Terjebak Cinta Dua Duda

Terjebak Cinta Dua Duda
Dendam Kusumat


__ADS_3

“Sonna, jangan mencoba-coba mengancam diriku, karena ancaman itu tidak berguna untukku, kau dengar." Rere membisik sembari menatap dengan tatapan tajam.


Membuat Sonna sama sekali tidak bergeming, justru menyunggingkan senyum dengan penuh tujuan. "Wah ... kau masih saja tidak berubah, Rere. Tidak apa-apa, aku mengerti jika kau memang pintar bicara, tapi tidak dengan sebuah fakta yang akan aku bocorkan ke pihak media. Surat kabar akan mengeluarkan isu buruk tentang dirimu jika saja aku membuka mulut. Bukan hanya tentang kejahatan atas penipuan orang dalam saat kau masuk ke perusahaan besar itu, tapi juga dengan kejahatan yang telah kau lakukan lima tahun yang lalu kepada Arabella. Aku pun mengerti, kenapa kau sangat ingin menghancurkan hidup wanita malang itu. Rupanya banyak hal yang ingin kau ambil darinya. Meskipun kedua pria itu telah melupakan semua kejahatanmu, namun aku bisa saja membuka kembali kisah kelam di masa lalu mu."


Sonna yang tahu banyak hal, seketika membuat Rere tidak bisa berkutik. Terlebih Rere mengakui bahwa memang kejahatan di masa lalu melibatkan dirinya, dan mengharuskan ia pergi ke tempat lain demi melupakan segalanya. Namun sekarang, ia sungguh tidak menduga bahwa kabar buruk telah mengintainya lewat Sonna.


"Hentikan, Sonna! Kau sudah berlebihan. Meskipun tuduhanmu itu benar, tapi kau sama sekali tidak bisa membuktikannya. Bahkan memberikan bukti terhadap awak media. Sekarang jangan ganggu aku, dan tolong pergilah dari sini," bentak Rere dengan tegas.


"Kau masih tidak bisa mengerti, Rere. Sama sekali dulu saat kau terlalu egois untuk bisa mendapatkan Aland dan menghancurkan pernikahan saudaramu sendiri—Arabella. Namun, aku cukup kenal baik dengan Aland, dan informasi darinya tidaklah sulit aku korek begitupun tentang dirimu," jelas Sonna sembari tersenyum manis.


Membuat Rere semakin tidak habis pikir, terlebih ia pun teringat bahwa memang Sonna sudah lama mengabdikan diri di perusahaan Aland. "Gawat! Dia sepertinya tidak sedang main-main. Aku bisa kehilangan pekerjaanku, bahkan nama baikku akan terancam."


"Katakan apa yang sebenarnya kau inginkan dariku, Sonna?" tanya Rere.


"Gitu dong dari tadi, jadinya kita sama-sama tenang. Simpel saja aku hanya ingin bisa masuk ke dalam perusahaan yang sama denganmu. Bukankah dulu aku membantumu masuk ke sana? Maka segera giliranmu, Rere," pinta Sonna dengan sangat mudahnya.


"Apa kau tidak waras? Hei, itu bukanlah perusahaan ku, Sonna. Bagaimana mungkin aku memasukkan dirimu begitu saja?" Rere semakin tidak percaya.


"Kau pasti bisa melakukannya, Rere. Bukannya atasanmu sendiri adalah Benny? Pria yang dulu juga menjadi suami dari Arabella. Ayolah, sekarang tunggu apalagi?"


"Tidak, Sonna. Itu cukup sulit, dan aku tidak bisa mengambil resiko terlebih aku hanyalah seorang sekretaris, bukan pemilik perusahaan."


"Bantu aku atau nama baikmu akan tercemar, terutama karirmu, Rere," desak Sonna dengan terus mengancam.

__ADS_1


"Ya baiklah! Aku akan membawamu masuk ke sana, tapi aku tidak bisa berjanji karena semua keputusan atas di tangan Benny. Kau bisa masuk menjadi manajer pemasaran. Kebetulan di sana membutuhkan karyawan. Untuk itu, aku harap kau dapat datang ke kantorku besok pagi," jelas Rere dengan sangat terpaksa.


Senyum Sonna terlihat begitu puas, ia sangat bahagia atas apa yang telah ia dapatkan sekarang. Tiba-tiba bangkit dari duduknya sembari memberikan selembar kertas. "Ini alamat rumah baru ku, jika kau butuh bantuanku. Maka datanglah, tapi kau harus ingat setiap bantuan ada feedback nya."


Tidak Rere ambil kertas pemberian dari Sonna, namun ia hanya melihatnya saja. Berbeda dengan Sonna yang pergi dengan penuh rasa bahagia.


