Terjebak Cinta Dua Duda

Terjebak Cinta Dua Duda
Brian Diculik


__ADS_3

"Ya tadi, lo kan sibuk mikir tentang Herlin. Gue sih cuma mikir perut kenyang dan hati tenang. Terus sekarang gimana? Apa perasaan hati lo sedikit membaik?" tanya Halu dengan seadanya.


"Lumayan. Berkat roti ini bisa aku berpikir sedikit lebih tenang, tapi tetap saja, Halu. Aku belum bisa membiarkan Aland mengganggu hidup Herlin dengan begitu saja. Meskipun aku masih belum jelas mengetahui tentang hubungan mereka yang sebenarnya, tapi aku sadar jika Aland seperti menaruh perasaan terhadap wanita itu. Jangan sampai kejadian buruk terjadi seperti dulu lagi," sahut Benny yang masih berusaha mencari solusi.


"Gue punya ide, Kak. Sini gue bisikin." Tiba-tiba Halu mendekat sembari membisikkan sesuatu tanpa bisa terdengar. Hingga membuat Benny tersenyum setelah memikirkan ide gila dari adiknya.


"Dapat ide darimana sih?"


"Gampang mah masalah begituan. Tapi, jangan salahkan gue kalau misalnya Herlin marah sama lo, Kak."


"Tenang saja. Asalkan lo bisa tutup mulut, maka semuanya akan aman. Ya sudah sebaiknya sekarang kita bergegas untuk kembali ke rumah Aland demi menjalankan penyamaran ini," ajak Benny sembari bangkit dari duduknya.


"Oke, kita ke sana."


Keputusan yang sudah bulat, tetapi sayangnya saat mereka tiba di sana justru tidak dapat masuk ke dalam. Semua pintu terkunci dengan besi, dan ada rekaman cctv yang bergantungan di setiap sudut, bahkan di luar pekarangan rumah Aland.


Kemungkinan besar untuk masuk ke dalam sana tidak akan bisa, dan itu yang membuat Benny dan Halu terdiam di depan pintu pagar dengan masih tetap memakai penyamaran.


"Lalu sekarang apa? Lo yakin kita bakalan bisa masuk ke dalam sana?" tanya Halu yang merasa sangat mustahil, apalagi saat melihat pagar besi yang tinggi menjulang, dan ditambah pecahan kaca yang ada di setiap atas beton pagar.


"Aku pun berpikir demikian, lalu sekarang apa yang harus kita buat? Apa kau punya ide lain, Halu?" Benny terlihat kehilangan akal demi bisa mencari ide terbaru.


"Kayaknya enggak ada deh, Kak. Selain kita nunggu di dalam mobil sampai ada yang bisa buka pagar nih pintu. Kalau enggak, nekat menerobos masuk juga enggak bakalan bisa, apalagi siang bolong begini."


"Ya sudah. Apa boleh buat." Benny menghela nafas dengan berusaha pasrah, lalu bergerak berjalan masuk ke dalam mobilnya."


Baru beberapa gerak langkah Halu berjalan, tiba-tiba pintu pagar terbuka dan terlihat seorang putra kecil yang berjalan diam-diam dengan membawa tas belakang.


Halu mengedipkan mata ke arah Benny, dan segera mengikuti gerak jalan putra kecil itu. Berbeda dengan Benny yang justru bersiap siaga di depan mengemudi.

__ADS_1


Walaupun tidak terencana, namun dengan cepat Halu membawa Brian kecil masuk ke dalam mobilnya setelah menutup mulut anak itu. Anak kecil itu bahkan tidak sempat untuk berteriak.


Melihat tindakan Halu, seketika membuat Benny kebingungan. Apalagi mereka sebelumnya merencanakan hal lain, bukan dengan penculikan.


"Hei! Mau dibuat apa dengan anak ini?" tanya Benny yang masih terduduk dalam keheranan tanpa menghidupkan mobilnya dengan cepat.


"Astaga ... urusan itu nanti belakangan. Sekarang cepat jalankan mobilnya, kampret! Daripada kita ketahuan di sini," paksa Halu sampai membuatnya mengelus dada melihat sikap Benny yang terlihat bodoh tidak tertahan.


Walaupun merasa heran, tetapi juga sangat panik. Lalu Benny segera membawa pergi mobilnya dengan cepat. Beberapa saat terlihat pelayan dari rumah Aland keluar seperti ingin mencari Brian.


Brian yang ikut terheran, tetapi ia juga merasa ingin tertawa saat melihat penampilan kedua pria dewasa itu yang baginya cukup unik dan sangat kampungan.


Bukannya merasa takut karena sudah diculik, namun Brian menatap wajah Halu dengan penuh semangat.


