Terjebak Cinta Dua Duda

Terjebak Cinta Dua Duda
Kehilangan Kendali


__ADS_3

Herlin sedang menunggu jemputan di teras depan, namun Aland mendekat kearahnya.


"Aku dengar kalau kau sangat tergesa-gesa setelah mendapat kabar teman kencanmu itu sedang diculik. Bagaimana kalau aku ikut?" tanya Aland.


"Tidak usah, Pak. Aku bisa pergi sendirian karena sebentar lagi aku akan dijemput."


"Dijemput? Aneh sekali. Aku merasa curiga jika semua ini bukanlah kebenaran melainkan sebuah jebakan. Lagi pula, orang seperti Benny mana mungkin tiba-tiba diculik begitu saja. Terlebih dia memiliki banyak penjagaan yang ketat. Sepertinya di sini ada sedikit kejanggalan, namun aku tidak ingin Herlin pergi tanpa seizin dariku," batin Aland yang mulai terlihat cemas.


"Um ... Herlin, aku rasa kau sedang ditipu," bisik Aland dengan tiba-tiba. Membuat Herlin terheran, namun ia berusaha untuk tetap percaya.


"Jika tetap nekat pergi, maka aku pastikan jika dirimu tidak aman. Herlin, sebaiknya urungkan niatmu itu untuk pergi ke sana. Aku takut terjadi sesuatu denganmu," perintahnya seraya Aland menggenggam erat tangan Herlin dengan tiba-tiba.


"Lepaskan aku, Pak Aland. Kita sedang ada di rumahmu. Jangan sampai Brian melihat kekerasan ini, dia masih sangat kecil untuk tahu segalanya. Lagi pula, benar atau ditipu itu akan menjadi urusanku, Pak," bantah Herlin sembari berusaha menarik tangannya. Namun sayangnya, Aland terlalu kuat menggenggam.


"Aku bilang tidak usah pergi, maka jangan nekat, Herlin. Kau sedang dibodohi, apa kau masih tidak jelas menyadari semua ini?! Benny bukanlah pria lemah yang bisa diculik seperti gadis belia. Kau dengar, kan? Sekarang masuk ke dalam!" paksa Aland yang berusaha menyeret tangan Herlin dengan keras.


"Jangan melewati batasmu, Pak Aland! Lepaskan tanganku!" Herlin berteriak sembari menahan diri dengan satu tangan kiri yang berpegang di pintu depan. Tetapi, tenaganya Aland tidaklah sebanding dengan tubuhnya yang lemah.

__ADS_1


"Jika aku bilang tidak, maka tetap tidak. Aku tidak ingin Benny melakukan sesuatu padamu. Cepat masuk, Herlin. Aku tidak peduli meskipun Brian melihat kita bertengkar. Jika perlu malam ini aku akan memberikan nama keluarga kita dibelakang namamu," desak Aland yang semakin menjadi-jadi.


Betapa tidak pernah Helrin duga jika sikap Aland sangatlah pemaksa. Terlebih ketika keinginannya tidak dituruti. Tindakan tersebut membuat Brian berlari dalam keterkejutan, begitupun dengan semua orang yang berada di kediamannya.


Brian merasa takut hingga menyembunyikan wajahnya di balik Bibi Lena, namun Aland dengan cepat menggendong tubuh Herlin, dan mengunci bersama dengannya di dalam kamar yang memiliki kedap suara.


"Kau gila, Aland! Cepat buka pintunya. Orang itu pasti sudah datang menjemput ku. Benny sedang membutuhkan diriku sekarang." Herlin terus bersikeras.


"Sadarlah, Herlin! Kau telah dibutakan oleh Benny sampai-sampai kau tidak bisa melihat jika pria itu telah menipumu sekarang."


"Ya, kau benar sekali. Aku memang telah dibutakan olehnya karena aku sangat mencintainya, Aland. Sekarang kau dengar itu, kan? Aku jatuh hati dengan Benny! Anak tiri yang dulu pernah kau sakiti. Aland, aku tahu segalanya tentang masa lalu kalian. Jadi tolong, jangan berusaha mengurungku di tempat ini, karena kita hanya terikat atas hutang budi pengobatan adikku, bukan status hubungan, kau tahu!" jelas Herlin dengan berusaha keras. Sampai ia tidak merasa takut dengan semua kebenaran yang telah ia ucapkan.


Sisi buruk yang belum diketahui oleh keluarga, di mana dalam waktu dekat, Aland sering melamun dan beberapa kali berhalusinasi tentang keberadaan Arabella di dekatnya. Termasuk dengan kejadian saat di mana ia membunuh Arabella karena ketidaksengajaan, tepat ketika senjata dihalangi oleh wanita itu.


