Terjebak Cinta Dua Duda

Terjebak Cinta Dua Duda
Sentuhan Kematian


__ADS_3

Sonna yang kembali datang hanya karena ia meninggalkan dompetnya di rumah Benny, saat sebelumnya berkunjung. Namun, ia sungguh tidak menduga dengan semua yang sedang ia dengar.


Sonna tercengang, namun ia berusaha menutup mulut dengan kedua tangannya agar tidak berteriak dalam ketidakpercayaan ini. Tetapi dengan cepat, ia kembali bersembunyi saat Benny mulai tersadar jika pintu rumahnya sejak tadi terbuka lebar.


"Pantas saja dingin sekali, pintunya terbuka," gumamnya sembari berjalan menutup pintu.


Namun justru, Benny melihat kaki seseorang yang memakai sepatu merah sedang bersembunyi di balik pintu.


"Siapa itu?" batinnya sembari dengan perlahan melangkah mendekat. Hingga akhirnya Benny melihat kehadiran Sonna di tempat.


"Kau lagi?! Aku heran kenapa suka sekali datang ke rumahku? Ada apa? Setelah sebelumnya beralasan karena pekerjaan, lalu sekarang apa tujuanmu, Sonna?" tanya Benny yang merasa sedikit ragu dengan kehadiran wanita itu yang seperti sedang berusaha mengintainya.


"Ti-tidak ada, Tuan Benny. Aku hanya datang karena dompetku tertinggal. Ya, hanya ... itu saja. Jadi, bisa sekarang aku ambil? Setelah itu janji, aku tidak akan pernah lagi ke rumahmu," sahut Sonna sampai membuatnya gelagapan dan peluh keringat mulai perlahan keluar.


"Dompet? Hanya karena itu? Memangnya ada dompet bisa tertinggal dengan sendirinya apalagi kau sama sekali tidak masuk ke dalam sini, Sonna." Benny semakin yakin ada hal yang aneh dengan wanita ini.


"T-tentu saja! Aku sama sekali tidak berbohong." Dengan cepat Sonna berjalan untuk mengambil dompetnya, namun lagi-lagi sikapnya membuat Benny semakin terheran.


Tepat ketika Sonna ingin keluar, dengan cepat Benny menahannya dan sengaja mengunci pintu dari dalam tanpa diketahui oleh wanita itu.


"Katamu kalau dompet ini tertinggal, begitu? Sekarang biarkan aku membuka dompet itu dulu," pinta Benny dengan sengaja sembari berjalan mendekat.


"Hei! Ini privasi ku. Bagaimana mungkin kau ingin membuka dompetku, Benny? Ayolah, jangan melucu," tanya Sonna sembari terkekeh pelan, namun ia berusaha menyembunyikan rasa gugupnya.


"Berikan padamu secepatnya! Atau jika tidak, kau sendiri yang akan terkurung di sini, Sonna," bentak Benny dengan keras.


Rasanya begitu sulit untuk Sonna menyerahkan dompet tersebut, namun ia merasa takut dengan ancaman Benny. Perlahan tangannya mendekat, tetapi Benny langsung merampas dompetnya.

__ADS_1


Membuka perlahan, tetapi yang terlihat justru foto milik pengasuh anaknya. Terlihat jelas bahwa dompet tersebut bukanlah milik Sonna.


"Jadi, diam-diam kau berusaha untuk mempermainkan diriku, begitu? Sonna, apa kau sungguh kenal denganku?" tanya Benny dengan santai sembari perlahan mengambil senjata api yang tersimpan begitu baik di atas lemari televisinya.


Membuat Sonna menelan ludah, saat ia tidak menduga bahwa pekerjaannya ini cukup beresiko.


"Wow! Unik sekali, dan caramu cukup mulus. Tapi, pengasuh yang kau bayar untuk mengintai ku itu sangat bodoh. Lalu kau masih diam saja, Sonna? Apa perlu untuk kita bermain-main dulu? Jadi ... ingin aku patahkan tangan, kaki, atau mungkin meledakkan kepalamu saja?" tanya Benny yang sangat santai, namun senjata langsung ia arahkan tepat di hadapan Sonna.


Takut akan mati dalam keadaan konyol, sampai membuat Sonna dengan cepat berlutut dalam ketidakberdayaannya.


"Maafkan aku, Ben. Sejujurnya aku melakukan semua itu bukanlah atas kemauanku sendiri, tapi karena perintah seseorang karena membutuhkan uang, dan memang kau benar bahwa aku yang telah membayar pengasuh anak-anakmu tanpa kau ketahui," ucap Sonna yang langsung berkata jujur.


"Kejujuran yang bagus, tapi aku sama sekali tidak mau tahu dengan kejujuranmu itu, dan cepat katakan padaku, siapa orang yang telah menyuruhmu?!" bentak Benny yang sudah berada begitu dekat dengan penuh amarah besar sampai membuat dokter dan pengasuh anaknya berlari untuk melihat karena terkejut.


"Astaga ... bagaimana ini? Apa aku harus mengatakan yang sebenarnya kalau Aland yang sudah membayar ku? Bahkan aku belum bisa melakukan setengah dari tugasku, begitupun dengan uang yang belum ada di tanganku sepenuhnya, tapi sudah ketahuan. Namun, jika aku hanya diam saja, maka riwayat ku akan tamat di tangan pria sialan ini," batin Sonna.


