
"Baiklah, Pak Aland. Kali ini aku setuju, tapi untuk sementara," sahut Herlin tanpa ada pilihan yang lain.
"Tidak mengapa, tapi bisakah jangan terus panggil aku dengan sebutan pak, Herlin? Itu akan membuat adikmu semakin tidak percaya."
"Ya sudah, Mas Aland. Kau suka? Atau aku panggil dirimu dengan suamiku tersayang, begitu?"
Seketika membuat Aland tersenyum kecil. "Aw manis sekali, tapi terserah dirimu saja, Herlin."
"Baiklah, Mas. Ayo kita masuk sekarang. Jangan sampai adikku merepet karena kita semakin terlambat."
"Itu pasti."
Leony terlihat cemberut saat Herlin dan Aland masuk ke ruangan inapnya. Dengan sebuah koper kecil yang sudah berada di bawah kakinya.
"Apa harus selalu terlambat? Kakiku sudah pegal terus di sini sejak tadi, Kak Herlin," tanyanya yang langsung mengomel.
"Ayolah, kau ini jangan terlalu banyak memarahi diriku. Pekerjaanku banyak, jadi aku baru saja tiba di sini," sahut Herlin dengan cepat.
"Ya-ya baiklah, aku mengerti. Meskipun kau selalu saja terlambat dan lelet dalam urusan apapun, tapi aku ta--ka—kalau ... Kak Herlin, tanganmu menggandeng pria ini. Siapa dia?" Seketika Leony terkejut saat pandangannya teralihkan ke arah Aland.
"Aku suaminya, Aland Dayton. Salam kenal adik ipar," sahut Aland dengan sangat cepat. Sampai membuat ucapan Herlin tidak jadi terucap.
"Kau suaminya?" Leony merasa sangat terkejut, ia sampai menunjuk dengan mulutnya terbuka.
"Y—ya tentu saja, Leony. Aku dan Mas Aland sudah menikah. Namun, kami menikah dengan cara yang sederhana, jadi maafkan aku jika tidak memberitahukan dirimu terlebih dahulu. Bagaimanapun juga kau sedang tidak sadar saat itu," timpal Herlin dengan sedikit gelagapan.
"Kalian serius?!"
"Tentu saja, Leony. Jangan lupakan bahwa kami berdua juga saling mencintai," jawab Aland dengan sangat percaya diri sembari melirik ke arah Herlin dengan penuh senyuman ramah.
__ADS_1
"Oh ... ya ampun! Entah berapa lama aku tidak sadar sampai kalian memberikan aku kejutan. Kak Herlin, aku tidak tahu harus memberikan hadiah pernikahan apa untukmu, tapi selamat untuk kalian berdua. Mungkin ... dalam keadaan diriku yang seperti ini, hanya inilah yang bisa aku katakan untukmu, Kakak." Dalam keterkejutan, Leony berusaha tersenyum kebahagiaan atas apa yang telah kakaknya raih.
"Setidaknya sekarang Kak Herlin tidak perlu bersusah payah untuk mencari uang menafkahi kamu berdua. Semoga pria itu benar-benar mencintai kakakku seperti yang sudah aku dengar," batin Leony yang langsung memberi restu.
"Terima kasih banyak, Leony. Aku tidak mengharapkan hadiah pernikahan yang lain selain dengan kesembuhan dirimu saja. Ya sudah ayo sekarang kita pergi. Kita berdua akan tinggal di rumah suamiku," ajak Herlin.
"Eh tidak perlu, Kak Herlin! Kalian baru menikah, jadi lebih baik aku tinggal dengan Tante Rere saja. Lagi pula operasi ku telah selesai, maka sebaiknya aku tidak ingin merepotkan mu lagi, Kak."
"Leony, jangan katakan seperti itu karena kau adalah tanggung jawabku. Lagi pula Tante Rere tidak bisa merawat mu karena dia harus bekerja. Sebaiknya jangan egois, cepat ikutlah denganku," paksa Herlin sembari memegang tangan adiknya.
"Tapi, Kak-"
"Jangan membantah yang kakakmu katakan, Leony. Ini demi kebaikanmu dan kita semua. Lagi pula di rumahku ada keponakan mu. Jadi, tidak akan kesepian," sahut Aland demi bisa membujuknya.
"Ya sudah kalau begitu, Kak Aland. Aku akan ikut."
