Terjebak Cinta Dua Duda

Terjebak Cinta Dua Duda
Pendarahan Dan Penyamaran


__ADS_3

"Brian, apa yang sedang terjadi?" tanya Leony dengan penuh keterkejutan. Ia memikirkan hal buruk tentang anak itu.


Ternyata Brian hanya kepeleset saat berlari menuju ke kamar Aland.


"Ya ampun ... kau ini. Buat orang lain kaget saja. Ngapain sih lari-lari begitu? Udah sini main sama Tante Leony, ya."


"Enggak mau! Brian maunya main sama Tante Herlin. Papa Aland, buka pintunya!"


Membuat Leony menggelengkan kepalanya berkali-kali saat melihat Brian yang tidak bisa diatur. Lalu ia ikut berusaha mengetuk pintu kamar sampai akhirnya Aland membuka pintu.


"Ada apa sih kalian ini?"


"Pa, orang tadi di luar mencari Tante Herlin. Makanya Brian ke sini. Lalu sekarang di mana Tante Herlin berada?"


"Tantemu sedang tidur, Nak. Jangan diganggu, ya. Dia sangat kelelahan. Leony, tolong ajak Brian bermain di belakang saja."


"Baik, Kak Aland."


Membuat Leonora menoleh ke belakang dalam penuh rasa penasaran. Hal itu membuat batinnya bertanya. "Aneh sekali, kenapa tiba-tiba Kak Herlin lelah? Apa jangan-jangan sudah terjadi sesuatu? Bahkan aku melihat Kak Herlin hanya berdiam diri saja. Tidak biasanya dia tidur siang hari."


Kecemasan terhadap kakaknya, membuat Leony kembali ke arah kamar Aland. Dengan diam-diam ia berjalan masuk tanpa sepengetahuan pria itu.


Terlihat Helrin yang sedang tertidur pulas, namun Leony mencoba membangunkannya.


"Hei, tukang tidur ... ayo bangunlah, Kak Herlin. Anak kecil itu memanggilmu, Kak."


Sudah berusaha, namun Herlin tetap tidak kunjung terbangun. Membuat Leony merasa panik meskipun sudah mengerakkan tubuh Herlin, tetapi wanita itu tidak kunjung sadar. Namun tiba-tiba, ia tidak sengaja melihat darah yang mengalir di balik celah paha Herlin.


"Darah? Jangan-jangan Kak Herlin pendarahan, tapi bagaimana mungkin? Dia sama sekali tidak hamil, kan?"


Leony sangat panik, sampai ia berusaha berlari mencari Aland. Terlihat pria itu sedang menghisap rokok di teras rumah.


"Kak Aland, cepat ke sini! Kak Herlin pendarahan!"


"Apa? Herlin pendarahan?" Mata Aland melotot sempurna. Lalu ia berlari dengan cepat.


Ucapan Leony tidak salah, Aland memang melihat darah yang mengalir sedikit. Membuatnya segera membopong tubuh Herlin. "Siapkan mobilnya, Leony. Kita harus ke rumah sakit sekarang."


"Baik, Kak Aland!"

__ADS_1


Melihat mereka yang panik, membuat Brian ikut-ikutan panik apalagi Herlin tidak sadarkan diri.


"Kenapa dengan Tante Herlin, Pa? Brian juga mau ikut ke sana."


"Jangan, Nak. Nanti kalau keadaannya membaik, Papa akan mengabari Bibi Lena, ya."


"Tapi, Pa-"


"Bi, tolong bawa Brian masuk ke dalam."


"Baik, Tuan. Ayo kita masuk, Nak. Supaya Tante Herlin baik-baik saja."


"Sebenarnya apa yang sedang terjadi, Bi? Brian enggak mau kalau Tante Herlin tiada." Anak kecil itu mulai menangis saat memikirkan hal buruk.


"Eh! Jangan bilang begitu, Brian. Tante Herlin tidak akan apa-apa. Sebaiknya sekarang kamu tenang, ya."


***


Di sisi lain, Benny sedang melamun sembari terus melihat gambar kiriman nomor tidak dikenal. Ia tidak tahu apa kebenaran itu benar atau tidak, tetapi yang jelas jebakan yang sudah ia buat sudah gagal.


Lamunannya tersadar saat Halu tiba-tiba menepuk pundaknya sembari bertanya. "Ngapain bengong terus? Lagian kenapa tiba-tiba suruh gue pulang, Kak? Katakan mau ketemu Herlin."


"Lah diajak ngomong malah dicuekin, gimana sih? Tapi ngomong-ngomong, tadi gue kayaknya lihat Aland deh? Apa mungkin itu emang rumahnya?"


