Terjebak Cinta Dua Duda

Terjebak Cinta Dua Duda
Herlin Diculik


__ADS_3

Sejak tadi Erick belum sempat pergi dari rumah sakit, melainkan ia masih ingin mengetahui semua hal yang terjadi. Hingga berusaha bersembunyi, dan memilih waktu yang tepat untuk bisa mendekati Yoona.


Membuat Herlin terdiam dan sedikit ketakutan saat melihat Erick masuk ke dalam ruangannya. Namun justru, pria itu dengan tiba-tiba mengulurkan tangannya untuk membantu Herlin berdiri.


"Jangan takut, Yoona. Aku tidak sedang mengganggumu. Jadi, kemari lah, kita akan pulang bersama," ajak Erick sembari tersenyum manis.


"Erick, kau ... sejak kapan ada di sini? Dan jangan mendekat atau aku akan berteriak supaya penjaga rumah sakit mengurung mu," ancam Herlin sembari berusaha untuk perlahan-lahan mundur.


"Ayolah bidadari malamku, kita pulang bersama. Aku sudah menunggumu sejak lama," pinta Erick yang semakin mendekat.


"Jika sekali lagi kamu mendekat, aku akan benar-benar berteriak, Erick." Herlin menoleh ke belakang sesekali, berharap ia bisa menemukan perlindungan. Namun ternyata, senjata tajam bekas kupasan buah berada sangat jauh, dan lebih dekat dengan Erick berdiri.


"Sial! Pisaunya jauh sekali. Bagaimana ini? Dia pria pemabuk dan pemain wanita, aku tidak bisa membiarkan Erick menangkap ku," batin Herlin dalam kecemasannya.


"Mundur dari sini, Erick! Aku mohon ... Kak-" Ucapan Herlin terhenti ketika Erick sudah berhasil membungkam mulutnya.


Meronta-ronta, namun keadaan tubuh Herlin masih belum begitu kuat. Hingga dengan mudahnya Erick membuat Herlin tidak sadarkan diri di tempat.


"Kali ini kau tidak akan bisa lepas dariku, Herlin. Biarkan saja aku menikmati goyangan mu, namun hanya kepadaku, bukan di depan para pengunjung club malam lagi," gumam Erick dengan sangat licik.


Herlin terkulai lemas tanpa tersadar, lalu Erick dengan cepat menggantikan pakaiannya dengan pakaian supir ambulans. Ia berusaha mencari kesempatan untuk bisa pergi membawa wanita itu pergi.


Memakai masker, dan menaruh Yoona ke dalam kursi roda. Namun tiba-tiba seorang suster berdiri di depannya.


"Pasien ini kenapa?"


"Dia sudah di rujuk ke luar negeri, jadi aku akan membawanya pergi. Keluarganya sedang menunggu di depan."


"Oh baiklah. Berhati-hatilah."


"Tentu."


Tidak terlihat ada hal yang aneh, sampai suster tersebut tidak menyadarinya. Erick berusaha lolos, dan pergi dengan menggunakan mobil ambulan. Namun di tengah jalan, para kelompok gangster nya sudah menunggu.

__ADS_1


"Apa tidak ada yang melihat kalian di sini?" tanya Erick sembari melirik ke sana kemari.


"Tidak ada, Bos."


"Baguslah, cepat bawa masuk wanita ini ke mobil sekarang."


Berhasil kabur, dan meninggalkan mobil ambulan begitu saja. Saat melihat Herlin yang sedang terkulai lemas di dalam pangkuannya, membuat Erick tersenyum dengan begitu puas.


"Bos, ada bagian untuk kami juga, kan?" tanya salah satu temannya sembari melirik ke arah dada Herlin yang terlihat begitu indah menjulang.


Pandangan mata temannya, dalam sekejap Erick berikan tamparan sampai membuat pria itu tidak berani menatap Herlin dengan buas. "Kau pikir wanita ini akan aku bagi-bagikan dengan kalian? Oh tentu saja tidak, ini bagianku. Kalian tahu itu, kan? Dia Herlin, wanita yang sudah lama aku incar."


"Tapi, Bos. Lalu kami bakalan dapat apa? Masa kita-kita ini cuma lihat sambil nahan ludah?"


"Ya cari di tempat lain! Yang jelas Herlin bagianku, kalian mengerti semua? Sekarang putarkan mobilnya. Kita akan ke rumahku, bukan ke markas."


"Lalu bagaimana kalau sampai Elvin tahu jika wanita ini ada di rumahmu, Bos?" tanya temannya yang lain saat mengetahui jika Erick memiliki saudara kembar.


"Itu urusanku, bukan kalian."


"Ini bagain untuk kalian karena sudah membantuku." Erick segera memberikan segumpal uang dibagi secara rata agar tidak membuat teman-temannya merasa kesal karena tidak dapat menikmati kesenangan bersama dengan Herlin.


