Terjebak Cinta Dua Duda

Terjebak Cinta Dua Duda
Lepaskan Pelukannya


__ADS_3

“Apa yang sedang mereka berdua bicara sekarang? Bahkan Herlin terlihat lebih bahagia ketika di dekat Benny, apa mungkin mereka ada hubungan khusus?" tanya Aland dalam batinnya.


Pertanyaan yang belum bisa terjawab, membuatnya ingin segera mencari tahu akan kebenaran. Namun sayangnya, tiba-tiba saja sebuah panggilan masuk dari perusahaan. Membuat Aland harus segera kembali ke sana dalam waktu yang cepat.


"Sial! Tapi sudahlah, lain kali saja aku bertanya kepada Herlin,“ gumamnya.


***


Herlin baru saja tiba di kediaman Benny, ia masuk ke dalam rumah dengan penasaran yang membingungkan saat tidak melihat orang lain di dalam sana. Padahal kemarin, ia melihat beberapa orang yang lainnya di sini.


“Tuan, kenapa rumahmu sepi sekali? Di mana semua orang?"


"Ah itu ... putriku dan pengasuhnya sedang berada di rumah sahabatku. Putri kecilku itu memang lebih senang di sana karena ada teman bermain seusianya, dan dua pelayan yang lainnya sedang cuti. Masuklah, Herlin."


"Oh, begitu." Herlin masuk tanpa memikirkan banyak hal, tetapi dengan tiba-tiba tangannya di tahan oleh Benny.


“Tunggu dulu, Herlin."


"Ya, ada apa memangnya, Tuan?"


"Bisa ikut denganku sebentar? Aku ingin kau melihat sesuatu."


"Baiklah, Tuan."


Memasuki sebuah ruangan rahasia yang hanya memperlihatkan beberapa lukisan dan keindahan dari setiap kenangan milik Benny bersama masa lalunya dulu.

__ADS_1


Herlin semakin terheran, terlebih ia datang ke sini untuk bekerja. Tetapi sekarang, semakin membuatnya merasa heran. "Kenapa kita harus ke sini, Tuan Benny?"


“Karena ada sesuatu, Herlin. Tapi sebelum itu, bisa tidak untuk memanggilku dengan Benny saja? Kita tidak sedang ada di kantor. Akan lebih baik begitu."


"Ya, baiklah, Tuan. Um ... maksudku, Benny."


“Ayo ke sini sebentar," ajak Benny sembari menggandeng tangan Herlin.


Perlakuan manis dari Benny mampu membuat Herlin semakin membingungkan, meskipun demikian Herlin merasa jika pria ini seperti sengaja ingin menarik perhatiannya. Mengingat dengan semua saran dari Rere, seketika Herlin berusaha untuk semakin dekat, berniat untuk ikut membalas menarik perhatian.


"Kau ingin aku lakukan apa, Benny?" tanya Herlin sembari membalas gandengan tangan dengan membawa tangan Benny merangkul pinggangnya.


"Um, jangan sengaja untuk menggodaku," lirih Benny saat melihat tatapan Herlin yang tanpa berkedip kearahnya.


"Aw! Siapa yang sedang menggoda mu, Benny? Tentu saja tidak." Herlin menjawab dengan berusaha membuat tubuhnya terlihat seksi, dengan ikut mengigit bawahnya secara beraturan.


"Benarkah itu? Atau memang kau berpura-pura merasa tertarik denganku, Benny. Katakanlah jika malam ini kau ingin jadi seperti apa? Karena malam ini, aku milikmu sebagai teman ranjangmu," bisik Herlin dengan perlahan. Deru nafasnya sampai membuat Benny merasa sedikit menggeliat.


"Sungguh, aku tidak sedang berbohong, Herlin. Aku memang mengakui jika mulai detik itu aku merasa nyaman denganmu. Bisakah kau tinggal denganku selamanya?"


"Tentu saja, Benny. Aku akan tinggal di sini, tapi berikan bayaran yang lebih mahal untukku. Kau mau melakukannya?" Herlin bertanya dengan bersikap profesional, meskipun ini baru pertama kali baginya.


"Jangankan menambah bayaran untukmu, Herlin. Aku juga akan menikahi mu," sahut Benny dengan cepat sembari memberikan ciuman hangat dengan penuh kesan nikmat.