Rasa penasaran Halu membuatnya kembali mengejar Benny. "Eh tunggu dulu, Kak. Ada yang mau gue omongi, bentar ... doang!"


"Mau bilang apa?"


"Tadi itu gue pas lagi nunggu Herlin keluar, terus enggak sengaja ada seorang pria yang lihat ke luar dari dalam jendela. Wajahnya mirip seperti Aland, apa mungkin itu memang Aland?"


"Ya, itu memang dia." Lagi-lagi Benny menjawab tanpa bersemangat.


"Itu artinya bukan Herlin yang enggak mau ketemu gue, Kak. Melainkan Aland, dan ada kemungkinan jika memang Aland menyembunyikan Herlin supaya tidak jadi menemui lo, Kak. Sudah sangat jelas, bukan? Terus sekarang gue harus apa?"


"Kau benar. Memang aku curiga jika Aland menyembunyikan Herlin karena saat ini aku baru saja mendapatkan pesan Herlin yang sedang terbaring di atas ranjang. Mungkin ada kemungkinan jika saat itu juga dia sudah melakukan hal buruk. Halu, kau harus menyelediki kasus ini segera," sahut Benny dengan prasangka buruknya.


"Gue lagi? Kak, gue harus apa? Lo tahu sendiri kan kalau gue enggak pintar beladiri? Hanya satu yang gue bisa yaitu memblokir keamanan di kediaman Aland," jelasnya yang memang ahli di bidang hacker.


"Tidak masalah. Kita memang harus menggunakan akal cerdik untuk menjalankan misi ini. Aku tidak mau kalau Aland benar-benar sudah menyakiti Herlin. Meskipun aku tahu jika mungkin saja telah terjadi sesuatu dengan mereka, tapi aku tetap tidak terima wanita yang aku sukai menjadi bahan ancaman untuknya."

__ADS_1


"Ya, gue setuju. Terus sekarang apalagi?"


"Kembali ke rumah Aland, cari tahu tentang kebenaran Herlin dan Aland. Jika perlu kita menyamar sebagai orang lain. Aku akan ikut denganmu, dengan begitu kita bisa mendapatkan semua informasinya. Termasuk dengan menaruh alat perekam di rumah Aland," sahut Benny dengan aksi barunya.


"Oke, mari kita mulai!"


Membawa dua perlengkapan penyamaran, Benny memakai pakaian yang bertugas untuk mengusir nyamuk. Sedangkan dengan Halu yang bertugas untuk menghilangkan hama rumah tangga.


Penyamaran mereka sukses terlihat seperti sungguhan saat Benny dan Halu berdiri di depan cermin. Termasuk Benny kumis palsu, namun tidak dengan Halu yang hanya memakai rambut palsu serta kacamata.


"Lihat bagaimana tampilan gue, Kak. Udah paling keren, kan?" tanya Halu yang terus bergaya di depan cermin.


"Biasa saja tuh! Sebaiknya ubah caramu bicara karena mereka pasti akan mengenal siapa dirimu jika kau terus berbicara tidak formal seperti sekarang. Tolong, jangan rusakan rencana ini."


"Aman, akan gue pahami. Ya sudah sebaiknya kapan kita harus pergi, Kak?"


"Tahun depan! Ya sekaranglah."


"Dasar nyebelin!"


Saat di dalam perjalanan, mobil Benny berpapasan dengan Aland. Halu yang melihat ke luar membuatnya menyadari ketika Aland terlihat dari balik kaca mobil.


"Itu kan Aland?"


Masih membuat Halu tidak begitu yakin, tetapi Benny dapat mendengar suaranya.


"Apa yang kau maksud, memangnya di mana Aland?"


"Aku melihatnya di depan. Sepertinya mereka sedang pergi dia tidak sendirian, tapi aku tidak tahu siapa yang duduk di sampingnya itu. Mungkin kita bisa mengikuti mereka terlebih dulu, Kak."


"Ide yang bagus."


Rasa penasaran Benny yang terlalu tinggi membuatnya segera bergegas mengikuti, ternyata arah mobil Aland memasuki pekarangan rumah sakit.


"Siapa yang sakit? Semoga saja bukan yang aku takutkan," batin Benny dalam kecemasan.


Terlihat Aland membawa Herlin, membuat Benny ingin segera menghampiri dan memberikan pelajaran. Tetapi dengan cepat, Halu menghentikan niatnya.


"Lo gila ya?! Kak, kalau lo sekarang ke sana, terus buat apa kita pakai penyamaran seperti ini? Heran gue sama lo, Ben."

__ADS_1


__ADS_2