Terjebak Cinta Dua Duda

Terjebak Cinta Dua Duda
Saling Merasakan


__ADS_3

"Siapa Costa? Dan mau apa kau masuk ke rumahku diam-diam? Mau mencuri hatiku, ya?" tanya pemilik rumah yang tidak lagi adalah Benny. Saat itu Benny baru menyadari jika yang sedang ia lihat ternyata Herlin.


"A-a-aku tidak ingin mencuri, Tuan! Tolong jangan sakit aku." Herlin memejamkan matanya sembari berlindung di balik kedua tangan. Ia merasa begitu takut, dan tidak menyadari jika yang sedang ia temui adalah Benny.


Membuat Benny tersenyum bahagia saat melihat Herlin dengan sendirinya datang ke rumahnya, namun ia tidak tahu dengan niat wanita itu.


"Apa tujuannya? Padahal, aku sudah mencari mu kemanapun, Herlin. Pada akhirnya kau sendiri yang akan datang menemui ku," batin Benny sembari perlahan-lahan membawa Herlin ke dalam pelukannya.


"Tidak perlu takut, aku bukan orang jahat," ucapnya sembari mengusap rambut Herlin demi ketenangan wanita itu.


"Kau siapa?" tanya Herlin sembari pelan-pelan menatap dalam samar-samar kegelapan.


Betapa bahagianya Herlin, saat melihat pria yang ia cintai sedang memeluknya. Pelukan erat dengan sengaja Herlin balas saat mengetahui keberadaan Benny.


"Ternyata dugaan ku tidak salah, rupanya nama keluarga Ton itu memang milik dirimu, Ben," gumam Herlin.


"Tentu saja, namaku Benny Ton. Sudah pasti memiliki nama yang sama seperti yang kau lihat. Tapi, kenapa kau bisa ada di sini, Herlin?"


"Aku baru ingin pindah ke sebelah apartemen dekat dengan rumahmu, tapi saat lewat aku melihat namamu di pagar besi. Itu sebabnya aku ke mari, dan ternyata dugaan ku benar."


"Oh hoho, rupanya hatimu sudah merindukan ku, ya. Ya sudah ayo kita masuk ke dalam, Herlin. Aku sudah lama menantumu," ajak Benny dengan sangat ceria sembari menggenggam tangannya.


Namun tiba-tiba, Herlin justru melepaskan tangan Benny. Membuat pria itu merasa kebingungan.


"Aku tidak bisa masuk sekarang, Ben. Di luar ada temanku yang sedang menunggu, jadi dia tidak tahu kalau rumah ini milik kau. Lain kali saja, Ben. Aku akan datang ke sini."

__ADS_1


"Sungguh? Tapi, kau berjanji akan datang, kan? Jika tidak, aku sendiri yang akan mengunjungi mu."


"Tenanglah, aku akan kembali besok pagi. Sekarang sudah larut malam, tidurlah, Ben."


"Oke, tapi sebelum pergi ...." Tiba-tiba Benny langsung memberikan sebuah ciuman manis di bibir Herlin.


Tanpa menunggu, Herlin membalas kecupan dengan sangat ganas. Sudah sangat ia nanti-nantikan kerinduan yang begitu besar. Hingga dekapan yang begitu erat sampai Herlin merangkul leher Benny dengan kedua tangannya.


Membawa Herlin ke dalam gendongannya, namun kecupan mesra tidak kunjung lepas. Hampir beberapa detik mereka terus berkecup dan mengulum nikmat.


"Aku akan menunggumu besok pagi," bisik Benny dengan suara nafasnya yang begitu terasa di telinga Herlin, hingga membuat matanya terpenjam saat Herlin membalas perlakuannya.


"Pasti." Ucapan yang sempurna dengan sentuhan yang nyata, saat perpisahan harus kembali mereka lakukan.


Memasukkan kedua tangannya dari baju belakang, dan segera merampas bulatan besar yang menggantung indah. "Herlin, aku memiliki kejutan, maka cepatlah. Besok pagi aku akan menunggu."


"Tentu, aku sudah berjanji. Lepaskan aku, Ben. Nanti ada yang lihat."


"Hei, biarkan saja, Herlin. Aku rindu, lagi pula kau milikku," tolak Benny yang semakin berusaha keras membawa Herlin ke dalam hasrat terpendamnya.


"Aku tahu, tapi ... ah Benny ... jangan buat aku terjatuh di sini. Sudahlah, hen-ti-kan ah ...." Herlin mulai merancu dengan ******* yang mulai tidak terkendali.


