
Dengan tiba-tiba Herlin tertawa lepas saat ia merasa kalau Elvin sudah terlalu bergurau tentang pernikahan dengannya.
"Hei! Apa kau ini sedang demam? Jika tidak, maka lebih baik cari saja dokter yang lain untuk memeriksa keadaanmu, Elvin. Lucu sekali," ledek Herlin.
Tangannya digenggam dengan tiba-tiba, namun Elvin terlihat begitu serius. "Aku tidak berbohong, Herlin. Jika memang kau setuju, maka aku akan melakukannya. Aku akan menikahi mu sekaligus menjagamu."
"Jadi ... ini serius? Tidak bisa, Elvin. Kita tidak akan mungkin menikah karena aku memiliki seseorang yang spesial di dalam hidupku, namun aku heran kenapa setiap pria hanya berusaha meminta sesuatu tanpa berpikir dulu? Elvin, kau tahu tidak? Belum dua Minggu saja, sudah ada beberapa pria yang menawarkan dirinya untuk menikahi ku, tapi anehnya aku tidak tahu kenapa mereka bertingkah sangat konyol," jelas Herlin yang masih terus berpikir semua itu candaan.
Semakin yakin membuat Elvin untuk tidak mengharapkan lebih dari sekedar pertemanan, apalagi mereka baru bertemu beberapa saat.
"Ya kau benar sekali, Herlin. Aku pun hanya bergurau, santai saja. Tadi itu hanya sedikit candaan agar rasa sakitku lebih berkurang," ucap Elvin yang berusaha tetap tenang.
"Meskipun aku harus berbohong, tapi sebaiknya seperti itu karena kita hanya teman dan rekan kerja selama di sini. Namun di luar sana, kau sudah memiliki seorang pria yang hebat, yang sedang kau cintai, Herlin," batinnya yang hanya bisa menerima kenyataan.
"Itu pasti, dan tidak ada masalah, Elvin. Tapi ngomong-ngomong kenapa saudara kembarmu sampai harus menembak mu seperti ini, Elvin? Apa ini berkhianat denganku? Tapi, kenapa kamu harus berusaha kuat hanya karena ingin melindungi ku?"
"Herlin, percayalah semua ini tidak ada masalahnya untukku, dan kau tidak perlu merasa khawatir. Meskipun memang Erick sudah terlalu berlebihan, tapi aku yakin jika dia akan berhenti membuat kita terganggu. Apalagi setelah ini, aku sudah memesan rumah yang lain untuk kita tempati," jelas Elvin agar tidak membuat Herlin merasa bersalah.
"Itu artinya ... benar kalau kau juga ikut disakiti karena diriku?"
"Tunggu dulu, Herlin. Memang ada lagi yang sudah disakiti oleh Erick?" Terlihat kebingungan di raut wajah Elvin.
"Ya, dia wanita yang sudah kita tolong saat sedang mabuk berat. Yang lebih parahnya lagi Erick sampai berusaha memacarinya lalu menyentuhnya, dan sekarang setelah tahu kalau aku tidak lagi tinggal di sana, dia langsung meninggalkan tanteku begitu saja. Aku tidak ingin membuat semua orang tersakiti karena diriku lagi, Elvin, dan sekarang nyawamu sampai terancam karena tembakan Erick."
"Jangan seperti itu, Herlin. Kita akan mencari jalan keluarnya sama-sama supaya Erick tidak kembali berbuat nekat. Aku akan melaporkan ke polisi."
"Meskipun begitu, dia memiliki tempat bersembunyi, Elvin. Apalagi tidak ada bukti yang terlihat kalau dia pelakunya, kan? Terlebih aku sangat ingat bahwa Erick begitu dendam denganku saat seorang pria juga ingin melindungi ku, tapi justru Erick terluka. Mungkin ... itu sebabnya dia ingin balas dendam dengan cara apapun itu," jelas Herlin.
__ADS_1
"Lalu kau ingin apa, Herlin? Aku akan selalu membantumu."
"Begini saja, Elvin. Setelah aku mengetahui kalau kau tertembak karena Erick, maka aku semakin yakin jika Erick akan berbuat yang lebih nekat lagi hanya demi untuk diriku, dan itu bis semakin mengancam nyawamu. Maka lebih baik, aku pergi saja dari sini. Dengan begitu, kau akan aman tanpa harus bertengkar dengan saudara kembarmu sendiri, kan?"
Sontak membuat Elvin tidak terima terlebih rasa nyaman sudah membuatnya ingin terus berada di dekat Yoona. Namun semua itu, membuatnya semakin tidak kuasa.
"Tidak bisakah untuk memikirkan hal ini selanjutnya, Herlin? Setidaknya pergi setelah aku sembuh, aku yakin Erick tidak akan bisa menemukan kita berdua setelah kita pindah apartemen dari sini." Terlihat Elvin begitu tidak rela.
