Terjebak Cinta Dua Duda

Terjebak Cinta Dua Duda
Perdebatan


__ADS_3

Mendengar keributan, seorang suster langsung berlari berdiri di tengah-tengah mereka.


"Tolong jangan bertengkar di rumah sakit. Sebaiknya kalian pergilah, jika tidak aku memanggil petugas untuk mengusir kalian berdua."


"Tenang saja, Sus. Pecundang sialan ini tidak akan berani memukul mantan ayah tirinya di sini," timpal Aland sembari tersenyum kecil, dan terlihat menyepelekan amarah Benny.


"Apapun itu, sebaiknya jangan ribut apalagi sampai main tangan," tegas suster, lalu melangkah pergi meninggalkan mereka yang masih berada di tempat.


Dengan sangat terpaksa Benny melepaskan pegangan erat yang ia lakukan pada Aland, namun keduanya masih terlihat saling menatap dengan tajam.


Sesaat kemudian, Halu pun datang sembari berlari ke arah kakaknya.


"Rupanya lo di sini, Kak. Gue udah capek dari mutar-mutar ruangan, ternyata di sini. Tapi, kok ada Aland?" Membuat Halu melirik perlahan saat ia baru menyadari kehadiran pria itu.


"Oh, jadi ternyata kalian berdua memang sudah lama tahu kalau Herlin di rawat di sini, begitu? Pantas saja Herlin tiba-tiba ingin pergi dariku," ketus Aland dengan cepat.


"Dia pergi karena memang tidak nyaman denganmu, bukan karena aku. Hanya saja katakan satu hal padaku tentang keguguran Herlin, apa kau penyebab dari semua itu?" tanya Benny dengan tegas, namun Halu berusaha berdiri di tengah perdebatan mereka untuk bisa was-was.


"Jika itu yang kau pikirkan, maka itu benar, Ben. Memang aku penyebab atas keguguran yang Herlin alami, dan satu hal lagi yang harus kau tahu bahwa kami sudah tidur bersama, bahkan gadis itu meraung keras di bawah tubuhku. Tentu saja dia sangat menikmatinya," jawab Aland yang sengaja untuk membuat Benny semakin naik pitam.


"Kurang ajar! Apa kau ingin mati?!" Sedikit kehilangan kendali sampai membuat Benny rasanya ingin menghabisi Aland. Namun lagi-lagi, Halu menjadi penengah.


"Minggir dari sana, Halu. Biarkan aku membuat rahangnya patah!" Benny semakin bersikeras, namun Halu tetap memilih bertahan di tengah-tengah.


"Lakukan saja jika memang kau ingin masuk ke penjara, Ben. Ayo lakukanlah! Bunuh saja aku di sini jika itu maumu, tapi aku pastikan bahwa Herlin akan kembali tidur bersama denganku. Sama seperti Arabella dulu, saat dia—istrimu, tapi aku yang mengambil kesuciannya untuk pertama kali. Jadi, pastikan untuk tetap memilih menyukai bekas dariku, kau dengar itu baik-baik," ancam Aland dengan sangat bersemangat sebelum ia bergegas pergi.

__ADS_1


"Bedebah sialan! Kau pikir aku mempan dengan ancaman bodoh itu?" bentak Benny, namun bentakannya terabaikan.


"Udah puas lo teriak-teriak di sini dan bikin kita di lihat oleh banyak orang? Mendingan sekarang kita pulang karena Herlin tidak ada di sini, Kak Ben," ajak Halu yang merasa sangat risih dengan pandangan mata orang lain.


"Sial! Di mana kamu sekarang, Herlin? Kenapa kamu sangat bodoh? Argh!"


"Astaga ... makin menjerit lagi. Kak Ben, kita harus pulang!" Rasa kesal membuat Halu menarik Benny dengan keras sampai mereka tiba di parkiran mobil.


"Lo baik-baik saja, Ben? Kalau lo masuk, gue bisa bantu cari Herlin sekarang. Siapa tahu dia pergi tidak jauh dari sini," tanya Halu yang merasa kasihan.


"Enggak perlu karena Herlin tidak ada di sini, dan aku tidak tahu dia ada di mana. Begitupun dengan Aland, tapi aku heran kenapa Aland juga bisa tidak bersama dengan Herlin? Yang buruknya lagi aku sudah berjanji dengan Brian untuk membawa Herlin ke rumahku," tolak Benny dalam kebingungan yang besar.