Namun tiba-tiba ia tersadar saat sebuah senter lampu mulai mengarah kepadanya oleh penjaga rumah tersebut. Ia segera memperbaiki pakaiannya yang berantakan sembari tidak lupa mengecup pipi Benny, dan berlari dengan perasaan yang kacau.


Pipinya tersipu malu, dan senyuman yang semakin tidak bisa ia kendalikan. Hingga membuat Costa merasa heran dengan sikapnya.

__ADS_1


Herlin berlari lebih dulu, membiarkan Costa sendirian yang membawa tangga panjang. "Sangat tidak waras. Pertama dia masuk ke dalam rumah itu seperti maling yang sedang ketangkap, lalu sekarang wajahnya seperti kepiting rebus yang baru selesai bercinta. Aku jadi penasaran."


Memeluk bantal guling yang sebelumnya milik Costa. "Astaga ... apa mungkin Benny juga begitu merindukan diriku? Tapi, sebelum berpisah, dia berusaha meninggalkan ku dan ingin jauh dariku. Tapi sekarang, kenapa dia sangat manis? Dia tampan, tapi aku kadang sangat bingung dengan sikapnya."


"Bingung sama siapa?" tanya Costa dengan tiba-tiba saat ia tidak sengaja mendengarnya.


"Eh tidak ada. Aku hanya ... sedang bermimpi."


"Aneh sekali, kau bermimpi setelah ke luar dari rumah itu. Kau tidak beres, Herlin? Katakan siapa yang sebenarnya pemilik rumah itu? Tidak mungkin kau kembali seperti cacing kepanasan sekarang," tanya Costa yang sangat ingin tahu.


"Benarkah aku terlihat seperti cacing kepanasan? Oh tidak! Apa wajahku begitu jelek?" Herlin segera mengambil cermin kecil dan menatap wajahnya. Namun, ia justru tersenyum tiba-tiba. "Masih cantik. Ish ... mana ada seperti cacing."


"Herlin, ayolah ... kau ini, astaga .... bisa-bisa aku ikut tidak waras sepertimu. Ya sudah! Kalau kau tidak mau bicara, aku mau tidur saja. Sini balikan bantalku, kau ambil bantal lain di dalam lemari," ketus Costa yang mulai merasa kesal.


"Eh ... tunggu dulu. Ish! Kau ini, tidak bahagia sedikit karena temanmu. Sebenarnya itu tadi aku cuma penasaran dengan nama pemilik di luar, akhirnya firasat ku benar kalau ternyata rumah itu dimiliki oleh seorang pria yang sangat aku cintai. Costa, kau tahu sendiri bagaimana seorang wanita sedang jatuh cinta, bukan? Dia akan terjatuh dan rela melakukan apapun juga."


"Jika begitu, tinggallah di rumah pria itu lalu menikah dengannya. Selesai, bukan? Kau hidup enak seperti impian sederhana yang kau inginkan," saran Costa dengan asal bicara.


"Enggak bisa gitu dong. Sebenarnya aku ingin begitu, tapi sama sekali Benny belum juga melamar ku dengan serius. Terlebih aku terlalu malu dengan tubuhku sendiri yang sudah pergi berhubungan dengan pria lain. Kau tahu, Aland? Dia berusaha menyakiti ku. Inilah yang sebelumnya aku sembunyikan darimu, Costa," jelas Herlin dengan raut wajahnya yang terlihat gelisah.


"Jadi, kalau Aland juga sudah merusak diriku? Herlin, apapun yang terjadi, kau tetaplah spesial bagi dia yang sangat mencintaimu. Aku tahu ini sulit, terlebih kebanyakan pria akan memilih seorang wanita baik-baik untuk menjadi istrinya. Lalu kita? Tetap saja, jangan kecilkan hatimu, dan pikirlah positif. Meskipun keperawanan sudah tidak lagi menyatu, namun aku yakin ada seorang pria yang akan rela menerima kita meskipun dalam ketidaksempurnaan. Sekarang sebagai teman, aku akan mendukung mu. Biarkan Aland, menjadi urusanku," tegas Costa demi bisa menguatkan kepercayaan diri Herlin.


"Kau yakin? Bagaimana kalau kita operasi keperawanan saja? Bukankah sekarang sudah ada tempat khusus untuk itu? Kita akan lakukan itu demi pria yang kita cintai, bagus bukan?" tanya Herlin dengan permintaan bodohnya.


"Tidak, Herlin. Aku tidak ingin membohongi siapapun. Begitupun denganmu, kau juga jangan bohongi pria yang kau cintai. Terlebih sebelumnya apa dia sudah tahu tentang ini? Jika sudah, dan dia masih menerima mu. Jangan tunggu lagi karena dialah pria sejati."

__ADS_1


__ADS_2