Terjebak Cinta Dua Duda

Terjebak Cinta Dua Duda
Pandangan Pertama


__ADS_3

Mata Sonna terpenjam saat suara tembakan terdengar begitu menakutkan, ia sampai menunduk. Namun ternyata, tidak ada satu pun tetesan darah yang terlihat dari tubuhnya. Berusaha memeriksa ke sekujur tubuhnya, tetapi tidak ada yang terasa sakit.


"Ben, aku tidak terlu-" Mata Sonna melotot sampai ucapannya terhenti di saat ia melihat seorang pengasuh bayarannya yang sudah tewas di tempat.


Membuatnya menelan ludah ketika ancaman Benny yang tidak sedang bermain-main. "K-kau tidak jadi menghabisi diriku, Ben?"


"Ini baru peringatan pertama bagimu karena kau sudah mengkhianati diriku, tapi aku masih memerlukan dirimu. Jadi, pengasuh bayaran itu yang akan terkena imbasnya, namun bisa saja kau juga akan terluka jika sewaktu-waktu ingin bermain-main denganku, Sonna," ucap Benny setelah berpikir jernih.


"Aku sangat berterima kasih karena kamu sudah mau membebaskan diriku, Benny. Tapi, aku berjanji kalau setelah ini aku akan menuruti semua permintaanmu, bahkan aku akan melakukan apapun itu, sungguh!" Kedua tangan Sonna menyatu demi bisa memohon agar Benny percaya.


"Mudah sekali kau berjanji, lalu mengakhiri semua janjimu kepada Aland, begitu? Hei, Sonna. Aku tahu kalau kau butuh uang, tapi aku bisa memberikan dua kali lipat jika kau mau, namun untuk itu kau harus bekerjasama denganku, tidak dengan Aland."


"Tidak-tidak, Ben. Sungguh sekarang aku akan melakukan tugasku hanya untukmu, dan kau bisa saja membunuhku atau tidak membayar ku sebagai kata maaf karena sudah berkhianat. Tapi percayalah, jika setelah ini aku tidak akan berbuat hal buruk." Dengan cepat Sonna mengelak demi bisa membuat pria itu percaya.


"Benarkah kau tidak mau bayaran? Lalu kau mau apa?" tanya Benny yang merasa sangat curiga.


"Biarkan aku untuk tinggal denganmu di sini, Ben. Dengan begitu kau bisa melihat gerak-gerik ku, bukan? Ditambah kau juga bisa mengintai ku, jika itu perlu. Tapi, aku berjanji akan mengikuti semua saran darimu. Tapi, aku mohon untuk tidak dipecat di perusahaan mu itu karena jujur saja jika bukan karena uang, aku pun tidak akan mengkhianati siapapun, apalagi pria yang baik," bujuk Sonna dengan raut wajahnya yang terlihat sedih demi bisa mendapatkan kesempatan.


"Tidak apa-apa jika aku harus kehilangan bayaran dari Aland, namun setidaknya aku masih bisa tinggal serumah dengan Benny. Maka setelah itu, aku berharap posisiku akan berganti menjadi nyonya rumah," batin Sonna demi sesuatu.


Benny terdiam sejenak sembari ia memikirkan semuanya, batinnya berkata. "Jika memang Sonna harus tinggal di sini, maka aku juga bisa mengawasinya setiap saat. Bahkan jika dia macam-macam, aku juga bisa langsung membunuhnya. Sepertinya itu ide yang bagus, dan aku juga tidak memecatnya begitu saja dari perusahaan ku. Terlebih dia cukup pintar dalam urusan bisnis, memang aku akui hal itu."


"Ya baiklah, aku boleh tinggal denganku di sini. Tapi, jangan berharap lebih seperti kau saudaraku saja. Namun satu hal, jangan pernah terlibat dalam urusan apapun tentang keluargaku, kau mengerti?"

__ADS_1


"Itu bisa aku atur. Ternyata kau sangat baik, Ben. Kesalahan terbesarku karena berpikir jika kau orang yang buruk hanya karena ikut-ikutan terperdaya bersama dengan Aland. Yang terpenting sekarang kau tidak perlu cemas karena aku bekerja keras, tapi setiap kabar terbaru dari Aland, akan tetap aku beritahukan padamu."


"Tidak perlu banyak berjanji, tapi aku ingin bukti. Jika memang kau akan melakukannya untukku, maka lakukan saja. Jangan sibuk berbicara, tapi tidak bisa membuktikannya, kau dengar itu?" tegas Benny.


"Ya, tentu saja akan aku lakukan sesuai keinginanmu, Ben."


Benny melangkah pergi ke arah dokter yang sejak tadi hanya mendengar pembicaraan mereka, berbeda dengan Sonna yang justru tersenyum kecil saat melihat sikap Benny yang mulai membuatnya terpesona.


"Dia pria dingin, pemberani, dan tegas. Tapi, hati kecilku tidak berbohong kalau dia pria yang baik juga romantis. Oh ya ampun ... aku bahkan sampai rela tidak dibayar selama tinggal di sini, tapi tidak apa-apa. Demia sebuah masa depan yang indah, maka aku harus bersama dengannya, apapun itu caranya," batin Sonna yang memiliki niat buruk.


