Terjebak Cinta Dua Duda

Terjebak Cinta Dua Duda
Siasat Aland


__ADS_3

"Ah tidak ada apapun, Kak Aland. Aku hanya ... sedang mencoba berpikir sesuatu. Tapi ngomong-ngomong, apa kabar tentang Brian sudah ketemu?"


"Orang suruhan ku belum menginfokan apapun, tapi aku merasa curiga dengan seseorang, Leony. Lalu bagaimana denganmu? Apa kau sudah berhasil menyelesaikan yang aku minta? Apa sudah mengetahui wajah asli dari penculik itu?" tanya Aland.


"Um, belum sama sekali, Kak Aland. Tapi, aku akan terus berusaha untuk bisa mencari keberadaan Brian. Tenanglah, Kak." Leony berusaha memastikan agar membuat Aland tidak menaruh kecurigaan padanya.


"Sampai Halu menemui ku dulu, maka aku tidak akan memberitahukan Kak Aland. Tapi, jika dia sampai menolaknya, maka aku sendiri yang akan memberitahukan dirinya," batin Leony yang lebih mementingkan dengan keperluannya sendiri.


"Aku masih tetap tidak bisa tenang, Leony. Brian tidak pernah pergi jauh, itu sebabnya aku semakin tidak tenang apalagi usainya masih terlalu muda untuk mengetahui kejamnya dunia. Hanya saja ... aku mencurigai seorang musuh di masa laluku dulu, walaupun mungkin saja bukan dia, tapi sampai sekarang hanya dirinya lah yang menjadi musuh terbesarku."


"Siapa orang itu, Kak Aland?"


"Benny. Aku sangat mencurigainya apalagi setelah beberapa waktu pernah bertemu kembali dengannya. Dengan begitu, aku semakin tidak tenang memikirkan tentang ini. Apalagi setelah mendapat kabar kalau berandalan sialan itu sudah pindah rumah. Semakin jelas terlihat bahwa dia memang yang sudah berada di balik semua ini," jelas Aland.


"Tapi, bagaimana kalau semua itu benar, Kak Aland? Maksudku bisa saja kalau bukan dia pelakunya."


"Apa yang sedang kau pikirkan, Leony? Tidak biasanya kau berpikir kepada orang lain apalagi dengan musuhku sendiri. Rasanya kau seperti sedang menyembunyikan sesuatu dariku, katakan apa itu?!" Dengan tiba-tiba sikap Aland mulai berubah hingga ia membentak dengan keras.


Seketika membuat Leony terkejut di saat ia merasa kalau emosi Aland sedang tidak stabil. Ingin segera pergi, tetapi tangan Leony dengan cepat dihentikan oleh pria itu.


"Kau mau ke mana? Apa kau berpikir aku tidak mendengar setiap percakapan mu dengan Halu? Leony, kenapa kau harus berpura-pura berbohong padaku?!" tanya Aland dengan ketusnya.

__ADS_1


"A-aku sama sekali tidak berniat untuk melakukan hal itu, Kak Aland. Tapi, bagaimana bisa kau mengetahui kalau aku berbohong? Sejak tadi aku hanya duduk di sini sendirian, dan tidak ada alat perekam di ruangan ini." Leony merasa ketakutan hingga ia berniat gelagapan, namun masih saja membuatnya merasa sangat penasaran.


"Kau pikir aku bodoh? Sejak tadi kau duduk di depan layar komputer ini, aku sudah memasang perekaman suara saat kau melakukan segalanya untuknya. Jadi, berpikirlah dua kali untuk harus menipu diriku, Leony. Katakan padaku, apa memang benar kalau pria yang sedang kau taksir itu juga terlibat dalam kasus penculikan putraku? Jika memang kau berusaha melindunginya, maka lindungi saja dia, tapi tidak dengan Benny."


"Kak Aland, aku masih tidak tahu siapa pelaku yang sebenarnya." Leony masih terus mengelak, namun tangan dengan lebih kuat digenggam oleh Aland sampai memerah.


"Apa kau ini bodoh hah? Kau pikir aku akan dengan mudahnya percaya setelah kau berusaha menipu diriku, Leony? Setelah kakakmu—Herlin, dan sekarang kau yang ingin menipuku, begitu? Cepat lacak di mana alamat tinggal Halu. Aku sendiri yang akan menemuinya segera," perintah Aland tanpa bisa membuat gadis itu menolak.


