Terjebak Cinta Dua Duda

Terjebak Cinta Dua Duda
Mencari Kesempatan


__ADS_3

Rasa penasaran Leony akan kebenaran tentang pernikahan kakaknya dengan Aland masih menjadi misteri yang besar, ia masih belum percaya sepenuhnya apalagi setelah melihat rumah yang tidak dihiasi satu pun kenangan pernikahan.


Keheranannya itu membuat Leony segera menghubungi Rere dengan menggunakan telepon rumah.


"Halo, siapa ini?"


"Aku Leony, Tante Rere."


"Leony? Oh Tante pikir siapa. Ada apa, Sayang? Tante sedang banyak pekerjaan sekarang. Jadi, tidak bisa bicara terlalu banyak."


"Sebentar saja, Tan. Aku hanya ingin tanya apakah benar Kak Herlin dan Aland itu sudah menikah? Mereka berdua mengatakan telah menikah padaku. Bahkan aku melihat Kak Herlin masuk ke dalam kamar yang sama."


"Apa? Menikah? Hei, itu bohong, Leony. Kau sudah ditipu oleh mereka berdua. Tidak ada pernikahan apapun. Ya sudah nanti setelah pulang kerja, Tante akan langsung menemuimu di sana. Sekarang Tante harus kembali bekerja."


"Ya, baiklah, Tan."


Leony menutup teleponnya, tetapi ia semakin tidak menduga bahwa kakaknya telah berbohong.


"Dasar keduanya pengkhianat! Bahkan Kak Herlin demi kesenangannya sendiri sampai rela membohongiku juga. Apa salahnya berkata jujur? Di pikir aku tidak memiliki akal untuk bertanya kepad Tante Rere," ketusnya.


Berbeda dengan Rere yang saat itu terheran setelah menerima telepon. Ia sampai menghentikan pekerjaannya sejenak.


"Herlin sudah gila, dan sangat nekat. Dia pikir pernikahan bisa dibohongi. Tapi baiklah, Herlin. Aku akan menjadikan kebohonganmu ini sebagai kelemahan mu. Lagi pula, siapa yang suruh dia sampai harus sekamar segala? Tidak tahu malu!" geram Rere hingga membanting berkas penting yang berukuran tebal di atas mejanya.


"Hei, apa yang kau lakukan, Rere? Memangnya ini kantor nenekmu bisa kau banting barang berharga itu begitu saja? Jika tidak, apa kau mau ganti rugi? Dasar tidak tahu aturan. Kenapa tidak sekalian robohkan saja gedung perusahaan ini," amuk Benny saat baru tiba di ruangan sekretarisnya.


"Eh, Ben! A—aku sungguh minta maaf, Tuan Benny. Karena aku kesal jadinya sampai membanting berkas penting ini segala," sahutnya dalam ketakutan.


"Lakukan pekerjaan yang benar, jangan libatkan masalah pribadi di sini. Lagi pula aku sudah menyuruhmu untuk mengirimkan berkas penilaian kita ini kepada investor, kan? Lalu kenapa masih di sini? Apa kau ingin turun gaji, hah? Pekerjaanmu akhir-akhir ini terus saja teledor, dan harus aku yang datang ke ruangan mu seperti bosku saja kau ini. Jangan karena kau kerabat dekat mendiang istriku, kau bisa seenaknya di perusahaan ku juga," lanjutnya.

__ADS_1


Membuat Benny begitu kesal Samapi ia melampiaskan amarahnya kepada sekretaris Rere di depan karyawan banyak yang sedang menjadi penonton di depan pintu kerja. Padahal sebelumnya ia begitu jarang memarahi para pekerjanya itu.


"Saya benar-benar minta maaf, Tuan Benny." Rere terus menundukkan kepalanya saat ia merasa malu ketika menjadi bahan tertawaan karyawan yang lain.


"Tertawa terus kalian sepuasnya jika mau di pecat! Cepat balik kerja sana!" Berbeda dengan Benny yang tiba-tiba menatap ke arah karyawan yang lain dengan mata yang melotot sempurna.


Berlari sampai tidak ada yang berani membantah, namun terkecuali dengan Sonna yang masih setiap menunggu Benny ke luar.


"Lain kali aku tidak akan mendengar penjelasan keteledoran dirimu lagi di sini, Rere. Kau datang untuk bekerja, tapi jika tidak, tempatmu ada di luar pintu masuk. Kau mengerti?"


"Saya mengerti, Tuan Benny."


