
“Herlin, aku tidak akan mungkin seperti ini jika tidak sungguh-sungguh ingin menikah denganmu. Tolong, percayalah padaku ...." Benny terus memohon sampai membuat wajahnya terlihat lesu ketika wanita itu seperti menyepelekan ketulusannya.
Dengan perlahan Herlin menggelengkan kepalanya, ia masih belum siap untuk harus dijadikan sebagai pelampiasan semata. “Maafkan aku, Ben. Tapi mungkin, aku belum siap. Terlebih aku datang padamu sebagai seorang pelayan nafsumu semata, tidak untuk menikah. Aku malu dan merasa tidak pantas untuk menerimanya."
Dengan cepat Herlin berlari tanpa mengingat tas ranselnya tertinggal. Benny ingin mengejar, tetapi pria itu tiba-tiba melirik ke arah tas tersebut.
"Mungkin aku masih bisa alasan untuk bertemu denganmu setelah ini, Herlin," gumamnya sembari memegang tas tersebut.
Berbeda dengan Herlin yang terus berlari, tetapi tiba-tiba ia tergelincir. Terduduk dalam rasa sakit yang sulit ia pahami. Lalu kembali menangis dengan tiba-tiba.
“Aku merasa diriku sangat hina, lebih baik aku tidak perlu lagi datang ke sini," imbuhnya dalam hati.
“Jangan pergi, Herlin! Apa kau ingin melupakan tas dan ponsel berharga mu juga?" Benny berteriak keras sembari turun dari tangan dengan penuh kemenangan.
Niat untuk kabur jadi terhenti, Herlin segera menghapus air matanya, dan berniat untuk merebut tas ranselnya. Namun sayangnya, Benny lebih cepat bergerak untuk memeluk sekaligus mengecup paksa kedua pipis Herlin tanpa hentinya.
Sampai membuat wajah Herlin tersipu malu, dan tersenyum manis ketika ia merasa sulit untuk menghentikan diri.
"Ben, jangan terus menggodaku," tolak Herlin, tetapi wanita itu tidak ingin bergerak.
"Oh ya? Apakah kau sekarang benar-benar tergoda?" tanya Benny dengan sengaja. “Baiklah sekarang terima godaan selanjutnya ini, Herlin."
Dengan sangat bertubi-tubi Benny merampas paksa tubuh Herlin yang sudah mulai melemah. Tak kuasa menahan diri, tetapi niatnya yang paling utama tidak akan terhenti.
"Menikahlah denganku, Herlin," tanya Benny dengan bisikan manja sembari kedua tangannya terus bergerak cepat untuk merampas kedua gundukan daging yang siap untuk disantap.
"Aah ... aku, Ben, aku tidak kuat, tolong ...." Memohon dengan mata terpejam saat Herlin sudah sepenuhnya dikuasai oleh pria itu.
__ADS_1
"Yeah ... tolong apa, Sayang?" Benny bertanya, tetapi tubuh Herlin sudah terlepas dari semua penghalang.
Meninggalkan seluruh pakaian Herlin begitu saja di lantai ruang tamu, dan segera menggendong wanita itu ke kamar. Kesempatan yang bagus untuk Benny yang ingin segera memasangkan kalung berlian miliknya.
Tugasnya berhasil, dan penuh kebahagiaan Benny telah memilih Herlin menjadi pendampingnya.
"Kau milikku, Sayang, hanya milikku," bisik Benny dengan semakin membuat Herlin lemah tak berdaya akan sentuhan manja darinya.
Malam itu menjadi bukti kembali untuk Herlin dan Benny, sampai ia melihat ke seluruh ruangan kamar yang diisikan dengan kaca. Memperlihatkan setiap gerakan Benny yang kuat, dan Herlin menyadari jika ia telah pasrah dengan pria ini.
"Kau yang pertama untukku, Ben. Aku ... mulai menyukaimu juga," batinnya sembari menjambak rambut Benny yang sedang bergerak seorang diri di bawah sana tanpa berani mengatakannya secara langsung.
Kini Herlin sudah bisa mengendalikan dirinya saat ia yang mulai mengambil posisi untuk bergerak dengan keinginannya sendiri. Menjadikan malam yang indah itu sebagai kenangan terbaru bagi keduanya, hingga tanpa terduga Herlin lebih dulu terlelap pulas.
Mengusap pipi Herlin yang sedang mengarah sembari memeluknya dalam selimut tebal, Benny tersenyum terlebih saat melihat kalung berlian telah dipakai.