"Kenapa diam lagi? Tadinya aku berpikir jika aku langsung membuat kepalamu bocor, tapi setelah aku pikir-pikir ... mungkin akan lebih baik jika kamu merasakan sakit perlahan-lahan dari kakimu ini. Jadi, pilih jalan pincang atau tangan yang melayang?"


"Ampun, Ben. Tolong ... jangan lakukan itu karena aku pasti akan berkata jujur, dan setelah itu tidak akan berbohong apapun padamu lagi," ucap Sonna dengan sengaja yang langsung memeluk lutut Benny.


"Jangan bersikap sok manis di depanku, wanita iblis. Katakan saja siapa? Jangan berbelit-belit! Atau aku tidak tunggu diam untuk menembak mu sekarang!" geram Benny yang semakin kesal saat wanita itu berusaha kembali untuk mempermainkan dirinya.


"Semua itu perintah Aland. Sungguh! Aku tidak berbohong padamu," kata Sonna dengan sangat cepat.


"Aland? Jadi, dia berniat untuk memata-matai diriku juga. Apa mungkin itu sebabnya Aland sempat menghubungi Herlin saat kami sedang bersama? Bahkan di pagi itu, Aland bisa menjemputnya. Padahal jelas-jelas, Herlin sama sekali tidak menghubunginya. Ya ampun ... kenapa hal sekecil ini tidak aku sadari? Untung saja aku cepat melihat Sonna, jika tidak entah apa yang akan terjadi dengan kedua anak itu, bahkan diriku juga," batin Benny yang merasa dirinya begitu ceroboh.


Perlahan Benny duduk, tetapi melepaskan senjata api di tangannya. Namun berbeda dengan Sonna yang merasa pegal karena terus berlutut.

__ADS_1


"Ada apa? Pinggang mu sakit?"


"Ah tidak, Ben. Lalu sekarang apa aku sudah bisa bebas?"


"Bebas? Wah ... kau pikir ini petunjuk kan? Setelah lolos, kau bisa keluar, begitu? Hei ... Sonna, tidakkah ingin merasakan tembakan dari peluru ku ini?"


"Aku mohon, Benny. Jangan lakukan itu. Sungguh! Aku berbuat seperti ini karena membutuhkan uang." Sonna terus memohon sampai air matanya mulai keluar. "Terlebih aku juga belum menikah."


"Menikah? Jadi, masih sempat memikirkan untuk menikah, ya? Baiklah, aku pikir tidak akan mungkin membunuh dirimu di sini, Sonna. Lalu katakan apalagi yang sudah Aland perintahkan padamu?"


"Sebenarnya Aland tidak tahu jika Brian ada bersama denganmu di sini, dan yang aku tahu dia sedang sibuk mencari putranya. Sungguh! Aku pun terkejut saat mendengar kalau ternyata Brian ada di sini, tapi aku kembali datang supaya bisa membawa berkas palsu tentang tanah yang sudah dijanjikan untuk saham pembangunan cabang hotel milik Aland. Terlebih aku menyadari kalau saham itu sudah dirampas oleh perusahaan BN Properti, milikmu," jelas Sonna yang sangat terpaksa berkata jujur.


"Oh, jadi ... ini persaingan bisnis. Bahkan aku dan Aland bukan hanya bersaing untuk wanita, tapi juga perusahaan. Benar-benar brengsek! Dia sama sekali tidak ingin lepas dariku, tapi wanita ini tidak bisa aku biarkan berkeliaran begitu saja. Setidaknya senjata ini harus membuatnya takut," batin Benny sembari menatap begitu tajam ke arah Sonna.


Meskipun sudah berkata jujur, tetapi tatapan Benny semakin membuat Sonna tidak tenang. Ia perlahan bangkit, dan berusaha untuk bisa membujuk.


"Tuan, kasihanilah diriku sedikit ... saja. Jika bukan karena uang, maka aku tidak akan melakukan hal serendah ini, lagipula aku sudah lama menyukaimu," pujinya seraya tersenyum manis.


"Benarkah? Kau menyukaiku, Sonna? Aku pun sebetulnya demikian, apalagi kau wanita yang pintar." Benny mulai menggenggam erat tangan Sonna sembari membawanya duduk di atas pangkuannya. "Apa kau ingin tidur denganku malam ini?"


Pertanyaan itu membuat Sonna senang karena merasa jika rayuannya sudah mempan. Dengan sangat ceria Sonna mengalungkan tangan ke leher Benny sembari memberikan sebuah kecupan kecil di pipi pria itu.


"Yeah! Aku juga ingin kau menyentuhku, Ben," bisik Sonna dengan rayunya manja seraya menyentuh dada bidang Benny.


"Tentu saja, Sayang. Aku akan menyentuhmu, tapi senjataku ini yang lebih dulu!" bentak Benny sembuh kembali mendorong wanita itu.


Membuat Sonna terkejut, lalu ia berlari. Namun tiba-tiba sebuah tembakan terdengar sangat keras.

__ADS_1


__ADS_2