Terjebak Cinta Dua Duda

Terjebak Cinta Dua Duda
Bukan Pelindung


__ADS_3

Membuat Aland segera mematikan telepon penting dari orang rumahnya tepat ketika amarah sudah menguasai dirinya. Begitupun dengan Herlin yang sudah semakin bersabar menghadirkan sikap Aland yang selalu ingin diutamakan.


Dengan cepat Herlin menarik infus dari tangannya sampai darah segar keluar dari pergelangan tangan, ia ingin melangkah keluar. Tetapi lagi-lagi, Aland menahannya.


"Kau tidak waras? Lihatlah tanganmu itu sudah berdarah. Duduklah dan jangan banyak bertingkah bodoh, Herlin," perintah Aland sampai menarik wanita itu dengan kasar agar mau menurutinya.


"Tidak! Darah ini keluar tidak sama sakit bandingannya saat kau berusaha merampas hidupku, Aland. Aku memiliki impian dan tujuan, dan aku tidak hidup untuk memenuhi semua keinginan dari putramu sendiri. Kau bisa saja memutuskan untuk berbuat apapun, tapi ini hidupku. Tolong jangan jadikan aku jaminan, karena hutangmu akan aku bayarkan," bantah Herlin dengan tegas.


"Astaga, Yoona! Kenapa kau terus bersikeras? Aku akan memberikan hidup yang layak, dan kau masih tidak mau itu? Ya ampun ... kau sudah dibutakan oleh Benny, kan? Maka dari itu kau terus saja menolak untuk bersamaku. Asalkan kau tahu, Yoona. Aku melakukan ini karena sudah mencintaimu! Jadi tolong ... berikan aku dan putraku sedikit kesempatan saja," pinta Aland dengan memohon.


"Cinta katamu? Cinta tidak akan memaksakan seseorang seperti dirimu, Aland. Lagi pula aku tidak hidup layak tanpa adanya cinta karena bagiku, aku akan iklhas di saat cinta bersamaku, dan itu bersama dengan Benny. Jadi, berhentilah untuk terus memikirkan tentang keinginanmu sendiri karena aku akan tetap bersikeras untuk ke luar dari rumah dan hidupmu," tegas Herlin saat ia sudah semakin kekeh dan merasa begitu muak.


"Lakukan saja, Herlin. Tapi, aku akan memastikan bahwa uang yang sudah kau dapatkan dariku jauh lebih besar dari yang kau bayarkan. Terlebih di dalam surat perjanjian sudah kau tandatangani, di sana tertulis bahwa kau harus memberikan jaminan hidupmu padaku. Sebaiknya salahkan dirimu saja karena tidak membaca semua itu."


"Aku tidak peduli, Aland. Sekalipun kau ingin memenjarakan diriku, silahkan saja! Lakukan apapun yang kau inginkan itu, karena aku yakin sekali bahwa di pengadilan tidak akan menerima jaminan bodoh seperti yang sudah kau katakan sekarang. Jadi, lepaskan tanganku!" Herlin semakin bersikeras.


Lalu perlahan Aland melepaskan tangan Herlin dengan penuh kekecewaan. Namun, senyuman kecil terlihat di sebelah sudut bibirnya. "Baiklah, aku akan melepaskan dirimu. Tapi, jangan senang dulu, Herlin. Kau masih belum lepas dariku. Lihatlah sampai aku membawamu kembali, dan kau sendiri yang akan datang kepadaku."


Herlin menatap di tempat, ia seperti tidak menduga bahwa mulutnya terlalu memiliki keberanian. Namun berbeda dengan Aland melangkah pergi lebih dulu saat kekecewaan sudah begitu merasuk di dalam hatinya.


Tepat ketika Aland keluar, Leony menatapnya dengan heran apalagi saat melihat tetesan darah yang terjatuh dari jari tangan Aland.

__ADS_1


"Itu kan Kak Aland. Sebaiknya kita ke sana, Erick. Dia pria yang bersama kakakku, entah kenapa dengannya itu," ajak Leony dengan tiba-tiba.


"Sial! Dia kan yang sudah menembak kakiku waktu itu. Lebih baik aku bersembunyi agar pria sialan itu tidak mengetahui kalau aku bersama dengan Leony," batin Erick dalam kecemasan.


Erick berusaha bersembunyi dengan berbalik posisi sembari menggelengkan kepalanya perlahan. "Kau saja, Leony. Aku harus ke tempat temanku dulu. Sepertinya dia sudah selesai, nanti aku akan menghubungimu lagi."