"Apa kumisnya itu asli? Bagaimana cara kalian makan kumis sepanjang itu?" tanya Brian dengan tiba-tiba.


"Hei, Nak. Aku sedang menculik mu, lalu kenapa tiba-tiba bertanya begitu? Apa kau juga ingin memakai kumis ini?"


Permintaan itu sontak membuat Brian dan Halu saling melirik, lalu keduanya menjawab dengan anggukan yang cepat.


"Tentu saja, Nak. Kami akan berusaha membawamu ke sana, tapi ngomong-ngomong siapa namamu?" tanya Benny.


"Namaku Brian Dayton, Pak Tua. Jika kalian sudah sampai di rumah sakit, tolong bangunkan tidurku. Aku mengantuk sekali," jawab Brian seraya menguap.


"Cih! Santuy banget nih bocah." Halu semakin tidak menduga bahwa anak kecil seperti Brian bisa sesantai itu ketika sedang diculik. Membuatnya sampai menahan tawa.


"Baiklah, Brian. Tidurlah dengan nyenyak ya, Nak. Nanti akan Pak Tua bangunkan jika sudah sampai," sahut Benny dengan penuh kelembutan sembari mengusap kepala Brian.


Melihat dari kaca depan saat Brian sudah terlelap dengan cepat, Benny merasa seperti ada ikatan darinya saat melihat anak itu. Entah mengapa wajah Arabella juga terlihat seperti ada kemiripan.

__ADS_1


"Jika ini memang bayi kecil yang dulu pernah aku gendong saat mendiang Arabella masih hidup, pasti saat itu dia sudah menjadi putraku. Tetapi sayangnya, dia tetap darah daging Aland walaupun wajahnya begitu mirip dengan Arabella. Andaikan saja istriku tidak berkhianat, pasti saat itu putri kecilku—Bulan sudah memiliki kakak yang lucu seperti Brian. Namun takdirnya tidak, meskipun begitu aku tetap tidak tega untuk menyakiti anak kecil ini apalagi setelah melihat wajahnya," batin Benny yang mulai tersentuh.


Tiba di kediaman Benny, namun Brian masih terlelap di dalam gendongannya.


"Sekarang kita harus bawa anak ini ke mana, Kak Ben? Apa sebaiknya kita sekap dia di ruang bawah tanah saja?"


"Kau ini tidak waras, ya? Anak sekecil ini mau di sekap? Ruang bawah tanah lagi. Kenapa enggak sekalian saja kepalamu yang akan aku penggal, Halu? Ada-ada saja."


"Lah cuma ditanya doang, malah ngamuk!" ketus Halu, lalu bergegas pergi tanpa mempedulikan Benny lagi.


"Brian akan bermain dengan Bulan. Meskipun dia bukan darah dagingku, tapi mereka terlahir dari rahim yang sama. Bagiku, dia tetap seperti anakku karena hanya Aland yang bersalah, bukan anak kecil ini," gumamnya seraya membawa Brian masuk ke dalam ruangan bermain putri kecilnya.


Menidurkan Brian dengan perlahan, namun tiba-tiba Bulan bergerak mendekat kearahnya sembari memanggil papa.


"Hai, putri cantik ... Papa. Maaf ya, sering banget tinggalin Bulan main sama Bibi, ya," ucap Benny yang langsung menggendong putri kecil yang lebih muda tiga tahun dari Brian.


"Papa, dia siapa?" tanya Bulan sembari menunjuk ke arah Brian.


"Dia kakakmu, Bulan. Sekarang kalian menjadi teman, ya. Panggil dia Kakak Brian, oke?"


Bukan tersenyum meskipun belum terlalu mengerti dengan arti kakak saat usianya masih terlalu kecil. Ia langsung bergerak mendekat sembari menyentuh pipi Brian sedikit dengan jarinya.


"Bulan takut ..., Pa," ucapnya saat melihat mata Brian mulai terbuka. Lalu ia bergerak memeluk papanya.


"Hei, jangan takut, Sayang. Kau sudah bangun, Brian? Selamat datang di rumah barumu."


"Rumah baru? Memangnya rumah lama kenapa? Lalu di mana Tante Herlin? Tadi Pak Tua bilang mau bertemu Tante Herlin, kan?" Terlihat raut kebingungan di wajah Brian.


"Nak, mulai sekarang jangan panggil aku dengan Pak Tua karena kau benar ini hanyalah kumis palsu. Lihat ... aku tampan seperti dirimu, kan? Jadi, panggil aku dengan Papa Benny, oke!"

__ADS_1


"Papa Benny?"


"Papa Benny itu papaku!" timpal Bulan dengan ketusnya saat melihat papanya berbicara terlalu dekat dengan anak lain, sampai rasa cemburunya timbul.


__ADS_2