Leony tidak lagi membantah, namun di saat dalam mobil. Ia terus menatap ke arah Aland dan Herlin yang berada di depannya. Terlebih ia tahu bahwa kakaknya dulu tidak memiliki kekasih, tetapi dengan tiba-tiba kabar pernikahan terdengar.
"Aku masih penasaran dengan pernikahan Kak Herlin. Rasanya tidak akan mungkin sekali kakakku mengadakan sebuah acara pernikahan di saat aku masih terbaring koma. Mustahil sekali, jika bukan karena sudah terjadi sesuatu. Apa jangan-jangan dia sudah hamil anaknya?" batinnya yang terus berpikir buruk.
Pemikirannya itu masih berlanjut saat tiba di kediaman Aland. Tepat ketika Herlin ingin melangkah masuk, tiba-tiba Leony menarik tangan kakaknya.
"Tunggu dulu, Kak."
"Ada apa?"
"Jujurlah denganku, Kak Herlin. Apa kau sedang hamil?" tanya Leony sembari mengarahkan telinganya mendekati perut Herlin.
"Apa kau sudah tidak waras? Bagaimana mungkin bayi di dalam kandungan akan terdengar ke luar saat perutku rata seperti ini. Sudahlah jangan berpikir aneh-aneh. Sekarang masuklah cepat, Leony," bantah Herlin sampai membuat kepalanya bergeleng ketika melihat sikap adiknya.
__ADS_1
"Ish, Kak! Aku kan cuma ingin tahu. Siapa tahu saja kau sudah hamil karena terlebih pekerjaanmu itu sangatlah berbahaya untuk wanita."
"Jaga ucapan mu, Leony, dan jangan terus mengoceh. Aku akan masuk lebih dulu." Herlin segera melangkah pergi, meskipun adiknya masih dalam kebingungan.
"Hmm ... aneh dan sangat aneh. Aku bahkan belum bisa percaya hal ini sepenuhnya," imbuhnya perlahan.
"Apanya yang aneh?" Tiba-tiba terdengar sebuah pertanyaan dari arah belakang.
"Siapa anak kecil ini? Kau siapa?" tanyanya sembari menoleh ke arah Brian.
"Namaku Brian, dan aku adalah pemilik dari rumah ini. Papaku Aland, lalu kau siapa?" tanya Brian dengan menyilang kedua tangan di dadanya.
"Oh ... jadi, kau anak dari pria itu? Aku adalah adik kandung dari istri papamu."
"Ternyata ... Kak Herlin menikah dengan seorang duda. Ya ampun, pantas saja rumahnya semewah ini, tapi aku sama sekali tidak melihat foto pernikahan mereka di sini," batinnya.
Brian yang belum begitu paham dengan maksud dari seorang istri, ia terlihat kebingungan. Tetapi tidak dengan Leony yang mulai berjalan menjelajahi setiap sudut ruangan rumah Aland.
"Tuh kan benar yang aku bilang. Tidak ada satu pun foto yang dilekatkan di dinding. Pernikahan macam apa itu? Padahal kenangan menjadi sebuah hal yang paling berharga," gumam Leony yang tidak menyadari saat dirinya diikuti oleh seseorang.
"Foto siapa maksudmu? Dan kau kenapa tiba-tiba masuk ke rumah ini?" tanya Lena dengan cepat.
"Eh! Mengejutkan ku saja. Kau yang siapa, Nenek? Sedangkan aku adalah adik ipar dari suami kakakku—Herlin," sahut Leony dengan semangat.
"Kau pikir aku nenekmu? Semuda ini kau panggil diriku nenek? Lancang sekali kau. Panggil aku dengan Bibi Lena, bukan Nenek Lena karena di sini aku sebagai ketua pelayan. Lalu tunggu dulu, apa katamu tadi? Ipar dari suami kakakmu? Maksudnya ... Herlin?" Sampai membuat orang lain terheran.
"Ya, lalu siapa lagi? Tentu saja kakakku. Oh, kau ini seorang pelayan. Maka aku yang lebih berkuasa," ketus Leony saat ia merasa tidak suka dengan sikap wanita paruh baya itu. Lalu melangkah pergi tanpa berpamitan.
Membuat Bibi Lena menatap tajam ke arah Leony sembari bergumam. "Dia sepertinya gadis yang nakal, bahkan ucapannya ceplas-ceplos tanpa tahu sopan santun. Tapi ngomong-ngomong, kenapa dia mengatakan tentang iparnya Tuan Aland? Apa jangan-jangan mereka telah menipunya? Hanya saja ... Jika itu benar, maka kabar ini sangat bagus."
__ADS_1