Terjebak Cinta Dua Duda

Terjebak Cinta Dua Duda
Teman Ranjang dan Brian


__ADS_3

Herlin segera menggenggam tangan Benny, dan terus memperlihatkan raut wajah kasihan demi mendapatkan simpati. "Aku mohon dengan sangat, Tuan Benny. Hanya kau seorang yang bisa menolongku karena aku menginginkan dirimu, dan aku berjanji berapa jam yang kau butuhkan akan aku layani."


"Aku tidak habis pikir dengan wanita seperti dirimu, Herlin. Bukannya kau memiliki pekerjaan di bar? Lalu apalagi yang harus kau kejar? Sudahlah, Herlin. Sekarang cepat ke luar dari mobilku karena aku sudah sangat terlambat kerja karena ulahmu." Benny tegas meskipun ia merasa tidak nyaman.


"Tidak mau, Tuan. Bahkan kalau perlu aku bisa pergi dan mengemis di kantormu saja. Biar sekalian semua orang mendengar kalau kita sudah tidur bersama," ancam Herlin dengan begitu nekat.


Seketika membuat Benny semakin tidak habis pikir, terlebih ia tahu tidak akan mungkin membiarkan karir dan ketenarannya bilang hanya karena wanita yang ia anggap bodoh.


"Baiklah aku setuju, tapi dengan satu syarat," sahut Benny dengan sangat terpaksa.


"Katakan syarat apa, Tuan?"


"Berhentilah bekerja sebagai DJ, aku hanya ingin jika kau ada untukku seorang."


"Tuan Benny, rasanya itu tidak perlu untuk aku lakukan. Apalagi aku bisa mengatur waktuku sendiri, jadi tidak perlu sampai harus mengorbankan pekerjaan ku juga, kan?"


"Kalau begitu, maka jangan harap aku akan menerima dirimu. Sudahlah ke luar dari mobilku sekarang."


"Ya, aku bersedia! Tuan Benny, namun kau harus menaikkan gajiku yang tinggi," tegas Herlin sembari menunjuk dengan semua aturannya.


Melihat hal itu, membuat Benny menyinggung senyum. Ia merasa semakin tertantang dengan karakter Herlin. Tiba-tiba ia mengusap pipi Herlin sembari berkata. "Kau adalah pelayan pribadiku, maka tau diri akan lebih baik. Sekarang pergilah, kau bisa langsung datang nanti malam."


"Baiklah, Tuan Benny. Aku akan segera pergi dari sini, tapi aku harap kau dapat mempertimbangkan semua permintaan dariku ini untuk memberikan aku bayaran yang besar," pinta Herlin. "Karena di sini bukan hanya aku mempertahankan harga diri, tapi juga kesucian ku yang sudah lebih dulu kau rampas," batinnya.


"Akan aku pertimbangkan, tapi tidak bisa berjanji. Cepat pergilah sekarang, Herlin," usir Benny sembari membuka pintu.


Melihat sikap Benny yang sangat tak acuh, mampu menimbulkan keragaman bagi Herlin. Ia masih menatap mobil atasannya pergi sampai tidak terlihat.

__ADS_1


"Sekarang apakah aku harus menjumpai Aland seperti yang Tante Rere inginkan? Bahkan aku sangat terkejut ketika tahu kalau Benny adalah pria yang denganku semalam. Lalu kini, aku pun harus meminta bantuan kepada Aland, pria yang paling tidak aku ingin temui. Namun, aku bisa apa?" gumam Herlin sembari menatap ke arah sebuah alamat rumah.


Keputusan yang sudah bulat, Herlin baru saja tiba di tempat yang ia tuju. Melihat sebuah kediaman yang sangat mewah, namun terlihat sangat sepi.


Ia berjalan masuk karena tidak ada pintu keamanan yang berjaga di depan, tiba-tiba saja seorang pria kecil datang menghampirinya dengan membawa sebuah bola bermain.


"Tante ini siapa? Apa Tante ingin menjumpai papa?" tanyanya dengan wajah kebingungan.


Herlin terdiam, namun ia teringat jika Aland pernah menceritakan kalau dia seorang duda. Terduduk sembari mengambil bola bermain milik pria kecil itu.


"Ya, aku ingin bertemu dengan papamu. Apa dia ada di dalam?"


"Papa sedang pergi bekerja, Tante. Tapi, papa tidak akan pulang lama karena aku hari ini tidak ke sekolah. Lalu kenapa Tante mengambil bolaku juga? Sini kembalikan!" Anak kecil itu terlihat kesal, ia segera merampas miliknya.


Herlin tersenyum manis sembari mengacak-acak rambut pria kecil itu, terlebih ia memang sangat menyukai anak-anak. "Tentu saja untuk bisa bermain denganmu, anak tampan. Siapa namamu?"


