Terjebak Cinta Dua Duda

Terjebak Cinta Dua Duda
Teman Costa Caroline


__ADS_3

"Madam Choel, tunggu dulu. Ini artinya kau ingin aku memiliki job sampingan sebagai kupu-kupu malam, begitu? Oh astaga ... Madam! Aku hanya seorang DJ, bukan pelayan kelamin. Aku tidak mau mengambil kesempatan itu, Madam, maaf," tolak Herlin saat ia merasa keputusannya ini terlalu berlebihan.


"Astaga ... kau ini kenapa sok suci sekali? Madam tahu jika dirimu sudah tidak lagi perawan? Benar, bukan? Lalu apalagi masalahnya? Ayolah ... Herlin. Kau ini sangat menarik, bahkan Erick yang menjadi pelanggan setia kita sejak dulu akan menjamin membayar mu ratusan juta hanya untuk semalam. Apa kau masih saja tidak tergiur dengan pekerjaan ini? Lagi pula wanita seperti dirimu sudah tidak akan bisa diterima baik di dalam masyarakat, jadi bekerja di sini dan mendapatkan banyak uang, atau bekerja di luar tapi menjadi bahan gunjingan orang banyak. Pikirkan itu baik-baik, aku memberikanmu waktu sepuluh menit. Temui aku jika kau sudah mendapatkan jawabannya," perintah Madam, sebelum wanita itu pergi.


Membuat Herlin terduduk diam dalam kebimbangan hatinya. Ia merasa frustasi untuk menerima sebuah pekerjaan ini, meskipun tawaran bayaran yang tinggi, tetapi ia takut.


"Jika saja Erick kembali ke sini, itu artinya aku seperti menyerahkan diriku saja. Padahal sejak dulu, aku selalu berusaha menjauh dari berandalan sialan itu, dan sekarang aku tidak memiliki pilihan lain," gumam Herlin yang semakin tidak berdaya.


Tiba-tiba seorang wanita bernama Costa Caroline sebagai teman bekerjanya dulu duduk tanpa diundang, ia lalu memberikan segelas air kepada Herlin.


"Minumlah ini, Herlin. Aku tahu kau sedang berpikir karena tidak sengaja aku mendengar pembicaraan mu dengan Madam Choel. Ada apa? Kau mulai memikirkan harga dirimu sekarang?" tanya Costa yang sudah bekerja di tempat itu selama berpuluh-puluh tahun, ia sekarang tampil begitu cantik dengan tubuh putihnya dan berisi.


"Hei! Kita sebagai perempuan. Bagaimanapun aku juga ingin hidup sederhana dengan memiliki dua anak serta suami, merawat keluarga kecil itu menjadi sebuah idaman yang sangat bahagia, bukan? Costa, kau sendiri sudah menerima job baru dari Madam Choel. Apa kau merasa bahagia?"


"Impian sederhana mu itu cukup aneh, Herlin. Bukan apa-apa, tapi zaman sekarang pria-pria hanya menginginkan kepuasan sesaat apalagi setelah bentuk tubuh kita buruk karena melahirkan. Ayolah ... Herlin, pria bisa saja berselingkuh, dan perempuan bisa apa? Menangis? Bahkan membesarkan dua anak seperti keinginanmu itu cukup membosankan bagiku, dan pertanyaanmu barusan? Ya! Tentu saja aku sangat bahagia dalam dunia malam mu sekarang," jelasnya demi bisa menarik simpati Herlin.


"Itu dirimu, Costa, tapi bukan diriku. Sepertinya aku tidak akan menerima job baru dari Madam Choel. Lebih baik aku kembali bekerja sebagai pengasuh anak," ketus Herlin.


"Tunggu dulu, Herlin. Jangan terlalu tergesa-gesa, Sayang. Ayolah ... kau ini dulunya senior ku, tapi sekarang kau seperti sudah dibutakan oleh kehidupan sederhana setelah menikah. Begini saja, aku hanya ingin tahu, dan tolong kau jawab dengan jujur. Setelah itu aku berjanji tidak akan memaksamu untuk kembali ke dunia malam ini. Katakan padaku, sudah berapa banyak pria yang merusak dirimu? Baik dari kesucian ataupun hatimu. Ayo jawablah," desak Costa.


Pertanyaan tersebut membuat Herlin terdiam, pasalnya ia kembali teringat dengan kedua pria yang sudah berusaha membuat hidupnya menderita. Bahkan penghinaan secara langsung karena keperawanannya telah hilang, ditambah Aland terus saja memaksa.

