
Terlihat amarah dari wajah Erick, membuat Leony sedikit merasa heran. Terlebih ia baru mengenal dengan pria asing itu.
"Kenapa tiba-tiba kau diam begitu? Seperti orang mengumpat dalam hatimu saja. Apa diam-diam kau mengatakan diriku?" tanya Leony dengan cepat tanpa merasa takut atau segan. Ia terlalu mudah berbicara ceplas-ceplos dengan seenaknya.
"Ah tidak-tidak. Jangan salah paham, Leony. Aku sama sekali tidak memikirkan semua itu karena jujur saja aku hanya merasa kasihan dan ikut bersedih setelah mendengar kabar keguguran kakakmu."
"Benarkah? Bukan karena kau sedang membicarakan diriku? Jika ada yang perlu kau katakan, bicarakan saja di depan orangnya langsung," tegas Leony sembari melirik sedikit tajam.
"Santai saja, Leony. Aku tidak seperti itu, sungguh! Mana mungkin aku membicarakan seorang gadis yang sangat baik, dan pertama bertemu sudah membuatku senang. Oh ya, alangkah lebih baiknya jika kita bertukar nomor ponsel. Apa itu boleh?"
"Seperti pria hidung belang saja," ketus Leony dengan tiba-tiba.
Erick terdiam, namun keningnya berkerut saat mendengar hal yang sama sekali tidak pernah ia sangka. "Mulutnya ini kasar juga, dan lebih buruk dari kakaknya. Tapi baiklah, tidak apa-apa. Aku bisa menahannya sedikit."
"Kau bicara apa, Leony? Siapa yang hidung belang? Ayolah, Leony. Aku hanya ingin nomor teleponmu, dan jika tidak boleh, ya sudah. Kenapa harus menjudge seseorang seperti itu. Terlebih aku pria baik-baik, bahkan belum pernah memiliki kekasih." Dengan bangganya Erick membela diri demi bisa membuat gadis itu kalah. Meskipun kenyatannya berbalik seratus delapan puluh derajat.
"Sungguh? Kau pria baik-baik? Tapi, entah mengapa aku merasa kalau dirimu seperti pria yang selalu menggoda wanita manapun juga."
"Itu hanyalah asumsi burukmu saja karena kita tidak saling mengenal lebih dekat, Leony. Maka lebih kita saling mengenal, bukan?"
"Baiklah, ini nomorku, dan tolong jangan ganggu aku ketika sedang sibuk. Aku harus pergi dulu."
"Eh ... tunggu dulu! Mau ke mana buru-buru sekali?" tanya Erick dengan cepat menahan tangan Leony.
"Aku ingin membeli makanan untuk mereka di dalam. Lepaskan tanganku."
__ADS_1
"Baiklah, kalau begitu aku akan ikut menemani."
"Kau ini nekat sekali," ketus Leony, namun dari dalam hati kecilnya—ia merasa senang ketika melihat seorang pria seperti berusaha mengejarnya.
"Memang aku sangat nekat jika untuk sesuatu," sahut Erick dengan cepat. Lalu keduanya tiba-tiba tertawa lepas, sampai sepanjang jalan menuju restoran rumah sakit keduanya terlihat mulai lebih akrab.
Tepat saat itu, tiba-tiba Erick mendapatkan sebuah panggilan masuk. Namun, ia dengan sengaja mematikan panggilan tersebut dengan cepat. Tindakannya itu membuat Leony merasa sedikit terheran.
"Kenapa teleponnya enggak diangkat?"
"Cuma salah sambung, dan sepertinya tidak terlalu penting," sahut Erick dengan asal-asalan.
"Hei! Kau bahkan tidak menjawabnya dulu, lalu kenapa bilang tidak penting? Erick, apa mungkin itu dari kekasihmu atau istrimu?" Leony semakin terlihat tidak bersemangat.
"Ayolah, Leony. Tidak ada yang penting karena memang aku tidak memiliki kekasih apalagi istri. Aku masih sendiri, Leony. Kenapa terus tidak percaya? Apa kita perlu ke rumahku saja?"
"Baiklah, aku akan tunggu di sini."
Selepas Leony pergi, dengan cepat Erick mematikan daya ponselnya agar tidak membuat gadis itu semakin curiga.
"Lebih baik seperti ini saja supaya Rere tidak terus menghubungiku. Wanita itu terlalu sibuk, padahal dia sudah tidak ada untungnya bagiku setelah Herlin pindah ke rumah pria itu," batin Erick yang memiliki tujuan tersendiri.
