
Pagi-pagi sekali Herlin menuju ke apartemen tempat praktek dokter hewan milik Elvin, namun terlihat keanehan saat pintu apartemen terbuka, tetapi justru terlihat seorang pria yang sedang terbaring dengan bercak darah yang sudah mengering di luar ruangan.
Membuat mata Herlin melotot sempurna saat ia menyadari jika orang tersebut adalah Elvin. Dengan cepat ia berlari sembari mengangkat kepalanya pria itu ke dalam rangkulannya.
"Bangunlah, Elvin. Hei ... ada apa denganmu? Ya ampun! Bagaimana ini?" Herlin begitu cemas sampai lututnya terasa begitu lelah untuk membantu Elvin bergerak masuk ke dalam apartemen.
Namun ia terus berusaha, sampai membuat Elvin bisa bergerak dengan sedikit demi sedikit hingga bisa terbaring dengan baik di atas tempat tidur. Peluh keringat membasahi tubuh Herlin, namun ia segera menghubungi dokter demi.
Sembari menunggu dokter datang, Herlin duduk di samping Elvin sembari mengusap pipinya. "Kau sangat baik, tapi kenapa orang baik harus merasakannya sakit seperti ini? Bertahanlah sedikit, Elvin."
Perlahan mata pria itu mulai terbuka, dan ia menyadari jika Herlin berada di sisinya. Sentuhan Herlin yang sengaja ia berikan dengan penuh perhatian, membuat Elvin mulai merasakan perasaan yang berbeda.
Rasa sakit akibat tembakan peluru itu membuatnya perlahan-lahan bergerak sembari berusaha untuk duduk, namun Herlin berusaha agar pria itu bisa lebih nyaman dalam rangkulannya.
"Kau baik-baik saja? Kenapa tidak menghubungiku dulu, Elvin? Aku merasa begitu bersalah."
"Ini bukan salahmu, Herlin. Aku merasa pusing sampai akhirnya terjatuh tanpa sadar, tapi peluru di tanganku ini sudah berhasil aku keluarkan," sahut Elvin dengan sangat pelan.
"Jadi, kau kena tembakan? Siapa yang sudah menembak mu, Elvin? Aku merasa sangat bersalah karena meninggalkanmu saat itu."
"Jangan katakan seperti itu, kau sama sekali tidak bersalah. Sekarang aku lebih lega karena dirimu baik-baik saja, Herlin. Bisakah tolong mengambil obat untukku? Tapi sudahlah, tidak perlu tahu siapa yang sudah melakukan hal ini padaku, Herlin."
"Bagaimana mungkin tidak boleh? Ya sudah sekarang kamu istirahat saja di sini, aku akan membawa obat untukmu, dan membuatkan makanan."
"Aku tahu, dan aku akan menceritakannya nanti setelah kita selesai sarapan. Ya sudah, aku akan beristirahat sejenak sambil menunggumu."
"Anak yang baik ... baiklah, aku akan memasak untuk kita berdua dulu."
Dengan bergegas cepat, Herlin melakukan semuanya dengan baik sampai dokter akhirnya tiba.
"Di mana pasiennya?"
__ADS_1
"Ada di dalam, mari silahkan masuk, Dok."
"Apa yang sebenarnya terjadi, Dokter Elvin? Rupanya kau yang sakit, ada apa memangnya?"
Herlin berdiam diri saja saat menyadari kalau mereka sudah saling kenal.
"Peluru yang tertembak lumayan dalam, sampai membuatku kesulitan. Tapi sekarang, sudah sedikit lebih membaik. Namun, aku juga masih perlu pertolongan darimu, Dok."
"Tentu saja, Dokter Elvin. Aku akan memeriksa dirimu terlebih dahulu. Berbaringlah."
Pemeriksaan telah selesai, sembari dokter tersebut juga menjahit beberapa bagian luka hingga terakhir memberikan obat khusus.
"Untuk sementara jangan dulu membuka prakteknya, Dokter Elvin. Kau harus banyak beristirahat karena lumayan banyak kekurangan darah. Tapi ngomong-ngomong, apa ini istrimu, Dok? Cantik sekali. Kenapa tidak kenalkan kakak ipar padaku?" tanya Dokter tersebut sembari melirik ke arah Herlin.
Membuat Elvin merasa tidak percaya diri di saat temannya mulai bergurau. "Ah kau ini bisa saja. Dia temanku, kau pun tahu kalau aku belum menikah. Tapi ngomong-ngomong, apa kau bisa membantuku?"