"Apa anak-anak baik-baik saja, Dok? Oh, maaf kalau kau harus melihat semua keributan ini. Tapi pahamilah, bahwa aku melakukannya demi kebaikan bersama. Halu, cepat urus mayat wanita itu sekarang," ucapnya sembari memerintah.


Sang dokter tidak apa-apa, justru ia tersenyum senang melihat kewibawaan Benny yang terlihat sangat tegas demi keluarganya. "Aku sangat memahaminya, Tuan. Jika berada di posisimu, maka aku pun akan sama pedulinya seperti dirimu. Anak-anak baik-baik saja, mereka sudah tertidur setelah aku memberikan obat. Sepertinya Brian hanya mengalami beberapa hal buruk karena rasa rindu terhadap seseorang. Tapi jangan cemas, saya sudah menambah obat untuknya jika sewaktu-waktu dia kembali rewel. Hanya saja saya sedikit menyarankan, Tuan. Supaya anak-anak tidak terlalu stress, ajaklah mereka bermain di luar. Dengan begitu kerinduan mereka terhadap seseorang bisa berkurang seiring waktu berjalan. Mungkin bisa sedikit membantu."


"Ya, saya pun sudah memikirkan hal itu, Dok. Memang lebih baik jika kedua anak-anak bermain di luar. Baiklah, Dok. Mari nanti biarkan Halu yang mengantarkan dirimu."


"Ya sudah kalau memang Dokter tidak mau, sekali lagi terima kasih banyak karena selalu merepotkan dirimu di waktu-waktu istirahat."


"Tidak masalah, Tuan. Saya pun senang melakukannya."


Merasa lebih lega, sampai Benny berlalu pergi untuk melihat anak-anak. Namun tidak dengan Halu, yang justru berjalan mengelilingi Sonna dengan tatapan tajam. Ia berusaha membuat wanita itu tidak semena-mena.


Tindakan yang Halu lakukan, justru membuat Sonna terheran. Apalagi terus-menerus mengelilingi dirinya tanpa berkata apapun.

__ADS_1


"Hei! Kau ini kenapa, hah? Apa kau buta sampai harus melihatku seperti mangsa mu saja," tanya Sonna dengan sangat ketus. Ia merasa begitu risih.


"Jadi, lo mau tinggal di sini bareng gue, ya? Wah ... ada pelayan baru nih!" ledek Halu dengan sengaja tanpa mempedulikan semua ucapan wanita itu.


"Pelayan baru? Hah? Maksudnya kau akan menjadikanku pelayan mu, begitu? Enak saja! Jangan berharap lebih karena aku hanya berpikir pada Benny, bukan kau, mengerti?" bantah Sonna dengan sangat sombong.


"Itu terserah, tapi yang pasti lo itu pelayan buat gue! Ya sudah sekarang angkat mayat wanita itu," perintahnya dengan tiba-tiba.


"Apa? A-aku mengangkat mayat itu? Hei tidak-tidak. Kau pasti salah, kan?"


"Gue enggak bakal ulang ucapan gue, jadi cepat lakukan. Atau kalau enggak ... Kak Benny yang bakal menyuruh lo," tegas Halu dengan sangat senang mengerjai wanita itu. Ia menahan senyum saat raut kecemasan terlihat di wajah Sonna.


"Astaga ... aku bahkan merasa jijik dengan mayat, apalagi kalau sampai berdarah-darah seperti itu. Aku tidak mau, kau saja yang buat," tolak Sonna dengan beraninya.


"Oh ya? Masih juga mau ngelawan? Oke, aku akan panggil majikan mu," ancamnya.


Membuat Sonna menghentakkan kaki dengan penuh kekesalan. Mau tidak mau, ia pun memilih melakukannya meskipun harus menutup mata, ditambah takut mengotori jari lentiknya.


Perlahan-lahan Sonna memegang, namun justru membuatnya sangat menggelikan. "Ini apa? Oh ya ampun ... menjijikan sekali darahnya ini."


"Pegang yang bener, gimana sih? Ayo sini sebelah kiri lagi, iya ... benar di sana. Pegang terus cepat!" perintah Halu dengan sengaja ingin membuat Sonna memegang tepat bekas tembakan.


Namun justru, membuat Sonna terkejut saat ia tangannya menusuk ke dalam bekas tembakan. Hingga ia berlari sembari melompat, tetapi tidak menduga kalau lompatannya itu membuat Halu ikut terjatuh bersamaan dengannya.

__ADS_1


Saling memandang sampai keduanya tidak sadar Benny datang di tengah-tengah mereka, namun pandangan mata masih belum berhenti hingga membuat Benny dengan sengaja bertepuk tangan demi bisa mengagetkan keduanya.


"Bagus ... enak banget ya peluk-pelukan di sana. Tapi, wanita ini masih tergeletak di sini. Oh ya ampun ... apa sebaiknya kalian aku nikahkan saja?" celetuk Benny dengan sengaja.


__ADS_2