Terjebak Cinta Dua Duda

Terjebak Cinta Dua Duda
Jebakan Gagal


__ADS_3

Pertanyaan bodoh yang sedang Aland utarakan, mampu membuat Herlin semakin tidak menduga jika sikap Aland bisa terlalu cepat berubah dalam sekejap.


Herlin memberikan sebuah tamparan keras demi bisa membuat Aland berhenti untuk berpikir dengan seenaknya.


"Jangan pernah sakiti Benny karena aku sendiri yang akan menghalangi niatmu itu. Jadi, tidak perlu bertanya atau melakukan apapun karena aku sendiri yang akan menghalanginya, Aland," ucap Herlin dengan sekedar ancaman sembari ia menunjuk dalam penuh amarah.


"Lalu aku harus apalagi? Membiarkan dirimu dimiliki olehnya, begitu? Aku tidak bisa membiarkan dirimu pergi dariku, Herlin. Begitupun dengan putraku yang sudah sangat bergantung padamu. Jadi, jika saja kau nekat untuk pergi menemuinya sekarang. Maka aku benar-benar akan melukai pria itu. Apalagi setelah mengingat tentang kesucian yang seharusnya tidak ia renggut."


"Lakukan apapun yang kau sukai, Aland. Maka aku yang akan melakukan apapun yang aku mau. Terlebih kesucian ini hanya milik Benny, dan akan selamanya seperti itu. Sebab aku hanya miliknya seorang," tegas Herlin. Lalu bergerak mendekat ke arah pintu.


Berniat untuk menendang pintu agar mereka di balik sana mendengar tindakannya, namun dengan tiba-tiba Aland kembali menarik tangannya dengan kasar. Lalu menjatuhkan tubuh Herlin begitu saja di atas tempat tidur.


Membuat Aland mulai gelap mata saat melihat sikap Herlin yang terus bersikap keras dengannya.


"Jika memang kesucian itu hanya milik Benny seorang, maka aku akan merebut mu darinya. Bahkan kesucian itu akan menjadi milikku seutuhnya," ucap Aland sembari memegang kedua tangan Herlin dengan erat.


"Omong kosong! Aland, jangan lakukan itu, aku tidak mau dinodai olehmu!"


Herlin terus berteriak dan meronta-ronta agar seseorang dapat mendengar teriakannya. Namun sayangnya, kamar Aland telah didesain dengan sebaik mungkin seperti kamar VIP di dalam kamar hotel, hingga memiliki kedap suara yang tidak bisa terdengar.


Kerasnya Herlin berontak, maka keras pula Aland memegang tubuhnya. Pria itu terlihat tidak sedang bermain-main, dan langsung merobek kain tipis yang menutupi tubuh Herlin.


"Aku akan menghapus setiap jejak sentuhan Benny pada tubuhmu. Maafkan aku, Herlin," ucap Aland yang semakin berusaha keras.

__ADS_1


Membuat Herlin mulai menangis sembari merasa kesakitan saat kedua tangannya sudah terikat. Posisi Aland yang sudah berada di atasnya mampu membuat Herlin merasa ketakutan. Bahkan jauh lebih buruk dari trauma yang telah ia alami saat pulang malam sendirian.


Tidak tinggal diam, Aland segera memberikan tanda di beberapa bagian saat ia menyentuhnya. Hingga bercak merah terlihat begitu jelas.


Tidak ada rasa penyesalan, namun ada amarah saat Aland mulai berhasil merampas paksa tubuh Herlin dalam penuh tangisan.


Sentuhan yang kasar mampu membuat Herlin ingin rasanya menendang Aland, tetapi pria itu tidak memberikan jarak. Hingga kelelahan yang terlalu berat, mampu membuat Herlin pingsan tanpa mengetahui kejadian selanjutnya.


Melihat Herlin tidak sadarkan diri, Aland berusaha mengusap pipi wanita itu sembari berucap. "Hanya aku dan tetap untukku, Herlin. Jika dulu aku tidak ingin kau dimiliki oleh Benny, maka sekarang siapapun dia tidak berhak juga menyentuhmu."


Meskipun memakan bekas, tetapi Aland merasa senang karena sudah berhasil menghapus setiap jejak dari pria lain. Baginya, membuat tanda sudah menjadi bagian memiliki. Lalu Aland bangkit dari tidurnya sembari menatap ke arah luar jendela.


Terlihat seorang pria yang sedang bersandar di samping mobilnya dengan mengotak-atik ponsel, namun pria itu terlihat tidak asing bagi Aland.