"Mungkin saja untuk sementara waktu bisa, tapi kau tidak akan mungkin terus bersembunyi, kan? Apalagi kau seorang dokter hewan, Elvin. Banyak pasien yang harus membutuhkanmu, dan itu juga akan membuat pekerjaanmu terganggu karena diriku. Meskipun awalnya aku berniat untuk ikut bekerja di sini, tapi sepertinya sekarang tidak lagi karena aku tidak mau membahayakan nyawa siapapun juga termasuk kau."
"Herlin, setidaknya pikirkan semua itu kembali, aku mohon ...."
"Tidak bisa, Elvin. Semakin lama bisa saja Erick menemukan keberadaan kita, jadi lebih baik hari ini aku harus pergi, dan terima kasih karena kau sudah mau membantuku saat itu."
"Memang aku tidak bisa memaksamu, Herlin. Tetapi, ini bisa sedikit membuatmu selamat dari kelaparan ataupun tempat tinggal. Jadi, ambilah uang ini, dan cari kontrakan. Namun, jika nanti kau butuh sesuatu, jangan ragu untuk langsung mengabari ku, ya."
"Jangan memaksaku, Herlin. Kau akan butuh uang ini, jadi pergilah kemanapun yang kau mau."
"Tapi, Elvin-"
"Tidak, Herlin. Kalau kamu masih terus membantah, aku tidak akan memberikannya izin untuk pergi dari sini."
"Hei! Mana boleh begitu. Baiklah, kalau memang kau memaksa, aku akan mengambilnya. Tentu saja nanti aku akan sangat merindukanmu, Elvin."
"Aku juga, berhati-hatilah, Herlin. Oh ya, tunggu sebentar." Dengan tiba-tiba pria itu masuk ke dalam rumahnya.
"Ada apa?"
__ADS_1
Kembali dengan membawa sebuah ponsel, dan langsung menaruhnya di dalam genggaman Herlin. "Bawalah ponsel ini untuk berjaga-jaga, Herlin. Aku masih memiliki ponsel yang lain, apalagi ponselmu sudah tidak ada bersamamu, bukan? Dengan begitu, kau bisa memakainya, dan segera hubungi aku jika dalam kesulitan."
"Tapi, Ini sudah terlalu banyak, Elvin. Awalnya aku memberikan aku uang, lalu sekarang ponsel. Rasanya aku tidak nyaman."
"Jangan katakan itu, Herlin. Aku hanya berusaha menolong mu karena kau butuh bantuanku, ya sudah jika memang kau ingin pergi, maka berhati-hatilah."
Kebaikan Elvin begitu tulus yang dapat membuat Herlin meneteskan air mata dengan penuh rasa haru. Ia langsung bergegas memberikan pelukan perpisahan untuk Elvin.
"Aku akan pasti mengingat dirimu, Elvin. Kau juga jaga diri baik-baik."
"Jangan cemaskan aku, Herlin. Yang terpenting kau tidak terluka."
"Terima kasih banyak, aku harus pergi sekarang."
"Sama-sama, Herlin. Oh ya satu lagi, Herlin." Kembali membuat Elvin bergerak ke dalam.
Kali ini pria itu kembali dengan membawa sebuah syal dan langsung memakainya di leher Herlin. "Ini akan membuat tubuhmu sedikit lebih hangat. Berhati-hatilah."
"Aku sungguh akan merindukanmu, Elvin. Sampai jumpa," ucap Herlin sembari tersenyum manis dan melambaikan tangannya.
"Bahkan aku jauh merindukan mu, Herlin. Tetapi aku tidak bisa menghentikan dirimu apalagi setelah aku tahu ada pria lain yang sudah memiliki hatimu. Semoga di luar sana kau tidak akan terluka, aku pasti akan sangat mengingat dirimu, tapi sebagai kenangan nama praktek di sini akan aku ganti menjadi namamu saja," gumam Elvin yang masih melihat wanita itu mulai menghilang dari pelupuk matanya.
Membuat Herlin melangkah bebas, namun ia tidak tahu harus pergi ke mana. Kedua kakinya terus menuntunnya pergi tanpa tahu arah sampai sebuah takdir berhenti di depannya.
"Setelah ini aku akan mencoba memulai untuk hidup yang baru, beserta kenangan baru. Meskipun aku masih sangat ingin dapat melihat Benny untuk yang terakhir kalinya sebelum aku bisa pergi dari kota ini selamanya," batin Herlin dengan keyakinan penuh.
"Pak Supir, kita akan menuju ke alamat ini, ya," perintahnya yang memperlihatkan sebuah foto dengan nama pemilik Benny Ton di luar pagarnya.
__ADS_1
"Siap, Nona."