Terjebak Cinta Dua Duda

Terjebak Cinta Dua Duda
Disalahkan


__ADS_3

Sonna dan Halu dengan cepat bangkit sampai keduanya menatap dengan rasa kesal apalagi setelah mendengar akan dinikahkan.


"Udah puas peluk-pelukan nya? Sekarang cepat bereskan mayat wanita ini sekarang!" perintah Benny dengan tegas. Sebelum akhirnya ia melangkah pergi.


"Bereskan cepat tuh! Lihat kan Kak Benny mulai marah? Lo sih enggak mau dengar apa kata gue, cepat pelayan ... bersihkan semuanya, ya," pinta Halu dengan penuh ledekan sembari ia terkekeh kecil sebelum akhirnya berlari agar tidak menerima pukulan dari Sonna yang sudah mulai mengangkat satu tangannya.


"Ish dasar nyebelin! Mana pernah aku bereskan orang mati berdarah-darah seperti ini? Menjijikan! Oh ya ampun ... entah apa mimpi buruk yang sudah terjadi, begitu kacau." Sepanjang bekerja, Sonna terus mengomel dengan sendirinya.


Namun dari kejauhan, Halu masih terus menatap ke arah wanita itu sampai membuatnya tidak sadar senyuman terlihat di kedua sudut bibirnya.


Diam-diam Benny menepuk pundak Halu sembari berbisik. "Udah ... jangan terus dilihatin. Entar malah tambah suka lagi. Mulai jatuh cinta, kan?"


"Dih apa sih? Enggak banget deh suka sama itu cewek. Lagian dia di sini sebagai pelayan, kan?"


"Pelayan bagaimana? Aku enggak bilang dia datang untuk pelayan, tapi jika itu maumu, ya sudah lakukan saja terserah dirimu. Ngomong-ngomong apa sudah ada hasilnya untuk rumah baru kita? Setidaknya setelah membawa Brian dan Bulan pindah sementara ke London, kita juga harus pindah dari sini. Jangan nanti Aland mengetahui kalau putranya telah aku culik," tanya Benny dengan begitu serius.


"Tenang saja, Kak. Gue udah nemu rumah yang cocok buat kita tinggali, dan juga gue lagi coba cari-cari orang yang bakalan beli rumah ini. Jadi, persoalan rumah sudah teratasi, tapi memangnya kapan kita akan memindahkan Brian dan Bulan ke London? Apa itu tidak terlalu cepat? Bagaimana jika mereka merindukanmu?"

__ADS_1


"Aku rasa akan berangkat ke sana sebulan sekali, tapi aku yakin kalau mereka tidak akan merindukanku karena di sana memiliki banyak teman bermain. Ya sudah sebaiknya kamu urus saja semuanya, Halu, dan tetap mengawasi Sonna karena bagaimanapun aku masih belum sepenuhnya percaya dengannya," pinta Erlan sembari berbisik dan mengawasi agar tidak ada yang mendengar rencananya.


"Gue setuju, dan tenang saja. Semuanya akan aman," sahut Halu sembari mengacungkan jempolnya.


"Bagus."


***


Terdengar suara percikan kaca yang begitu keras sampai membuat Herlin terbangun dari tidurnya. Ia segera berlari ke arah kamar Rere, dan ternyata benar kalau wanita itu sudah memecahkan sebuah vas bunga besar dalam amarahnya.


"Ada apa, Tante? Kau baik-baik saja?!" tanya Herlin yang langsung berjalan mendekat. Terlebih ia cemas karena semalaman keadaan Rere sangat berantakan.


"Semalam kau mabuk, Tan, dan aku membawamu pulang ke rumah. Memangnya apa yang sudah terjadi? Kau bisa bercerita padaku, Tante."


"Jangan bersikap sangat peduli denganku, Herlin. Aku tidak butuh rasa pedulimu itu. Jadi, sebaiknya ke luar dari rumahku, se-ka-rang!" usir Rere tanpa ada rasa kasihan.


"Hei! Aku keponakan mu, Tan. Ayolah ... kau bisa menceritakan segalanya. Aku tidak akan meninggalkanmu sekarang," desak Herlin saat ia merasa semakin khawatir.

