Terjebak Cinta Dua Duda

Terjebak Cinta Dua Duda
Keguguran


__ADS_3

"Tapi, aku takut terjadi sesuatu dengan Herlin, Halu. Biarkan aku menemui Aland secara langsung sekarang, baik adanya pertengkaran atau tidak, tapi yang jelas aku harus tahu apa yang sedang terjadi dengan Herlin," sahut Benny yang terlihat begitu gegabah.


"Gue tahu kalau lo sangat cemas dengan keadaan Herlin, Kak Ben. Tapi, saling membunuh di rumah sakit hanya akan membuat orang lain melihat kalian berdua seperti orang bodoh, apalagi itu akan membuat reputasi lo berantakan. Berhentilah untuk bersikap buruk. Lebih baik kita mengintainya secara langsung dari sini, atau jika perlu tanyakan kebenarannya kepada dokter di sana nanti setelah dokter itu ke ruangannya," saran Halu Clayton demi keamanan mereka.


"Baiklah." Benny memilih pasrah, meskipun hatinya sangat tidak tenang.


"Ya, tunggu di sini dulu. Biar gue yang ke sana lebih dulu."


Melihat Aland dan Leony yang sedang menunggu dengan cepat, sampai tiga puluh menit lamanya sang dokter pun ke luar.


"Apa yang menjadi penyebab pendarahannya itu, Dok?" tanya Aland dengan begitu panik.


"Karena keguguran, Tuan. Karena terlalu cepat melakukan hubungan suami dan istri, jadi istri Anda dengan terpaksa kami kabarkan sudah terjadinya keguguran dalam kehamilan yang baru kami periksa sekitar dua Minggu. Lebih baik istri Anda harus dirawat intensif sampai benar-benar sembuh."


"Apa? Keguguran?!" Membuat Aland dan Leony sama-sama terkejut hingga saling menatap satu sama lain.


"Benar, Tuan. Kalau begitu saya harus kembali mengobatinya dulu." Dokter kembali berjalan masuk.


"Baik, Dok."


Aland terdiam sembari melirik ke arah Leony, namun ada sesuatu yang sedang ia pikirkan. "Apa sebaiknya aku tanyakan saja hal ini pada Leony? Sebaiknya, ya. Daripada aku mati penasaran."


"Um ... apa sebelumnya kakakmu pernah menceritakan tentang kekasihnya padamu? Maksudku, bagaimana mungkin Herlin bisa sampai keguguran jika tidak berhubungan dengan siapapun," tanya Aland meskipun ia sedikit segan.

__ADS_1


"Entahlah, Kak Aland. Aku pun tidak tahu banyak hal tentang Kak Herlin, begitupun dengan masalahnya. Tapi, kenapa kamu harus bertanya seperti itu padaku? Bukankah kalian ini pasangan suami dan istri? Atau jangan-jangan ... kalian sudah menipuku, ya?" Leony mulai terlihat curiga.


"Aduh ... pakai acara nanya lagi. Harusnya tidak perlu. Apalagi Leony mau tinggal dengan kami karena berpikir aku ini suaminya. Karena sudah keceplosan, bagaimana mungkin aku bisa kembali berbohong padanya?" batin Aland sembari mengusap wajahnya.


"Katakan yang sejujurnya padaku, Kak? Kenapa malah menyembunyikan wajahmu? Usiaku baru saja dewasa, jadi masalah ini bukan lagi hal aneh bagiku. Katakan saja apakah benar kalau Kak Herlin keguguran bukan dari hasil hubungan kalian?" tanya Leony dengan terburu-buru tanpa ingin adanya kebohongan.


"Um, ya memang Herlin bukan istriku, melainkan dia hanyalah pengasuh Brian. Tetapi, kami berdua sepakat membohongi dirimu agar kau mau tinggal dengan kami. Maafkan aku, Leony. Sebenarnya ini ide dariku, jadi bukan salah kakakmu," sahut Aland dengan terpaksa.


"Wah-wah ... ternyata aku memang tidak salah, apalagi saat tidak melihat satupun foto pernikahan kalian berdua. Meskipun begitu, aku senang karena kakakku bersama denganmu, Kak Aland. Aku harap setelah keguguran nya ini, kau tidak berusaha meninggalkan dirinya." Leony terlihat bahagia tanpa ada rasa marah sedikitpun.


"Jadi, kau setuju jika seandainya Herlin menikah denganku?"