Menelan ludah ketika rasa sakit berusaha ia tahan, terlebih ketakutan terbesar di saat Aland sudah marah total. Leony mulai membuka kembali layar monitornya dengan tangan bergetar, namun ia sedang memikirkan sesuatu.


"Menolak sama saja dengan memberikan maut ku kepada Kak Aland, tapi aku pun tidak bisa membiarkan Halu terancam karena kemarahan dirinya. Bagaimanapun caranya aku harus lebih dulu mengirimkan pesan supaya Halu membatalkan pertemuannya denganku," batin Leony dengan rasa bersalah.


Leony mulai bekerja sampai Aland bisa mengetahui alamat tinggal Halu yang baru. Ia merasa senang dengan cara kerja Leony yang terlalu cepat.


Kepergian Aland membuat Leony dengan cepat menghubungi kembali ke arah Halu, namun sayangnya panggilannya sama sekali tidak terjawab.


"Halu, Please! Jawab teleponku. Aku mohon ...." Leony semakin merasa cemas sampai ia tidak tahu harus melakukan apa. Terlebih ia sadar tidak akan bisa menemui pria itu jika Aland sedang bergerak ke sana.


Mau tidak mau, ia segera mengirimkan sebuah pesan setelah beberapa kali panggilan tidak terjawab.


Terdengar suara getar ponsel saat Sonna ingin mengambil barang-barang mereka, namun ia baru sadar kalau sejak tadi ponsel Halu terus berbunyi dari dalam mobil.

__ADS_1


"Pesan masuk? Dari siapa malam-malam begini," gumam Sonna sembari membukanya.


Seketika membuat Sonna terkejut di saat ia melihat isi pesan yang berisi. "Halu, pergilah sejauh mungkin untuk malam ini karena Aland sedang menuju ke tempatmu setelah dia mengetahui kalau kau ikut terlibat dengan penculikan putranya."


"Oh astaga ... kenapa Leony sampai membocorkan masalah itu dengan Aland? Aku tahu bagaimana Aland jika sudah marah, dia pasti akan sangat berbahaya. Tapi, aku harus cepat membawa Halu bersembunyi," gumam Sonna dalam kecemasannya.


Terlihat Halu sedang mengeringkan rambutnya setelah ia membersihkan diri dengan pakaian seadanya. Namun tanpa permisi, Sonna segera menarik pria itu untuk ikut berlari dengannya.


"Hei! Ada apa, Sonna? Aku bahkan memakai baju dengan benar." Halu terlihat kebingungan, namun ia tetap ikut berlari saat tangannya terus ditarik secara paksa.


"Nanti akan aku ceritakan, tapi kita sebaiknya bersembunyi. Ayo kita masuk ke dalam ruangan bawah tanah," ajak Sonna dengan paksa.


Tidak membantah sampai keduanya berdiam diri di bawah sana. Sonna masih sangat ketakutan meskipun ia tidak tahu semua kebenarannya.


"Cepat katakan yang sebenarnya padaku, Sonna?" tanya Halu dengan tidak sabar.


"Aku baru mendapatkan pesan dari Leony saat aku ingin mengambil ponselmu tadi. Ternyata Aland sedang menuju ke mari karena dia sudah memberitahukan tentang kau yang ikut terlibat dengan penculikan Brian. Itulah sebabnya aku tidak bisa mempercayai siapapun dari mereka."


"Jadi, Leony melanggar janjinya? Padahal, ini belum waktunya kita untuk bertemu dengan gadis itu, lalu kenapa dia berusaha menjebak ku sampai meminta Aland ke sini?" Sama-sama terlihat bingung hingga membuat Halu mulai salah paham memikirkan tentang Leony.


"Aku sudah bilang, kita tidak bisa mempercayai mereka, dan inilah akhirnya. Sebagai buronan saja sampai kita harus bersembunyi sekarang. Halu, aku takut sekali ... sekarang hanya kau yang bisa aku percayai, ditambah hubungan kita baru saja dekat dalam beberapa saat, tapi sudah mendapatkan ancaman seperti ini," jelas Sonna sembari memeluk pria itu dengan erat.

__ADS_1


"Kau benar. Harusnya setelah mendapat telepon dari Leony, kita langsung mematikan ponsel agar tidak bisa dilacak, tapi sekarang semuanya sudah terlambat. Lalu apa kau membawa ponselku bersama, Sonna? Lebih baik kita memberitahukan hal ini kepada Kak Ben."


__ADS_2