__ADS_1


"Apa kau ini tuli, hah? Aku sudah bilang agar kau pergi dari rumahku, Herlin. Aku tidak sedang membutuhkan dirimu, apalagi kau sudah merasa nyaman setelah bersama dengan Aland, bukan? Jadi ... pikirkan baik-baik hubunganmu dengan Aland saja daripada mengurusi diriku, bahkan aku sudah meninggalkan kekasihku karena dia hanya mengincar ku agar bisa memilikimu, kau sudah tahu sekarang, kan? Itu sebabnya kau menjadi sebuah beban dan penghalang untukku, Herlin," ungkap Rere sembari tersenyum kecil, namun sesekali ia menangis.


Betapa tidak pernah Herlin duga bahwa Rere rupanya memiliki perasaan terhadap Aland, dan yang lebih parah kekasihnya pergi karena dirinya. Terlihat kebingungan di wajah Herlin, terlebih ia tidak merasa sudah berbuat salah.


"Tante, mungkin saja itu hanyalah salah paham. Kenapa Tante bisa seyakin itu? Bagaimana mungkin kekasihmu bisa mengincar diriku? Pasti dia juga ingin bersamamu, bukan? Ada baiknya kalian selesaikan masalah kalian sendiri daripada harus melibatkan diriku di sini, Tan."


"Benarkah begitu? Kau pikir aku akan mau mabuk-mabukan sampai seperti orang gila yang pulang larut malam terus jalan kaki hanya karena aku merasa sedih akibat di putuskan, begitu? Tentu saja tidak semudah itu, Herlin. Dia sudah mengambil kesempatan untuk meniduri ku, lalu dia melepaskan diriku dengan fakta bahwa dia hanya ingin mengincar mu melalui hubungan kami. Ya, memang awalnya aku tidak begitu mudah percaya seperti dirimu, Herlin. Namun sekarang, itulah kenyataannya. Erick—dia terlalu buruk untuk harus membuatku sakit hati. Padahal, aku sudah berusaha untuk menerima kekurangannya, tapi ternyata berandalan bermotor itu sangat kurang ajar," geram Rere yang langsung membuka semua aibnya sendiri.


"Er—Erick Jonathan, ketus gank motor yang sangat berandalan itu, benar? Tante, jika itu benar aku sungguh kenal dengan sifat buruknya itu." Membuat Herlin begitu terkejut saat ia mendengar kenyataannya.


"Jadi, kau juga kenal dengan Erick? Tapi, aku sangat mengenalnya sebagai Jonathan, meskipun aku baru tahu kalau ternyata nama lengkapnya ada Erick, tapi begitulah dia pria yang sangat buruk."


"Tentu saja, Tan. Aku sangat mengenalnya bahkan sangat! Terlebih kau tidak lupa saat aku bercerita ketika Erick ingin menculik ku setelah pulang kerja larut malam dari bar, bukan? Itu memang dia, Tan. Maafkan aku, tapi mungkin ini salahku sampai kau harus terlibat dengan dirinya. Memang seharusnya aku tidak tinggal di sini denganmu, Tante. Jika saja dulu aku memiliki uang dan bisa menyewa kontrakan, mungkin kau tidak akan mengalami hal seburuk ini, tapi baiklah. Jika memang kau mau aku pergi dari sini, maka aku akan lakukan itu," ucap Rere dengan rasa terpaksa meskipun ia merasa sangat bersalah.


"Memang sudah sejak lama kau pergi dari sini, Herlin. Tapi, aku senang karena kau sudah menyadarinya. Maafkan aku, meskipun kenyatannya sangat pahit, tapi aku tidak ingin mendapat masalah karena dirimu, namun aku mohon dengan sangat jauhi Aland. Seperti yang sudah kau ketahui, dan aku harus berkata dengan jujur padamu bahwa sejak dulu aku memang sangat mencintainya, walaupun rasa itu pernah aku coba kubur dalam-dalam. Namun ... setelah melihatnya kembali, rasa itu tidak kembali datang," pinta Rere dengan tegas.


"Aku tahu, Tante. Memang tidak seharusnya aku mengusik hidupmu, apalagi kau sudah mau merawat ku setelah ibuku tiada, dan itu sudah membuatku begitu berterima kasih. Jadi sekarang, jangan cemaskan diriku, Tante. Aku tidak akan kembali lagi ke sini, dan aku akan mencari pekerjaan supaya jauh dari Aland."

__ADS_1


"Lagi pula, aku masih memiliki janji dengan Elvin. Mungkin ini jalan yang terbaik daripada harus mengusik hidup Tante Rere terus-menerus, apalagi setelah tindakan Erick yang sudah sangat keterlaluan. Jadi lebih baik, untuk tidak membahayakan orang lain lagi," batin Herlin yang terus merasa bersalah.


__ADS_2