"Baiklah kalau begitu, Erick. Sampai jumpa di sini," ucap Leony yang terlihat ramah seraya melambaikan tangan.


"Sampai jumpa lagi."


Leony sedikit berlari ke arah Aland, lalu bertanya. "Ada apa? Kenapa Kak Aland keluar dengan noda darah seperti ini? Lalu di mana Kak Herlin sekarang?"


"Aneh sekali, padahal tadi kalian baik-baik saja sampai suap-suapan. Apa kalian sedang bertengkar?"


"Tanyakan saja pada kakakmu. Aku harus pulang sekarang." Aland melangkah pergi dengan rasa kecewa, bahkan mengabaikan Leony masih ingin menanyakan hal lain.


"Yah ... benar, mereka pasti bertengkar," gumam Leony, lalu berjalan masuk ke ruangan Herlin.


Terlihat Herlin sedang menangis sembari terduduk dalam kesakitan batinnya. Dengan cepat Leony bergerak ke arah kakaknya.


"Apa yang sudah terjadi, Kak? Dan ... ini kenapa infusnya ditarik? Pantas saja aku melihat ada darah di tangan Kak Aland, ternyata ulah mu, Kak."

__ADS_1


"Apa? Ulah ku? Apa maksudnya, Leony? Kau berusaha membela pria egois itu?" tanya Herlin dalam ketidakpercayaan nya.


"Tentu saja ini karena ulah mu, Kak, dan aku akan membela Kak Aland karena bagiku, kalian sudah cocok dan dia pria yang sangat baik. Aku rasa dia bersikap egois demi kebaikanmu sendiri."


"Jadi, kau benar-benar tidak memperdulikan akan diriku, Leony? Sekarang aku merasa tersakiti karena dirimu, Leony. Kau yang sudah membuatku terjebak dengan Aland. Lalu di sini, kau sama sekali tidak bisa membela ku. Bahkan aku tidak meminta apapun, selain pembelaan dan mendengarkan diriku saja."


"Lalu apa mau sebenarnya, Kak Herlin? Kau ingin aku ikut bertengkar dengan Kak Aland yang sudah sangat baik pada kita hanya karena dirimu, begitu? Kak Herlin, aku sudah besar. Hidupku dan jalan diriku sendiri masih bisa aku tentukan. Lagi pula, kita seharusnya bersyukur saat Kak Aland mau memberikan tempat tinggal serta membayar rumah sakit untukmu. Sekarang terserah dirimu saja jika ingin mengganggap diriku seperti beban, karena mulai detik ini. Aku akan memilih tinggal bersama dengan Aland!" tegas Leony.


"Apa? Tidak, Leony. Dia sangat berbahaya, dan kau tidak mengenali sifat aslinya itu. Jangan lakukan itu, aku mohon ... dengarkan sedikit permintaan kakakmu ini." Herlin berusaha keras untuk bisa meraih adiknya, tetapi tubuhnya masih belum begitu pulih apalagi setelah bertengkar dengan Aland.


"Jika Kak Aland yang berbahaya, maka sudah dari dulu dia melenyapkan kita. Sekarang terserah dirimu saja, Kak. Aku akan tetap ikut dengan Kak Aland, apapun yang terjadi. Permisi, Kak. Aku harus pergi." Leony benar-benar melangkah pergi tanpa ada rasa kasihan.


"Tunggu dulu, Leony! Hei ... kau jangan gila!" Herlin berteriak sembari berusaha bangkit dari duduknya. Perlahan-lahan ia mendekat ke arah pintu, tetapi adiknya terlihat sudah menjauh.


Tidak ada lagi harapan, dan saat ini Herlin tinggal sendirian. Ia merasa begitu terburuk sampai tangisan sudah lelah terjatuh.


"Apa salahku? Aku bahkan selalu berjuang demi Leony bisa merasakan hidup dengan layak, bahkan diriku sampai dicemooh oleh orang lain hanya karena bekerja di club malam, lalu sekarang? Dia berusaha, aku tidak memiliki tempat berlindung lagi," gumam Helrin sembari memeluk diri dengan bersandar di lututnya.


Terdengar suara langkah kaki saat pintu ruangan tiba-tiba terbuka. Terlihat seorang pria berdiri dengan tegak sembari berucap, tetapi Herlin belum menyadari siapa yang datang, melainkan hanya ucapan yang ia dengarkan.


"Aku akan menjadi pelindung untuk dirimu, Herlin. Kemari lah."

__ADS_1


__ADS_2