"Halu? Ternyata ... dia yang datang untuk menjemput Herlin. Memang dugaan ku benar jika ini hanyalah rencana Benny agar bisa membuat Herlin pergi menemuinya."


Memotret lalu mengambil sebuah rekaman singkat yang akan ia kirimkan kepada Benny. Sudah lama tidak bertukar kabar, sampai Aland teringat bahwa sudah tidak lagi menyimpan nomor telepon Benny.


Namun Aland tidak kehilangan akal saat ia berusaha memintanya kepada Sonna. Niatnya sudah berhasil untuk mengirimkan sebuah pesan singkat yang penuh kejutan.


Menyunggingkan senyum dengan hati yang penuh gembira, batinnya berkata. "Benny, sampai bertemu lagi di dalam kehancuran mu yang selanjutnya."


Berbeda dengan Brian dan beberapa orang yang masih menunggu Aland dan Herlin ke luar dari kamar mereka, terlebih tidak ada satu pun suara yang terdengar. Brian mondar-mandir sampai ia menyadari jika ada seseorang di depan rumahnya.

__ADS_1


"Hei, Paman. Mau cari siapa?" tanya Brian dengan penuh keberanian.


Membuat Halu menatap anak kecil itu dari atas sampai ujung kaki, terlebih baru kali ini melihat anak itu. "Mau cari Herlin. Apa dia di dalam sana? Kalau ada, tolong panggilkan sebentar. Katakan aku datang menjemputnya sekarang."


"Mau apa panggil tanteku? Tanteku tidak akan keluar karena sedang bersama papa di kamarnya. Apalagi papa bilang kalau orang asing tidak boleh bertemu dengan orang rumah."


"Dasar masih kecil suka pintar mengatur. Cepat panggilkan tantemu itu sekarang? Aku sudah lelah menunggunya sejak tadi," paksa Halu sampai membuatnya ingin segera mencubit Brian. Tetapi justru Leony tiba-tiba saja ke luar.


"Hei ... mau buat apa kau di sini? Mau menculik anak kecil, ya? Cepat katakan, ada urusan apa kamu datang ke rumah ini? Jika untuk bertemu dengan pemilik rumah, sebaiknya urungkan niatmu karena mereka sedang berduaan," tanya Leony yang terlihat begitu angkuh.


"Heh bodoh! Lo pikir wajah tampan seperti gue ini penculik? Enak banget ngatain orang kaya wajah sendiri enggak mirip pembantu. Udahlah, mendingan sekarang ngaku saja kalau Herlin ada di dalam, kan? Cepat panggil dia, gue udah capek berdiri di sini dari tadi," ketus Halu dengan sangat tak acuh ditambah kesal.


"Kamu ini tuli apa pura-pura enggak dengar hah? Udah dibilangin kalau orang rumah lagi sibuk berduaan di kamar. Masih ngeyel!" balas Leony dengan tidak kalah.


Ingin rasanya kembali membalik semua ucapan angkuh gadis itu, namun tiba-tiba Halu mendapatkan sebuah pesan dari Benny untuk mengharuskan dia segera pulang.


"Kampret! Udah sampai di sini dan lama-lama nunggu, tahu-tahu malah di suruh balik. Mau apa sih dia sebenarnya? Buang waktu aja," kesa Halu yang terus merepet sepanjang ia kembali ke dalam mobilnya.


Walaupun sedikit menyebalkan karena merasa waktunya terbuang sia-sia, tetapi Halu lebih kesal lagi saat melihat wajah Leony yang mengejeknya sebelum pergi.


"Hus ... huss! Sana pergi. Masih mending cuma diusir, bukan digantung. Tapi kira-kira Kak Herlin sama pria itu sedang apa, ya? Aku jadi penasaran."


"Awas lo, ya! Kalau ketemu lihat gue penyet lo sampai penyok! Gadis aneh," geram Halu saat memutarkan balik arah seraya mengacungkan jari tengah pada Leony.

__ADS_1


Dengan cepat Leony membalas dengan menjulurkan lidah sembari terus meledek dengan begitu puas. "Coba saja kalau bisa! Palingan juga enggak bakalan ketemu, wlekk .... Lagian sih main ganggu orang saja. Apalagi Kak Herlin dan pria itu sedang sibuk di dalam. Semoga saja mereka tidak kembali bertengkar. Apalagi sekarang aku senang bisa tinggal di rumah mewah seperti ini."


Kesenangan itu tiba-tiba terhenti saat mendengar suara teriakan Brian. Hingga membuat Leony berlari masuk lebih cepat.


__ADS_2