Sontak membuat Herlin tidak membalas semua kecupan itu, tetapi ia terdiam sembari menikmati perlakuan Benny. Dalam benaknya, tak pernah terduga bahwa Benny terlihat seperti bersungguh-sungguh untuk menjadikannya sebagai seorang istri, padahal tentang pernikahan sama sekali belum ia pikirkan.

__ADS_1


Ciuman Herlin lepaskan secara paksa dengan tiba-tiba mendorong perlahan dada bidang Benny, seketika membuat pria itu terdiam dalam kebingungan. Terlebih sebelumnya, sikap Herlin begitu menggoda, tetapi perlahan seperti ada benteng besar yang wanita itu perlihatkan.


"Ada apa, Herlin? Kau tidak suka dengan ciuman kita?" tanya Benny sembari kembali mendekat dengan menggenggam erat kedua tangan Herlin.


Tidak berani untuk menatap, Herlin menundukkan kepalanya dengan perasaan yang malu. “Aku hanya merasa sedikit bingung."


"Loh? Bingung kenapa, Herlin? Apakah ada yang salah dengan ucapan ku sebelumnya?"


"Ya, kau sudah salah berucap tentang pernikahan, Ben. Mungkin aku sudah salah mendengarnya. Sudahlah lupakan saja, Benny," sahut Herlin dengan rasa gugup.


Membuat Benny paham, lalu perlahan ia memegang kedua pipi Herlin dengan penuh gemas. Tersenyum hangat sembari memberi satu kecupan di hidung Herlin yang mancung.


"Hei, tidak ada yang salah mendengarnya, Herlin. Aku benar-benar mengatakan tentang pernikahan, dan akan menikahi mu. Sejujurnya aku sangat kesal ketika menyadari jika kau tumbuh dari lingkungan yang tidak aku sukai, terlebih dengan caramu yang berpikir kalau aku akan benar-benar menjadikan dirimu seperti pemuas ranjang untukku saja. Tentu saja, itu tidak benar, Herlin. Meskipun aku mengatakannya, tapi aku bersungguh-sungguh agar kau tidak di sisiku selamanya sebagai istriku, bukan sebagai pemuas nafsuku semata," ucap Benny dengan penuh ketulusan.


Rasa terharu yang tidak pernah Herlin duga sebelumnya mampu membuat air matanya perlahan menetes. Entah mengapa ia merasa seperti bertemu dengan jodoh takdir dalam hidupnya, bukan seorang berandalan yang sering menginginkan tubuhnya saja.


Keadaan itu membuat Herlin merasa tidak percaya diri, hingga perlahan ia membalikkan tubuhnya. "Ben, aku tahu jika mungkin saja kau merasa kasihan atau mungkin karena kau berpikir aku wanita yang paling gampangan. Memang malam itu kita sudah seranjang, tapi jujur saja aku tidak mau kau mengatakan tentang pernikahan, apalagi dengan wajahmu yang polos itu. Kau terlalu baik untukku, sedangkan aku sendiri merasa jijik dengan diriku ini."


"Percayalah bahwa aku pun pernah menerima seorang wanita yang sudah menghancurkan hatiku terlalu dalam, Herlin. Maka dari itu, aku tidak pernah bermain-main dengan wanita yang akan aku nikahi. Setidaknya percayalah padaku, Herlin. Tidak ada rasa kasihan karena aku sudah mencintaimu sejak satu malam itu kita bersama," sahut Benny yang berusaha membuat wanita itu yakin sembari ia memeluk tubuh Herlin dari belakang.


"Tapi, apa kelebihan diriku sampai kau harus yakin mengajakku untuk menikah, Ben? Aku takut akan mengecewakan dirimu. Apalagi orang-orang sudah memandang diriku ini hina, dan sedangkan kau seseorang yang paling berpengaruh di kota ini. Tidakkah kau berpikir itu akan membuat ketenaran mu terguncang olehku?"


Bukannya menjawab, namun Benny semakin mempererat pelukannya sendiri. Berbeda dengan Herlin yang hanya menggenggam tangan Benny dari depan.


"Kenapa tidak menjawab ku, Ben? Sebaiknya lepaskan pelukan ini. Aku takut kau semakin kehilangan akal."

__ADS_1


"Jika aku kehilangan akal karena ingin memilikimu seutuhnya, maka aku akan siap menerimanya, Herlin," bantah Benny tanpa ingin lepas. Sampai membuatnya semakin menggerak-gerakkan kepala di bawah leher Herlin.


"Tidak, Ben. Ini salah, dan aku tidak ingin kau berpikir begitu. Cepat lepaskan pelukanmu, Benny."


__ADS_2