"Hei, aku bukan orang asing, tapi teman dari papamu. Sekarang bagaimana? Bolehkah Tante bermain denganmu?"


Brian terdiam sejenak seperti sedang berpikir sesuatu, lalu perlahan ia menjawab dengan anggukan kecil.


"Bagus sekali, Nak. Ya sudah sekarang kita main bolanya di mana?" tanya Herlin yang berusaha bersikap ramah demi sesuatu. "Sebaiknya aku tetap di sini dengan anak ini sampai menunggu Aland datang."


"Di belakang saja, Tan. Ayo masuk ke rumahku," ajak Brian sembari menarik tangan Herlin. Ia sampai berlari karena merasa sangat senang sekaligus bahagia melihat seorang wanita yang mirip dengan wajah ibunya.


Rumah Aland memiliki sebuah lapangan besar tepat berada di tengah-tengah, dan terbuka luas. Membuat Herlin merasa takjub dengan bentuk rumah itu. Ia segera mulai bermain meskipun ini kali pertamanya bermain bola.


Kebersamaan mereka membuat keduanya tertawa bahagia, terlebih ketika Herlin dengan sengaja membiarkan Brian untuk mengalahkannya.

__ADS_1


Tepat ketika mereka melompat dengan riang, tiba-tiba saja Herlin melihat Aland datang mendekat dan langsung merebut bola bermain milik putranya.


"Brian! Masuk ke dalam kamarku sekarang dan tidurlah. Katanya kalau kamu sakit, dan tidak mau ke sekolah. Tapi malah bermain bola di sini, cepat papa bilang masuk sekarang!" tegas Aland tanpa membiarkan putranya sedikitpun melawan.


Melihat sikap Aland yang kasar, Herlin segera mendekat. "Hei, jangan kasar seperti itu sama Brian. Dia masih terlalu kecil dan ingin bermain."


"Siapa kau yang bisa mengaturku dan putraku? Lalu kenapa tiba-tiba kau bisa ada di sini dan masuk ke rumahku tanpa seizin dariku?"


"Aku masuk karena ingin bermain dengan Brian, tapi aku tidak habis pikir kau memarahinya seperti itu. Siapa tahu dia hanya merasa bosan di rumah yang besar ini dan butuh teman. Kau ini seperti bukan papa kandungnya saja," ketus Herlin dengan cepat membantah.


"Memangnya apa pedulimu dengan putraku? Kau bahkan tidak tahu apapun dengan kehidupan anakku. Sekarang cepat pergilah dari sini sebelum aku ikut memarahimu juga," usir Aland sembari menunjuk ke arah pintu terbuka lebar.


"Ya, aku memang tidak tahu apapun tentang hidup anakmu, tapi setidaknya dengarkan pembelaan darinya dulu sebelum memarahinya, Aland. Namun, aku tidak mau pergi dari sini karena kau juga sangat keras kepala terhadapku semalam."


"Hei, jangan bodoh. Ini rumahku, dan aku tidak ingin menerima tamu sekarang, cepat pergilah sebelum aku memaksanya," desak Aland tanpa ingin tahu apapun.


"Kau ini sangatlah-" Tiba-tiba Herlin menghentikan ucapannya saat melihat Brian melemparkan bola ke arah mereka.


"Papa, biarkan Tante itu di sini untukku!" teriak Brian dengan tiba-tiba. Ia belum sepenuhnya pergi, tetapi justru diam-diam ingin mendengar segalanya.


"Lihat sendiri buktinya, kan? Aland, aku tidak sedang mengada-ngada, dan putramu sendiri yang justru merasa nyaman denganku. Maka maafkan aku jika tidak ingin pergi dari sini," sahut Herlin yang merasa menang.


"Sial!" Aland merasa sangat kesal hingga ia mengepalkan tangannya karena merasa kalah dari putranya sendiri.


Membuat Herlin berjalan mendekat ke arah Brian dengan penuh senyuman. Hal itu membuat batinnya berkata. "Baguslah. Niatku tercapai satu langkah, maka selanjutnya akan sangat mudah untuk mendapatkan uang dari Aland dengan berkat bantuan dari Brian."


Aland tidak ingin merasa kalah, ia segera bergegas mendekat sembari menarik paksa tangan Herlin. "Sebaiknya pergilah dari sini, dan jangan mempengaruhi pikiran anakku."

__ADS_1


"Papa, hentikan! Atau Brian tidak ingin lagi sekolah kalau Papa mengusir Tante ini dari sini," bentak Brian dengan tegas dan memperlihatkan kekuasaan dirinya sebagai putra tunggal.


__ADS_2