"Tentu saja, Kak Aland. Tanpa kalian berusaha berbohong pun, aku juga tidak akan menolak jika itu kebahagiaan dari kakakku sendiri."


"Terima kasih banyak, Leony. Nanti masuklah dulu ke dalam saat Herlin sudah sadar, aku akan mencari makanan untuk kita."


Aland melangkah pergi, ia ingin memilih untuk menyendiri.


"Aku rasa keguguran itu karena ulah ku semalam, tapi aku sungguh tidak menduga jika Herlin sedang hamil. Apa mungkin Herlin juga tidak tahu apapun tentang kehamilannya ini? Tapi mungkin benar, dan pastinya keguguran itu berasal dari hubungannya dengan Benny. Kurang ajar! Mengingat namanya saja darah tinggiku mulai naik," gerutu Aland dalam batinnya sampai membuatnya mengepalkan tangan dengan erat.


Tanpa ia sadari, Halu sudah mendengar semuanya sembari merekam pembicaraan mereka dengan dokter. Ia langsung bergegas menemui Benny yang hanya menunggu kabarnya.


"Bagaimana? Apa yang kau tahu?" tanya Benny dengan sangat terburu-buru.

__ADS_1


"Um, gue takut ngomongnya sama lo, Kak. Mendingan sekarang lo lihat sendiri hasilnya. Tadi udah gue rekam kok," sahut Halu sembari memberikan ponselnya.


Membuat Benny tidak sabar untuk mengetahui segalanya, terlebih ia merasa takut jika Herlin terluka. Saat semuanya sudah terungkap, hatinya mendadak kesal. Lalu tiba-tiba membanting ponsel Halu dengan kasar hingga ponsel tersebut tidak lagi berbentuk utuh.


"Lah bangsat! Ngapain malah banting ponsel gue? Kampret banget lo, ya. Gue enggak mau tahu pokoknya harus ganti rugi," kesal Halu saat ia memungut kembali ponselnya yang sudah retak.


"Halu, cepat bawakan Aland padaku sekarang! Masalah ponselmu, itu gampang. Aku tidak mau tahu kalau Aland harus menerima ganjaran ku. Jika memang Herlin telah keguguran, itu artinya dia hamil anakku karena saat itu aku melihat darah perawan setelah kami melakukan semuanya," perintah Benny tanpa memikirkan resikonya.


"Heh, Kak. Mendingan sekarang lo sendiri yang temui Aland. Gue kesal sama lo," ketus Halu lalu berjalan pergi saat ia merasa sudah semakin ikut-ikutan dalam urusan percintaan yang terlalu besar.


Belum sempat adiknya pergi, tiba-tiba Benny menarik kerah baju belakang Halu sampai adiknya menoleh ke belakang.


"Apalagi sih?"


"Lakukan yang aku perintahkan, atau jika tidak ponselmu tidak akan kembali utuh lagi," ancam Benny.


"Astaga ... gue makin enggak habis pikir, Kak. Udah gue bilangin kalau perkelahian enggak bakalan bisa buat lo rebut Herlin atau apapun lah itu. Jika memang Herlin keguguran karena si brengsek itu, maka lo harus bermain akal. Kalau makin memaksa buat ke sana, berarti kostum murahan ini mendingan enggak usah dipakai saja sekalian!" bentak Halu lalu memilih duduk diam ketika ia merasa bosan akan sikap kakaknya yang terkadang sulit menahan diri.


"Tapi, aku tidak bisa berdiam diri di sini terlalu lama dan melihat Herlin semakin terluka, Halu. Awalnya dia tiba-tiba diajak berbohong menjadi suami dan istri, lalu sekarang keguguran. Setelah itu apalagi? Jangan sampai ada pertumpahan darah kematian kembali, karena itu akan membuatku benar-benar berniat untuk membalaskan dendam lima tahun yang lalu, bahkan jika perlu dengan keturunannya juga."


"Gue tahu lo lagi kesel, Kak. Udah sekarang mendingan buka mulut terus lo makan tuh roti!" kesal Halu saat memasukkan sepotong roti dengan paksaan ke mulut kakaknya.


Benny yang sedang dilanda amarah, tiba-tiba matanya melotot ketika roti berada di mulutnya. Lalu memilih untuk mengunyahnya.

__ADS_1


"Diam itu emas, Kak. Enakkan rotinya?" tanya Halu yang terlihat seperti tidak ada masalah apapun.


"Baapack low yang enak. Kapan beli rotinya? Sini bagi lagi," pinta Benny saat mulutnya masih terlalu penuh.


__ADS_2