"Tentu saja, katakanlah."
"Itu sangat bagus, dan aku masih memiliki sebuah apartemen yang cocok untuk kau tempati, Dokter Elvin. Anggap saja kalau semua itu sebagai bentuk pertemanan kita, dan aku tidak akan menjualnya padamu ataupun menyewanya. Tempatkan tempat itu sesuai dengan keinginan mu sendiri."
"Serius? Kau sangat berhati baik, Brother. Baiklah kalau begitu aku sedikit lega. Nanti malam aku akan langsung pindah ke apartemen mu."
"Bukan hal yang terlalu sulit, Dokter Elvin. Ya sudah ini kunci apartemennya, dan kalian bisa langsung tinggal di sana. Kalau begitu aku harus pergi dulu karena masih ada beberapa pasien yang lain yang harus aku kunjungi."
"Tentu saja."
"Mari, Dokter. Saya antar sampai ke depan," ajak Herlin dengan sangat ramah.
"Terima kasih banyak, Nona."
Bukannya segera masuk ke mobil, namun justru pria itu berhenti dan memberikan sesuatu kepada Herlin.
__ADS_1
"Apa ini?"
"Ini kunci mobilnya. Elvin mungkin tidak teringat jika aku pernah memiliki hutang padanya saat kami masih sama-sama sekolah di kedokteran, tapi dia sama sekali tidak meminta uang itu kembali. Namun, mungkin kau bisa menyimpan kunci mobil ini sampai nantinya memberikannya lagi kepada Elvin. Jika aku memberinya, mungkin dia tidak akan mau. Ambilah demi kebaikan kalian berdua. Apalagi aku lihat jika kau sangat cocok dengan Elvin," ucap pria tersebut dengan sangat bersemangat.
Masih membuat Herlin tidak begitu paham, namun ia langsung menerimanya tanpa menolak, dan menunggu hingga pria itu pergi dari pandangannya.
"Teman yang baik, sepertinya aku harus menceritakan hal ini kepada Elvin langsung," gumam Herlin.
Tanpa banyak menunggu, terlebih Elvin sedang terduduk dalam diam. Membuatnya segera bergegas untuk memberikan kunci mobil beserta lengkap dengan bukunya.
"Apa ini, Herlin? Aku tidak sedang berulang tahun," tanya Elvin yang terlihat begitu terheran.
"Hei! Ini bukan dariku, tapi dari temanmu yang tadi. Dia sengaja memberikannya katakan dulu dia sudah memiliki hutang. Terima atau tidak, untuk urusanmu. Tapi yang pasti, aku hanya ingin menyampaikannya saja," ucap Herlin dengan cepat.
Terlihat kebingungan di dalam raut wajah Elvin, terlebih ia sama sekali tidak pernah membantu temannya itu apalagi sampai seharga mobilnya. Belum sempat menjawab, namun justru sebuah pesan masuk ke dalam ponselnya.
"Brother, apa kau sudah mendapatkan kunci mobil milikku? Jika sudah, aku akan kembali mengambilnya nanti. Anggaplah ini tes pertama sebagai calon kakak ipar untukku, bersenang-senanglah!" batin Elvin yang sedang membaca isi pesannya.
Sedikit terkekeh karena niat konyol yang terlalu berlebihan, apalagi Elvin tahu bahwa tidak akan mungkin Herlin bisa menjadi miliknya. Terlebih mereka belum lama ini bertemu.
"Ada-ada saja, sampai mengetas Herlin akan kejujurannya. Lagi pula dia terlihat seperti wanita yang baik, jadi mana mungkin sampai rela berbohong hanya karena sebuah mobil," lanjut Elvin dalam batinnya.
Elvin terdiam, namun Herlin tidak ingin banyak mengganggu. Namun dengan tiba-tiba, pria itu menahan tangan Herlin.
"Herlin, aku ingin bicara sebentar denganmu, boleh?"
"Tentu saja boleh, Elvin. Memangnya kenapa? Bicara sajalah. Kau ingin bicara apa?"
"Bagaimana jika kita menikah, Herlin? Maksudku, berpura-pura lah menikah denganmu."
Sontak membuat Herlin terdiam sekaligus tercengang, di saat ia menyadari semua pria mulai bertingkah konyol saat di dekatnya, dan lagi-lagi ada pernikahan yang harus ia tentukan.
__ADS_1