"Iya ya, agak mengherankan sih, Ben. Tapi, gue rasa kalau Herlin mungkin sedang bermasalah dengan Aland. Jika tidak, pasti mereka tidak akan berpisah apalagi Leony juga masih menetap di rumah itu, kan?"


"Kau benar, tapi aku tidak tahu harus mencari Herlin ke mana. Sebaiknya sebarkan informasi tentang Herlin menghilang, dan cantumkan nomor teleponku. Aku tidak bisa membiarkan dia sendirian di luar sana, lakukan dengan cepat, Halu," perintahnya.


Membuat Benny menatap sedikit kesal, lalu ia memberikan sejumlah uang yang banyak. "Mobil tetap gue pakai. Udah sana ... pergi."


"Iya-iya."


Membuat Benny terduduk tanpa menghidupkan mesin mobilnya, ia terlihat cemas, namun juga marah. Satu sisi, Benny sangat ingin menemukan Herlin untuk hidupnya, tetapi di sisi lain, pikirannya terus saja terbayang dengan semua ucapan Aland.


"Argh sial! Apa mungkin Herlin mendesah begitu kuat di bawah Aland? Lalu kenapa dia sampai harus memulai untuk menarik simpati dariku, jika saja Aland sudah membuat segalanya? Sekarang ... aku benar-benar bingung. Apa mungkin aku akan sanggup kembali menerima wanita dari bekas pria yang tidak bertanggung jawab seperti Aland? Dan lagi-lagi, kami menyukai wanita yang sama," gerutu Benny dalam batinnya.


Kekesalan itu membuatnya memukul setir mobil dengan keras, namun tiba-tiba saja sebuah panggilan masuk sampai membuatnya terkejut.

__ADS_1


"Bulan? Apa dia baru bangun sampai menghubungiku segala?"


"Ya, Nak. Ada apa?"


"Maafkan saya, Tuan Benny. Ini bukan Bulan, tapi saya ingin mengabarkan kalau kondisi Brian saat ini demam panas. Tiba-tiba dia berteriak keras dan sekarang dia terus menangis. Bahkan saya sudah mencoba membujuknya, tapi justru Bulan ikut-ikutan menangis karena takut melihat Brian seperti itu." Terdengar suara wanita yang mengasuh anak-anak itu dengan sangat panik.


"Astaga ... apa sudah hubungi dokter? Kenapa tidak hubungi sekarang?"


"Sudah, Tuan. Tapi sepertinya, saya juga harus pulang karena di rumah anak dan suami saya juga sedang menunggu. Tolong, datanglah segera, Tuan."


"Saya mohon supaya kamu menunggu sebentar, nanti akan saya tambahkan gaji lembur mu."


Memijat kepalanya saat ia tahu bahwa sekarang sudah jam pengasuh anaknya itu kembali. Namun, ia juga tidak bisa mengabaikan pencarian untuk Herlin.


Segera berlari saat tiba di rumahnya tanpa Benny menyadari jika pintu rumah masih terbuka lebar. Terlihat Bulan dan Brian masih saling menangis, namun Benny sedikit lega setelah kedatangan dokter.


"Silahkan periksa kondisi mereka berdua, Dok. Saya harus ke luar sebentar."


"Baik, Ben. Ayo sekarang ikuti kata dokter ya, anak-anak baik."


Dari jauh Benny melihat dokter yang berusaha membantu kedua anak-anak itu tenang, sampai membuatnya memiliki kesempatan untuk menghubungi seseorang.


"Lagi-lagi aku harus gagal menemui Herlin, tapi aku tidak bisa mengabaikan kondisi kedua anak-anak itu. Akan lebih baik, aku segera membawa mereka pergi menemui saudaraku yang ada di London. Di sana penjagaan ketat, dan setelah itu aku bisa mengurus Herlin dengan bebas," ucap Benny yang berusaha berpikir jernih.


Meskipun menahan rasa rindu terlalu sulit, tetapi Benny paling tidak bisa melihat orang-orang yang ia sayangi terluka.

__ADS_1


Keputusan yang sudah bulat, Benny segera menghubungi pihak saudaranya yang berada di London, dan mereka akan memutuskan untuk datang terlebih dahulu sebelum membawa Bulan dan Brian pergi bersama. Namun sayangnya, pintu yang terbuka lebar membuat Benny tidak menyadari bahwa ada seseorang yang sudah mendengar semua keinginannya.


__ADS_2