__ADS_1


"Costa memang benar, menikah bukanlah satu-satunya solusi untuk kebahagiaan, meskipun aku memang menginginkan kebahagiaan sederhana. Tapi mengingat tentang Aland dan Benny ... rasanya aku tidak ingin bertahan di masa sulit seperti sekarang. Bahkan diam-diam Aland tetap merusak diriku, sebenarnya aku hanya ingin Benny seorang menjadi yang pertama untukku. Apa sebaiknya keputusan ini benar? Costa memang terlihat sangat bahagia, dan tubuhnya jauh lebih indah dariku," batin Herlin sampai melamun begitu lama.


Lamunan Herlin buyar saat Costa menyiram memercikkan air ke wajahnya dengan perlahan. "Ayo jawab, Herlin. Aku tidak menyuruhmu bengong."


"Costa, apa mungkin ini benar? Kau tahu, aku bahkan sempat berhenti dari dunia malam ini. Lalu sekarang-"


"Sekarang ataupun nanti kau akan tetap seperti ini jika tidak mendengarkan diriku, Herlin. Ayolah ... hanya sebentar, dan setelah itu kau bisa melanjutkan untuk DJ. Aku akui saat kau yang membawa acara DJ, mereka jauh lebih bersemangat dibandingkan denganku. Jadi tunggu apalagi, Herlin? Buktikan dirimu sekarang!" sahut Costa dengan sangat bersemangat.


"Ya, aku bersedia!" Herlin kembali berteriak keras saat Costa berhasil merayunya. "Kalau begitu aku akan katakan pada Madam Choel dengan keputusan ini."


"Oh santai saja ... Herlin. Biarkan aku yang memanggil wanita tua itu, kau tetaplah duduk di sini, oke!"


"Baiklah, Madam. Jadi, kapan aku mulai bekerja?"


"Besok malam karena malam ini aku melihatmu sangat lesu, pasti sedang tidak enak badan, ya? Jika memang kau ingin istirahat, pakailah kamar tidur di sini dulu."


"Herlin, ayolah ... aku akan mengantarmu ke kamar. Madam, aku juga bisa beristirahat malam ini, kan?"


"Ish kau ini! Ya sudah hanya untuk malam ini saja," sahut Madam Choel dengan terpaksa.


Selepas Herlin dan Costa pergi, raut wajah Madam Choel seketika berubah tajam menatap mereka berdua dari arah belakang.

__ADS_1


"Halo, Tuan Erick. Aku sudah memastikan Herlin untuk kembali bekerja di sini, dan kau bisa mengatur semuanya," ucap Madam dari balik ponselnya.


"Bagus, Madam. Aku akan mentransfer uang perjanjian kita padamu."


"Terima kasih banyak, Tuah Erick." Madam menghentikan panggilannya, namun ia memikirkan sesuatu dalam batinnya. "Maafkan aku, Herlin. Harusnya kau hanya menjadi pembawa DJ, bukan pelayan dengan job baru. Tapi mau bagaimana lagi, aku membutuhkan uang lebih banyak demi bisa memajukan bisnis ku ini."


Di dalam kamar istirahat, Costa dengan sengaja berjaga untuk Herlin karena ia merasa kesepian saat Herlin berhenti bekerja.


"Apa suhu badanmu tinggi? Tapi ternyata tidak, baguslah kita bisa bercerita banyak hal."


"Hei! Kau di sini untuk istirahat bersamaku, bukan mengajakku bergosip, Costa."


"Mau bagaimana lagi, Herlin? Aku merasa sepi dan selalu saja Madam menjadikan diriku yang paling banyak berperan. Ya ... meskipun jobnya lumayan, tapi tetap saja aku merasa lelah, dan butuh teman bicara. Tapi ngomong-ngomong, apa kau punya seorang kenalan pria yang bisa menjadi teman kencanku? Setidaknya berkencan dengannya dalam beberapa waktu yang lama, tapi aku akan tetap bekerja di sini. Hanya untuk sekedar pelampiasan."


"Tunggu sebentar, aku akan berusaha berpikir dulu," sahut Herlin dengan cepat. "Apa lebih baik aku kenalkan Aland dengan Costa? Itu bagus, pria itu juga sangat mesum. Jadi, mereka sangat cocok sekali."


"Aku tahu, dan aku memiliki seorang kenalan. Tapi, kau tidak boleh memberitahukan kalau pekerjaanmu di sini karena bisa saja dia langsung mempermainkan dirimu," ucap Herlin.


"Oh ya? Kenapa bisa begitu?"


"Karena Aland juga berusaha mempermainkan hidupku, Costa. Tapi, kau tidak perlu tahu akan hal ini," batin Herlin yang hanya bisa pasrah.

__ADS_1


__ADS_2