Leony kembali datang, namun ia sama sekali tidak curiga dan melanjutkan tugasnya. Begitupun dengan Erick yang terlihat senang saat makan bersama dengan gadis itu.
***
__ADS_1
Berbeda dengan Aland yang juga ikut gembira saat sedang menyuapi Herlin. Meskipun ia sedikit kecewa dengan kabar keguguran, karena itu membuatnya semakin yakin bahwa Herlin tidak sekedar teman dengan Benny, tetapi lebih dari itu.
Walaupun demikian, ia masih mencoba untuk terus bersemangat agar bisa mendekati Herlin.
"Kau sudah kenyang?"
"Ya, ini sudah lebih dari cukup. Lalu kenapa kamu tidak ikut makan, Pak Aland? Padahal, aku bisa makan sendiri tanpa perlu disuapi."
"Aku masih belum lapar, dan tidak apa-apa. Aku senang menyuapimu makan, Herlin."
"Oh ya, Pak Aland. Aku rasa setelah keluar dari rumah sakit, aku akan keluar dari rumahmu. Mungkin itu lebih baik, tapi jangan khawatir karena aku akan terus menjadi pengasuh Brian. Terlebih Leony juga sudah tahu tentang hubungan palsu kita, maka aku rasa akan lebih baik tidak ada kebohongan apapun. Apalagi kalau sampai Brian memikirkan tentang kita terlalu jauh. Dia sebaiknya harus tahu bahwa aku hanyalah pengasuhnya, bukan calon ibunya. Semakin lama, akan semakin membuatnya sulit. Jadi aku rasa, lebih baik maka lebih cepat untuk bersikap biasa-biasa saja," ucap Herlin dengan panjang lebar tanpa ingin menahan apapun.
Aland menghela nafas panjang saat ia mendengar semua ucap Herlin yang semakin jelas terlihat tidak senang dengannya. Namun, ia mencoba untuk tidak peduli.
Mengusap kembali buah-buahan untuk Herlin, meskipun wanita itu sudah kenyang. Tapi, Aland bersikap seperti itu agar bisa membuatnya terhindar dari pembicaraan ini.
"Kenapa kau sibuk sendiri, Aland? Aku sedang mengajakmu bicara." Membuat Herlin sedikit kesal, terlebih keadaan tubuhnya masih belum sanggup untuk menarik Aland yang berdiri terlalu jauh.
"Aku sedang mengajakmu bicara. Apa kau berpura-pura tuli? Aland, meskipun kau berusaha diam. Tapi, pembicaraan kita saat itu tidak akan membuatku berhenti, dan setelah keluar dari sini, aku akan memilih tinggal di tempat tanteku seperti dulu. Meskipun kau tidak menjawab, tapi aku sudah berpikir kau setuju," lanjutnya.
Meletakkan senjata tajam dari tangannya dengan sedikit keras, hingga terdengar suara bising. Lalu Aland menatap Herlin dengan penuh rasa marah.
"Apa kau tidak bisa memenuhi sedikit saja keinginan dari putraku, Herlin? Aku sudah membantu pengobatan adikmu, dan jika bukan karena diriku, Leony sampai sekarang tidak bisa berada di sisimu lagi. Sekarang aku memohon karena hanya itu yang bisa aku lakukan, maka tolong penuhi keinginan kecilku ini, Helrin. Biarkan putraku mendapatkan kasih sayang ibunya, dan dia sangat menginginkan dirimu menjadi ibu sambungnya," bantah Aland.
"Lalu apa kau hanya akan peduli dengan keinginan putramu sendiri, begitu? Dan bagaimana denganku, Aland? Kau ingin melupakan kebahagiaan orang lain juga, begitu maumu? Hidupku masih panjang, dan masa depan masih bisa aku tata, Aland. Mengenai pengobatan adikku, ya aku sangat berterima kasih karena kau sudah mau membantunya. Tapi, apakah pertolongan mu itu harus aku bayar dengan masa depanku sendiri? Uang tetap akan aku ganti dengan uang, tidak dengan hidupku, Aland."
__ADS_1
"Berhentilah untuk memikirkan semua itu, Herlin. Apalagi yang harus aku katakan padamu? Kau hanya perlu menjadi ibu untuk putraku, dan tidak dengan yang lain. Hidupmu akan aku jamin penuh, termasuk semua barang-barang bermerek. Herlin, aku mohon ..., dan jangan mengajakku untuk berdebat saat kondisimu seperti ini, terlebih sekarang aku sudah-"
Aland terus menolak, tetapi tiba-tiba saja sebuah telepon berdering sampai membuatnya terdiam.