"Nah gitu dong. Ya sudah bersenang-senanglah, Bos. Kami akan pergi dulu, biasa mau cari mangsa lain."


"Ya udah sana pergi."


Membawa Herlin masuk dengan begitu bersemangat, namun Erick merasa heran saat melihat lampu rumahnya sudah menyala. Padahal jelas-jelas sudah dua hari Erick tidak pulang ke rumah.


"Siapa yang menghidupkan lampu?" tanya Erick dengan sendirinya.


"Aku." Terdengar suara seorang pria yang berdiri di belakang Erick dengan wajah yang kesal. Wajah pria itu begitu mirip dengannya.


Membuat Erick sangat terkejut, terlebih saat Herlin masih di dalam gendongannya. "Aduh ... gawat nih, pakai acara pulang ke sini segala lagi," gumamnya.

__ADS_1


"Siapa wanita itu?" tanya Elvin Jonathan. Namun adiknya hanya diam saja. "Jawab aku, Erick! Siapa wanita itu?!"


Elvin Jonathan, saudara kembar dari Erick, dan memiliki sifat yang sangat jauh berbeda. Namun, ia memiliki sebuah tanda lahir yang membedakannya dengan adiknya. Tahi lalat kecil di atas hidung mancungnya, dapat membuat ketampanan Elvin jauh lebih terlihat dibandingkan dengan Erick.


Terlebih ia memiliki masa depan yang cerah, dan sudah menjadi dokter hewan. Namun sekarang, ia pulang karena ingin membuka cabang untuk prakteknya yang sangat mulia.


Masih membuat Erick tidak menjawab, namun ia mencoba untuk menyusun rencana. "Dia kekasihku, tapi sekarang dia sedang mabuk. Aku harus membawanya ke dalam, jadi sebaiknya kau kembali saja ke Manila."


"Ini juga rumahku, Erick. Aku pulang setelah mendengar kabar kalau kau sudah menjual rumah pertama milik papa dan mama, padahal itu satu-satunya warisan untuk kita miliki. Lalu sekarang katakan di mana uang hasil warisan itu?"


"Tidak ada. Aku sudah menghabiskannya karena di sini aku hidup dengan bebas," sahut Erick dengan sangat santainya. "Sebaiknya cari saja apartemen lain, karena selama kekasihku di sini, kau sebaiknya tidak perlu banyak mengatur. Apalagi saat mendengar ******* dari kekasihku. Tutup saja telingamu nanti."


"Kurang ajar anak itu," kesal Elvin, tetapi ia tidak memiliki hak untuk mengganggu kesenangan adiknya. Terlebih jika sudah dewasa, keluarga tidak berhak ikut campur dengan urusan pribadi keluarga yang lain.


Membuat Elvin berjalan pergi meskipun ia masih sangat penasaran dengan wanita yang sedang Erick bawa.


Berbeda dengan Erick yang merasa lega setelah berhasil membuat saudara kembarnya mengerti. Ia tersenyum bahagia sembari merebahkan tubuh Herlin di atas ranjang tidurnya.


"Kau memang sangat cantik, Herlin. Sayang sekali jika dilihat oleh orang lain," ucap Erick sembari mengusap pipi kiri Herlin.


"Ah, aku juga tidak sabar. Tapi, badanku lengket semua. Lebih baik aku mandi dulu sebelum nantinya berperang," lanjutnya.


Meninggalkan Herlin yang masih di tempat tanpa ada cemas. Namun beberapa saat, Herlin pun terbangun.


"Di mana aku ini?" tanyanya sembari menatap ke setiap sudut kamar. "Astaga! Ini kamar? Tidak, kenapa aku bisa di sini?"


Teringat saat di rumah sakit, ketika Erick menculiknya dengan paksa. "Ya ampun. Erick sialan itu, sebaiknya aku pergi dari sini."


Mendengar suara nyanyian Erick dari dalam kamar mandi, membuat Herlin semakin yakin untuk bisa kabur dari sana. Perlahan membuka pintu kamar, namun ia merasa kesulitan saat mencari pintu utama. Terlebih rumah Erick memiliki dua pintu karena jalan yang turunan.


Terus berusaha mencari, hingga Herlin melihat sebuah pintu. Tepat ketika ingin membuka pintu, tiba-tiba Elvin berkata. "Bukan yang itu, tapi di atas sana. Kalau pintu yang itu, akan tembus ke hutan."


Suaranya begitu sama dengan Erick, membuat Herlin terdiam dalam kecemasan. Namun justru, Elvin berjalan di depannya.

__ADS_1


"Kenapa malah bengong? Enggak jadi kabur dari sini?" tanya pria itu sembari tersenyum kecil.


"Apa? Memangnya kau tidak ingin mengurungku lagi?" tanya Herlin dalam kebingungan, saat melihat pria itu tiba-tiba sangat baik dengannya.


__ADS_2