"Kurang ajar! Dia datang hanya untuk mengacau, lalu sekarang aku semakin tidak bisa berbuat apa-apa jika harus melawannya," gerutu Rere dalam batinnya.


Berbeda dengan Sonna yang kembali menoleh ke belakang sembari berucap. "Aku sudah menang satu langkah darimu, maka setelah itu tugasku hanya untuk mencari informasi seperti yang Pak Aland inginkan."


***


Di sisi lain, Herlin sedang menunggu operasi selesai setelah ia membayarkan semua biaya terhadap adiknya—Leony. Dengan sangat cemas, ia terduduk dalam diam sembari memohon kepada Tuhan agar keselamatan adiknya terjaga.


Dalam kecemasan, tiba-tiba Rere berjalan dengan raut wajah yang cemberut. Duduk berdekatan dengan Herlin, tetapi tidak mengatakan apapun.


"Ya ampun, aku tidak ingat hal itu, Herlin. Aku sedang ada masalah. Kau mungkin bisa membelinya sekarang, dan aku yang akan menunggu sampai adikmu selesai di operasi di sini," sahut Rere dengan pasrah.


"Baiklah kalau begitu." Herlin pergi tanpa menyadari perbedaan dari Tantenya.


Saat Herlin sedang berjalan ke arah pusat perbelanjaan rumah sakit, tiba-tiba ia melihat seorang pria yang cukup ia kenal sedang berjalan dengan bantuan tongkat besi. Membuat Herlin ingin segera menghilang karena tidak ingin bertemu, tetapi tiba-tiba tangannya di tahan oleh para teman Erick.


"Kau juga ada di rumah sakit ini, Herlin? Wah ... kebetulan sekali, dan entah seperti jodoh sendiri," tanya Erick dengan ucapan ngelantur seperti biasanya.

__ADS_1


"Tutup mulutmu dan lepaskan tanganku dari teman-temanmu ini. Di sini rumah sakit, kau tidak bisa menggangguku," sahut Herlin sembari berusaha meronta.


Erick memberikan tanda agar teman-temannya melepaskan, namun ia tidak membiarkan Herlin pergi dengan cepat. Bahkan sekarang membuat langkah Herlin terperangkap saat mereka mulai mengelilinginya.


"Kenapa ketus sekali, Herlin? Lihatlah kakiku sekarang, atas perbuatanmu, aku jadi harus berjalan dengan tongkat ini."


"Masih mending ada tongkat, daripada kakimu patah," celetuk Herlin dengan cepat.


"Kau selalu saja tak acuh saat di luar, tapi kenapa ketika sedang DJ, kau sangat ramah, Herlin? Ayolah, aku sedang berbicara baik-baik denganmu."


"Itu karena aku sedang bekerja, tapi jangan khawatir, Erick. Di sini terakhir kalinya kita bertemu karena mulai malam ini aku tidak lagi bekerja sebagai DJ. Aku harap kau tidak perlu menungguku pulang seperti biasanya dengan para teman motormu yang gila ini."


"Benarkah? Sayangnya aku tidak akan percaya begitu saja, Herlin," bantah Erick dengan sedikit ledekan kecil sembari mengedipkan sebelah matanya.


"Terserah dirimu saja, tapi aku berbicara dengan fakta. Sudahlah, sudahi pembicaraan kita atau aku akan meminta kepada pria penyelamat ku itu untuk mematahkan kakimu dengan benar."


"Hei, kau ini galak sekali, Herlin." Erick masih berusaha bercanda demi menghilangkan rasa nyeri dari kakinya.


Namun sayangnya, Herlin tidak menyukai pria itu. Terlebih Erick terkenal dengan sifat playboy nya. Melangkah pergi, tetapi Herlin justru memberikan sebuah kesan kecil dengan menginjak tepat di sebelah kaki Erick yang terluka.


"Argh! Sakit ... Herlin, awas kau!" Membuat Erick berteriak keras sampai teman-temannya ikut panik.


Tidak Herlin pikirkan, namun ia segera melanjutkan perjalannya. Namun tidak dengan Erick yang memandang dengan tatapan tajam.

__ADS_1


"Ikuti kemanapun dia pergi. Jangan biarkan satu hal pun terlewati. Herlin sudah benar-benar keterlaluan dalam menghinaku, dia harus menerima balasanku nantinya. Cepat ikuti dia!" perintahnya.


"Kali ini kau sudah terlalu berlebihan, Herlin. Lihat saja kau akan menangis di bawah tubuhku," batin Erick dengan penuh dendam.


__ADS_2