Aland selalu teringat jika seseorang ataupun mimpi buruk yang membawanya kembali dengan masa lalu, hingga amarah yang tidak bisa ia kontrol dengan baik. Terlebih ketika ia menjalani hidup dengan darah kematian di tangannya, yang selalu menemani.


Ucapan Aland yang terlalu perlahan tidak Herlin dengar, namun ia berusaha mendekat demi bisa merebut kunci kamar. Namun sayangnya, Aland kembali menatapnya dengan tatapan tajam.

__ADS_1


"Ya, kau memang benar sekali, Herlin. Aku dan Benny pernah saling bertikai, dan sekarang dendam buruk itu masih terus menghantui diriku. Tapi aku harus apa, Herlin? Jika kini aku telah menemukan seorang wanita yang bisa mengembalikan keceriaan diriku seperti dulu, tapi wanita itu justru mencintai musuhku sendiri. Herlin, aku sekarang tidak bisa berdiam saat melihat kesayangan putraku harus dirampas oleh pria brengsek itu," ucap Aland sembari berjalan ke sana kemari dengan tingkah yang sedikit membingungkan.


"Jadi, maksudmu jika wanita itu adalah aku? Kau ingin jadikan aku sebagai ibu dari putramu, begitu? Aland, kau benar-benar sudah kehilangan akal. Kisah semalam itu membuat kita tidak harus sedekat sekarang. Jadi tolong, aku masih berbicara baik denganmu karena aku juga kasihan dengan Brian. Sekarang berikan kuncinya padaku. Ini sudah dua puluh menit, aku sudah terlambat." Herlin berusaha memohon dengan memelankan suaranya.


Tetapi tetap saja, Aland berusaha untuk tidak terpancing. "Herlin, aku sudah lelah bermain, bahkan berusaha bersikap baik denganmu ketika aku melihatmu ke luar dari rumah Benny. Bukankah malam itu kau tidur di sana? Ya, jelas-jelas aku tahu meskipun besoknya pagi kau berbohong padaku. Katakan, apakah kalian sudah tidur bersama? Lalu siapa pria pertama yang merenggut kesucian mu itu?"


"Hei, kau bukan ayahku sampai harus bertanya semua itu, Aland. Berhentilah bersikap konyol. Berikan kuncinya sekarang." Herlin semakin kehilangan akal saat melihat sikap pria itu yang sudah sangat berlebihan.


"Jawab aku, Herlin! Apa kau masih perawan?!" bentaknya dengan keras sembari Aland memecahkan sebuah hiasan lampu tidur miliknya.


"Aland, hentikan ... aku takut!" Herlin menutup kedua telinganya dengan erat. Kelemahan terbesar saat ia tidak suka mendengar suara bising yang terlalu berlebihan, begitupun dengan suara petir.


"Kau takut? Bahkan aku sangat takut kehilangan dirimu, Herlin! Katakan padaku siapa orangnya? Atau jika tidak, colokan listrik ini yang akan membuatmu buka mulut. Aku akan memasukkan tanganku ke dalam sana. Mungkin dengan begitu kau bisa berbicara dengan jujur," ancam Aland, meskipun tidak ada rasa takut sama sekali dalam dirinya untuk menyakiti dirinya sendiri.


"Oke! Aku akan katakan, tapi aku mohon berhenti bersikap bodoh! Aland, entah apa masalahmu denganku sampai kau harus bersikap seperti suamiku sendiri dan memerintah dengan sesukanya,, tapi aku ingin jujur padamu. Bahwa memang pria pertama yang telah merenggutnya adalah Benny. Tepat ketika malam pertama kita bertemu saat kau menolongku. Itulah sebabnya aku pulang terlambat. Meskipun itu hanyalah sebuah ketidaksengajaan, tapi sekarang aku sudah mencintainya, bahkan jauh lebih nyaman meski aku sadar Benny hanya mencintai mendiang istrinya," ucap Herlin tanpa ada kebohongan.


Kejujuran yang terlalu menyakitkan bagi Aland dengar, meskipun malam itu ciuman pertama sudah berhasil ia dapat. Namun, Aland sadar bahwa Benny lebih unggul darinya.

__ADS_1


"Kenapa kau harus melakukannya, Herlin? Bahkan kepada Benny. Mungkin jika itu pria lain, aku bisa memakluminya, tetapi aku tidak terima saat orang itu adalah Benny. Katakan padaku? Apa aku harus membunuhnya, Herlin?"


__ADS_2