang gue, dan kita pindah hari ini. Hanya berdua, ya anggap saja kita akan memulai simulasi untuk menikah, kan?"

__ADS_1


"Kau pikir aku akan rela melakukannya? Tentu tidak! Apalagi di rumahku, sudah pasti akulah yang menjadi rajanya!" ketus Sonna sembari melipat kedua tangan di dadanya.


"Oh ya? Masih mau berkata begitu kalau gue perlihatkan benda ini?" tanya Halu saat mengambil sebuah senjata api tanpa peluru miliknya dari saku celananya.


Tanpa berkata apapun, Sonna mulai merasa ketakutan apalagi trauma dengan senjata api masih belum sepenuhnya hilang. Dengan cepat, memasukkan semua barang-barang Halu seperti yang sudah diperintahkan. Hingga mereka berdua berjalan bersama untuk segera pindah.


"Kerja bagus adikku, berhati-hatilah. Jangan lupa pistolnya!" teriak Benny sembari menutup pintu depan untuk mereka berdua.


"Iya-iya aman!" balas Halu dengan tidak kalah berteriak.


Melihat sikap Benny yang tidak merasa bersalah mengusirnya, membuat Sonna semakin kesal dan gagal dengan satu rencananya.


"Kenapa kamu harus setuju dengan perintah kakakmu itu? Harusnya tolak saja keinginannya, kan? Aku bahkan berpikir kalau kau ini adik tirinya, menyebalkan sekali!"


"Bacot! Udah deh diam bisa enggak?!"


"Gue heran, pulang ke rumah sendiri malah lo enggak mau. Apa lo mulai betah tinggal di rumah mewah itu, ya? Memang aneh ya kalau cewek matre," hina Halu saat ia begitu menyadari kalau Sonna hanya menaruh perhatian terhadap Benny meskipun selalu saja mendapatkan perlakuan buruk.


"Kalau iya memangnya kenapa? Apa pedulimu, Halu? Bahkan aku sendiri yang heran denganmu, kau sangatlah berbeda dengan kakakmu yang kaya raya, dan bisa dibilang kekayaannya tidak akan habis meskipun tujuh keturunan. Sedangkan dirimu? Lihat, masih saja meminta uang saku kepada Benny. Ya tentu saja jelas, aku sangat menyukai pria itu meskipun dia sangat dingin padaku," sahut Sonna dengan cepat akan kejujurannya.


Seketika mobil yang sedang Halu bawakan, ia hentikan dengan tiba-tiba saat mendengar penolakan secara tidak langsung sekaligus penghinaan untuknya.


"Karena gue tahu dia kaya raya atas kerja kerasnya, Sonna. Tapi, gue juga bekerja meskipun tidak terlihat. Asal lo tahu, Sonna. Geu udah punya dua cabang bar sendiri. Itu murni usaha hasil kerja keras gue selama ini. Jadi, sebelum menghina seseorang pastikan dulu lo tahu lebih banyak tentang orang itu atau tidak," bantah Halu sampai melirik dengan tatapan tajam.

__ADS_1


Sonna sadar jika ucapannya terlalu kasar sampai menyinggung perasaan Halu, tetapi ia sendiri tidak tahu kalau Halu juga memiliki sebuah bisnis yang cukup berguna.


"Lalu kalau memang kau memiliki bisnis itu kenapa mau menerima pekerjaan tidak berguna ini dari Benny? Itu sebuah kebohongan, kan?"


"Karena Kak Ben yang mengajari gue caranya berbisnis sampai bisa santai goyang kaki dengan menunggu hasil dari usaha gue sendiri. Memang, gue terlihat pengganguran, tapi Kak Benny juga tahu kalau gue memiliki usaha. Meskipun dia sering beri uang, itu karena gue membantunya. Tentu saja dia akan membayar setiap kerja keras orang lain, lo ngerti kan sekarang?"


Sonna terdiam saat ia menyadari akan kesalahan karena ucapannya. Perlahan menggenggam tangan Halu sembari berucap. "Maaf."


"Enggak usah minta maaf lah, memang kalau orang lain tahu gue adiknya Benny Ton. Tentu saja mereka tidak akan mau percaya karena mereka berpikir kalau gue cuma numpang hidup tanpa bisa bekerja keras seperti dia. Jadi, gue udah biasa dihina seperti ini. Apalagi Kak Benny orang yang pantas di puji. Lagi pula kalau memang lo suka dia, sebaiknya lo sadar diri untuk perlahan menerima kenyataan karena dia tidak akan pernah membalas ataupun sekedar melirik wanita seperti lo," balas Halu dengan sangat baik.


"Aku sadar, dan aku minta maaf. Tapi, apa yang kurang dariku sampai kakakmu tidak bisa menerimaku, Halu?"


"Kak Ben orang yang setia, bahkan setelah kematian istrinya dulu, dia sama sekali tidak mencari orang lain sebelum Herlin datang ke dalam dunianya. Jadi, berhentilah untuk berpikir memisahkan mereka karena itu akan menjadi sia-sia, dan mungkin lo bakal bernasib sial jika terus memaksakan diri. Terlebih hati lo itu busuk, Sonna. Pria manapun akan berpikir dua kali untuk menyatakan cinta buat lo," jelas Halu.


"Dan itu yang sedang gue pikirkan, Sonna. Sebenarnya gue suka, tapi mungkin lo bukanlah wanita yang pantas buat jadi istri gue," batin Halu dengan impian kecil yang sama sekali tidak ingin ia ungkapkan.


Kenyataan yang sedang ia dengar, semakin membuat Sonna kepikiran. "Apa mungkin karena itu sampai sekarang tidak ada pria manapun yang bersedia denganku? Padahal, aku tidak kekurangan apapun, bahkan aku terlahir menjadi wanita karir yang sempurna. Jadi seperti ini, pandangan seorang pria saat melihat seorang wanita. Mereka bisa mencintai, tapi tidak akan rela menjadikan istri. Bahkan aku tahu jika Halu secara tidak langsung memperlihatkan rasa sukanya padaku. Apa aku sudah terlalu buruk sampai kehilangan kendali? Pantaskah aku untuk bisa berubah?"


Begitu banyak pertanyaan yang sedang Sonna pikirkan hanya demi bisa menilai karakternya sendiri, hal itu membuatnya tanpa sadar mulai menangis.


Dengan suara isakkan tangis yang lumayan keras membuat Halu baru sekarang melihat air mata ketulusan dari wanita itu. Sampai Sonna sulit bernafas ketika tangisan terus berlanjut.


Dengan perlahan Halu mulai kembali menghentikan mobilnya sembari memberikan sapu tangan untuk Sonna. "Pakai ini."

__ADS_1


"Kenapa kau memberikannya? Aku tidak butuh," tolak Sonna dengan gelengan kepala sembari kembali melanjutkan tangisannya.


"Bandel sekali," gumam Halu seraya membawa Sonna ke dalam pelukannya. "Apa mungkin dia tersinggung dengan ucapan gue barusan? Pasti, ini menyakitkan buat lo, Sonna," batinnya.


__ADS_2