***
Di sisi yang lain, Aland sudah hampir satu jam lebih menunggu agar Herlin ke luar dari rumah Benny. Ia dengan sengaja kembali mengikuti kepergian mereka saat tugasnya di perusahaan telah selesai.
Membuat Aland merasa cemas ketika Herlin tak kunjung terlihat, ingin segera memaksa masuk ke dalam, tetapi Aland tidak mau jika wanita itu sampai besar kepala karena kecemasannya.
"Ya ampun ... siapa yang harus aku hubungi sekarang? Bahkan putraku juga sudah mengirim pesan padaku. Jika sampai lima menit lagi Herlin tidak ke luar, maka lihat saja hukumannya besok. Sudah lalai dengan pekerjaannya, dan sekarang ia berusaha bermalam di rumah bedebah itu," geramnya.
Lima menit selanjutnya akhirnya telah lewat, namun Herlin masih belum terlihat. Aland pun teringat dengan seseorang.
"Rere, di mana kau sekarang?" tanyanya setelah panggilannya terjawab.
__ADS_1
"Aku di rumah sakit, Aland. Ada apa memangnya?"
"Apa keponakanmu itu berkencan? Aku bahkan melihatnya masuk ke dalam rumah Benny. Kau tahu sendiri jika aku paling tidak suka dengan pria itu, kan?"
Rere yang sedang terdiam, ia pun teringat bahwa Herlin memang ada pekerjaan. “Aku sampai lupa membuat Herlin gagal dengan pekerjaannya malam ini terhadap Aland. Namun sekarang dia sudah menemukan Herlin di sana. Ini benar-benar gawat!"
Panggilan terus berlanjut, namun Aland semakin tidak sabar. "Hei, kenapa malah diam begitu saja, Rere? Apa yang kau pikirkan? Jika keponakanmu seperti ini di hari pertama kerjanya, maka dia harus segera membayar ganti rugi atas pengobatan rumah sakit adiknya. Namun jika tidak, aku bisa menyeret Herlin ke luar dari rumah pria itu, kau dengar!"
"Jangan seperti itu, Aland! Tenangkan dirimu terlebih dahulu. Aku akan segera datang ke sana, kau tetaplah menunggu di sana," sahut Rere dengan cepat.
Panggilan terhenti, namun Aland tidak mendapatkan jawaban yang ia inginkan. "Sial! Apa sebaiknya aku masuk ke dalam sana saja? Tapi, lewat mana? Apa harus memanjat seperti kera?"
Rasa penasaran yang tinggi membuat Aland nekat untuk segera turun dari mobilnya. Perlahan ia berjalan ke ara pagar besi sembari melirik ke segala arah, takut jika ada orang yang melihatnya.
"Bagaimana mungkin aku bisa masuk? Apa sebaiknya aku dobrak saja dengan mobilku? Ah tapi tidak, itu sangatlah beresiko sekali."
Berharap bisa mendapatkan cara, Aland berusaha berkeliling untuk memantau hingga ia menyadari jika malam itu tidak ada seorangpun penjaga yang berjaga di luar. Membawa mobilnya lebih dekat dengan arah pagar, dan berniat untuk segera naik.
Tetapi tiba-tiba saja mobil Rere datang dan menghentikan ulah Aland. Wanita itu segera berlari mendekat.
"Apa yang sedang kau lakukan di sini? Jangan bilang kalau kau ingin masuk ke sana."
"Memang benar. Lagi pula tujuanmu ke sini untuk apa?"
“Ayolah, Aland Dayton. Kau ini seorang pengusaha sukses, lalu bagaimana jika tetangga disebelah melihatmu diam-diam ingin masuk ke dalam sana? Hei, aku bisa pastikan bahwa mungkin mobilmu akan selamat, tapi tidak dengan nyawamu kalau sampai di keroyok orang massal." Rere berusaha menakut-nakuti.
"Jaga bicaramu, Rere. Suaramu yang cerewet itu yang bisa membuatku ketahuan. Sudahlah kau diam saja. Aku tahu jika Herlin ada di dalam rumah ini, jadi kau duduk dan mengawasi orang yang lewat, mengerti?" pinta Aland seraya kembali berusaha untuk memanjat pagar.
__ADS_1
Sungguh tidak bisa Rere percayai, hingga membuat dirinya menepuk jidat sembari berkata. "Astaga ... sudah makan apa kau, Aland? Pergi dari sini, atau aku sendiri yang akan berteriak. Memangnya apa urusanmu jika Herlin atau tidak di dalam sana? Dia juga bukan siapa-siapa dirimu, kan? Lantas, apa kau mulai menyukainya?"