Selepas Benny pergi, membuat hati Rere terasa lebih lega. "Syukur masih bisa selamat. Untungnya aku tidak dipecat, tapi aneh sekali Benny tiba-tiba sekasar itu denganku? Apa jangan-jangan ini karena ulahnya Herlin?"


"Dasar pemikiran yang bodoh. Rere, aku tahu jika kau marah, tapi jangan libatkan amarah di perusahaan ini karena aku akan semakin mudah membuang posisimu sebagai sekretaris," bisik Sonna sembari menyunggingkan senyumnya dengan ancaman yang begitu percaya diri.


"Awas saja kau, Sonna. Aku akan membalas mu nanti," batin Rere yang hanya bisa meratapi kesialannya hari ini dari belakang.


Sonna berjalan pergi dengan lambaian tangan yang sengaja ia buat demi bisa memanas-manasi Rere dengan menjadi-jadi. Ia memilih untuk ke arah ruangan Benny.


"Ya, masuk!" teriak Benny sedikit setelah terdengar suara ketukan pintu.


"Selamat pagi, Pak Benny," sapa Sonna dengan wajah yang ramah.


"Duduklah."


"Terima kasih banyak, Pak. Namaku Sonna, dan yang akan melamar bekerja di sini, Pak."


"Oh, Sonna. Baiklah aku ingat dengan nama itu setelah aku membaca semua surat lamaran yang kau kirimkan. Baiklah, Sonna. Kau diterima bekerja di sini karena memang aku lihat pengalaman mu cukup luas, jadi aku merasa tidak perlu meragukan lagi. Terlebih kau juga lulusan dari kampus terbaik. Jadi, selamat bergabung dengan kami," jelas Benny.

__ADS_1


"Jadi, saya sudah diterima, Pak?"


"Tentu saja karena Rere juga merekomendasikan dirimu ke perusahaan ini, bukan?"


"Sekali lagi terima kasih banyak, Pak. Saya sangat senang mendengarnya. Lalu di mana ruangan saya bekerja?"


"Baiklah, tunggu sebentar."


"Ya sudah ayo ikut denganku. Akan aku tunjukkan ruang kerjamu."


Berjalan di belakang, membuat Sonna terus menatap postur tubuh Benny yang sangat tinggi tegap, membuatnya tersenyum kecil karena ternyata bos besar yang ia pikirkan tidaklah seburuk itu.


Terlebih wajah Benny yang terlihat sangat seksi, mampu membuat Rere yakin jika ia betah bekerja di sini karena bisa mencuri pandang untuk melihat yang segar-segar dari atasannya itu.


"Di sini ruangan mu, Sonna. Jika ada yang tidak kau ketahui, bisa bertanya padaku."


"Baik, Pak. Ruangannya cukup nyaman. Tapi, saya tadi tidak sengaja mendengar pembicaraan Rere denganmu, Pak. Apakah benar jika wanita bernama Herlin itu berpura-pura menikah dengan seorang pengusaha besar bernama Aland? Maafkan saya jika lancang, Pak. Tapi, saya sangat mengenal dengan sosok Herlin," tanya Sonna yang sengaja ingin mencari perhatian.


"Jadi, kau siapanya Herlin?" tanya Benny yang mulai terpancing.


"Kebetulan saya dengan Herlin adalah teman baik sejak dulu dan sampai sekarang, Pak. Saya rasa yang sudah kau dengar itu tidak benar, Pak. Akan lebih baik jika kita memeriksanya dengan cepat, dan saya bisa membantumu, Pak. Apapun itu akan saya bantu."


"Kau yakin? Baiklah, aku putuskan supaya dirimu mencari tahu tentang kabar ini. Mengenai bayaran, aku akan langsung mengirimnya setelah berhasil mendapatkan kabar yang benar. Kau tidak masalah melakukannya, bukan?"


"Ya, tentu saja, Pak. Itu bukan hal yang rumit."


"Ya sudah. Jika memang kamu setuju, maka saya akan menunggu hasilnya. Sekarang pelajari setiap pekerjaan di perusahaan ini terlebih dahulu, dan besok kau bisa langsung masuk seperti yang lain. Hari ini bebas, ingin pulang sampai kapan atau tetap di sini seperti keinginanmu sendiri."


"Tentu saja, Pak Ben. Aku akan melakukannya," sahut Sonna dengan mantap sembari tersenyum manis. "Dan tentunya bayaran yang lain akan datang darimu, Pak. Yeah! Sekarang aku bisa mendapatkan uang dari dua pria sekaligus," batinnya.

__ADS_1


__ADS_2